Jari panjang milik Ervan baru saja akan menekan digit angka di samping pintu apartment miliknya untuk dapat masuk ke dalam, namun jarinya menggantung di udara.
Reva yang memang memperhatikannya, mengernyitkan kening heran.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu lupa passwordnya," ucap Reva melotot.
Tidak, dia belum siap untuk tidur di lantai dingin. Badannya bisa remuk jika tidur di lantai datar nan keras itu.
"Sini tangan kamu," ucap Ervan menadahkan tangan di depan Reva.
Gadis itu tentu saja heran. Tapi tetap saja tangannya di angkat untuk di letakkan di atas tangan Ervan yang kemudian di genggam oleh pemuda itu.
Tak sampai di sana, tangannya yang ada di genggaman Ervan, di arahkan untuk hanya mengeluarkan jari telunjuk saja.
"Perhatiin ya," ucap Ervan dan Reva hanya mengangguk sebagai jawaban.
Telunjuk si gadis di tuntun untuk menekan beberapa digit angka yang Reva pastikan jika itu adalah password apartment si tampan.
"Nah, coba sebutin lagi," pinta Ervan.
Meski rasa heran dan bingung kini semakin bertambah di dalam dirinya, Reva tetap menyebutkan kembali digit angka yang tadi ditekan oleh jarinya dengan bantuan Ervan.
Dokter tampan itu tersenyum dan mengusak rambut Reva.
"Pinter. Di inget ya. Kalau nanti kamu liburan ke sini lagi, nggak perlu lagi repot cari tempat tinggal," ucapnya masih tersenyum.
Reva tertegun. Sekarang semua pertanyaan di kepalanya terjawab. Pemuda ini bahkan mempercayakan apartment mewah ini padanya, really?
Tak menunggu jawaban apa-apa dari Reva, Ervan langsung menarik pergelangan tangan Reva untuk masuk ke dalam.
Unit ini luas, sangat. Dan tidak mungkin kalau di dalamnya hanya terdapat satu kamar. Jadi jangan berpikiran yang macam-macam hanya karena mereka tinggal di satu tempat yang sama.
Sebelum dirinya berendam dengan air hangat, di temani lilin aroma terapi, dan kelopak bunga mawah yang memenuhi bathup yang di tempatinya, Reva memilih untuk melihat-lihat kamarnya, ah tidak, kamar apartment Ervan yang sedang di tempatinya, yang luas ini terlebih dahulu.
Saat datang tadi, dia belum sempat menjelajah kamar indah nan luas ini.
Hampir 20 menit, dan sekarang matanya mengarah pada satu lemari besar di walk in closet, yang dia yakini itu adalah lemari baju.
Yang ada di pikirannya, memangnya sebelum ini siapa yang menempati kamar ini? Tadi Ervan mengatakan kalau kamar ini belum pernah di tempati oleh siapapun, lalu kenapa fasilitas di dalamnya sangat lengkap? Bahkan ada boneka juga di sana, untuk apa?
"Baju?" gumam Reva bertanya saat tangannya berhasil membuka lemari besar itu.
Tak hanya ber set-set pakaian, di bagian lain dari lemari tersebut juga ada berpasang-pasang sepatu, dan tas selempang.
Reva loading, perlahan dia alihkan pandangan pada seluruh ruangan. Dia baru sadar, ruangan ini mirip sekali dengan ruangan di kamarnya yang ada di rumah Ervan di Indonesia, hanya saja yang ini lebih kecil.
Kenapa Reva seperti mendengar suara retak di dalam sana. Kenapa jantungnya berpacu cepat melihatnya, juga hatinya yang ikut-ikutan terasa nyeri.
Apa Ervan berbohong padanya? Jelas-jelas kamar ini sudah di tempati oleh seseorang yang Reva pastikan adalah seorang gadis. Lalu kenapa Ervan mengatakan tidak? Apa dia sedang menyembunyikan seorang gadis di sini? Tapi siapa? Kekasih Ervan? Atau mungkin istrinya?
Reva melotot sendiri dengan pemikirannya barusan.
Cepat-cepat Reva keluar dari ruangan itu, juga keluar dari kamar itu.
Dia masih tau diri jika benar Ervan sudah memiliki seorang kekasih atau istri. Dia masih tau malu jika nanti gadis yang menjadi kekasih Ervan tiba-tiba datang dan menyeretnya keluar dari sini. Tidak, dia tidak mau itu terjadi.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada jawaban. Reva pikir mungkin dokter tampan itu masih mandi. Tapi dia berpikir lagi, Ervan tidak mungkin menghabiskan waktu untuk mandi selama 30 menit. Pemuda itu mandi paling lama hanya 20 menit.
Jangan di tanya lagi kenapa Reva tau.
Tok! Tok! Tok!
"Ervan!" panggil Reva sedikit menaikkan volume suaranya.
Dapat Reva dengar derap langkah kaki dari dalam sana. Itu Ervan. Sepertinya sedang berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Dan muncullah sosok tampak yang rambutnya masih basah, sepertinya memang baru selesai mandi. Untung saja dokter tampan itu sudah rapi dengan kaos lengan pendek juga celana pendek.
"Kenapa? Kok belum mandi? Kamu butuh sesuatu?" tanya Ervan beruntun.
Reva lantas menggeleng membuat Ervan mengernyit heran.
"Trus? Ada masalah?" tanya Ervan lagi.
Lagi, gadis itu menggeleng membuat Ervan menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa? Hm?"
Lama Reva menatap Ervan sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk bersuara.
"Aku ke hotel aja ya?" ucapnya terdengar seperti meminta izin.
Kernyitan di kening Ervan semakin terlihat.
"Kok tiba-tiba? Ada apa?" tanya Ervan memegang ke dua bahu Reva, menatap gadis itu intens.
Perlahan, Reva melepas ke dua tangan Ervan yang bertengger di bahunya membuat Ervan sedikit terkejut. Ada apa sebenarnya dengan gadisnya ini?
"Itu, nanti istri kamu marah," jawab Reva dengan nada pelan.
Entah apa yang membuat Reva mengasumsikannya seperti itu. Yang jelas negative thinking sudah sedari tadi menyerangnya.
Lain hal dengan Ervan yang terdiam, melongo sekaligus tidak percaya mendengarnya.
Apa katanya tadi? Istri?
"Tunggu, kamu bilang apa barusan? Istri?" tanya Ervan dengan nada bingung.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Istri apa? Maksudnya apa? Aku gak ngerti," ucapnya lagi.
"Di kamar itu ...." Reva menunjuk kamar yang tadi dia tempati.
"Kamu bilang nggak ada yang nempatin sebelumnya. Tapi itu fasilitasnya punya cewek semua. Pasti itu udah di tempatin, 'kan?" jelasnya.
Ervan speechless.
Kenapa bisa Reva sampai berpikiran ke sana? Kenapa nalar gadis yang satu ini menjalar ke mana-mana?
Menghembuskan nafas lega, Ervan kemudian terkekeh. Dia sudah berpikiran yang tidak-tidak tadi saat Reva ingin pergi ke hotel. Dia pikir dia menyakiti gadis ini, tapi ternyata? Astaga, Reva sukses membuat jantungnya memompa lebih cepat.
Dokter muda itu mengikis jarak yang ada di antara mereka, dan tanpa aba-aba menarik gadis itu mendekat lalu memeluknya.
"Aku pikir kamu kenapa, astaga ...," ucap Ervan terdengar sangat lega.
Sedangkan Reva yang ada di dekapan Ervan hanya diam sambil loading, masih bingung.
Hampir beberapa menit, Ervan akhirnya mengurai pelukan tersebut dan menatap Reva masih dengan kekehan kecil di sana.
"Kamu mikir apa? Itu kamar emang belum pernah di tempatin," ucapnya tersenyum tampan.
"Waktu kamu bilang mau liburan, aku langsung kepikiran buat ke sini. Dan aku langsung desain kamar itu untuk kamu tempatin."
Reva terkejut mendengarnya. Apa Ervan sedang bercanda?
"Jadi, nggak usah berpikiran yang macem-macem. Aku belum punya istri. 'kan masih nungguin kamu siap," ucapnya lagi membuat Reva memelototkan matanya.
Rona merah di pipinya sudah di pastikan menyebar dengan cepat memenuhi seluruh wajahnya sekarang. Maka demi menyembunyikan rasa malunya, kepalan tangannya yang kecil langsung dia layangkan tepat pada d**a Ervan membuat pemuda itu meringis sambil terkekeh.
"Nyebelin!" ketusnya lalu kembali berjalan menuju kamar__yang sempat dia pikir itu adalah kamar istri Ervan__tadi.
Ervan malah tergelak melihat gadis itu.
Lagipula ada-ada saja yang gadis itu pikirkan. Jangankan istri, Ervan saja tidak tau caranya berpacaran.
"Lucu banget, ya ampun ...," ucap Ervan gemas, kembali masuk ke dalam kamarnya.
*****