Selesai mengantar Rain ke rumahnya Radafa langsung membersihkan tubuhnya yang sudah begitu lengket. Ya, bayangkan saja ia berangkat sekolah pukul setengah tujuh pagi dan pulang lagi jam 6 sore, betapa banyak keringat yang dikeluarkan oleh kulitnya setelah beraktivitas seharian ini.
Sehabis mandi Radafa beralih pada tempat tidurnya yang terlihat begitu nyaman apabila ia berbaring di atasnya. “Huft.” Radafa mengehembuskan napas beratnya saat dirinya sudah menjatuhkan tubuhnya di atas spring bed king size miliknya.
Tling
Tling
Tling
Tling
Handphone Radafa berbunyi terus menerus, sekarang ia bisa menebak jika notifikasi suara yang berbunyi di handphonenya itu terdengar sampai berkali – kali sudah dipastikan itu adalah pesan yang dikirim oleh Rain.
Radafa pun mengambil handphone yang berada di atas meja belajarnya sembari mengulum senyum yang sangat tipis.
Rain Bowie
Radafa (19.15)
Radafa
Halo
Ada hal yang mau Rain kasih tahu
Anda
Apa?
Rain Bowie
Tadi Bagas ngajak Rain buat keluar
Dan Rain mau
Radafa terdiam sambil menggertakkan giginya setelah membaca pesan dari Rain. Maksud Rain apa mengirimkan pesan hanya untuk memberitahu Radafa bahwa dirinya akan pergi berdua bersama dengan Bagas, adik kelasnya.
Meskipun di hatinya timbul rasa kesal dan tak rela jika Rain pergi bersama lelaki lain, Radafa tetap membalas pesan itu.
Anda
Oh.
Rain Bowie
Ish, Radafa nyebelin.
Radafa ga mau bilang apa – apa lagi selain oh?
Anda
Ngga.
Rain Bowie
Gatau ah, Radafa emang nyebelin banget
Pesan terakhir yang dikirim Rain sengaja oleh Radafa hanya dibaca saja, mood nya seketika berubah menjadi buruk. Ingin sekali ia bilang pada Rain bahwa tidak ada lelaki yang boleh mengajak Rain pergi selain dirinya, tapi Radafa sama sekali tidak berhak mengatur Rain karena ia hanya temannya, tidak lebih.
“Argh.” Radafa menggeram dan mengacak rambutnya kesal.
Sekarang mau melakukan apapun jadi terasa malas, bahkan rasa lapar yang menghinggapi dirinya pun tak terasa hilang begitu saja. Rain, kenapa si dirinya harus mau menerima ajakan Bagas untuk jalan bersama. Apa Rain tidak tahu sekacau apa perasaannya saat ini?
Tok, tok, tok
“Radafa, mamah masuk ya.” tanya seseorang yang telah membuyarkan lamunan Radafa. Radafa masih diam di tempatnya tanpa ada niatan untuk membalas panggilan mamahnya.
Cklek
Suara pintu kamar terbuka disertai suara derap langkah kaki yang mendekati tempat Radafa.
“Radafa, kamu nih ya... nyaut ke kalo mamah panggil, ini malah diem aja.” Oceh Dita.
Radafa menolehkan wajahnya pada Dita yang sudah berada di sampingnya, menatap bola mata coklat Dita dengan sendu. “Maafin Dafa mah.”
“Iya iya mamah maafin, kamu kenapa si ko kaya yang lesu gitu? Kamu sakit ya?” tanya Dita. Nampak kekhawatiran terpancar dari wajahnya.
Radafa menggeleng pelan. “Dafa ga sakit mah. Emang udah biasa kan Dafa kaya gini juga.” Ujar Radafa.
Dita mengangkat sudut bibirnya, sekarang sudah tak tampak lagi raut khawatir di wajahnya. “Alhamdulilah kalo kamu ga sakit, mamah datang ke kamar kamu Cuma pengen ngasih tahu kalau besok mamah sama Samuel mau ke rumah tante Rani, kamu mau kan anterin mamah?” tanya Dita, membuat Radafa terdiam.
