Reva terbangun lebih awal. Mengerjap pelan kala bias cahaya masuk merambat dari jendela lalu masuk ke mata. Begitu matanya terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah mata bengkak dan wajah sembab Ervan. Saat tidur saja, kegundahan sangat terpancar di wajah Ervan. Sebegitu terpukulnya Ervan. Tangannya dia julur untuk menyapu pelan rambut Ervan yang acakan menutupi matanya. Lepek, itu yang dia rasa. Reva tersenyum melihat wajah damai Ervan yang tenang ketika tidur. Entah di jam berapa laki-laki ini baru menghentikan isak tangisnya. Yang Reva tau, kekecewaan dan kesedihan laki-laki ini sudah tak lagi berada di ambang hati, tapi sudah menyebar luar ke seluruh tubuh. Tak ingin lebih lama, tak ingin mengganggu tidur Ervan juga, Reva segera beranjak dari sana, sangat perlahan agar Ervan tak t

