YM ~ Lagi Nanggung

1596 Kata
Angga memacu motor sportbikenya dengan kecepatan rendah. Hanya ingin mencoba motornya setelah beberapa hari mendekam di bengkel. Namun, siapa sangka dia akan melihat kecelakaan lalu lintas di siang bolong seperti ini? "Konyol!" Angga melirik sekilas. Namun, menyadari ada sesuatu yang salah, dia sedikit tertarik untuk berhenti dan menepikan motornya di bahu jalan. Lalu melepas helmya. Entah kenapa Angga merasa akrab dengan mobil itu. Dia mengawasi lekat, bahkan nyaris tidak berkedip. Melihat plat mobilnya, seharusnya mobil itu milik... Wajah Angga berubah panik. Dia berjalan menghampiri sebuah mobil Ayla Yellow Metallic yang sudah berhenti karena menabrak pembatas jalan. Memang tidak parah, mobilnya juga hanya tergores. Hanya saja.. mungkin pengemudinya sedikit ketakutan. "Dilara." Angga berusaha membuka pintu mobil secara paksa dari luar setelah tidak mendapati pergerakan dari dalam. Dia takut sesuatu terjadi di luar kendalinya. "Ra, buka!" Angga mengetuk kaca mobil dengan panik. Masih tidak ada respon, dia berniat akan memecahkan kaca mobil untuk mengeluarkan Dilara. Tapi, belum sempat dia melakukannya, Dilara sudah membuka pintu mobilnya. "Ra," Angga memegang bahu Dilara, lalu menggoncangnya. "Lo nggak apa apa? Dimana yang sakit?" Dilara tidak menjawab, dia merasa pening di kepalanya. Mungkin, semua rasa benar benar sudah meledak dalam hati. Takut, cemas, kecewa, putus asa, serta kesedihannya selama berhari hari mulai menampakan wujud dan memberinya pelajaran. "Angga.." Dilara berkata setelah mengerjap beberapa kali. Perasaannya tidak baik, kondisi fisiknya juga tidak sehat. Dia bahkan berusaha sekuat tenaga agar kesadaran tetap bersamanya. Namun, tetap saja itu tidak banyak membantu, dia yang sudah kelelahan secara fisik akhirnya kehilangan kesadaran. "Ra, lo baik baik aja kan? Jangan bikin gue takut?" Angga panik setelah tubuh Dilara lemas dan tumbang dalam pelukannya. Dia memeluk Dilara erat. Tidak ada bekas luka atau apapun yang serius. Hanya ada sedikit memar di dahi, itu juga hanya kemerahan dan tidak akan menyebabkan gagar otak. Mungkin saja Dilara pingsan karena syok, cemas, juga ketakutan karena hampir saja kehilangan nyawa. Gadis ini.. meski tampak kuat di permukaan, tapi tetap saja memiliki sisi rapuhnya. Seperti saat ini, keangkuhan seakan sirna, dan berganti menjadi tidak berdaya. Angga segera mengeluarkan Dilara, meletakan tubuhnya dengan hati hati pada kursi di samping kemudi lalu mengaitkan sabuk pengaman. Setelah selesai, dia mengawasi wajah Dilara lekat, lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Mengusap bibirnya yang kebiruan, sangat pucat. Dia tidak tega melihat Dilara yang seperti ini, seakan dia merasakan rasa sakit yang sama. Angga menanamkan kecupan ringan pada dahi dan bibir Dilara, lalu menutup pintunya. Sekarang dia tidak tau harus membawa Dilara kemana, dia sendiri juga bingung. Apa Dilara tidak akan marah kalau dia membawanya ke rumah sakit? Atau Dilara ingin di antar pulang? "Ah.." Angga mengacak rambutnya. Kalau dia sampai salah melangkah, Dilara pasti akan semakin membencinya. Lalu, apa yang harus dia lakukan? ---------• --• Sayup sayup terdengar suara riuh yang membuat Dilara sadar. Dia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan nyawa dan berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya pening, pandangannya juga sedikit buyar. Masih kesulitan mencerna semuanya, dia memegang dahinya, namun terkejut saat mendapati ada kain kasa kecil dan plester yang menempel di sana. Dilara membulatkan mata. Sekarang, dia mulai ingat segalanya setelah memori kecilnya di pulihkan. Dia mengalami kecelakaan setelah mobil yang ia kendarai menabrak pembatas jalan, lalu Angga datang dan setelah itu, dia tidak mengingat apapun lagi. Jika melihat apa yang terjadi dari sudut pandang ini, bukankah seharusnya dia berada di.. Rumah Sakit? Sial! Dilara menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu mendudukkan diri dengan hati hati. Jika Angga sampai membawanya ke Rumah Sakit, dia bersumpah akan menyeret b******n itu ke neraka. Tapi.. sepertinya ini bukan di Rumah Sakit? Dilara mengawasi sekeliling, lalu mengerutkan kening. Selain tempat ini tidak berbau obat obatan, tempat ini juga terlalu berantakan untuk di sebut Rumah Sakit. Sekedar memastikan, dia menaikan tangannya, namun tidak ada infus di sana. Juga.. dia tidak terbaring di atas ranjang, melainkan di atas sofa. Huft.. Dilara menghembuskan nafas panjang. Sekarang dia yakin tidak berada di Rumah Sakit, juga tidak di Rumah, setidaknya dia aman untuk sementara. Tentang dimana dia sekarang, dia akan mencari tau dan akan segera mengetahuinya. Dilara bangkit, menapakkan kaki di lantai dan mulai merenggangkan ototnya yang kaku. Dia harus mengakui kalau tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Sepertinya kecelakaan kali ini, tidak begitu buruk. Karena berkat insiden ini pula, tubuhnya tidak lagi terasa berat. Mungkin karena porsi istirahatnya cukup sampai membuatnya merasa lebih nyaman dan lebih baik. Haruskah.. dia berterima kasih pada kecelakaan kali ini? Anggaplah dia gila, tapi biarkan saja! Ini adalah apa yang dia rasakan. Dilara mengedarkan pandangannya. Meneliti sekeliling dengan seksama. Tidak ada banyak barang di dalam ruangan. Hanya ada satu set sofa, sebuah lemari, sebuah rak berisi banyak buku dan map, juga sebuah meja yang berantakan dengan sebuah kaos pria yang tersampir pada sandaran kursi. Kalau tebakannya benar, mungkin si pemilik ruangan adalah orang yang sangat malas dan juga jorok. Mencoba tidak peduli, Dilara memakai sepatunya. Lalu melangkah menuju pintu dan membukanya. Ceklek.. Pintu terbuka. Menampilkan pemandangan yang mengejutkan. Dilara terpaku di tempatnya. Mendapati suasana yang cukup ramai, dia maju beberapa langkah. Mencari sosok yang mungkin saja di kenalnya. ---------• --• "Mas Angga, ada pelanggan yang buru buru, minta di cepetin!" Teriakan Bang Kodir terdengar sangat nyaring sampai terdengar jelas di dalam ruangan tempatnya berada. Membuat Angga kesal. "Suruh Doni aja yang ngerjain, gue sibuk!" Ucapannya tidak kalah keras, dia sedang sibuk mengoleskan salep Arnica Topikal, lalu menempelkan kain kasa dan plester pada dahi Dilara. "Doni kan cuti dua hari. Mau nyawer, tetangganya hajatan." Bang Kodir menimpali. Mengatakan yang sebenarnya. "Suruh Enji." Angga tidak mau kalah, dia belum selesai mengurus Dilara, tidak sempat mengurusi hal lain yang sebenarnya sama sama penting. Yang satu masalah uang, dan yang satu masalah wanita, jelas keduanya adalah sesuatu yang penting untuknya. "Enji lagi beli busi." Bang Kodir menjawab cepat. "Astaga!" Angga menepuk dahinya. "Banyak alasan banget. Bikin gue kesel!" Angga mengumpat. "Tunggu bentar, lagi nanggung." Ucapnya sembari membaluri perut, punggung dan yang terakhir d**a Dilara menggunakan minyak angin. Angga menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan sesuatu dari dirinya mulai bangun, dia segera memasukan tangannya ke dalam celana dan meluruskan sesuatu yang harus di luruskan agar tidak menyakitkan. "Ah," Angga menghembuskan nafas panjang. "Benda ini sangat merepotkan." Dia mengeluhkan miliknya sendiri. Bangun di saat tidak tepat, membuatnya tidak berdaya. ---------• --• Sementara di luar, Bang Kodir mengerutkan kening. 'Bentar, lagi nanggung', dia mencoba berpikir positif dengan apa yang Angga katakan. Apalagi kalau mengingat Angga datang dengan menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri, gambaran Angga sedang melakukan hubungan itu dengan gadis yang di bawanya, kian mengerikan. Bang Kodir merasa Angga sudah keterlaluan karena melakukan itu pada siang hari, membuat orang lain tidak nyaman kalau mengetahuinya. Dia hanya bisa tersenyum, mengakui kebrengsekan Angga yang sepertinya nyata. Di dalam ruangan, Angga yang sudah selesai mengurusi Dilara, menyelimuti tubuh gadis itu menggunakan selimut, lalu mengecup bibir gadis itu sekilas. Merasa tidak cukup, dia kembali menempelkan bibirnya pada bibir Dilara, lalu melumatnya pelan pelan. Meski belum cukup, tapi dia melepas pagutannya secara paksa setelah beberapa saat, mengusap bibir gadis itu sekilas sebelum melepas kaos yang di pakainya, lalu meletakannya pada sandaran kursi. Meninggalkan Dilara yang masih terbaring di atas sofa. "Udah selesai, Mas?" Bang Kodir yang melihat Angga keluar dari ruangan, memberanikan diri untuk bertanya. Menunjukan senyum penuh sindiran setelah melihat Angga keluar dengan bertelanjang d**a. Ternyata, dugaanya benar, Angga sedang bermain kucing kucingan dengan gadis malang itu. Angga yang tidak tau dengan pikiran ambigu Bang Kodir hanya mengangguk, "udah, gue selesein secepat mungkin" Jawabnya tanpa pikir panjang. "Mana mobil yang belum di urus?" Tanyanya kemudian. "Itu Mas." Bang Kodir menunjuk sebuah mobil tipe MPV berwarna hitam metalik dengan tertawa cekikikan. Ternyata Angga bisa menyelesaikan dengan cepat kalau sedang buru buru, benar benar sangat kondisional. "Okey, lo balik ke kerjaan lo aja, gue urus ini sendirian." Angga memberikan perintah. Mulai melihat mesin mobil dan memeriksa kerusakannya. Bang Kodir mengangguk, kembali ke pekerjaannya. Dua jam bergelut dengan perkakas mobil, membuat tangan Angga di penuhi oli, belum lagi tubuh kekar dan wajah tampannya di penuhi keringat, sangat kotor. Tangannya sangat cekatan dan terampil saat mengerjakan tugasnya dan menyelesaikan dengan baik. "Coba, bawa mobilnya, Nji! Udah bener apa belum!" Angga berucap setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Mengawasi Enji yang sudah masuk ke dalam mobil dan membawanya untuk di uji coba. Angga menarik nafas panjang, merasa lelah namun sangat puas. Mengusap peluh menggunakan tangannya yang kotor, sebelum membereskan peralatan yang sudah selesai di gunakan. "Gimana?" Angga bertanya setelah Enji selesai melakukan uji coba dan turun dari mobil. Enji mengangguk. "Beres, Mas." Ucapnya mengacungkan ibu jarinya. "Mas, itu!" Enji yang melihat Dilara berdiri di depan pintu, memberi kode agar Angga segera menoleh ke belakang. Angga yang merasa Enji ingin memberitahukan sesuatu segera berbalik, dan mendapati Dilara sudah berdiri di sana entah sejak kapan. "Ra." Dia menghampiri Dilara. "Sejak kapan lo berdiri di sini? Lo kan masih sakit?" "Bukan urusan kamu." Dilara menjawab ketus. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Angga dengan keadaan berkeringat dan kotor. Juga pertama kalinya dia melihat tubuh kekar Angga dengan tato Mariyuana di punggung kanan pria itu. Meski Dilara pernah melihat Angga telanjang bulat di depannya, tapi baru sekarang dia memperhatikannya dengan sangat jelas. Tubuh Angga memang tidak seputih Zaine dan Leo, juga tidak setinggi Kak Arka, namun bisa di katakan lebih berotot dari tiga pria yang sudah di sebutkannya tadi. Otot di perut dan lengan Angga tercetak sangat jelas. Seperti rutin berolah raga dan menjaga kebugaran. "Mobilku mana? Aku mau pulang?" Tidak ingin berpikir yang tidak tidak, Dilara ingin secepatnya tiba di rumah. Selain malas berurusan dengan Angga, dia juga tidak suka saat melihat penampilan Angga dengan tubuh yang berantakan dan kotor seperti ini, sangat menjijikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN