Selamat membaca! Selesai bicara dengan temannya, aku menolak saat tangannya ingin menggenggam tanganku untuk pergi. Dia tak berkata apa-apa dan hanya melanjutkan langkahnya mengikuti aku yang memilih berjalan lebih dulu di depannya. Setibanya di dalam mobil, aku duduk di sampingnya dengan wajah murung sambil terus memandang ke luar jendela. "Kamu kenapa?" tanya Tuan Firdaus sambil menyentuh punggung tanganku. Dengan cepat aku melepaskan tangannya, lalu mulai menatap wajahnya kesal. "Lain kali jangan bilang saya ini adalah pacarmu di depan temanmu ya." “Memangnya kenapa? Apa saya salah?” tanyanya dengan santai. "Apa menurutmu kita sudah punya sebuah komitmen hingga kamu bisa menyebut saya sebagai pacarmu? Lagi pula kapan kita pernah sepakat untuk menjalin hubungan? Semua ini hanya seb

