BAB 1 Terjebak Hasrat Marsya
Ruang dosen sudah sepi. Hanya suara langkah beberapa sepatu mahasiswa yang masih berada di lantai bawah, sesekali tawa ringan terdengar dari lantai lain. Sinar matahari sore menembus jendela, menciptakan bayangan hangat namun menegangkan di seluruh ruangan.
Leon duduk di kursi, mencoba menenangkan diri, tapi tatapan Marsya membuatnya sulit fokus. Mata dosen Bahasa Inggris itu menyelidik setiap gerak tubuhnya, setiap kedipan matanya seolah membaca pikiran Leon. Hatinya berdebar, napasnya tak beraturan, dan seluruh tubuhnya seakan dipenuhi gelombang panas yang tak bisa ia jelaskan.
“Leon…” suara Marsya lembut, hampir seperti bisikan yang merayap ke dalam kepala. “Kamu jangan terlalu tegang… biarkan dirimu merasakan setiap detik yang ada.”
Leon menelan ludah. Panas yang mengalir di tubuhnya membuatnya hampir kehilangan kendali. Setiap gerak Marsha—senyum tipis, langkah mendekat, atau helaan napas yang lembut—mengundang sensasi yang membuat jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar, tangan lemah, dan dadanya terasa sesak.
Marsya mencondongkan tubuh, sangat dekat. Aroma parfum hangatnya menyelimuti Leon, membuatnya terseret lebih jauh ke dalam sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gelombang demi gelombang sensasi memenuhi tubuhnya, membuatnya nyaris tak mampu tetap tegak. Leon menunduk, merasa seluruh energi di tubuhnya terkuras, tetapi pikirannya tetap terpaku pada Marsha.
Setiap tatapan Marsya seolah menembus dirinya, membuat Leon lemas, napasnya tercekat, dan kakinya terasa berat saat ingin bangkit. Tubuhnya berguncang dengan gelombang yang datang bertubi-tubi, meninggalkan rasa hangat dan kelelahan yang membuatnya hampir tak mampu melangkah.
Leon menutup mata sejenak, merasakan campuran rasa takut, penasaran, dan keinginan yang belum pernah ia alami. Hatinya berdebar, tubuhnya lemas, dan setiap detik terasa seperti aliran energi yang menenggelamkan dirinya. Ia tahu, obsesi yang baru saja dimulai akan menguasai hidupnya lebih dari yang pernah ia bayangkan.
Lampu langit-langit ruangan itu berpendar redup, cahayanya hangat kuning keemasan, jatuh di atas berkas-berkas yang berserakan. Aroma samar kopi yang tinggal separuh cangkir masih tercium di sudut meja, bercampur dengan wangi parfum Marsya yang lembut namun menusuk indra. Di luar jendela, hujan tipis mengetuk kaca, menciptakan irama pelan yang seakan mengiringi keheningan mereka.
Leon bersandar lemas di kursi meja Marsya. Keringat tipis membasahi pelipisnya, nafasnya masih berat, bibirnya setengah terbuka seolah mencari udara yang cukup. Rona wajahnya masih menyisakan sisa letih yang manis.
Marsya membungkukkan tubuh, Wajahnya hanya sejengkal dari d**a Leon. Bayangan wajahnya tercetak samar di meja yang penuh kertas. Jemari lentiknya merapatkan resleting celana Leon dengan gerakan pelan, nyaris seperti sebuah belaian dan menatapnya dengan senyum yang nyaris nakal.
“Bagaimana rasanya, sayang?” suaranya lirih, seolah hanya ingin menjadi rahasia di balik dinding ruang kerja itu.
Leon menatapnya, mata yang berkaca-kaca namun berbinar. Ia menggeleng pelan, senyum bahagia tak mampu ia sembunyikan.“Baru kali ini aku merasakannya, Sya… seakan seluruh dunia berhenti, hanya menyisakan kita.”
Marsya merapikan tasnya, lalu menyusun berkas di meja. Setiap gerakan kecilnya menimbulkan bunyi kertas yang beradu, kontras dengan detak jam dinding yang terdengar jelas dalam hening. Ruangan itu seolah ikut menahan napas, menyimpan rahasia mereka. “Kita pulang sekarang, yuk,” ujarnya pelan, namun suaranya bergetar antara ajakan dan godaan.
Leon mencoba berdiri. Tubuhnya goyah, kakinya seperti tak sanggup menopang. Ia hampir terjatuh, namun Marsya segera meraih lengannya, menahan tubuh Leon agar tetap berdiri. Sentuhan itu hangat, lebih hangat dari cahaya lampu yang menyelimuti mereka.
Marsya menatapnya, bibirnya membentuk senyum kecil meski matanya menyimpan cemas.
“Sampai selemah ini, ya?” ucapnya lembut, nada menggoda yang bercampur khawatir.
Leon mengangkat tangannya, menyentuh pipi Marsya. Kilau cahaya lampu menari di matanya, membuat sorotnya begitu dalam. "Bukan tubuhku yang lemah… tapi hatiku. Karena kamu sudah merenggutnya, Sya.”
Marsya terdiam. Di luar jendela, kilat singkat menyapu langit, menambah dramatisasi momen itu. Pipi Marsya bersemu merah, bibirnya bergetar, lalu ia menunduk, seolah takut Leon bisa membaca seluruh isi hatinya.
Leon mengecup punggung tangannya, lembut dan penuh makna. Marsya menutup matanya sejenak, membiarkan getar itu menjalar ke seluruh dirinya. “Terima kasih… sudah mbuatku bahagia,” bisik Leon.
Marsya menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Leon erat, lalu menariknya menuju pintu. “Ayo… kita pergi sebelum ruangan ini mengikat kita lagi”
Mereka melangkah perlahan, bayangan tubuh keduanya memanjang di lantai oleh cahaya lampu meja yang tertinggal. Di luar, hujan masih turun, seakan ikut menyimpan rahasia yang baru saja mereka titipkan di antara meja, kursi, dan dinding ruangan itu.
Leon membuka pintu ruangan dengan hati-hati, seolah tak ingin suara kecil pun mengusik senja yang mulai merona di balik kaca jendela. Marsya menggandeng tangannya, lembut tapi mantap, seakan tak rela melepaskannya. Begitu pintu terbuka, semburat jingga langit senja menyambut mereka, menorehkan cahaya hangat pada wajah keduanya.
Mereka melangkah turun menuju basemen. Di sana, mobil Marsya sudah terparkir rapi. Leon membuka pintu untuknya—sikap sederhana, namun membuat Marsya tersenyum kecil dengan hati yang mekar. Keduanya lalu masuk, dan Leon yang mengambil alih kemudi. Motor Leon tetap ia biarkan di parkiran kampus, seperti kebiasaannya; besok pagi baru akan ia jemput.
Saat mobil melaju perlahan meninggalkan kampus, suasana hening sejenak, hanya ditemani cahaya lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Marsya meliriknya, lalu tersenyum sambil berkata pelan, seolah takut memecah magis malam itu.
“Malam ini aku senang sekali kamu mau menginap di rumahku. Aku jadi merasa nggak kesepian.” Suaranya penuh kehangatan, namun terselip kerinduan yang lama ia pendam.
Leon menghela napas, lalu menoleh sekilas. Ada keraguan di matanya, tapi juga ada kejujuran yang tak bisa disembunyikan. “Sebenarnya aku takut, Sya… tapi kamu selalu memaksaku dengan caramu. Ya sudah, akhirnya aku coba malam ini… tidur bersamamu.”
Marsya terdiam sejenak, lalu senyumnya merekah, lembut seperti bunga yang baru mekar. Ia menggenggam tangan Leon, lalu menepuknya perlahan.“Terima kasih ya, sayang… kamu jangan khawatir. Tetangga pasti mengiranya kamu adikku. Mereka nggak akan curiga apa-apa.”
Leon tersenyum tipis, namun senyuman itu memancarkan ketulusan. Jemarinya menekan erat genggaman Marsya, seolah ingin memastikan kehadirannya nyata. “Aku senang bisa buat kamu bahagia malam ini.”
