Kala pintu kaca itu terbuka, Reva kira Ervan sudah kembali dari rumah. Gadis itu pikir, secepat itu? Maka kala dia mengangkat kepala, senyumnya yang tadi sudah persiapkan untuk menyambut Ervan, luntur seketika kala matanya bersitatap dengan pria yang tadi malam membuat Ervan mengamuk hebat. "Papa," ucapnya kembali pada senyum manisnya. Meraih tangan si papa untuk dia cium punggung tangannya. Dan satu kata itu. Satu kata yang Reva keluarkan itu mampu membuat semua yang mendengarnya mematung. Tak perlu waktu sampai lima detik untuk setelahnya mereka kalang kabut. "b******k!" teriak Ervan segera berlari keluar, sebelum benar-benar merapikan perban yang dia balut di telapak tangan Rizan. "Van! Ervan!" Baza ikut berteriak ikut berlari mengejar Ervan, sebelum dia berbalik menatap Rizan. "Lo

