Dilara menangis sepanjang jalan. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Dia amat sangat kecewa. Kecewa dengan seorang pria b******k yang tidak berperasaan. Hatinya tergores sebuah luka yang mengantarkannya pada kehancuran. Semua rasa menyatu dalam hati. Seperti api yang tersiram bensin, kemarahannya benar benar meledak, tidak terkendali. Air matanya habis, tapi dia tidak merasa lebih baik. Rasa sakitnya justru kian membuncah. Seperti inikah rasanya tidak di inginkan? Sekarang dia mengerti, alasan kenapa seorang Ibu tidak menginginkan anak mereka lahir ke dunia. Secara garis besar, kesalahan bermula dari pria yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Hingga seperti inilah akibatnya. Dilara hanya seorang pengecut yang tidak memiliki cukup nyali untuk menggugurkan