Saat pikirannya sedang kesal dan kacau gara – gara Rain, kenapa juga mamahnya harus menyuruh Radafa mengantarkannya ke rumah Rain? Huh, yang benar saja. Yang ada perasaan Radafa akan semakin kacau kalau nanti ia harus melihat Rain bersama dengan Bagas nanti.
“Radafa ga bisa mah.”
“Lho kenapa?” tanya Dita lesu.
“Radafa gabisa.” Tekannya lagi.
“Ayo dong Daf, kamu mau ya. Cuma nganterin mamah sama Samuel aja ko, habis nganterin mamah kamu udah boleh pulang lagi.” Bujuk Dita dengan wajah yang memelas.
Karena tak tega pada Dita yang sudah menampilkan ekspresi wajah yang memelas, Radafa akhirnya luluh dan mengiyakan permintaan Dita.
“Iya mah iya, Radafa mau.”
Dita mencubit gemas pipi Radafa. “Makasih ya Radafa, anak mamah yang satu ini emang baik banget.” Puji Dita yang tentu saja membuat Radafa merasa risi.
“Yaudah, kalo gitu mamah mau ke kamar lagi ya. Selamat tidur kesayangan mamah.” Ujar Dita lembut yang membuat Radafa malah geli hati ketika mendengar mamahnya berbicara seperti itu.
Dita sudah tidak ada lagi di kamarnya, Radafa pun kembali termenung menatap langit – langit kamarnya. Ia masih memikirkan Rain, apakah besok dia benar – benar akan pergi bersama Bagas? Sedekat apa si hubungannya dengan Bagas? Radafa juga sering melihat Bagas berdua bersama Rain di sekolah.
“Apa jangan – jangan mereka...” gumam Radafa menebak – nebak.
“Argh... lo ngapain si Daf mikirin hal yang ga penting kaya gitu.” Ucap Radafa merutuki kebodohannya. Ia pun menarik selimut sampai menutupi pundaknya dan mulai memejamkan matanya. Mungkin dengan dirinya bisa lebih cepat tidur, pikiran yang berkecamuk dalam benaknya juga akan segera hilang.
****
Hari ini rasanya waktu cepat sekali berlalu, tak terasa sudah jam 12 siang saja yang artinya Radafa harus mengantarkan Dita dan Samuel berkunjung ke rumah Rain.
Sebenarnya Dita dan Sam sudah siap dari jam 11 siang tadi, tapi Radafa selalu mengulur – ngulurkan waktu saja dengan alasan ia harus melakukan zoom meeting bersama dengan organisasi di sekolahnya. Padahal Radafa sama sekali tidak pernah mengikuti satu organisasi apapun di sekolahnya.
“Radafa... ini udah jam 12 siang, kamu udah siap kan Daf” tanya Dita yang terdengar menahan kesal.
“Iya mah udah.” Balas Radafa datar.
“Yaudah, mamah tunggu di garasi ya. Kamu juga cepet turun, jangan ngulur – ngulurin waktu terus.” Ujar Dita setengah menyindir.
“Hmm.” Radafa hanya berdehem dan mengikuti Dita ke garasi untuk memarkirkan mobilnya.
“Ingat ya, jangan kenceng – kenceng. Kamu bawa mamah sama adek.” Ucap Dita mengingatkan. Sempat terbesit di benak Radafa memangnya kapa ia pernahmengebut saat mengendarai mobil apalagi penumpang mobil tersebut adalah orang – orang yang Radafa cintai. Ah, sudahlah mamahnya memang suka seperti itu.
“iya mah...”
Mobil yang dikendarai Radafa sudah melaju dengan kecepatan rata – rata dan nampaknya jalanan ibukota hari ini juga agak sedikit macet sehingga Radafa harus bisa bersabar menunggu kemacetan ini, karena biasanya ia mengendarai motor yang bisa menyalip kali ini ia mengendarai mobil yang tentu saja memiliki body yang besar.
“Aduh Daf, kenapa macet gini si?” tanya Dita.
Radafa menoleh.”Mamah ga tahu jalanan ibukota kaya gimana?” Radafa balik bertanya.
“Hmm... kalo kamu ga nunda – nunda waktu mamah pasti udah sampai rumah Rani dari tadi.” Ocehnya.
Radafa menggaruk keningnya, memang dia itu selalu salah. “Iya mah, maafin Radafa.” Ucap Radafa mengalah.