Marsya menoleh, menatap dalam wajah Leon yang diterpa cahaya lampu jalan. Tatapan itu membuat dadanya bergetar antara rindu, bahagia, dan rasa memiliki yang tak terbendung. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Leon, merasakan ketenangan yang lama ia cari.
Leon menoleh sebentar, pipinya hangat oleh sentuhan rambut Marsya yang lembut. Ia tak berkata banyak, hanya menyalakan musik pelan dari radio mobil. Suara alunan romantis mengisi ruang hening itu. Sementara tangan mereka masih saling menggenggam erat, hangat, dan tak ingin lepas.
Di dalam mobil itu, dunia terasa mengecil, menyisakan hanya mereka berdua—bersama senja yang merayap menjadi malam.
Mobil berhenti pelan di depan rumah Marsya. Lampu teras sudah menyala, memantulkan cahaya lembut yang menyambut keduanya. Leon mematikan mesin, lalu menoleh ke Marsya. Perempuan itu masih menggenggam tangannya, enggan melepaskan, seolah takut semua ini hanya mimpi yang bisa hilang kapan saja.
“Malam ini rasanya beda, Sya…” Leon berbisik, menatap wajahnya yang diterangi cahaya lampu jalan.
Marsya tersenyum kecil, matanya berbinar, “Beda yang kamu suka atau yang kamu takutkan?”
Leon menghela napas pelan, lalu menjawab dengan lirih, “Beda yang… membuatku tenang. Entah kenapa, bersamamu selalu terasa begitu.”
Marsya menunduk sesaat, pipinya bersemu merah. Ada bahagia yang mengalir, sederhana tapi dalam. Ia membuka pintu mobil, lalu berdiri menunggu Leon yang juga ikut keluar. Begitu pintu tertutup, Marsya kembali meraih tangan Leon, kali ini lebih erat, lebih penuh keyakinan.
“Yuk masuk,” ucapnya dengan suara lembut.
Leon menurut. Mereka melangkah beriringan menuju pintu rumah. Malam begitu sunyi, hanya suara jangkrik yang menemani. Saat pintu rumah dibuka, aroma harum bunga melati dari vas kecil di meja ruang tamu menyambut mereka. Suasana hangat, tenang, seakan rumah itu memang menunggu kehadiran Leon.
Marsya menaruh tasnya di sofa, lalu menoleh pada Leon yang masih berdiri di ambang pintu, terlihat kikuk. Ia mendekat, menepuk lengannya dengan senyum menenangkan. “Kamu jangan tegang begitu, say… anggap saja ini rumah kamu sendiri”
Leon terkekeh kecil, menutup pintu, lalu melangkah masuk. Ia duduk di sofa, sementara Marsya menyiapkan dua gelas teh hangat di meja. Setelah kembali, ia menyerahkan segelas pada Leon, lalu duduk di sampingnya.
Mereka menyesap teh perlahan, tapi bukan teh itu yang menghangatkan hati—melainkan keberadaan satu sama lain. Marsya menyandarkan kepalanya di bahu Leon, membuat lelaki itu terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Ia membalas dengan merangkul lembut pundaknya.
“Terima kasih, Sya,” bisiknya pelan.
Marsya mengangkat wajah, menatapnya penuh rasa, “Untuk apa, say...?”
“Untuk aku bisa merasa… punya tempat pulang malam ini.” jawab Leon
Mata Marsya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan bahagia yang terlalu dalam. Ia menatap Leon, lalu menempelkan keningnya di d**a pria itu, merasakan degup jantungnya yang hangat dan menenangkan.
Malam itu, rumah Marsya tak lagi terasa sepi. Ada tawa kecil, ada genggaman hangat, ada rasa yang tumbuh semakin kuat di antara mereka berdua.
Marsya mendekat, bibirnya hampir menyentuh leher Leon, lalu berbisik dengan suara serak penuh godaan, “Malam ini jangan coba-coba menolak aku, ya..…”
Leon hanya bisa terdiam, pasrah pada arus hasrat yang akan segera menenggelamkan mereka.