Matahari belum sepenuhnya muncul, namun sinarnya sudah dapat terlihat, terbukti dengan kegelapan di luar sana tak lagi se-gelap malam.
Hari ini sepertinya akan turun hujan. Angin sepoi khas utama akan turunnya hujan mulai terasa dari jendela yang sengaja Reva buka.
Reva suka dapur ini. Sembari memasak, dirinya langsung di hadapkan dengan pemandangan indah dari jendela kaca raksasa di depannya. Juga jendela kecil di belakangnya yang dia buka sedikit.
Rencananya pagi ini dia ingin memasak sarapan untuk dirinya dan Ervan. Malam tadi, Ervan berpesan ingin di buatkan menu sehat untuk diet. Bukan, bukan untuk si dokter, melainkan untuk Reva. Dirinya yang mengatakan ingin diet namun tak pernah terealisasikan, maka dengan suka rela, dokter tampan itu mau membantu.
"Done!" serunya semangat setelah menata piring terakhir di meja makan.
Padahal yang dia masak hanya sayur kembang kol wortel dan kentang, buah-buahan yang sudah dia tata sedemikian rupa, tak lupa dua gelas s**u hasil eksperimennya sendiri. Tidak, tidak yang aneh-aneh, hanya menggunakan caranya sendiri dalam membuat s**u putih tanpa perasa itu menjadi lebih nyaman di lidahnya nanti.
Melepas apron yang terpasang di tubuh, lalu kembali menyimpannya di tempat semula, Reva kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Ervan.
Tok! Tok! Tok!
"Ervan ...."
Panggilan pertama tak ada jawaban. Di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan, kemudian mengangguk kecil beberapa kali.
"Belum bangun kayaknya," gumamnya setelah itu.
Masih terlalu pagi memang.
"Kalau gitu aku siap-siap dulu deh. Nanti tinggal bangunin dia," gumamnya lagi seraya berjalan menuju kamarnya.
*****
"Masih aman?" tanya Melin sambil memberikan secangkir coklat panas buatannya pada Baza.
Menerima coklat panas terlebih dahulu lalu menyesapnya sedikit, seraya matanya terpejam menikmati coklat yang sudah menjadi cairan itu mengalir melewati tenggoronkannya.l
"Gak ada yang mencurigakan," jawabnya kemudian membuat Melin mengangguk berjalan menuju sofa panjang di sisi ruangan.
Memutar kursi yang di dudukinya, menghadap Melin yang mulai masuk ke dalam lamunannya.
"Gimana Ara?" tanya Baza mengalihkan percakapan.
Melin tak langsung menjawab. Helaan nafas panjang dari mulutnya memperlihatkan betapa dirinya frustasi dan lelah. Baza tau benar apa yang membuat wanita yang menjadi seniornya ini bisa jadi seperti ini.
"Ara udah mulai sembuh. Mungkin dalam minggu ini dia udah bisa pulang. Walaupun masih rawat jalan," jelas Melin disambut anggukan mengerti oleh Baza.
"Trus, mikirin apa lagi?" tanya Baza lagi.
Baza memang selalu tau. Mengerti dengan keadaan seseorang, tak hanya pada Ervan. Bisa di bilang tingkat kepekaannya cukup tinggi.
"Kamu tau 'kan, kondisi Ara gimana? Ingatannya tentang Chera hilang sebagian. Yang dia ingat, adiknya itu masih ada. Gimana nanti aku ngomong sama dia? Selama ini aku bohong, bilang Chera kuliah di luar negri. Kalau aku jujur, yang ada dia bisa kambuh lagi," jelas Melin panjang lebar.
Baza menghela nafas berat. Si bungsu dari keluarga Melin itu, sudah lama menghilang, bahkan salah satu penunjang yang membuat Ara semakin menggila akan depresinya, adalah karena kabar Chera yang menghilang bersama ibunya. Tidak, bukan mereka yang memberi tahu, tapi orang lain yang sampai sekarang tak juga mereka ketahui siapa pelakunya.
"Reva?" tanya Baza lagi, seolah sedang memberi solusi untuk Melin.
"Lupa sama Ervan? Cowok itu gak akan kasih izin buat Reva tinggal di rumah aku," jawab Melin.
"Kalau gitu, kalian aja yang tinggal di sini. Ervan 'kan udah tau identitas kamu," ucap Baza lagi memberi usulan.
"Dengan kondisi kayak gini? Aku gak mau ambil resiko dengan bahayain kedua adik aku. Aku udah mati-matian nyembunyiin mereka dari mafia itu," ucap Melin membuat Baza lagi-lagi menghela nafas kasar.
Tak terdengar lagi suara. Hanya hela nafas teratur, juga bunyi khas dari dentingan sendok dan cangkir yang juga tak begitu terdengar nyaring.
Sampai pada menit berikutnya, satu bunyi melengking yang keluar dari komputer besar Baza, di sertai satu titik cahaya berwarna merah yang berkedip ribut.
Dengan gerakan cepat, dua orang berbeda usia juga gender itu, langsung memeriksa apa yang terjadi.
"Ini di HP Reva," ucap Baza sembari masih mengutak-atik keyboard komputer itu.
Tak ingin hanya berdiam diri, Melin langsung mengambil ponselnya dan menekan tombol diall pada nomor sang adik di sana.
Jantungnya tiba-tiba berdetak ribut. Satu tangannya mengepal takut, apalagi di panggilan ke tiga ini, Reva tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Dia ke mana sih!" kesal Melin kembali menempelkan ponsel pada telinganya.
"Mel!"
Seruan Baza membuat Melin menoleh dan mendekat pada Baza.
"Ini nomor siapa?" tanya Baza menunjuk satu nomor yang baru saja mengirim pesan pada Reva.
"Itu nomornya Gunta. Tapi gak mungkin itu dia," ucap Melin kembali mengutak-atik ponselnya, mencari nomor Gunta di sana.
"Cek pesannya," perintah Melin yang langsung di turuti oleh Baza.
"Pake password," ucap Baza.
Bukan, bukan tidak bisa membukanya, Baza hanya meminta izin pada Melin untuk membukanya.
"Cek pesannya, Baza!" Kali ini ucapan Melin disertai penekanan dan penegasan.
Baza mengerti, Melin hanya sedang cemas. Lagi pula, Baza juga rindu saat-saat seperti ini. Saat di mana dirinya mendapat perintah mutlak dari sang atasan.
"Ini jelas di bajak. Liat," ucap Baza membuat atensi Melin kembali pada layar laptop.
"Bener. Gunta lagi rapat, dia ga mungkin ngirim pesan kayak gitu," ucap Melin menambahkan.
"Hapus pesannya. Alihin nomor itu ke komputer kamu," ucap Melin lagi memberi perintah yang lagi-lagi hanya di turuti oleh Baza.
"Ya Tuhan, jangan biarkan terjadi apa-apa dengan Reva dan adik-adik saya," gumam Melin terus merapalkan doa untuk keselamatan adiknya.
*****