Setelah hampir 40 menit bergelut di atas jalanan, Radafa akhirnya bisa sampai juga di rumah Rain. “Radafa, makasih ya... nanti mamah kabarin kamu lagi buat jemput mamah.” Ucap Dita dari balik jendela mobil.
“Iya mah.”
“Kamu beneran ga mau masuk? Ada Rain lho.” Tanya Dita yang sepertinya ia tak tahu bahwa Rain tidak ada di rumah karena sedang pergi bersama dengan Bagas.
“Ngga mah.” Balas Radafa datar.
“Yaudah, hati – hati ya, ingat jangan ngebut – ngebutan.” Ucap Dita kembali mengingatkan.
Radafa hanya mengangguk sebagai balasan, ketika ia lihat Dita dan Samuel sudah masuk ke dalam rumah Rain, ia pun segera menancapkan lagi gasnya untuk kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan tak hentinya bayangan Rain terlintas di pikiran Radafa. Tiba saat mobilnya berhenti karena harus menunggu nyalanya lampu hijau, tangan Radafa memilih untuk menyalakan musik di tape mobilnya.
Shawn Mendes – Treat you better kini mengalun untuk sekedar menghilangkan pikiran Radafa pada Rain. Tangannya sengaja ia hentak – hentakan di atas stir mobilnya beriringan dengan jalannya musik.
Radafa kembali melajukan mobil honda jazz nya putihnya saat melihat lampu hijau sudah menyala. Kali ini ia menambahkan kecepatan laju mobilnya agar ia bisa cepat sampai di rumah.
“Huft, akhirnya.” Gumam Radafa disertai hembusan napas lega karena ia sudah berada di kamarnya lagi.
Tanpa mecuci tangan ataupun kakinya, Radafa dengan santai menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king sizenya.
Tling
Tling
Suara notifikasi pesan di handphone Radafa berbunyi, Radafa sempat menoleh ke arah benda pipih itu, namun tak ada niatan di dalam dirinya untuk mengambil handphone dan mengecek siapa yang telah mengirimkan pesan untuknya.Ya, Radafa mengabaikannya. Ia memilih untuk mencoba memejamkan matanya agar ia bisa tertidur.
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang terdengar berkali- kali membuat tidur nyenyak Radafa terganggu, sedikit demi sedikit Radafa pun terpaksa harus membukakan matanya.
“Ka Afa bangun... ka Afa bangun... ka Afa bangun... udah sore tau.” ucap seseorang sambil mengguncang pelan tubuh Radafa.
“Hoamzz... iya Sam ini kaka udah bangun.” Kata Radafa denan suara khas bangun tidur.
Saat kesadarannya sudah terkumpul, Radafa menautkan alisnya bingung melihat kehadiran Sam yang tiba – tiba ada di kamarnya. “Lho, ko Sam ada di rumah?” tanya Radafa.
“Iya, papah jemput Sam sama mamah tadi sore, tadi juga ka Rain sama Tante Rani ikut kesini, tapi sekarang udah pulang lagi.” Tutur Samuel yang membuat Radafa terdiam.
Tunggu dulu, Rain ke rumahnya?
Otak Radafa masih mencerna perkataan Samuel, hingga akhirnya ia dapat sepenuhnya paham dan matanya dengan cepat melirik handphonenya yang berada di atas meja belajarnya.
“Yaudah, Sam ke bawah dulu ya, nanti kaka juga turun. Makasih udah bangunin kaka.” Titah Radafa, Sam pun mengangguk patuh lalu keluar dari kamarnya.
5 notifikasi pesan dari Rain yang belum terbaca
2 Panggilan tak terjawab dari Rain
Rain Bowie
Radafa? (13.20)
Rain ga jadi pergi sama Bagas hari ini
Radafa ko ga ikut ke rumah Rain si?
Padahal Rain udah nungu Radafa datang
Radafaaaaaaaaaaaaaaaa, Rain ada di rumah Radafa nih, Radafa kemana si? (17.00)
Radafa, Rain pamit pulang ya... (18.00)
“Arghh...” Radafa menggeram seraya mengacak rambutnya begitu kesal, bisa – bisanya ia tertidur sampai mengaibaikan Rain seperti ini.