YM ~ Pilihan Yang Sulit

1614 Kata
Dilara membenamkan diri dalam selimut. Lalu menyibaknya kembali. Sekarang dia haus. Tidak bisa tidur ternyata membuatnya gerah dan kehausan. Sangat menyebalkan. Terhitung sudah tiga jam Dilara berbaring di atas ranjang dengan berbagai pose. Tapi, tetap saja hatinya merasa tidak nyaman. Dan seperti inilah hasilnya, mungkin dia tidak akan tidur sampai pagi seperti beberapa malam terakhir yang di habiskannya dengan tetap terjaga. Dilara bangkit, keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Dia mengusap perutnya, memang belum besar, tapi di dalam sana sudah ada kehidupan lain yang menanti untuk di besarkan. Dan pertanyaannya adalah.. apakah dia mampu? Dilara membuka kulkas, mengambil sebotol air, bergegas meminumnya. Lalu menutup pintu kulkas kembali, dan.. "Ah.." Dilara terkejut saat mendapati Bayu berdiri di sana. Dia memegang dadanya yang serasa jatuh. "Kak.. kak Bayu? Bikin aku kaget, aku pikir hantu." Ucapnya dengan nafas tersengal dan suara terbata. Tidak tau kenapa Bayu muncul tiba tiba dan mengagetkannya. Itu bisa membuatnya mati akibat serangan jantung. Bayu tersenyum. "Emang ada hantu yang gantengnya kayak gue?" Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri dengan percaya diri. "Aish." Dilara mendesis. "Mulai lagi." Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tersenyum canggung. "Kamu ngapain? Belum tidur?" Dilara mengangguk. "Aku nggak bisa tidur dan sekarang haus." Jawabnya cepat. Itu tidak sepenuhnya bohong, karena dia memang tidak bisa tidur. "Masih ngerjain tugas?" Bayu menaikan sebelah alisnya. "Design?" Tanyanya secara asal. Dilara merupakan Mahasiswi Psikologi dan Fashion Design, jadi tidak sulit untuk menebak tugas apa yang kira kira sedang Dilara kerjakan. Dilara mengangguk. "Iya." "Mau aku bantu ngerjain?" Bayu menawarkan. Dia masih belum ngantuk meski sudah menyelesaikan tugasnya 30 menit yang lalu. Dilara membulatkan mata. "Are you serious?" Matanya berbinar. Sebenarnya dia memang ada tugas design, yaitu membuat makalah tentang Milan Fashion Week, lalu merangkum beberapa fashion yang paling menonjol dan yang paling di lirik konsumen, lalu memprsentasikannya di depan kelas. Tapi masalahnya adalah.. karena belakangan dia tidak bisa berpikir, jadi dia belum mengerjakan satu barispun. Entah dia harus tertawa atau menangis. Namun saat mendapat tawaran ini, dia seperti bertemu Malaikat penolongnya, jadi dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. "Aku serius. Gih ambil laptopnya!" Belum selesai Bayu bicara, Dilara sudah lebih dulu kabur. Bayu hanya menggelengkan kepala. Lalu berjalan ke ruang keluarga dan mendudukkan dirinya di lantai, di atas karpet. Beberapa saat kemudian, Dilara datang membawa laptopnya. Lalu meletakan di atas meja, "mohon bantuannya." Dilara membungkukkan badan. Dia berharap Bayu benar benar bisa menolong dan menyelamatkannya kali ini. "Lo duduk aja di atas!" Bayu mulai mengutak atik tugas Dilara. Mencari beberapa artikel, membacanya secara cepat lalu merangkumnya dengan sabar, ulet, cermat dan teliti. Dilara membaringkan tubuhnya di atas sofa di belakang Bayu. Melihat langit langit ruang keluarga yang temaram. Dia sengaja tidak menyalakan lampu dan membiarkan lampu lampu kecil di sudut ruangan yang menyala. Tidak tau sejak kapan dia menyukai kegelapan. Tidak ada menariknya tapi ada ketenangan yang tercipta. Membuatnya nyaman. Leluasa untuk memikirkan banyak hal. "Kak, apa kamu nggak bisa tidur?" Dilara bertanya tanpa mengalihkan pandangan. Dia ingin tau alasan kenapa orang lain tidak bisa tidur. Apakah sama dengannya, karena takut, bingung, frustasi? Atau ada alasan lain yang hampir mirip? "Hm." Bayu masih fokus melajukan jari jemarinya di atas keyboard. "Kenapa?" Dilara merendahkan suaranya, sangat samar hingga nyaris tak terdengar. "Nggak tau. Lagian, nggak semua yang kita alami, yang kita lakuin, ada alasannya. Beberapa hal bahkan nggak ada penjelasannya." Bayu mencoba menerangkan. Alasan kenapa dia tidak bisa tidur, memang tidak tau apa penyebabnya. Dia hanya tidak bisa memejamkan mata meski dia ingin. Itu saja. "Lo sendiri kenapa nggak bisa tidur?" Bayu melayangkan pertanyaan yang sama. "Apa lo punya masalah yang nggak bisa di selesaikan?" Bayu mencoba menebak melalui gelagat Dilara yang terkesan aneh. "Bisa di bilang gitu." Bayu mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Dilara yang terbaring di atas sofa. "Masalah besar?" Belakangan, dia memang merasa wajah Dilara sedikit pucat, lingkaran hitam di mata semakin tebal, juga badan sedikit lebih kurus. "Lo tertekan?" "Iya." Dilara mengangguk. "Sangat tertekan." Bahkan rasanya hampir mati. Dilara melanjutkan dalam hati. Masalah besar yang di alaminya sudah membuatnya depresi, cemas, takut, putus asa dan.. ingin menyerah. Entah akan ada penyelesaiannya atau tidak. Satu yang pasti, dia ingin mengakhiri semuanya. Mengakhirinya tanpa rasa sakit, tanpa menimbulkan masalah, dan tanpa merepotkan orang lain. Meski dia masih belum tau bagaimana caranya. Bayu mengerutkan kening. "Karena Zaine?" Dilara tidak menjawab. Lebih memilih bungkam. Bicara takut salah, dan bicara takut di hakimi. Jadi, dia memilih untuk tidak menjawabnya. Biarkan Bayu berspekulasi dengan asumsinya sendiri. "Ra, punya masalah itu wajar. Yang penting lo harus berpikir positif, cari solusi buat nyelesein tanpa menimbulkan masalah lain. Gue nggak akan nanya apa masalah lo, atau siapa yang nyari masalah sama lo. Gue cuma mau bilang, selesein dengan benar." Bayu bersungguh sungguh. Dilara sudah seperti adiknya. Terlebih, karena saking seringnya dia menginap di rumah Leo, dia bahkan merasa kedekatannya dengan Dilara melebihi saudara kandung. "Iya, aku tau." Untuk sekarang lebih baik Dilara mengiyakan. Solusinya hanya ada beberapa, di antaranya adalah menggugurkan kandungannya, atau mempertahankannya. Sepintas, pilihan ini sangat mudah. Tapi kedua pilihan ini memiliki kadar konsekuensinya masing masing. Dia bisa saja menggugurkannya, tapi.. dia takut. Sedangkan untuk mempertahankannya, dia tidak mampu. Sekalipun dia berhasil melahirkan dan membesarkan anaknya nanti, tidak ada jaminan dia akan menyayangi anaknya. Kebenciannya kepada Angga, tanpa sadar telah membuatnya membenci bayinya sendiri. "Ra, kalo lo nggak bisa nanggung masalah lo sendiri, lo bisa cerita ke gue, Leo, Casey, atau siapapun yang lo kenal. Lo bisa bagi ke orang lain, dan lo bisa nemuin berbagai macam solusi dan memilah milihnya lagi. Lo bisa pake solusi yang paling umum dan minim konsekuensi." Bayu menjeda kalimatnya, menarik nafas sebentar, lalu melanjutkannya kembali. "Meski frekuensinya tidak sebagus yang dampaknya besar, tapi itu masih lebih baik, memprioritaskan kenyamanan dan keselamatan sendiri itu jauh lebih penting." Bayu menambahkan. Dilara termenung. Masalahnya tidak seringan yang Bayu pikirkan. Konsekuensinya juga sangat besar di setiap solusi yang nantinya dia pilih. Kalau kehamilannya ketahuan, Dilara akan mati karena di benci keluarganya, tapi kalau tidak ingin kehamilannya ketahuan, dia harus melenyapkan bayinya, sedangkan konsekuensi terburuknya sama dengan pilihan pertama, dia tetap akan mati, entah itu karena kehabisan darah di klinik Aborsi atau karena penyebab lain. "Ra, semua pilihan ada di lo. Lo yang nentuin hidup lo mau ke arah mana, tujuan hidup lo sendiri yang pilih, masa depan juga ada di tangan lo. Setiap keputusan ada harga yang harus di bayar. Itu mutlak. Cuma satu.. lo bisa ngehandle atau nggak, itu tergantung kemampuan lo. Semakin lo terpuruk, keadaan akan semakin nguasai lo. Itu sebabnya, gue bilang lo harus mikir positif, jangan gegabah, dan jangan selesein pake emosi. Tenangin diri lo dulu, saat lo tenang.. lo akan milih yang terbaik." Bayu berucap dengan satu tarikan nafas. Bayu tidak pandai memotifasi orang, juga tidak pandai mencarikan solusi untuk permasalahan orang lain. Dia hanya bisa mendukung apapun keputusan Dilara. Bertahan dengan Zaine atau tidak. Kandasnya hubungan percintaan sangat lumrah, tapi untuk ukuran seorang Dilara yang tidak memiliki cinta lain selain Zaine, akan sulit melepaskan. Setidaknya, itulah yang dia pikirkan. Dilara menatap punggung Bayu dengan perasaan rumit. Akan lebih baik kalau dia bisa sebijaksana Bayu, mungkin dia tidak akan sesetres ini, tapi apalah daya.. kemampuannya sangat terbatas. Selalu menjurus pada kemustahilan. Tidak ingin mencoba hal hal baru, tapi kalau tidak ada pilihan, dia terpaksa harus melakukannya. ---------• --• Dua jam kemudian, Dilara masuk kembali ke kamarnya. Setelah meletakan laptop di atas meja, dia segera mematikan lampu. Tidak membiarkan ada lampu yang menyala meski itu hanya lampu kecil di atas meja. Dia membaringkan tubuhnya kembali. Meski dia tidak melakukan apapun, selain melihat Bayu mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya, tapi bayi ini membuatnya kelelahan sepanjang hari meski tidak beraktifitas. Jika di biarkan seperti ini, takutnya dia tidak bisa berangkat kuliah lagi. Terlalu merepotkan kalau tiba tiba dia mual dan pusing di tempat umum. Selain itu bisa membuat orang lain curiga, itu juga bisa membuat Zaine mengetahui segalanya. Entah karena terlalu sulit berkata jujur, atau karena terlalu takut kehilangan Zaine. Yang jelas kedua alasan ini saling bertautan dan membuatnya tidak memiliki cukup keberanian untuk berkata yang sebenarnya. Zaine adalah segalanya untuknya dan itu pula yang membuatnya bungkam dengan seribu bahasa. Kehilangan Zaine juga bisa menjadi pukulan telak dan alasan untuknya tidak lagi menginginkan hidup. Jadi, bagaimana bisa Angga mencuri peran yang seharusnya Zaine ambil? Bajingan itu.. Dilara mengepalkan tangan. Dilara mulai terisak. Menangis pilu dalam kegelapan. Meski tidak ada yang bisa dia lihat, tapi dia bisa bercengkrama dan mengenal gelap dengan lebih baik, dan saat itu.. dia bisa menceritakan segalanya. Mencurahkan keluh kesah dan kerisauan. Mendengarkan cerita dan tangisannya tanpa lelah. Itulah kegelapan. Sesuatu yang di anggap menakutkan, menjadi yang paling dia rindukan saat kondisi mentalnya sedang tidak baik. Right, it all came back to the individual, but his felt that his found light in the darkness, and it was extraordinary. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Dilara memejamkan mata. Mencoba memilih yang terbaik. Tapi satu satunya yang terbaik saat ini adalah menyingkirkan bayi ini. Melenyapkan sebelum bayi ini membesar menjadi alternatif yang sepertinya akan dia ambil. Dilara menghentikan tangisannya. Menangis tanpa suara membuat dadanya sesak. Dia meraba hpnya, memakai insting untuk mencari keberadaan hp yang dia letakan secara asal. Begitu menemukannya, dia segera mencari forum ilegal untuk mencari tau tentang kinerja klinik aborsi dalam menangani pasien. Tiga puluh berlalu dengan cepat, dia masih berkutat dengan beberapa nomor tertera yang bisa di hubungi. Tanpa ragu, dia menghubungi satu persatu nomor yang sudah dia catat dalam memori kecilnya. Sudah dini hari, namun beberapa nomor menjawab panggilannya. Mungkin setiap klinik aborsi beroperasi selama 24 jam, atau bahkan hanya beroperasi pada malam hari. Menunjukan sisi gelap mereka sebagai devastating darkness. Tak khayal, mereka di buru dan di incar pihak berwajib. Ternyata pekerjaan mereka dalam melenyapkan nyawa sangat maksimal dan tidak tanggung tanggung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN