Cowok Spanyol
Ada empat brosur sekolah menengah di atas meja. Seorang kakak duduk di meja makan dari marmer hitam abstrak, memindai satu per satu klasifikasi sekolah yang ditawarkan.
“Tumben lo ke sini.” Suara lembut bernada rendah keluar dari kamar, dia melenggang menuju tempat kakaknya duduk. Dinding kaca apartemen menunjukkan langit sore Barcelona yang indah dipandang dari ketinggian lantai dua puluh, tapi kedua cowok itu sudah bosan menatapnya.
Si Kakak melonggarkan dasinya. “Kamu emangnya mau ngomong kalau ayah yang dateng?”
Si Adik melengos ketus, tangannya mengusap rambut yang baru dikeramas dengan cepat. “Biasanya juga gue nggak dikasih pilihan sekolah, langsung didaftarin.”
Tubuh tegap tinggi nyaris menyamai si kakak dan otot baru terbentuk miliknya sekejap membuat si Kakak tertegun. “El monstruo (monster) ...,” lontarnya dengan aksen khas spanyol.
Mata tajam si adik melirik. “Cállate (diem)!” Dengan tubuh yang hanya dibalut celana training hitam, dia duduk di seberang, mengangkat sebelah kakinya lalu meraih salah satu brosur sekolah berwarna ungu indigo. “Yang mana yang paling bebas?”
“Gak ada. Ini empat sekolah paling bagus di Indonesia. Dua di bandung, satu di Padang, satu lagi di Makasar. Kamu harus milih di antara keempat sekolah ini. Ayah udah siapin apartemen, pembantu, sopir—“
“Nggak.” Adik membanting telapak tangannya ke meja. “Gue mau sendiri.”
“Pilih sekolahnya dulu, Vernon. Itu bisa diurus nanti.”
Si Adik melirik sebentar brosur ungu di tangan, melemparnya ke udara, merogoh brosur lain berwarna tosca. Matanya membaca tulisan bergulir, sebelah alisnya naik. “SMA khusus karier?”
“Unik, kan? Di sana ada SMK, tapi ini SMA yang sistemnya meniru SMK. Aku udah riset semua spesifikasinya, ternyata banyak jebolan dari sana yang sukses. Ada dua orang jadi inovator aplikasi sukses tahun ini.” Si Kakak melirik jam tangan. “Ada juga yang pergi ke Singapura dan desain apartemen futuristik ramah lingkungan di sana. Kerennya lagi dia didukung langsung sama pemerintahnya.”
“Bodo amat. Mau dia jadi desainer baju dalem pun gue nggak peduli.” Adiknya melirik sinis. “Gue mau di sini. Kirim mobil yang porche.”
“Gak.”
Adik mengerjap. “Yang 911.”
“Gak.”
“Mazda,” timpal adik, masih menawar.
“Gak.”
Tangan adik kembali memukul meja. “Infiniti!”
“Jangan aneh-aneh.”
“B.C.!”
“Mimpi sana, itu mobilku.”
“Yang merah punya gue!”
“Gak.”
Adik meringis geram, mengepalkan tangan. Dia menarik napas dalam. “Mazda.” Dia melotot. “Titik. Nggak ada Mazda, gue nggak mau sekolah di mana pun.”
Kakak menutup mata pasrah. “Oke.” Dia berdiri, merapikan jasnya. “Siap-siap, nanti malam kamu naik pesawat langsung ke bandung.”
Si Adik melirik lagi brosur SMA yang dipilih saat kakaknya menutup pintu. “Udah lama nggak pulang.”
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Seorang cowok lokal masih terlelap di sore hari usai maraton anime AOT dari season awal sampai yang terbaru. Sebuah kenikmatan tersendiri saat menuntaskan tontonan di libur panjang sekolah tanpa ada yang mengomel.
Namun, di sore yang tenang itu, langkah kaki terburu-buru masuk ke rumahnya, memberi salam pada sang ibu yang menonton siaran india dan tanpa basa-basi membanting pintu kamar cowok itu. “Rud!” seru gadis itu, segera melangkah lebar-lebar ke kasur, mengguncangkan badan cowok itu.
Rudy bangun, tapi tetap menutup mulut dan diam. Kebiasaan kalo dateng mendadak banget kaya titan.
Gadis itu mengerut jengkel. “Rudy, ni penting!”
Alah, paling berita boy band comeback, kan?
“Gue masuk Meraki!”
Rudy langsung bangkit dan menoleh kaget. “b**o, itu kan sekolah elit. Lo punya duit berapa buat nyogok nilai ijazah?”
“Eh, guguk! Lo kata gue kalau punya duit segitu banyak bakal dipake buat sekolah? Mending beli album!”
Rambut ala jerami milik Rudy bergerak naik turun sambil mengangguk. “Terus? Lo pake susuk, ya? Lo rayu guru di sana?”
Cewek itu menempeleng Rudy. “Mana bisa! Gue cuma kasih formulir kaya biasa minggu kemaren, eh tau-tau, gue dapet email tadi dari SMA Meraki! Pemberitahuan kalau gue bakal ikutan ujian masuk!” Cewek itu berseru nyaring, melompat-lompat dan berjoget Lagu how you like that.
Rudy termenung sejenak. Bentar, gue juga daftar ke sana, kan ya? Dia mencari ponsel di bawah bantal, membuka J-mail. Cowok itu juga mendapat email dari SMA Meraki. ‘Ulangan peserta baru akan dilaksanakan pada ....’
“Loh? Lo juga masuk?” pekik gadis itu heboh, mengguncangkan tubuh Rudy.
“Baru ikutan ujian, Lana. Belom diterima beneran.” Rudy kembali merebahkan diri, memunggungi Lana.
Cewek itu memanyunkan mulut. “Masuk ujian juga dah syukur banget, Dy. Ah, nggak seru lo!”
Lana pergi sambil mengentakkan kaki dan mencibir Rudy yang tidak sesenang dirinya. Setelah terdengar suara pintu depan rumah yang tertutup, Rudy mengangkat kepalanya, langsung bangkit dan melompat-lompat di kasur.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Nova meneguk ludah dengan susah, berdiri di belakang pintu rumah dengan pemikiran negatif memenuhi kepala. Seragam SMP yang kekecilan dikenakan lagi bersama tas dan sepatu baru.
Mama dan Papanya yang berdiri di belakang saling melirik risau. “N-nova, tenang aja, oke?” ujar Papa.
“Gimana kalau ada cewek yang ngajak Nova ngobrol?” Cowok baby face itu menoleh. Ketakutan memancar jelas lewat suaranya. “Aku nggak berani ngomong.”
Sang Mama melangkah maju, mengusap punggung putra satu-satunya. “Cuekin aja kaya biasa kamu lakuin pas SMP. Duduk di pojokan, mainin hape kamu, pasang jetsetnya biar orang nggak ganggu kamu.”
“Headset, mah,” koreksi suaminya.
Sang Istri melirik ganas sekejap, membuat Papa bungkam. “Iya apalah itu, jetset kek, jenset kek. Kaya biasa aja, ya?”
Nova menarik napas dalam-dalam, mengangguk yakin, lalu menepuk badan sendiri. “Okeh! Mah, Pah, Nova berangkat!” serunya sambil membuka pintu dan melangkah keluar.
“Hati-hati,” balas kedua orang tuanya dengan ceria, menyemangati Nova.
Pintu tertutup, sang Istri menatap suaminya risau. “Aku ikutin aja, ya? Aku takut dia sakit parah lagi.”
“Dia mesti beradaptasi sama cewek, Mah, dan itu harus dia cari tau caranya sendiri,” balas Papa merangkul Mama.
SMA Meraki tidak begitu jauh dari rumahnya. Jalan kaki ke sana sama sekali bukan masalah. Cowok lima belas tahun itu cuma takut ada cewek yang mengajaknya berbincang.
Nova menghentikan langkahnya begitu mendengar suara tawa cewek dari belakang. Dia sigap merapatkan diri ke pagar rumah orang, membiarkan dua orang cewek itu berjalan lebih dulu.
Salah seorang cewek melihat sikap Nova sambil mengernyit. “Itu dia kenapa?”
“Ngintipin rumah orang kayaknya.”
Nova menghela napas lega saat dua cewek berseragam itu sudah jauh. “Serem banget, sumpah.”
Kakinya menginjak ekor kucing yang duduk di tepi trotoar. Dia menjerit sambil berlari begitu tau kucing itu betina. “Kucingnya cewek! Kucingnya cewek!”
Cowok itu sudah berada di samping gerbang masuk SMA Meraki yang terbuka lebar. Dia menatap ngeri setiap cewek yang melangkah masuk ke sana sambil mematung. Saat SMP, dia pernah pingsan melihat jumlah cewekuan di sekolahnya ketika pertama kali upacara. Mungkin kali ini, dia bisa kehilangan akal sehat kalau tau jumlah peserta ujian cewekuan.
Seseorang memiting leher Nova dengan lengan kekarnya dari belakang. “Eheeey, anak mami masuk sini, juga?”
Suara yang sangat Nova hafal. “Matt,” lontarnya pasrah.