Dania
“Lagi?!”
Aku mendesis pelan sambil menahan kesal, ponsel masih menempel di telinga. Di seberang sana, suara ibu terdengar ragu-ragu, seperti biasa kalau membahas hal yang sama.
“Ibu cuma minta kamu mengerti, Dania…”
Mengerti?
Kata itu sudah terlalu sering aku dengar sampai rasanya hambar.
“Om Ganis nggak akan berubah, Bu. Dari dulu sampai sekarang, tetap saja sama. Sampai kapan ibu terus memaklumi hal ini?"
Aku bersandar pada kursi kerja, menatap layar laptop yang penuh angka. Deadline menumpuk, hidup juga. Lengkap sudah penderitaanku!
“Pamanmu lagi butuh bantuan—”
“Paman selalu butuh bantuan!” potongku tajam.
Beberapa kepala di kantor mulai melirik ke arahku. Aku menghela napas panjang, merendahkan suara.
“Maaf, Bu… tapi Dania capek.”
Hening sejenak. Aku tahu ibu pasti kecewa, tapi aku juga punya batas.
“Pamanmu sudah nggak tinggal sama kita lagi, Nak… Ibu cuma—”
“Aku tahu,” potongku cepat. “Dan justru itu, harusnya kita bisa mulai hidup tenang.”
Pembicaraan berakhir tanpa benar-benar selesai.Aku menjatuhkan ponsel ke meja, lalu memijat pelipis. Hidupku selalu terasa seperti lingkaran yang sama. Masalah lama terus datang dengan wajah berbeda.
"Kali ini siapa lagi? ayah atau Om Ganis?"
Aku menoleh. Rina rekan kerjaku, berdiri di samping meja dengan ekspresi iba yang setengah dipaksakan.
“Om Ganis,” jawabku singkat.
“Lo kuat banget sih, Dan…”
Aku hanya tersenyum tipis. Bukan kuat, tapi sudah terbiasa.
Belum sempat aku kembali fokus ke pekerjaan, suasana kantor tiba-tiba berubah. Beberapa karyawan berdiri, berbisik-bisik, bahkan merapikan penampilan.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Rina langsung mendekat, matanya berbinar.
“CEO baru datang.”
Aku mengernyit. “Terus?”
“Katanya ganteng, dingin, dan galak.”
Aku mendengus. “Fix! Makin Lengkap!”
Waktu adalah uang. Dan aku tidak pernah menyia-nyiakan itu. Dari pada sibuk membicarakan pimpinan baru, lebih baik aku kembali menyelesaikan angka-angka di layar laptop.
Langkah kaki terdengar mendekat. Entah mengapa, suasana mendadak tegang. Aku bahkan bisa merasakan hawa dingin atau... mungkin cuma sugesti ku sendiri.
Saat aku mengangkat kepala, tanpa sadar semua rekanku sudah berdiri. Perlahan aku bangkit. Tatapan itu langsung mengunci.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi berdiri tak jauh dariku. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam—seolah bisa membaca seseorang hanya dalam sekali lihat.
Aku refleks mengalihkan pandangan, tapi terlambat.
“Nama kamu?”
Suaranya dalam, tenang, tapi mengandung tekanan yang aneh. Aku menatapnya lagi, kali ini tanpa gentar.
“Dania, Pak.”
Entah mengapa aku meyakini pria ini adalah CEO yang baru saja Rina bicarakan, meski di sebelahnya berdiri pria lain yang terlihat lebih dewasa.
Dia mengangguk pelan, seolah mengingat. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu pergi begitu saja.
Aku menghela nafas panjang. Terdengar bisik-bisik kagum di sekitarku. Jelas! CEO kali ini jauh lebih muda dan... Jujur! pria ini jauh lebih tampan dari pak Beni, si gendut yang isi otaknya hanyalah wanita dan makanan.
"Kamu sih! bukannya berdiri menyambut, malah tetep duduk nyantai!" tandas Rina.
"Bodo amat!" balasku.
Aku memang tak peduli, tapi sialnya jantungku justru berdetak lebih cepat dari biasanya mengingat tatapan tadi.
Dan aku tidak suka itu.
***
"Makasih, Pak."
Aku mengembalikan helm warna hijau pada sopir ojol yang mengantarku. Aku berjalan perlahan memasuki gang sempit, tempat dimana rumah kecilku berada.
Tak apa berukuran kecil, paling tidak sudah menjadi hal milik sendiri, bukan mengontrak.
Langkahku terhenti di halaman berukuran 5 x 3 meter. Dadaku terasa sesak melihat pemandangan di hadapanku.
Pintu rumahku terbuka lebar, beberapa perabot berserakan di lantai. Sedang ibuku terlihat memunguti barang-barang itu.
Seketika tanganku mengepal. Darah terasa mendidih di ubun-ubun. Aku tahu betul siapa yang melakukan hal ini di rumah kami. Adik kandung ibuku yang seharusnya menjadi pelindung setelah perceraian orangtuaku nyatanya hanya menjadi beban.
Aku tak bisa terus-terusan hidup begini!
"Bu!"
Aku berjalan cepat, meletakkan tas di atas kursi lalu membantu ibuku memunguti barang-barang.
"Dania.."
Aku tak menjawab sampai semua barang kembali pada tempatnya. Setelah itu, aku menghela nafas panjang. Ku tatap wajah ibuku lekat-lekat.
"Bu.. Menikahlah dengan Om Danu. Aku tak lagi melarang hubungan Kalian."
Kata-kata yang selama ini haram aku ucapkan akhirnya terlontar tanpa kendali. Aku tak sanggup lagi melihat penderitaan wanita yang sudah melahirkan aku ke dunia ini.
Tak peduli lagi dengan omongan yang mungkin kami terima nanti. Jika ini satu-satunya jalan ibuku bisa bebas dari ancaman paman Ganis dan juga ayahku sendiri, maka aku akan merelakannya.