Reva sudah rapi dengan style santai ala-ala gadis belanda, dengan pakaian sedikit tebal akibat suhu di sana yang cukup dingin.
Hari ini mereka akan jalan-jalan, sesuai janji Ervan kemarin. Dan mengenai cuti kantornya, Melin benar-benar mengurusnya, dan mendapat tambahan cuti selama tiga hari. Tak hanya Melin juga, banyak campur tangan di sana yang akhirnya membuat Reva mendapat izin cuti.
"Mau ke mana hari ini?" tanya Ervan setelah selesai menghabiskan sarapannya.
Reva yang sedang meneguk s**u yang tadi dibuatnya, mengernyit bingung akibat pertanyaan Ervan barusan.
"Kok nanya aku? 'Kan kamu yang ngajak. Lagian ... aku mana tau tempat ini," ucapnya protes.
Ervan mengangguk-angguk kecil sambil ibu jarinya mengusap sudut bibir Reva, di mana masih ada sisa s**u yang dia minum di sana.
"Aku bawa ke tempat gym, mau?" tanya Ervan.
Terdengar nada jahil di sana, membuat bibir mungil sedikit berisi milik Reva mengerucut lucu.
"Kamu mau bikin tubuh aku kekar?" tanyanya membuat tawa Ervan mengalun pelan.
"Ya tadi di tanya, kamu alihin ke aku. Lagian 'kan kamu mau diet. Olahraga juga dong. Percuma diet kalau nggak olahraga," ucap Ervan menatap remeh pada Reva.
Alis Reva semakin menukik tajam. Di lipat kedua tangannya di depan d**a, kemudian tubuhnya di bawa bersandar di kursi yang dia duduki, masih dengan tatapan tajam yang tak lepas dari Ervan.
Tatapan tajam yang entah mengapa Ervan suka melihatnya. Lucu, dan gemas di matanya.
"Aku 'kan bilangnya entar-entar aja dietnya. Kamu aja yang maksa. Nyuruh diet di saat liburan gini, mana bisa!" kesalnya yang malah membuat Ervan kembali tertawa.
Berdiri dari duduknya, memutari meja makan dan duduk di samping Reva dengan kursinya yang di geser sedikit mendekat pada Reva.
"Makanya gak usah diet ... kurus gini apanya yang mau di kurangin? Hm?"
Plak!
"Aw!"
Tawa Ervan kembali mengalun saat telapak tangan Reva menepuk cukup keras keningnya sendiri. Niatnya ingin menepuk tangan Ervan, namun kalah cepat dengan pemuda itu yang sangat tau pergerakan gadis itu.
"Nyebelin banget sih!" kesalnya sambil mengusap pelan keningnya, juga terus menolak telapak tangan Ervan yang ingin ikut mengusap keningnya.
"Sini ih, di bantuin juga," ucap Ervan memegang tangan Reva, menggantikan tangan itu untuk mengusap kening Reva.
"Gak usah cemberut gitu, gak jadi jalan nih?" Bukannya menurut, Reva malah semakin memasang wajah tertekuk paling kesal yang dia punya. Tentunya itu selalu berhasil membuat kekehan di wajah Ervan kembali tampak.
"Keliling aja, mau? Aku juga nggak terlalu tau tempat ini," ucap Ervan menawarkan, sambil membenahi jepit rambut Reva yang sedikit melorot.
Ekspresi berpikir Reva keluarkan. Sebelum anggukan kepala dia berikan sebagai jawaban.
"Ya udah, ayo kalau gitu. Eh, bentar, hp aku di dalam."
Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Reva langsung berlari menuju kamarnya, mengambil ponselnya di sana.
"Rasanya aku gak percaya kamu bisa kayak gitu," gumam Ervan menatap Reva yang melambaikan ponselnya seraya satu tangan menutup pintu.
"Ayo," ucapnya dan Ervan hanya mengangguk, berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Reva.
*****
Mobil berjalan santai, dengan atapnya yang di buka. Jalan ini cukup sepi, tak terlalu sepi juga. Hanya saja di sini seperti di pedesaan yang di pinggir jalannya banyak ladang di penuhi rumput liar. Tak lupa dengan kincir angin khas negara ini yang berputar tak terlalu cepat.
"Dulu waktu kecil, aku pikir kincir angin yang ada di sini, sama kayak kincir angin yang sering aku buat di kertas," ucap Reva tiba-tiba, mengingat moment lama yang melintas di pikirannya.
Ervan menoleh sebentar, untuk melempar senyum senang saat melihat raut gembira di wajah Reva yang tak jenuh menikmati pemandangan baru yang di lihatnya.
"Beda ya?" tanya Ervan membuat Reva akhirnya menoleh. Sedikit tak mengerti dengan apa yang Ervan katakan.
"Beda apanya?" tanyanya.
"Biasanya cuma liat jalanan macet, sama berkas kantor," jelasnya membuat Reva membulatkan mulut dan selanjutnya terkekeh.
"Iya, biasanya jam segini udah mumet sama kerjaan," ujarnya masih terkekeh membuat Ervan ikut tersenyum.
Se-sederhana itu untuk membuat seorang dokter yang menyandang predikat ice doctor di rumah sakit tempatnya bekerja, bisa segampang ini untuk membentuk sebuah senyum di bibirnya yang kadang juga mengeluarkan tawa.
Hanya seorang Reva.
"Melin nggak ada hubungin kamu?" tanya Ervan kembali menoleh sebentar.
Mata Reva sedikit membola, lalu keningnya di tepuk pelan.
"Aku lupa cek. Hp aku silent soalnya," ucapnya menampilkan deretan giginya dengan matanya yang menyipit.
Baru menyalakan benda pipih nan canggih itu, Reva sudah dibuat mengernyit melihatnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Melin. Tumben sekali, pikirnya.
"Ini Kak Melin nelfon banyak banget. Ada masalah kali ya di kantor?" ucap Reva pada Ervan.
"Telfon balik aja," usul si dokter yang langsung di angguki oleh Reva.
Ervan pun tak tinggal diam. Satu tangannya langsung mengambil ponselnya, mengetik sebentar di sana sambil sesekali menoleh pada jalan dan Reva.
"Halo, Kak," ucap Reva saat panggilan tersambung pada Melin di seberang sana.
Dapat Reva lihat, gerakan bibir Ervan yang menyuruhnya mengaktifkan mode speaker pada ponselnya, yang langsung saja Reva turuti.
"Dek, kamu ke mana aja? Udah dari tadi loh Kakak telfonin nggak di angkat-angkat. Kamu ga kenapa-napa 'kan? Atau Ervan yang larang ya?"
Pertanyaan beruntun dengan satu kali tarikan nafas Melin layangkan dengan begitu cepat.
"Wow ... pelan-pelan Kak. Itu ngomongnya cuma 3 detik loh," ucap Reva di sambut erangan kesal dari sana.
"Dek, Kakak serius loh ini," ucapnya lagi terdengar sangat cemas.
"Aku gak kenapa-napa Kak. Aku lupa nge cek hp tadi. Trus hpnya juga aku silent, makanya nggak tau Kakak nelfon. Emangnya ada apa, Kak?" tanya Reva terlihat bingung juga.
Ervan dan Reva masih sama-sama menanti apa yang akan Melin katakan pada mereka. Namun gadis itu hanya diam, dalam waktu yang cukup lama.
"Nggak ada apa-apa sih. Cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Kamu gak di macem-macemin sama Ervan 'kan?" tanya Melin dengan nada menuduh curiga.
"Macem-macem apa maksud kamu?" tanya Ervan mengambil alih percakapan.
"Ya emangnya siapa yang tau niat terselubung laki-laki," jawab Melin membuat Ervan mendecak pelan.
"Udah 'kan? Jangan ganggu, oke?"
Selang sedetik, panggilan itu sudah terputus. Ulah Ervan tentunya. Membuat pukulan pelan Reva berikan pada lengan kokoh Ervan.
"Nggak sopan ih," ujarnya kembali menyimpan ponsel tersebut ke saku celananya.
Ervan hanya memberikan kekehan kecil pada Reva, di tengah dirinya yang sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Jawaban Melin terlalu klise digunakan di zaman sekarang.
*****
Tok! Tok! Tok!
Semua atensi serius yang tadi tertuju pada layar komputer di depan mata, kini beralih pada sosok tampan si direktur yang berdiri di ambang pintu ruangan mereka, membuat semuanya lantas berdiri.
"Pak Devin, ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya Celin yang pertama kali bereaksi.
"Laporan yang di kerjakan Reva, siapa yang mengerjakannya?" tanya Devin menatap mereka semua.
"Melin yang mengerjakannya, Pak. Tapi berhubung Melin tidak bisa hadir, jadi laporannya di titipkan pada saya. Ini, Pak." Celin memberikan sebuah berkas dengan map berwarna putih pada sang atasan.
Mungkin ini adalah hal baru yang pertama kali terjadi di sini. Terkhusus di divisi keuangan, di ruangan mereka.
Sepertinya direktur mereka yang satu ini tidak lagi mementingkan fungsi telepon yang tersedia di ruangannya, hingga si direktur tampan dengan ciri khas satu bulatan kecil yang menjorok ke dalam di pipinya itu, rela menghabiskan tenaga untuk mengambil berkas itu langsung ke ruangan ini.
"Pak?" Panggilan yang entah ke berapa kalinya, akhirnya dapat mengembalikan Devin dari lamunannya.
"Biar saya yang membawakan dokumennya ke ruangan Bapak," ucap Celin sopan.
"Ah ... tidak perlu. Saya bisa membawanya sendiri," ucap Devin mengambil alih map yang ada di tangan Celin.
Lagi, lirikannya mengarah pada meja Reva yang kosong, sebelum mengucap terimakasih pada Celin dan pergi dari sana.
"Si bos lagi kangen sama Reva kayaknya," celetuk yang lainnya setelah tak lagi melihat Devin di sana.
"Pasti lah. Mana mungkin si bos mau repot ngambil dokumen kalau nggak ada maksud tertentu," sambung yang lainnya melirik meja Reva.
"Udah deh, kerja aja. Malah ngegosip," ucap Celin kembali duduk di tempat duduknya.
Sedangkan di dalam ruangan tak kalah besarnya dari ruangan yang ada di perusahaan ini, di sanalah Devin sedang merutuki kebodohannya.
"Kenapa juga aku kayak gitu tadi? Keliatan b**o banget di depan mereka," rutuknya bersandar di kursi kerjanya.
Dirinya tidak ingin munafik dengan mengatakan tidak jika ada yang bertanya apakah dirinya sedang merindukan gadis bernama Reva yang bekerja di bagian divisi keuangan di perusahaan ini.
Nyatanya, Devin sudah sangat ingin melihat wajah cantik wanita itu, sudah sangat ingin mendengar suara wanita itu, yang paling utama adalah, sangat rindu akan senyum manis si gadis.
Arkh! Devin bisa stres memikirkannya.
"Telfon aja kali ya?" monolognya memutar ponselnya di tangan.
"Tapi ntar alasannya apa? Masa bilang kangen. Gak lucu banget." Pertanyaan dan jawaban itu berasal dari perdebatan di otaknya.
"Masa bodo lah, telfon aja," ucapnya lagi memantapkan hati untuk menekan ikon diall di sana.
Tersambung. Dan itu adalah masa menegangkan yang pernah Devin rasakan. Menunggu bagaimana panggilan itu tersambung dan detik demi detik berlangsung sambil masih menunggu si gadis mengangkat telfonnya.
"Halo, selamat siang Pak."
Dan itu adalah masa-masa paling gugup yang Devin rasakan. Dalam hati dirinya bersuara, begini ternyata merasakan jatuh cinta dan kasmaran.
"Halo, siang Reva," jawabnya mencoba mati-matian menormalkan nada bicaranya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Reva lagi.
Sedangkan Ervan yang mendengarkan sudah memasang wajah datar andalannya, sejak nama rivalnya itu tertera di layar ponsel Reva.
Sangat tidak tepat pria itu mengganggu momentnya bersama dengan Reva saat ini. Bukannya sudah jelas kalau dirinya dan Reva sedang liburan?
"Ah ... itu, saya hanya ingin memberitahu kalau laporan kamu yang di kerjakan oleh Melin, sudah ada di tangan saya."
Detik selanjutnya Devin memejamkan mata sembari tangannya memukul pelan keningnya.
Alasan paling absurd yang dia berikan pada seseorang. Devin saja bingung dengan dirinya sendiri.
Reva terdiam sejenak. Apakah ini memang sering terjadi jika seorang karyawan sedang cuti? Maksudnya, bukankah itu tidak perlu Devin laporkan pada Reva? Ah tunggu, itu terdengar seperti sebuah laporan bukan? Direktur tidak seharusnya melapor pada bawahannya bukan?
"Begitu ya, Pak? Syukurlah kalau begitu. Dan sekali lagi saya mohon maaf karena tidak bisa hadir untuk dua hari ke depan," ucap Reva di sambut senyum merekah oleh Devin.
Lega rasanya melihat Reva yang tidak bertanya terlalu banyak tentang alasannya tadi. Juga lega dapat menuntaskan sedikit rasa rindunya.
"Tidak masalah. Kamu juga pantas mendapat cuti. Itu hasil kerja keras kamu juga," balas Devin.
"Habisin makanannya Reva. Gak baik buang-buang makanan." Tiba-tiba suara bariton milik Ervan terdengar membuat Reva langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh dokter itu untuk diam sebentar.
Lain hal dengan Devin yang bahunya langsung merosot, berikut tangannya terkepal. Dirinya tak pernah tau kalau Ervan ikut serta dengan gadisnya. Kalau saja Devin tau, dia tak mungkin memberi cuti itu dengan begitu mudahnya pada Reva. Kalau perlu, dia akan menahan Reva di sini bersamanya dengan alasan pekerjaan.
"Kalau begitu Reva, saya matikan dulu sambungannya. Saya masih ada pekerjaan, saya hanya ingin menyampaikan itu," ucap Devin.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Selamat bekerja dan jangan lupa makan siang dan istirahat, Pak."
Dua kalimat yang tidak terlalu panjang itu nyatanya berefek besar bagi perkembangan senyum di wajah Devin. Panas di kepalanya langsung hilang begitu kata-kata penuh perhatian itu di tujukan padanya.
"Iya, terimakasih Reva. Dan selamat liburan untuk kamu," balas Devin sambil tersenyum lebar.
Mendapat jawaban terakhir dari Reva, lalu dirinya memutus sambungan itu dengan perasaan lega juga senang. Meski masih terselip rasa tak suka saat mendengar suara Ervan di sela percakapannya dengan Reva.
"Kali ini kamu boleh menang. Lain kali waktu Reva cuma buat aku," gumam Devin pelan.
*****