Arkhan Hilang

1110 Kata
Cintya langsung menutup teleponnya sambil berdecak kesal. Telepon dari Panji kembali membuat moodnya hancur. Cintya sedang menikmati senja bersama Panji di sebuah taman kota. Dia menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Berurusan dengan keuangan perusahaan memang sangat melelahkan.   Melihat Cintya yang seperti sedang kesal, Samuel pun menatapnya dengan tatapan yang aneh.   “Kamu kenapa kayak kesal gitu? Telepon dari suamimu yang nggak becus itu?” tanya Samuel sambil tersenyum miring.   “Siapa lagi? Entah, tuh pria nggak pernah becus emang! Kenapa juga bukan kamu yang jadi suamiku, Sam.” Cintya menoleh pada Samuel dengan tatapan sendu.   Cintya menghela napas dalam. Cintya benar-benar lelah dengan kehidupan rumah tangganya. Entah, kenapa dulu dia bisa kenal dengan Panji. Kenapa dia baru bertemu Samuel setelah menikah dengan Panji.   “Udah nggak usah nyesel gitulah. Yang penting, kan, kita bisa selalu sama-sama. Anggap aja kamu belum menikah kalau lagi sama aku.” Samuel berkata sambil tersenyum. Lalu, perlahan tangannya meraih tangan Cintya. Samuel takut Cintya akan menolak. Namun, ternyata Cintya hanya diam saat tangannya digenggam oleh Samuel.   Melihat Cintya hanya pasrah, Samuel pun merengkuh kepala Cintya dan membawanya dalam pelukan. Entah, Cintya hanya pasrah saat dipeluk Samuel. Cintya merasa nyaman berada di pelukan Samuel.   “Kenapa aku nggak dari dulu ketemu kamu, Sam? Sekarang aku udah punya anak dan suami. Tapi, suamiku sama sekali nggak bisa bikin aku bahagia. Dia selalu bikin aku kesal. Sekarang anakku hilang gara-gara dia.” Cintya menghela napas dalam. “Duh, maaf aku jadi curhat, Sam,” lanjut Cintya sambil mendongak menatap Samuel.   Hati Cintya terasa berbunga-bunga melihat wajah Samuel yang begitu berseri. Berbeda sekali dengan Panji, suaminya.   “Nggak apa-apa, Cint, aku akan siap dengar semua keluh kesahmu.” Samuel membelai rambut Cintya, lalu dia mengusap pipi Cintya dengan begitu lembut. Cintya terpejam saat diperlakukan begitu manis oleh Samuel.   Lalu, tiba-tiba dia ingat kalau Arkhan hilang. Dia melepas pelukan Samuel, membuat Samuel takut kalau Cintya marah dengan perlakuannya.   “Arkhan hilang, aku harus cari dia. Aku nggak bisa percaya pada Panji,” ucap Cintya.   “Aku bantu cari Arkhan,” sahut Samuel.   “Nggak usah Sam, aku nggak mau ngerepotin kamu.” Cintya merasa tak enak kalau harus merepotkan Samuel.   “Nggak apa-apa, Cint, aku nggak bisa biarin kamu cari sendiri.”   Cintya pun akhirnya mengalah. Lalu, mereka pun masuk ke mobilnya masing-masing. Samuel mencari ke tempat yang berbeda dengan Cintya, dia meminta alamat teman-teman Arkhan pada Cintya. Siapa tahu Arkhan ada di rumah temannya.   Cintya juga terus mencari Arkhan. Berbagai tempat yang biasa mereka kunjungi sudah Cintya datangi. Namun, nihil, Arkhan tidak ada di sana. Cintya pun menyerah, dia akhirnya pulang meskipun belum menemukan Arkhan. Dia akan meminta bantuan papanya. Cintya pun menghubungi Samuel.   “Sam, kita pulang aja. Arkhan nggak ada di mana pun. Biar aku minta bantuan Papa.”   “Yakin nggak mau cari lagi?” tanya Samuel.   “Nggak usah. Ini aku udah jalan mau pulang,” sahut Cintya.   “Ok, aku ke rumah kamu.”   Cintya pun tidak menanggapi kata-kata Samuel. Cintya merasa senang karena temannya itu begitu peduli padanya.   ***   Panji kalang kabut mencari Arkhan. Dia benar-benar khawatir dan bingung. Apalagi dia disalahkan oleh Cintya. Tanpa berpikir panjang Panji segera memacu sepeda motor. Lalu, melesat membelah jalanan kota yang mulai padat. Dadanya semakin berdebar tak karuan, apalagi hari sudah hampir senja. Ke mana lagi harus mencari Arkhan?   