Saran

239 Kata
Saran Ben membiarkan lelaki beruban itu menertawakan dirinya. Ia tidak tersinggung sedikit pun, diambilnya lintingan rokok lain dari bere lelaki tua itu dan mulai lanjut merenung. "Begini anak muda! Kalau mencari perempuan, pergilah ke kampung, di sana ada banyak tempat di mana kau bisa menemukan salah satunya." Ben mendengar sambil sesekali mengangguk-angguk. "Aku sedang berpikir seperti itu juga. Hanya saja, saya malu. Perempuan di kampung sekolahnya jauh lebih tinggi dari saya. Tidak bakal mau mereka bergaul dengan saya!" kilahnya cepat. Lelaki tua itu maklum kini, apa yang menjadi beban pikiran anak muda itu. Ia duduk lebih merapat padanya dan mulai menasihatinya dengan lebih sungguh. " Begini, kalau memang kau merasa sungkan dengan para gadis, bisa saja kau mendekati melalui perantara orang terdekatmu!" Ben mengerenyit sebentar. "Maksud om, saya minta dijodohkan begitu?" Lelaki itu mengangguk. "Yah, macam itulah!" putusnya menyetujui jalan pikiran Ben. Lelaki muda itu terlihat berpikir sejenak. Ia akan mencoba bicara dengan satu-satunya perempuan yang dekat dengannya selain ibunya. Siapa lagi kalau bukan kak Ika. "Selama pencarian ini berlangsung, kau tahu apa yang harus kau lakukan?" Ben melihat ke arah punggung lelaki tua yang sudah bergerak ke arah kebunnya. "Kau harus tetap bekerja karena perempuan tak menyukai pemuda pemalas!" lanjut pak tua sambil tersenyum. Ben mengambil paculnya dan mulai menyiangi rerumputan yang lebih tinggi di sekitar pagar kebunnya. Dadanya penuh dengan semangat, meski tak tahu apakah kakak perempuannya itu akan bersedia membantunya atau malah menertawakan dirinya seperti sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN