YM ~ Ketakutan Dilara

1261 Kata
Satu minggu berlalu dengan cepat. Terhitung sudah tujuh minggu usia kehamilan Dilara, itupun berdasarkan prediksinya. Tidak tau berapa usia pastinya karena dia sendiri lupa kapan terakhir kali dia datang bulan. Tidak bisa di pungkiri, dia merasa cukup bangga saat menyadari bayinya mungkin sudah berbentuk daging, bukan lagi darah. Usia yang seharusnya di jaga baik baik, nyatanya.. tidak di lakukan. Dia bahkan sengaja mengkonsumsi beberapa makanan pantangan untuk ibu hamil dengan porsi yang di tambahkan. Bukan tanpa alasan, semua bermula sejak dua garis itu tampak dan membayanginya, dia tidak lagi menginginkan bayi ini. Tidak memiliki semangat hidup, apa lagi semangat untuk membesarkan bayi ini. Sama sekali tidak ada niatan untuk mempertahankannya. Tidak bisa. Pokoknya.. sebelum bayi di dalam perutnya kian berkembang, dia harus segera melenyapkannya. Menepis ego dan membuangnya sebentar seperti orang gila tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Nyatanya.. dia memutuskan ini setelah memikirkannya berulang kali. Tidak sampai di situ, dia bahkan berani menanggung konsekuensi terburuknya.. yaitu kematian. Dia sudah memberi waktu satu minggu, namun, saat janin ini kian lengket dalam kandungannya, dia tidak memiliki pilihan lain selain mencari klinik yang bisa membantu untuk meluruhkannya. Entah dimana hati nuraninya. Dia seperti monster jahat karena tega menyimpan niat untuk menghabisi darah dagingnya. Nyatanya.. titlle gadis polos yang selama ini melekat padanya, seperti tidak berlaku saat di hadapkan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Harga diri, harkat serta martabat keluarganya sedang di pertaruhkan. Jadi.. dia tidak bisa hanya bertopang kaki dan menunggu keluarganya di lempari kotoran dan di permalukan. Di sinilah Dilara berakhir. Sebuah klinik ilegal yang sudah bertahun tahun membantu para orang tua yang tidak menginginkan bayi bayi mereka untuk hidup. Tempat yang di yakini akan mendapat kutukan dari Tuhan ini, tanpa sadar dia pun mendatanginya. Tidak bisa di percaya dia akan mendatangi tempat seperti ini, juga tidak pernah terpikir bahwa tempat kotor yang paling di haramkannya selama bertahun tahun hidup, dia menginjakan kakinya pula. Seperti berada di pintu neraka. Ratapan tangis dari pasien yang sebelumnya duduk di sebelahnya, membuatnya meremas pakaian dengan perasaan takut yang berkecambuk. Jeritan itu sangat menyayat hari. Dilara memalingkan pandangan ke arah lain. Tidak ingin melihat sebuah ruang dengan pintu berwarna putih yang telah membuat beberapa bayi meninggal dengan sia sia. "Nona Pahlevi" Seorang suster berpakaian serba putih dengan wajah yang masih muda menghampiri tempat dimana Dilara mendudukkan diri, membawa sebuah kertas dan bulpoin. "Iya, saya." Jawab Dilara dengan ekspresi dingin dan datar. Tidak ada senyum yang menghiasai, tidak ada kebahagiaan yang mengiringi. Bagaimana dia bisa tersenyum saat hidupnya berada di ambang kematian? Tidak menangispun sudah untung. Dilara mengerti maksud kenapa suster memanggil namanya. Jelas jika gilirannya untuk memasuki ruang laknat itu sudah hampir tiba. Mungkin sudah tidak ada lima menit, bahkan bisa jadi hanya dalam hitungan detik. "Silahkan mempersiapkan diri terlebih dahulu setelah pasien di dalam keluar." Suster menjelaskan sebentar kemudian melangkah pergi. Dilara mengusap perutnya dengan seribu kata maaf yang terlontar sembari mengawasi suster itu hingga siluetnya benar benar hilang. Untuk pertama kalinya, 30 detik terasa sangat cepat. Menanti dengan gelisah seseorang di dalam ruangan. Meski orang yang melakukannya adalah seorang Dokter Spesialis Kandungan lulusan luar negri, namun kemampuannya tidak bisa menjamin nyawa seseorang. Dokter hanyalah seorang perantara, pemegang kendali yang sesungguhnya tetap Tuhan. Sebaik apapun gelarnya, Dokter tetaplah manusia biasa. Dilara tidak menyangka akan memasuki tempat seperti ini setelah mencari tau di Internet. Dia hanya bermain dan mencoba coba kala itu. Dia bahkan membayar mahal untuk jasa penyalurnya hanya untuk menemukan tempat ini. Sebuah klinik yang tampak biasa dari luar, namun menyimpan sejuta rahasia jika sudah memasukinya. Bahkan memerlukan semacam kata sandi untuk mendapatkan akses pelayanan tersembunyi seperti aborsi. Tidak ada yang mengira jika klinik ini memasang tarif mahal untuk melenyapkan nyawa. Tempat yang seharusnya menjadi penolong untuk menyembuhkan banyak orang, ternyata palsu dan menipu. Beberapa saat bermain dengan pikirannya, pintu ruangan itu sudah terbuka. Menampilkan sosok seorang gadis lemah yang tidak berdaya di atas ranjang yang di dorong oleh beberapa perawat wanita yang juga berpakaian serba putih. Dilara meremas pakaiannya tanpa sadar. Dia mengawasi gadis itu kala para perawat membawa tubuh itu le ruangan lain. Mungkin untuk pemulihan. Atau.. entahlah.. gadis itu tidak bergerak, hanya menunjukan wajah pucat yang mampu membuat keberanian Dilara tenggelam tanpa bisa kembali lagi. Gadis itu masih muda, mungkin seumuran dengannya. Mungkin juga.. nasib mereka bahkan sama. Di lukai, di injak dan tinggalkan hingga memilih untuk membuang bagian dari diri sendiri yang bisa hidup dan berkembang. Sama seperti dirinya, gadis itu juga sendirian. Tidak ada yang menemani, tidak ada yang memberi semangat. Hanya bermodalkan nekat dan keberanian maka sudah cukup. Tidak perlu keluarga, kerabat, apa lagi kekasih. Semua hanya omong kosong. Tapi.. bagaimana jika dia mati konyol di sini? Terbesit perasaan ragu saat menyadari jika dia hanya sendirian, bagaimana jika dia mati? Apakah pihak klinik akan bertanggung jawab. Rasanya tidak mungkin. Apalagi, sampai mengembalikan jasadnya ke pihak keluarga jika dia benar benar tewas. Bisa jadi, mereka justru akan menguburkannya begitu saja. Hufh.. sangat menyeramkan. Bayangan akan kematian menyusutkan nyalinya. Dilara menelan ludahnya berkali kali. Untuk sesaat.. dia tidak tau.. tidak berani.. tidak ingin.. sungguh, dia tidak bisa. Dia segera bangkit, lalu melangkah dengan pasti. Bukan langkah yang membawanya ke ruang untuk aborsi, namun langkah yang bisa membawanya keluar dari rumah iblis ini. Jika di pikir lagi, dia tidak sanggup. "Nona Pahlevi" Bahkan panggilan dari susterpun tidak dia dengarkan. Masa bodoh dengan uang jutaan yang sudah di keluarkannya di muka. Dia tidak peduli. Persetan dengan uang. Dilara terus melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Menyusuri lorong dengan langkah gontai. Dia sendiri takut mati, takut akan mengalami hal yang sama dengan gadis itu. Ketakutan, kesakitan, sendirian, aish.. tapi kenapa.. dia tega untuk menghabisi bagian dari dirinya yang pasti menginginkan kehidupan? Dilara menghembuskan nafas panjang setelah berhasil mencapai halaman. Dia segera memasuki mobil dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. Dia kembali mengusap perutnya yang masih tampak rata. Belum menunjukan tanda tanda jika dia tengah hamil. Tentu saja, tidak akan membuat orang lain curiga. Namun, ketakutannya lah yang tanpa sadar telah menyesatkannya. Membelenggu hati dan perasaannya sendiri. Dilara menoleh ke arah dimana hpnya berdering. Tanpa berniat untuk menerimanya, dia membiarkannya begitu saja. Pikirannya masih kacau, dia bahkan memegang kemudi dengan tangan yang gemetaran. Namun, dia masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa berniat untuk mengurangi kecepatannya. Mengebut, ugal ugalan, menerobos lampu merah.. adalah hal baru yang tidak pernah dia lakukan. Sebagai gadis yang baik dan bersih, dia tidak pernah bersentuhan dengan sesuatu yang melanggar peraturan dan tata tertib meskipun itu hanya kena tilang. Namanya selalu bersih dan rapi sampai saat dimana dia berakhir dengan mengkhianati hati kecilnya. Dia terkekeh pelan. Sekarang.. dia benar benar sudah kehilangan akal sehat. CIIITTTT... Suara gesekan ban mobil dan jalanan menimbulkan suara nyaring saat Dilara mengerem mobilnya secara mendadak. Akibat dari dia yang membanting stir kala menghindari sebuah mobil pengangkut barang dari arah yang berlawanan. Hingga mobil yang di kemudikannya berakhir dengan menabrak pembatas jalan, dan nyaris saja.. dia kehilangan nyawa. Dilara mengangkat kepalanya yang membentur stir, memegang dadanya yang terasa sakit dan takut pada waktu yang bersamaan. Syukurlah.. dia selamat. Dengan hati yang berdebar debar, dia mencoba menetralisir ketakutannya dengan menghela nafas dan menghembuskan kembali hingga beberapa waktu. Tidak merasa lebih baik, dia lantas menangis. Meluapkan segala rasa yang telah meledak di dalam hati. Benar benar di luar kendali, semua terjadi begitu saja. "Dilara..." Dilara menoleh ke arah seorang pria yang sudah membuka pintu mobilnya secara paksa dari luar, hendak menolongnya. Antara cemas dan takut, dia tidak bisa membedakan. Semua terasa sama dalam pikirannya. Tubuhnya juga lemas seakan dia akan jatuh jika tidak mempertahankan kesadarannya. Dilara mengawasi pria itu lekat, pria itu.. sebenarnya adalah Angga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN