Alpha

1563 Kata
Pembicaraan yang rahasia, bisa di katakan sangat. Dan kata rahasia sudah melekat dengan kata privasi. Maka setelah memastikan Reva tertidur, Ervan, Baza dan Melin kini berada di ruang kerja Ervan. Saling tatap penuh keseriusan, penuh kewaspadaan. "Jadi?" tanya Ervan memulai. Sedari tadi yang mereka lakukan hanya diam, tidak menjelaskan apa-apa. Padahal tadi katanya ada hal penting yang ingin mereka beritahu pada Ervan. Jangan di tanya kenapa Ervan mau saja, tentu saja karena nama Reva ikut serta di dalamnya. "Ini bukan pembicaraan formal 'kan ya?" Pertanyaan konyol itu pun keluar dari mulut Baza. Lengkap dengan tatapan polos tanpa rasa bersalahnya. Beruntung sekali anak itu karena Ervan sedang bisa menahan emosinya. Kalau tidak, mungkin sendal swallow yang dia beli di luar negri bisa melayang tepat di wajah Baza. "Ceritain cepet!" tegas Ervan menatap nyalang pada Baza. Baza malah menyengir lebar. Dan cengirannya meredup kala tangan si dokter tampan sudah bersiap melepas sendal dari kakinya. Melin yang melihat itu merotasikan bola matanya jengah. Kini suasana serius dalam pembicaraan mereka sudah hilang karena tingkah konyol ke dua pria tampan di depannya ini. "Berantemnya gak bisa nanti aja? Plis lah, lagi serius loh ini," ucap Melin menatap mereka berdua bergantian. Mereka akhirnya kembali pada posisi normal, berusaha bersikap wibawa meski sudah hancur oleh tingkah konyol mereka sendiri. "Gue mau denger pengakuan Baza dulu. Ceritain ke gue apa yang gue gak tau," ucapnya menatap Baza serius. Itu tidak membuat yang di tatap terkejut. Cukup lama bekerja sama dengan Ervan dan bersahabat sejak kecil dengan Ervan, membuatnya tau bagaimana sifat Ervan. Dia sudah menduga kalau dokter muda itu sudah mengetahui kalau sebenarnya ada rahasia yang dia tutupi. "Gue intel." Dua kata itu sebagai pembuka pengakuan Baza kali ini. Dan sebenarnya Ervan pun sudah tau profesi Baza yang satu itu. "Itu dulu, sebelum gue di berentiin dan gabung sama lo," lanjutnya. "T 01. Itu gue," ucapnya lagi menatap intens pada Ervan. Yang namanya wibawa seorang Leader Mafia, raut Ervan di berbagai ekspresi itu sama saja. Meski kadang tetap ada terlihat sedikit ekspresi lain, seperti sekarang contohnya. Si ketua itu terkejut. Fakta itu sama sekali tidak pernah dia ketahui. "Kelompok intel Alpha? Intel khusus?" tanya Ervan di sambut anggukan kepala dari Baza. Orang awwam tentu tidak akan mengerti dan tidak akan tahu tentang ini. Berbeda dengan orang-orang seperti Ervan yang sudah menyelami berbagai macam segi kehidupan dalam dunia gelap. Seorang intel pun termasuk di dalamnya, meski intel adalah lembaga yang resmi. Dia tau betul, dalam dunianya para intel, kelompok Alpha adalah kelompok teratas. Hanya berisi 5 orang termasuk si Alpha, ketuanya. Dan dia tentu terkejut dengan kenyataan kalau sahabatnya ini adalah salah satu dari kelompok tersebut. "Gue gak pernah buka identitas sama lo, karna itu memang di larang sama Ketua. Identitas kami berbahaya buat orang-orang sekitar, lo tau 'kan, tugas kami bukan lagi tugas kebanyakan intel," jelas Baza lagi. Ervan terdiam mendengarnya. Kenapa selama ini dia tidak pernah berpikir ke sana? Kenapa hal itu sama sekali tidak pernah terlintas di otaknya? Jelas-jelas ini juga ada sangkut pautnya dengan masalahnya. Bodoh! Kenapa dia bisa bersikap bodoh seperti ini? "Kelompok Mafia misterius itu?" tanya Ervan dan sekali lagi Baza mengangguk. Tangan Ervan tergerak memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Perlahan, arah matanya