Sarapan pagi kali ini cukup hikmad dan sunyi. Ah, tak lupa dengan bertambahnya satu anggota mereka di sana. Rizan, pemuda itu benar-benar kembali merasakan hangatnya hubungan keluarga. Meski tanpa adanya sosok tetua yang bisa memberi dirinya kasih sayang berbeda. Tak apa, dia tak meminta banyak, tak ingin serakah dengan apa yang telah didapatnya sekarang. Ini saja sudah lebih dari cukup. "Gue udah selesai, gue mau siap-siap dulu," ucap Zack begitu selesai dirinya meneguk minumannya. "Mau ke mana lo?" tanya Ervan membuat Zack mengurungkan niat untuk bangkit dari duduknya. Zack mengernyit lebih dulu. Apa-apaan dengan pertanyaan itu? "Ke kantor lah, ke mana lagi?" jawabnya bingung. Garpu dan sendok yang Ervan pegang, kini di letak pada piring dengan tekanan yang cukup kuat, menimbulkan b