Tujuan pertama Panji ke sekolah Arkhan, siapa tahu ada yang melihatnya tadi. Ketika tiba di sekolah ternyata sudah sepi. Bahkan satpam pun telah meninggalkan sekolah.   “Ke mana lagi aku harus mencari Arkhan?” Panji menarik rambutnya kaskar.   Lalu, terdengar suara gawai bergetar. Panji segera mengambilnya dari saku. Tertera di layar nama Cintya. Sebelum menerimanya Panji menarik napas panjang. Dia harus menebalkan telinga jika mendengar ocehannya.   “Halo, Yah.” Terdengar suara Cintya.   “Iya, Ma.”   “Gimana, udah ketemu belum, Arkhan?”   “Belum, ini masih keliling, Ma.”   “Pokoknya Mama nggak mau tahu. Nanti sampai rumah, Arkhan harus udah ada di rumah!” Lalu terdengar telepon dimatikan.   “Ck. Sial! Wanita memang sukanya marah-marah! Nggak peduli suami sudah berusaha seperti apa.” Panji benar-benar kesal pada Cintya. Kemudian, Panji menghubungi Adrian, siapa tahu dia bisa membantu.   “Halo, Ad.”   “Ada apa? Tumben nelpon Gue,” sahut Adrian.   “Arkhan ilang. Lu, bisa bantu Gue nggak?” tanyaku.   “Hah, ilang? Kok bisa?”   “Malah tanya lagi. Lu bisa bantu Gue nggak? Pusing ini! Malah Cintya marah-marah mulu lagi.”   “Yaelah. Gitu aja marah lu. Ok, Gue bantu, ini juga mau pulang.”   “Makasih ya, Ad. Nanti sambil jalan pulang, lu lihat sekeliling ya, siapa tahu ada Arkhan.”   “Bereslah pokoknya. Ya udah, gue balik dulu.” Lalu sambungan telepon dimatikan.   Panji mengacak rambut kasar. Dia bingung harus ke mana lagi mencari Arkhan.   “Apa mungkin Arkhan ikut gurunya? Kenapa juga tidak berpikir ke sana? Aku tidak tahu rumahnya juga.” Panji semakin kalut.   Ketika sedang panik, tiba-tiba Panji melihat seorang perempuan berhijab keluar dari sekolah Arkhan. Sepertinya Bu Iffah. Panji pun turun lagi dari motor. Lalu menghampirinya.   “Ayahnya Arkhan, ya?” tanya Bu Iffah.   “Iya, Bu. Ibu belum pulang?”   “Kebetulan rumah saya dekat dari sini, Pak. Ke sini, cuma ngecek pintu ruang kelas aja kok. Takut belum dikunci. Oh iya, Bapak sendiri kenapa sudah hampir senja masih di sini?”   “Saya cari Arkhan, Bu. Dia belum pulang.”   “Loh, tadi pagi dia nunggu jemputan kok, Pak. Mau saya ajak pulang, dia nggak mau. Katanya takut Bapak kebingungan mencari.”   “Ini salah saya, tadi sudah pesen sama pembantu suruh jemput, ternyata dia lupa.”   “Ya Allah ... bagaimana kalau saya ikut bantu mencari, Pak?”   “Nggak perlu, Bu. Saya sudah minta bantuan teman kok. Saya permisi dulu, mau cari Arkhan lagi. Keburu malam.” Panji berpamitan pada Bu Iffah.   Bu Iffah mengangguk dan tersenyum.   Ya Tuhan senyumnya kenapa begitu manis. Astagfirullah. Ingat Bram, kamu sudah beristri. Jaga pandanganmu. Rutuk Panji dalam hati. Lalu, Panji segera memacu motor dengan cepat. Meninggalkan area sekolah.     Arkhan kamu ke mana, batin Panji. Jantungnya berdegup lebih kencang. Hari sudah gelap, tapi Panji tak juga mendapatkan petunjuk di mana Arkhan. Ke mana lagi harus mencari. Adrian juga belum memberi kabar.   Panji terus berkeliling sepanjang kota, mencari di tempat yang biasa mereka kunjungi. Namun, tak juga ketemu. Karena, sudah lelah akhirnya Panji menyerah. Memacu sepeda motor menuju rumah. Tak peduli jika nanti akan mendapat omelan dari Cintya. Letih dan lapar berbaur menjadi satu. Sepulang dari toko tadi belum terisi makanan ataupun minuman. Karena, kalut Panji pun memacu motor dengan laju yang cepat. Ingin segera sampai di rumah. Tak peduli dengan umpatan dari pengendara lain.   *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN