Rahasia

1163 Kata
Suara pukulan dan suara tembakan senjata terdengar bersahutan di tempat itu. Satu dari orang-orang yang berpakaian serba hitam itu masih bisa bernafas meski pukulan dari kepalan tangan Ervan tak pernah lepas dia terima. Sedangkan sisanya sudah menjemput ajalnya lebih dulu, dengan beberapa peluru yang bersarang di tubuh masing-masing mereka. "Berani-beraninya kau melukainya! b******n!" teriak Ervan marah. Pikirannya sudah tak jernih lagi. Kabut marah berkumpul pekat dalam kepala dan matanya. Hatinya pun ikut andil di sana, menyoraki untuk tetap terus menggerakkan pikirannya berbuat seperti itu. Sama sekali tak ada celah bagi lawan untuk sekedar mengambil nafas barang sedetik. Tak ada yang berani menghentikannya. Termasuk si tangan kanan yang hanya menonton pertunjukan di depannya dengan tatapan datar tanpa tersirat rasa kasihan di dalamnya. Begitupun anak buahnya yang lain. Seakan mereka sudah di latih untuk menghilangkan rasa simpati pada musuh. Jika ada yang bertanya, apakah itu tidak terlalu kejam? Maka jawabannya tergantung. Tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Karena bagi mereka, ini sama sekali bukan apa-apa. "Arrkkhh ...!" Erangan rasa sakit itu terdengar menyakitkan. Pendengarnya pun bisa merasakan bagaimana sakitnya, apalagi pria yang kini menerimanya. Belati yang kini sudah menembus perut pemuda itu, di biarkan menancap di sana. Ervan kemudian berdiri dengan nafas terengah, amarahnya belum reda, dirinya masih belum puas meski si lawan sudah sebegini parah keadaannya. "Kirim dia pada bosnya itu. Perlihatkan pada mereka bagaimana peringatan dari saya," perintah Ervan masih menatap tajam si lawan. Tubuhnya di bawa berjongkok, tangannya kemudian mengarah pada belati yang masih setia menutup aliran darah yang mengalir dari perut pemuda itu. Tidak, Ervan tidak pernah berniat melepasnya, si ketua mafia itu malah menekannya semakin dalam, pelan sekali pergerakannya di sana. Dan sedikitnya tersenyum senang melihat pemuda itu yang mati-matian menahan rasa sakit. "Jika kau pikir dengan menjadi tangan kanan Zack, kau sudah hebat, maka kau salah. Tidak lihat sekarang? Kau itu lemah, kau hanya b***k yang mau saja menjadi pesuruh Zack. Lihat akibatnya sekarang," ucap Ervan pelan. Tidak peduli jika pemuda itu mendengarnya atau tidak, Ervan hanya ingin menyuarakan ancamannya. "Sekali lagi, saya hanya memberimu kesempatan satu kali lagi. Jangan pernah kau sentuh gadis itu lagi, tidak se-ujung rambut pun. Sampai saya melihat dan mendengarnya, kau pasti sudah tau apa yang akan saya lakukan padamu. Ini ancaman!" Tekan Ervan memperingati. Ervan berdiri kemudian keluar dari ruangan itu tanpa kata. Keluar dari sana, langkah Ervan kemudian berjalan menuju sebuah ruangan lain di dalam manssion besar a.k.a markasnya itu. Dia masih punya akal sehat untuk tidak menampakkan diri dengan pakaian penuh darah ini di depan gadisnya nanti. Ini bukan waktu yang tepat bagi gadisnya untuk tau bagaimana identitasnya yang satu ini. "Bagaimana dia?" tanya Ervan seraya mengenakan baju ganti yang ada di kamar pribadinya yang ada di sana. "Dia sudah sadar, dan dia menanyakanmu," jawab Melin di seberang sana. Pergerakan Ervan yang sedang mengikat tali sepatunya terhenti. Senyum tipis tiba-tiba saja terbit di bibirnya. Merasa senang saat si gadis menanyakan dirinya saat terbangun. Itu adalah hal yang paling menyenangkan baginya, membuatnya percaya kalau dia memiliki tempat penting di dalam hati si gadis. "Saya segera pulang," ucap Ervan lalu memutuskan sambungannya sepihak. Dirinya sudah tidak sabar melihat keadaan gadisnya di sana. Tidak sabar mendengar pertanyaan 'Kamu dari mana aja?' dari Reva, dari gadisnya. ***** "Bagaimana, Dok?" tanya Ervan pada dokter yang baru saja melakukan rontgen pada gadisnya. Iya, tadi saat pulang, Ervan langsung membawa Reva kembali ke rumah sakit dan sedikit memaksa gadis itu agar mau melakukan rontgen, yang tentunya di iyakan dengan terpaksa oleh Reva. Dan juga, jawaban aneh dari Ervan keluar saat Reva bertanya, kenapa tidak dia saja yang melakukan rontgen pada Reva, dan jawabannya adalah karena dia takut melihat hasilnya. Reva saat itu hanya bisa menghela nafas panjang. Yang benar saja, dokter satu ini takut melihat hasil rontgen? Itu benar-benar aneh. Namun di saat Ervan melanjutkan kata-katanya, memberi alasan akan ketakutannya, dia mengatakan 'saya hanya takut kamu kenapa-napa' membuat Reva terdiam. "Tidak ada yang salah, Dokter Ervan. Hasilnya baik-baik saja. Tulang punggungnya juga masih baik," jelas si dokter sambil memaparkan hasil rontgen itu pada mereka berdua. "Syukurlah," gumam Ervan pelan. "Anda sudah senang sekarang, Dokter?" tanya Reva dengan senyum yang tampak dipaksakan. Ervan menoleh dan tersenyum tipis, mengacak pelan rambut Reva dan mengangguk. "Tepatnya saya sudah tenang sekarang," jawabnya. Si dokter yang masih berdiri di depan mereka tertegun menatap Ervan. Seingatnya, ini adalah pertama kali baginya melihat Ervan tersenyum. "Kalau begitu terimakasih Dokter Ben, kami permisi," ucap Ervan kemudian membawa Reva pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari dokter itu. "Dan dia sudah bisa mengucapkan terimakasih," gumam Dokter Ben setelah kepergian Ervan dan Reva. "Wah, gadis itu memang sebuah keajaiban," lanjutnya geleng-geleng kepala karena kagum. ***** "Jujur sama aku, Baza. Sebenarnya siapa musuh Ervan?" tanya Melin menatap intens pada Baza yang ada di depannya. Pemuda itu masih belum menjawab. Yang dia lakukan sedari tadi hanya menghela nafas. Tidak tau harus memulai cerita dari mana. "Aku gak mungkin ngasih tau segamblang itu, Mel. Ini rahasia dia," jawab Baza berusaha membuat Melin mengerti. Namun sepertinya gadis itu sama sekali tidak ingin untuk mengerti. "Tapi rahasia dia udah ngebahayain Reva, Za. Pertama Reva di teror, dan sekarang Reva di serang. Ini jelas udah gak nyangkut rahasia dia lagi," ucap Melin bersikeras. Lagi, Baza menghela nafas lelah. Bingung bagaimana lagi caranya agar wanita di depannya ini bisa mengerti keadaannya yang serba salah. "Gini," ucap Baza menegapkan posisi duduknya, menatap sepenuhnya pada Melin di depannya. "Reva adalah orang terdekat Ervan sekarang, musuh Ervan tentunya ngincar Reva buat bisa ngancam Ervan. Mereka gak akan pernah peduli, mau Reva punya salah atau nggak sama mereka. Yang jelas, ini masalah sesama mafia, kamu pasti ngerti masalah beginian, Melin," jelas Baza masih berusaha menyimpan rahasia sang sahabat. Giliran Melin yang menghela nafas panjang. Bersandar di sandaran kursi dengan satu tangannya memijit pelan pangkal hidungnya. Kenapa masalah adiknya menjadi rumit begini? Jika orang luar mengatakan dia terlalu berlebihan karena Reva hanyalah adik angkatnya, maka Melin tidak akan menanggapinya. Baginya, Reva tetap adiknya meski pada darah Reva sama sekali tidak mengalir darah orangtuanya. "Kalau begitu gini saja ..." Melin menjeda kalimatnya untuk membuat fokus Baza benar-benar sepenuhnya pada dirinya. "Kasih tau semuanya tentang aku sama Ervan," ucapnya membuat Baza melotot kaget. "Kamu gak lagi bercanda 'kan Mel? Identitas aku aja Ervan gak sepenuhnya tau. Kita gak bisa sembarangan bocorin identitas kita, itu bakal bahaya buat yang lainnya," ucap Baza menentang tidak setuju dengan usulan Melin. "Aku tau ...." Melin menghela nafas terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Tapi ini satu-satunya jalan, Za. Kamu pastinya percaya 'kan kalau Ervan bisa jaga rahasia? Kita gak akan bongkar rahasia kita sama orang lain. Cuma Ervan, dan Ervan gak mungkin berkhianat karna ini juga demi Reva," jelas Melin panjang. Baza menatap intens pada gadis di depannya. Tatapan mata gadis itu tidak pernah berubah sedari dulu. Masih tetap tegas dengan pancaran percaya dan yakin mendominasi di sana. Membuat akhirnya Baza pasrah. "Oke, kita bicarain sama Ervan nanti," ucapnya menyetujui. Seulas senyum timbul di bibir Melin. Merasa puas dengan jawaban itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN