Beda Kelas

1221 Kata
Mae tertawa kagum sambil menepuk tangan, disusul Pak Jun dan beberapa siswa lain. “Tentu aja ada. Berarti kamu mesti ke Klub ...  Seni. Di klub Seni kamu bisa belajar akting, dance, sama nyanyi.” Mae mengerut kening. “Ngelukis di Desain pak?” “Iya. Emang masih berantakan, sih, susunannya. Soalnya baru tahun ini sub-klub-nya di perbanyak. Tahun lalu nggak ada dance. Berhubung minat kalian banyak , jadi pihak sekolah terus nambah klubnya.” Di kelas lain, gadis bernama Audrey mengangkat tangan. “Bidang yang di ambil cuma yang berkaitan sama seni doang, Bu?” Bu Luna—guru Matematika sekaligus wali kelas X-3—menggeleng. “Ada Klub Administrasi untuk kalian yang mau mengejar impian sebagai sekertaris, Pembisnis atau mau membangun perusahaan.” “Pengacara, bu?” tanya Mathan. “Klub Hukum. Di sana ada karir sebagai Menteri, Hakim, Jaksa, Pengacara, Polisi dan sebagainya.” Theo mendecak. “Paling cuma title aja, kan, bu? Memangnya ada yang ngajarin kita jadi Hakim di klub sekolah?” Bu Luna memperbaiki letak kacamatanya. “Saya rasa kamu terlalu meremehkan sekolah ini, tampan.” “Oh?” Theo menarik senyum miring. “Tell me.” “Bu Rossie udah nyiapin ahli dari bidang masing-masing. Kalian mau jadi penyanyi? Kami punya gurunya. Mr. Blake dari tempat kursus ‘Autotune’,” tutur Ibu guru berwajah Norwegia itu. Cecilia memekik tertahan, menutup mulutnya. “Autotune? Itu kan kelas nyanyi yang pernah diikutin Zayen dari Two Direction!” “Buset, Zayen? Serius?” “Keren banget dong tempat lesnya kalau si Zayen pernah belajar di sana.” “Ada mantan menteri Cina yang bakal ngajarin kamu di sini. Lalu ada Pengacara Horman Tarris, mantan anggota spy dari C.N.A., mantan sekertaris keuangan negara Jerman, dan masih banyak lagi.” Sabina dari kelas X-1 membelalak. “Sekolah apa kuliahan sih, ini? Perasaan bayarannya nggak mahal deh,” gumamnya. Mr. Taro, wali kelas X-1 melipat tangan. “Semuanya berkat Bu Rossie. Dari biaya sekolah sampai gaji pembimbing klub, dia yang bayar.” Rudy memegang kepalanya, pusing memperkirakan uang yang terbang dari biaya menyewa mantan menteri negara lain sebagai pembimbing klub sekolah. Duitnya bisa buat beli full aksesoris AOT dari patung titan sampe jubah-jubahnya, njir! “Maka dari itu, kami harap kalian tidak mengecewakan Bu Rossie dan para pembimbing. Kami mempersiapkan kalian untuk terjun ke medan perang yang sulit, yaitu kehidupan nyata. Kalau kalian datang ke sekolah ini untuk memamerkan status, membuly teman, atau tawuran, so sorry, children. Kami enggak segan tendang kalian keluar dari sini,” tekan Mr. Taro. ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Jam sepuluh lewat lima belas semua murid baru diperbolehkan untuk pulang atau melihat-lihat sekolah. Rudy ingin sekali segera pulang untuk mengunduh Anime yang update hari ini. Tentu saja Lana memaksanya untuk menemani berkeliling. “Gue mau liat-liat ruang klubnya, Ruuudyyy! Temenin gueee!” seru cewek itu menarik tangan Rudy. Cowok itu menahan posisi dengan memeluk pilar putih di lorong di depan kelas X-1. “Gue capek, Lan,” rajuk Rudy yang baterai sosialisasinya tiris. “Baru pembagian kelas aja udah capek, ah elah! Ayo!” Lana berhasil menarik cowok itu lepas dari pilar dan menggeretnya ke bangunan khusus ruang klub dan perpustakaan. “Gue mau ngeliat klub seni.” Bagian dalam bangunan Klub bergaya retro. Lantainya dari marmer hitam-putih mirip papan catur, dipadu tembok putih gading. Ada tangga besar yang terlihat begitu masuk ke bangunan. Lana menarik Rudy dan menghampiri papan mading di dekat tanaman. “Klub seni ... Lantai dua.” Tidak susah mencari ruangan itu karena suara-suara merdu dan alunan musiknya mengundang Lana untuk mampir. Cewek itu berdiri mengintip isi ruang klub seni dari ambang pintu yang terbuka. Terlihat dua orang sedang duet di sisi kanan, ditemani siswi yang bermain biola dan laki-laki yang memetik senar celo. Lana menatap haru, indra telinganya meleleh. “Lagi duet lagu sweet sorrow-nya mbak IU.” Dia langsung berjalan masuk, Rudy tak sempat menghentikannya. “Lana! Heh, jangan sembarangan masuk!” panggilnya dengan pelan. Cewek itu tak peduli, telinganya hanya mendengar suara lembut celo dan siswi yang bernyanyi. Bibirnya mulai mengikuti lirik, jiwanya terhanyut melodi. Rudy menembus napas. “Semoga aja dia nggak minder kalau ketemu suara yang lenih bagus dari dia,” gumamnya sambil tersenyum. “Bisa minggir, nggak?” Cowok itu langsung menepi, melirik sekejap cewek berambut lurus kaku dengan potongan berlayer. Dia yang tadi pagi keluar dari mobil porche di depan Lana. Audrey masuk ke ruang klub seni, dengan langkah mantap dan angkuh dia berdiri di sisi seberang, menghampiri kakak kelas selaku wakil pembina sub-Akting. “Kak Joe, ya? Aku Audrey, kak, dari kelas X-3. Aku mau daftar jadi anggota klub ini,” ucap cewek dengan t**i lalat kecil di pipi itu. Siswa bernama Joe mendelik dari papan jalan yang dia pegang. “Sekarang kami belum buka pendaftarannya. Kamu mesti nunggu aba-aba dari wali kelas dulu.” Audrey mengangguk paham, agak kecewa. “Kira-kira kuota member klubnya berapa, kak?” “Tenang aja, kita nerima semua murid yang mau belajar akting.” Audrey dan Joe tersentak kaget saat Lana berteriak dan menepuk tangan heboh pada pertunjukan kecil-kecilan di depannya. Cewek angkuh itu melirik sinis. “Kampungan.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Loker murid baru berjejer di tepi area taman depan sekolah. Loker besi berwarna champagne itu diberi kunci sidik jari. Namun, untuk murid baru, pemasangan kuncinya masih dalam proses penginstalan dan akan dipasang hari rabu nanti. Di hari Senin kedua Nova bersekolah, dia memasukkan binder note ke dalam loker barunya di jam istirahat, menukarnya dengan binder yang lain. Baru saja membuka pintu loker yang tak lebih besar dari brangkas, cowok itu mendelik. Ada amplop pink kecil di dalam lokernya. Nova meraih benda itu dengan dahi mengerut. “Amplop?” Rudy mendekati lokernya yang berada tepat di samping Nova. Matanya melirik sekilas benda di tangan cowok penakut itu. “Baru juga seminggu sekolah, udah dapet surat cinta aja lo.” Cowok yang sedikit lebih pendek dari Rudy itu mendelik bingung. “Surat cinta?” Cowok pencinta Animasi itu menutup loker setelah mengeluarkan buku catatan. “Baca aja.” Usai berkata demikian, dia pergi kembali ke kelas. Nova membuka surat manis itu, melebarkan lipatan kertas di dalamnya. Untuk Rudy .... “Nama gue kagak ada Rudy-nya perasaan—“ Selaku cewek yang selalu memperhatikan kamu, aku .... Nova sontak memekik kaget, melepas surat itu dari tangan dan menjauh dari lokernya. Dadanya naik-turun, matanya menatap ngeri surat yang berisi pujian dan harapan untuk Rudy. “Su-surat ancaman dari cewek! Tu cowok di ancem sama cewek!” lontarnya sambil menutup mulut tak percaya. Siswa dan siswi lain melirik Nova dengan aneh. Nova sadar dia bertindak berlebihan. Tenang, tenang. Itu cuma surat dan bukan buat gue. Dia berdeham, melangkah agak ngeri mendekati surat yang tergeletak di lantai, mengangkatnya dengan mencubit ujung atas kertas itu. Wajahnya mengerut melihat nama si pengirim. Mae Joana. “Mae tuh ... anak kelasan gue.” Dia melipat surat itu dengan wajah mengerut, seolah cewek adalah sejenis virus mematikan dan dia takut terkontaminasi lewat suratnya. Selesai memasukkan surat kembali ke amplop, dia terdiam. Terus gue apain ini surat? Buang aja kali ya. Ah, enggak! Gue inget banget cewek yang pernah mukulin gue pake sekop mainan pas tk! Itu kan gara-gara gue buang kertas origaminya makanya dia marah! Kalau gue buang ini surat, gue bisa diteror sampe mampus, anjir!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN