Aku dan Radafa, kami sudah berbaikan. Semua rasa kesalku runtuh seketika, saat aku sudah tahu kenyataan yang sebenarnya perihal Radafa dan Meisya. Memang benar ucapan Radafa saat itu, aku tidak seharusnya mengambil kesimpulan sendiri dari pemikiranku ini yang belum tentu benar adanya. Untung saja Radafa bisa menyikapiku secara dewasa, aku tak bisa membayangkan bagaimana hubungan ‘pertemanan’ kami akan seperti apa kedepannya nanti, jika kami sama – sama tak mau mendengar dan memiliki sifat egois yang tinggi. Kemarinpun kami sudah seperti biasa lagi, diwaktu pulang sekolah Radafa kembali mengantarku untuk pulang ke rumah meskipun sebenarnya dia memiliki jadwal les. Dan sekarang, kulihat Radafa sedang mengobrol dengan beberapa temannya di luar kelas, sesekali juga mataku menangkap wajahnya

