Selamat membaca! Tak sabar menunggu jawabanku, Tuan Firdaus kembali menanyakannya. "Jadi bagaimana?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Aku kembali menatapnya dengan kedua mata yang menyipit. Setelah berpikir keras, akhirnya aku meyakini pilihanku. "Saya tidak ingin menikah. Rasanya masih sulit percaya dengan seorang pria. Bahkan sekalipun itu calon suami saya sendiri, dia saja berani menjual saya pada orang lain." "Tapi saya tidak akan menjualmu." Suara seraknya terdengar. Membuat pikiranku kembali dibuat bingung. Apakah yang dikatakannya adalah sebuah janji? Janji dari seorang pria yang aku kenal selama kurang dari sepuluh hari ini. Aku pun terus menatapnya dengan hati-hati. Jangan sampai sorot matanya yang teduh itu malah membuatku hanyut dan bisa mengiyakan begitu saja lamarannya tanp