beralih pada satu-satunya wanita yang ada di sana, yang sedari tadi hanya diam membiarkan dirinya dan Baza berbicara. "Lalu kau?" tanya Ervan pada Melin. Melin tak menjawab, membuat Ervan perlahan menegapkan tubuhnya. "Apa kau putrinya?" tanya Ervan lagi menunjuk Melin. Wanita itu melempar senyum, dan itu sudah cukup bagi Ervan untuk tau jawabannya. Sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang seperti mereka untuk mengetahui kalau salah satu anggota Alpha adalah putrinya sendiri. Dan sekarang, dua dari lima orang-orang itu ada di hadapannya. "Alpha adalah ayahku, dan aku adalah rekan sahabatmu itu," jawab Melin memperjelasnya. "Trus, kenapa kelompok Alpha bubar?" tanya Ervan. Satu-satunya hal yang membuatnya sangat penasaran sampai sekarang hanyalah itu. Apa penyebab sampai kelompok besar itu dibubarkan. "Ayah yang nyuruh. Waktu itu, kondisinya gak memungkinkan. Mafia itu udah dapetin identitas Ayah. Kalau waktu itu kita semua masih jadi kelompok, identitas kita semua juga bakal ikut ke bongkar, dan orang-orang di sekitar kita bakal kena imbasnya," jelasnya menjawab pertanyaan Ervan. Dokter muda itu tak lagi menanggapi. Dia menatap Melin dan Baza bergantian yang tampak menatap sendu padanya. "Alpha terbunuh?" tanyanya kemudian. Tak ada pilihan untuk mereka selain mengangguk membenarkan. Itulah kenyataannya, si Alpha terbunuh tanpa mereka dapat mencari tau dan menindak lebih lanjut kasus itu. Alasannya hanya satu, demi keamanan orang banyak. Jika di tanya, 'apakah Ervan bersedih mendengarnya', maka dia dia akan menjawab 'sedikit'. Meski dulu, kelompok Alpha sempat bersiteru dengan kelompok mafianya, dia tetap tak lepas rasa kagum pada si Alpha. Bahkan dia sempat menyandang gelar penerus Alpha, hingga sekarang. Dan mendengar bahwa sosok yang dia kagumi telah tiada, tentunya ada sedikit rasa sedih dalam hatinya. "So ... kenapa nama Reva di bawa-bawa waktu kalian mau bicarain ini sama gue?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Itu bagian pentingnya," ucap Melin cepat. Mendengar nama adiknya, Melin jadi sangat bersemangat menyampaikan maksudnya pada Ervan. Dalam hati dia merapalkan 'pokoknya Ervan harus setuju!' "Aku udah buka identitasku sama kamu. Sekarang kamu yang harus jujur sam aku. Sebenarnya siapa musuh kamu yang ngancam keselamatan Reva? Apa motifnya?" tanya Melin tak sabaran. Maka tak perlu pikir panjang untuk Ervan mengatakan "Zack." ***** Pias matahari yang menembus tirai membuat gadis yang msih terlelap di balik selimut tebal itu terjaga. Sebenarnya cahaya itu sudah mengganggunya sejak tadi, namun dia enggan untuk membuka mata. Hingga sekarang, rasanya cahaya yang menyilaukan mata itu masuk semakin banyak ke dalam kelopak matanya yang tertutup, menembus retina matanya dan memaksanya untuk sekedar mengangkat tangan, menghalangi cahaya tersebut. "Bangun, udah pagi," ucap si pelaku yang membuka tirai. Reva itu termasuk orang yang rapi, tapi jika sudah tertidur maka kata rapi menjauh dari dirinya. Sekarang saja, wanita yang baru masuk itu sedang sibuk merapikan barang-barang yang terlempar ke lantai karena si pemilik kasur. Tak banyak macamnya, hanya beberapa boneka, dan dua buah bantal. "Ayo, Dek, bangun. Katanya mau liburan hari ini. Gak jadi?" Melin menjauhkan tangan Reva yang menutupi matanya. Silau cahaya kembali menyerang, membuat gadis itu mau tak mau mengambil posisi duduk sambil setelah itu menggeliat dan menguap lebar, sampai-sampai Melin harus menutup mulut si adik. "Hehe, pagi Kak ...," ucapnya semangat dengan suara serak khas bangun tidur. "Pagi. Kamu mandi gih, siap-siap pakai pakaian rapi, Ervan mau ngajak liburan katanya." Ucapan Melin sepenuhnya dapat membuat kedua mata Reva terbuka lebar. Rasa kantuk yang tadi masih sedikit bersarang, kimi musnah, hilang entah ke mana. "Beneran jadi liburan, Kak?" tanyanya dengan mata melotot dan senyum senang di bibirnya. Melin jadi gemas. Maka di cubit pelan pipi sedikit berisi milik Reva dan mengangguk pelan. "Makanya, mandi sana. Ntar Ervan berubah pikiran loh," ucap Melin lagi. Reva mengangguk semangat dan langsung melompat dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi. "Astaga ... itu tadi kalau jatuh 'kan bahaya," gumam Melin geleng-geleng kepala melihatnya. ***** Reva kini sudah berada di ruang tamu bersama yang lainnya. Setelah tadi mereka sarapan bersama dan memutuskan untuk membicarakan perihal liburan ini di ruang tamu. Antusias Reva hilang, berganti dengan timbulnya rasa bingung dan heran yang tampak jelas di raut wajahnya. "Kamu bercanda?" tanyanya masih belum percaya. Lagi, Ervan hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Mungkin hanya pada gadis ini Ervan mau menjawab sebuah pertanyaan yang sama yang di ulang sampai lima kali, dengan intonasi dan kata-kata yang sama. "Belanda? Kamu yang bener aja. Kamu pikir Belanda cuma dari sini ke minimarket samping rumah pak RT? Ngasal ya kamu," kesal Reva. Dalam bayangannya mungkin dia akan di bawa ke tempat wisana yang masih di dalam daerah ini, atau paling jauhnya di daerah tetangga, bukannya ke luar negeri begini, Belanda lagi. "Ya emangnya kenapa? Katanya mau liburan," jawab Ervan santai. Reva berdecak kesal. Andai saja dia seorang bos besar, maka dia juga akan menanggapi hal ini sesantai Ervan mengatakan itu. Tapi nyatanya, dia ini hanyalah karyawan biasa yang beruntungnya terdampar di kehidupan Ervan dan hidupnya perlahan berubah menjadi seorang putri kerajaan. "Masa cutiku cuma tinggal satu hari, Van. Kamu lupa kalau aku ini juga kerja?" tanya Reva masih berusaha sabar. Ervan mengedikkan bahunya acuh. "Tinggal minta tambahan cuti, beres 'kan? Kalau kamu mau, biar aku yang ngomong," ucapnya masih sangat-sangat santai. "Kamu kok santai banget sih! Aku serius loh ini!" ketusnya melipat tangan di d**a pertanda marah. "Reva ... tiketnya udah ada di atas meja. Kita tinggal berangkat. Tapi terserah kamu, minta izin lagi atau tiketnya kebuang," ucap Ervan menunjuk dua buah tiket di atas meja berbahan kaca itu. Reva semakin di buat tidak mengerti dengan sifat Ervan. Pemuda itu bahkan membeli tiket tanpa persetujuannya? Memangnya di sini yang ingin liburan dirinya atau Ervan? Tiba-tiba dia jadi menyesal mengiyakan ucapan Celin tentang liburan. Di lihatnya dua tiket itu dan Ervan bergantian, sampai kemudian dia berdecak dan menghentakkan kakinya sekali. Tidak mungkin juga dia membuang-buang uang Ervan yang keluar karena dua tiket itu. "Ya udah iya! Puas kamu?! Aku yang liburan, kamu yang repot!" ketusnya kemudian mengambil ponselnya. Ervan langsung berdiri dengan senyum di wajahnya, meraih tangan Reva dan membawa gadis itu berjalan, pergi dari sana. "Eh, aku mau telfon Mbak Nisa dulu. Katanya di suruh izin, kamu gimana sih," ucapnya berusaha menyamai langkah dengan Ervan. "Gak perlu, Melin udah urus semuanya. Kita tinggal berangkat," ucapnya tanpa berbalik menatap Reva. Wajah Reva mendatar. Kalau begitu, apa gunanya mereka berdebat tadi jika semuanya sudah di atur oleh pemuda ini? *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN