Dilara duduk di sudut dengan wajah suram. Tidak ada kebahagiaan atau ekspresi ceria yang selalu dia tampilkan. Dia menekuk wajah dan tidak memiliki alasan untuk tersenyum.
Hatinya benar benar beku dengan pikiran kusut dan kacau balau. Seakan ada badai yang menerjang dan memporak porandakan semua. Tidak perlu menunggu jam, karena dalam hitungan detikpun dia sudah hancur lebur.
Masih bermain dengan khayalannya. Dilara merenungkan banyak hal. Mulai dari awal dari insiden ini hingga konsekuensi yang harus dia tanggung sekarang. Parahnya.. dia hanya sendirian. Tidak memiliki tempat untuk bersandar ataupun tempat untuk mengadukan banyak hal.
Entah apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Satu yang pasti, dia tidak ingin keberadaan bayi ini di ketahui orang lain. Jadi, mau tidak mau dia harus menyembunyikannya sampai waktu yang tidak di tentukan.
Entah sampai kapan. Dia sendiri juga tidak tau sampai kapan bisa menyembunyikan sesuatu yang bisa tumbuh setiap harinya. Seiring berjalannya waktu, perutnya pasti membesar. Dan saat itu terjadi, dia tidak tau harus bagaimana, karena pilihannya hanya ada dua, yaitu bertahan atau menghilangkan.
Jika dia tidak bisa memilih di antara dua pilihan itu, takutnya dia akan hancur bersama bayinya.
"Ra." Zaine menepuk bahu Dilara, lalu duduk di sebelah gadis cantik yang sekarang sedang melamun. Sudah beberapa hari ini, Dilara selalu seperti itu. Dia juga heran dengan karakter gadis itu yang berubah jadi aneh.
Entah apa penyebabnya. Zaine tidak ingin bertanya atau mencari tau karena dia adalah orang yang paling mengerti karakter Dilara. Jika gadis itu memang ingin menceritakannya, tanpa di tanyapun, gadis itu pasti akan bercerita dengan sendirinya.
Tapi, karena Dilara bungkam dan sepertinya tidak ingin membicarakan apapun dengannya, jadi dia akan bersikap seakan semua baik baik saja, tidak ada masalah.
Dilara menoleh. Lalu memeluk Zaine.
Zaine yang tidak tau apa apa, hanya bisa mengerutkan kening. Sekarang dia benar benar heran dengan perubahan Dilara yang semakin ke sini semakin aneh. Dia hanya bisa membalas pelukan Dilara dan memberikan tepukan lembut di punggung gadis itu.
"Kamu kenapa, Ra?" Zaine bertanya setelah beberapa lama Dilara tidak melepaskan pelukannya. Gadis ini sangat mencurigakan.
Dilara menggelengkan kepala. Dia yang merasa hatinya terluka, tidak bisa berkata lagi. Di banding apapun, Zaine adalah yang paling terluka di antara mereka. Rasa sakit yang akan Zaine rasakan jika suatu saat nanti mengetahui kenyataannya, pasti akan jauh lebih menyakitkan dari apa yang dia rasakan.
Semua itu juga menimbulkan rasa bersalah untuk Dilara. Dia ingin menangis dan meminta pengampunan, meski mungkin dia tidak akan mendapatkannya.
"Terus, kamu kenapa? Kamu nggak mau cerita gitu sama aku? Aku ini pacar kamu, lho?" Zaine mencoba menggoda Dilara. Sejujurnya, dia lebih suka Dilara yang cerewet dari pada diam seperti ini, membuatnya takut.
Dilara melepaskan pelukannya, mendongak, menatap wajah Zaine yang masih sama. Tampan, berkharisma, berattitude baik, pintar, cerdas dan selalu menunjukan kelembutan untuknya.
Pria baik hati yang sempurna dan tanpa celah. Seakan bisa mendinginkan dirinya saat berada di tengah oasis. Memberikan kedamaian yang tidak semua orang bisa memberikannya. Itulah Zaine, di hatinya, di matanya, dan di hidupnya, tidak pernah berubah apapun yang terjadi.
Dilara menyentuh wajah Zaine. "Aku sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, perasaan itu nggak akan berubah."
Zaine memejamkan matanya, merasakan kehangatan saat mendapat sentuhan dari kekasih hatinya. Lalu menganggukan kepala. "Aku juga." Dia menuntun tangan Dilara untuk menyentuh dadanya. "Kamu akan selalu berada di sini, sampai kapanpun." Tambahnya kemudian.
"Aduh aduh aduh." Casey yang memasuki kantin bersama Amira, tidak bisa berdiam diri saat menyaksikan keromantisan Dilara dan Zaine begitu saja. Terlalu sayang untuk di lewatkan. Dia mendudukkan diri pada kursi kosong di hadapan dua sejoli yang sedang memadu kasih. Kelakuan mereka benar benar membuatnya iri.
"Sorry, kita nggak ada niat buat ganggu kegiatan percintaan kalian." Amira buka suara, mendudukkan diri di sebelah Casey. "Tapi kalian seenaknya pelukan di tempat umum, apa kalian nggak mikirin jiwa jomblo kayak gue?" Tambahnya sembari menunjuk dirinya sendiri. Miris.
Dilara mengalihkan pandangan. Lalu tersenyum manis ke arah Casey dan Amira. Meski dua orang ini sangat mengganggu, tapi dia merasa terselamatkan. Membuat Zaine tidak bertanya lebih jauh.
Zaine merangkul Dilara mesra. "Ya.. mau gimana lagi? Kita juga nggak ada niat buat bikin kalian iri, tapi kalian benar benar datang di saat yang nggak tepat." Zaine menjawab santai. Tidak merasa bersalah meski sudah bermesraan di tempat umum hingga menjadi perbincangan mahasiswa lain.
"Kita juga sadar kalo udah ganggu.. tapi, seenggaknya, liat tempat dong! Ini kantin kampus, Zaine." Amira mencoba mengingatkan jika yang mereka lakukan, bisa menimbulkan skandal.
Dilara terkekeh saat mendengar perdebatan Amira dan Zaine. "Makasih, Amira. Udah ngingetin." Dia mencoba menghentikan argumen konyol yang akan menyita waktu kalau tidak di hentikan.
"Iya.. iya, terus..kalian di kantin nggak mau makan atau ngapain, gitu? Contohnya kayak neraktir kita? Kasihan tau, kondisi financial gue sama Casey lagi sekarat, kalian nggak mau memperpanjang nyawa keuangan kita?" Amira merendahkan suaranya. Menunjukan tampang menyedihkan seperti orang yang sudah tidak makan selam dua hari.
Casey menggelengkan kepala saat mendengar penuturan Amira. "Sebenernya, kondisi keuangan kita nggak seburuk yang Amira bilang, dia cuma kebanyakan nelen garem sampai hidupnya nggak manis, nggak pait, tapi asin."
Zaine dan Dilara tertawa kompak. Menganggap lucu perkataan Casey, meski nyatanya adalah benar.
Amira menunjuk Casey dengan jari telunjuknya. "Idih.. lo itu, ya? Nyari perkara sama gue? Awas aja, gue usir lo dari home sweet home gue?" Ucapnya mengancam. Bangkit dan meninggalkan Casey. Meski dia tidak marah, tapi dia pergi karena ada kuliah lima menit lagi.
"Amira!" Casey berteriak. "Jangan gitu dong, Mir. Lo tega banget sih sama gue." Dia mengedipkan mata kepada Zaine dan Dilara, lalu bangkit dari duduknya dan mengejar Amira. "Kalo gue nggak tinggal sama lo, lo mau tinggal sama siapa coba? Hah?"
Dilara dan Zaine mengawasi kepergian Casey sampai teriakannya terdengar samar dan siluetnya benar benar hilang. Mereka saling berpandangan, lalu mengulas senyum.
"Ra."
Suara itu membuat Dilara dan Zaine menoleh, melihat sekelompok pria yang sedang memperhatikan mereka. Dilara tersenyum canggung. Entah sejak kapan Leo, Arka, Bayu, Angga dan Brian duduk di sana dan berjarak sangat dekat dengan tempat duduknya.
Dilara menepuk jidatnya. Baguslah.. mereka pasti sudah melihat apa yang di lakukannya sejak awal bersama Zaine.
---------•
--•
"Lo tau nggak ada ketua SEMA di sini?" Leo menunjuk Arka. Mencoba mengingatkan jika apa yang Dilara lakukan di tempat umum bisa menimbulkan polemik. "Ini bisa membuat lo dapat masalah, Ra!" Leo menambahkan dengan intonasi tinggi.
Arka yang di tunjuk, tidak bereaksi. Dia hanya mengangkat bahu. Seakan mengandung arti, kalau dia tidak ikut ikutan. Bagaimanapun, apa yang Dilara lakukan masih umum, tidak berlebihan, tidak seperti dia dan Casey yang sering berbuat hal yang lebih buruk dari itu di wilayah Kampus.
Dilara bungkam. Dia hanya menundukan kepala, tidak ingin memperburuk keadaan dengan menyanggah ucapan Leo. Dia hafal tabiat Kakaknya yang harus di patuhi kalau ingin semuanya cepat selesai.
"Ra," Leo mendudukkan diri di hadapan Dilara. "Mama sama Papa nggak di rumah. Minimal, jangan bikin hidup gue sulit. Lo dengerin omongan gue, deh."
"Iya, Kak. Aku minta maaf. Aku janji nggak akan kayak gini lagi." Dilara berkata sungguh sungguh.
Angga menyaksikan ini dengan senyum tipis yang samar. Meski dia merasa iba dengan gadis itu, tapi ini adalah hukuman yang setimpal. Lagipula, semua adalah salahnya sendiri, jadi.. jangan harap Leo akan bersikap lembut setelah menyaksikan semua yang Dilara lakukan sejak awal bersama Zaine.
Dilara melirik Angga yang seperti sedang mengejeknya. Dia akui jika Angga cukup tampan hari ini. Mengenakan kaos berwarna putih polos, celana jeans panjang berwarna hitam, juga jaket kulit yang membuat penampilan Angga sangat santai.
Sejauh yang Dilara tau tentang Angga adalah, selain Angga anak motor, pria itu juga menyukai casual sebagai pilihan style yang memang sedang booming di kalangan anak muda. Sayangnya, saat dia mengetahui karakter Angga yang menyimpang, kekaguman itu perlahan memudar.
"Aish.." Dilara mendesis. Untuk apa dia memikirkan Dewa penghancur yang sudah meratakan hidupnya? Setampan apapun Angga, pria itu tetap tidak bisa di bandingkan dengan Zaine yang berwajah tampan dan berattitude baik. Perbedaan antara dua pria itu bahkan sangat jauh hingga satu dari mereka tidak mungkin menjangkau yang lainnya.
"Ra, sebaiknya lo dengerin Leo. Dia cuma nggak mau terjadi hal hal yang nantinya bisa ngerusak masa depan lo." Brian yang semula hanya menonton, menyuarakan pendapatnya. Dia sudah menganggap Dilara seperti adiknya sendiri, jadi dia juga tidak ingin Dilara jatuh dalam kubangan pergaulan bebas yang seringkali merusak masa depan.
"Brian, Leo dan kita semua sayang sama lo, Ra. Lo udah kayak adek kita. Kita bukannya mau ngatur, sok pinter, sok nasehatin, atau menggurui lo. Kita cuma nggak mau lo kenapa napa." Bayu membenarkan ucapan Leo dan Brian. Dilara adalah gadis baik kesayangan Leo. Jadi, sudah sewajarnya mereka saling menjaga satu sama lain seperti saudara.
"Ra, sebagai cowok normal, kita juga punya rasa, keinginan dan hasrat yang sulit di tangani. Lo harusnya tau kalo kekhawatiran gue ini bukan tanpa alasan. Lo itu udah dewasa." Leo menepuk puncak kepala Dilara. "Sesuatu bisa terjadi di luar kendali lo." Tambahnya kemudian.
"Iya, aku tau, Kak. Satu hal yang juga harus Kakak inget adalah aku sama Zaine saling mencintai dan Zaine juga nggak pernah ngelakuin hal yang menjurus pada asusila." Dilara merendahkan suaranya. Dia tau kalau spesies pria hampir memiliki karakter yang sama.
"Itu nggak menjamin apapun karena semua bisa terjadi gitu aja, ngalir kayak air. Lo nggak akan bisa mengantisipasi kalo itu udah terjadi, dan lo akan nyesel seumur hidup lo." Suara Leo tidak kalah rendah. Sebagai seorang pria, dia tau kalau menahan hasrat itu sulit, dan kalau ada pelampiasan di depan mata, maka mereka tidak akan memikirkan apapun lagi.
Dilara mengangguk. "Aku janji akan lebih hati hati mulai dari sekarang, terutama sama cowok b******k nggak tau malu yang nggak pernah ngehargai cewek." Dilara berkata dengan intonasi keras. Dia berharap seseorang bisa mendengar dan merenungkannya.
Lagipula, yang seharusnya mendapat petuah ini bukanlah dia, karena Angga terlihat lebih membutuhkan pencerahan dari pada dirinya. Tapi entah kenapa hanya dia yang di pojokan. Sangat tidak adil.