Tidak Yakin
Perempuan bertumbuh ringkih dengan tinggi badan di atas rata-rata perempuan di kampung itu terlihat sedang merapikan barang dagangannya ketika Ika mendekat. Kios kecil di depan rumahnya itu tampak selalu ramai dengan pembeli. Hanya seputar warga kampung setempat, namun ia beruntung karena banyaknya anak-anak di kampungnya yang selalu datang membeli jajan.
"Apa kau setuju jika kukenalkan engkau pada seorang pemuda?" akhirnya Ika menyampaikan maksud hatinya setelah mereka berbasa-basi sekitar setengah jam. Heni terlihat berpikir keras, ia memiringkan bibirnya ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Hidung bangirnya terlrihat ikut bergerak-gerak. Ika tahu kebiasaan itu memang sering dilihatnya sewaktu mereka bersekolah dulu. "Entahlah!" Terdengar jawaban Heni yang membingungkan Ika. "Memangnya saudaramu itu punya uang berapa?" lanjutnya lagi, yang membuat Ika semakin bingung untuk menjawab. Ia tak menyangka sahabatnya ini sudah jauh berubah.
"Datanglah dulu ke rumah. Kenalanlah dahulu! Tidak ada salahnya, toh!" rayu Ika berkeras. Ia teringat wajah Ben yang terus memohon padanya. Ia tak ingin gagal. "Nah, waktu bertemu dengannya, kau tanyakanlah apa pun yang ingin kau tahu tentang dia. Bagaimana?" Tanpa sadar, Ika menahan napas menunggu jawaban Heni yang kini sudah duduk bersandar di sebuah kursi bambu.
Ika akhirnya lega ketika Heni, meski dengan sedikit enggan berjanji akan datang di hari Minggu nanti ke rumah Ika. Heni teringat sosok ibunya yang selalu mengingatkannya untuk segera punya pasangan, padahal ia hanya fokus pada dagangannya saja. Baginya, berurusan dengan lelaki sungguh merepotkan. Hidupnya jauh lebih sederhana tanpa gangguan jika tanpa para pria, namun keinginan ibunya juga tak mampu dibendungnya. Apalagi jika ia bicara sampai bercucuran air mata. Heni tak sampai hati, mungkin kali ini ia akan beruntung.