Aura Leader Mafia

1257 Kata
Di dalam mobil, suasananya tidak terlalu hening. Meski dua manusia berbeda gender itu tidak saling bicara, masih ada lagu yang mengalun menjadi pemecah suasana di antara mereka. Sesekali suara Reva terdengar, ikut bernyanyi. Ervan tak protes, tentu saja. Suara Reva itu tergolong bagus dan lembut. Mungkin jika di asah sedikit lagi maka bisa dijamin Reva akan keluar sebagai pemenang jika mengikuti ajang lomba. Ervan yang sedari tadi memperhatikan apa yang gadis itu lakukan, di buat bingung saat tiba-tiba Reva tersentak seperti baru mengingat sesuatu. Buru-buru Reva mematikan musik di ponselnya yang tersambung pada mobil Ervan, dia kemudian menghadap Ervan dengan posisi sedikit menyamping. "Ervan," panggilnya. Yang di panggil menoleh sebentar, hanya sebagai tanda dia merespon panggilan si gadis, setelah itu kembali menatap jalanan di depan sana. "Aku pengen liburan, boleh gak?" tanyanya. Dari keadaan menyamping seperti ini, Reva tetap dapat melihat kening Ervan yang mengerut. Mungkin bingung dengan ucapan Reva barusan. "Kemarin di tanyain katanya gak mau," ucap Ervan kembali menoleh sebentar sebelum fokus pada jalanan. Kini gantian, Reva yang bingung. Dia menggaruk pipinya. Perasaannya, Ervan tidak pernah menanyakan itu padanya. "Kapan kamu nanyain? Gak ada deh," ucap Reva. "Kemarin, aku nyuruh Baza nanyain, gak ada?" tanya Ervan, langsung di jawab dengan gelengan oleh Reva. Ekspresi ke duanya sama-sama bingung sekarang. Dan satu-satunya tersangka hanyalah manusia yang bernama Baza yang tinggal di rumah Ervan. "Lupain. Mau liburan ke mana?" tanya Ervan selanjutnya, disambut antusias oleh Reva. Gadis itu tampak berpikir, memikirkan tempat yang ingin dia tuju, yang tentunya cocok untuk liburannya kali ini. Beberapa menit dia berpikir, namun tidak juga mendapat jawaban. Bukan karena terlalu banyak pilihan, tapi karena Reva memang tidak tau di mana tempat yang cocok untuk berlibur. "Aku gak tau tempatnya," ucapnya mendesah lesuh. Dokter tampan itu menghentikan laju mobilnya, karena mereka yang memang sudah sampai di parkiran rumah sakit. Melihat Reva yang cemberut, Ervan tersenyum. Mengacak rambut si gadis terlebih dahulu, lalu melepas sealtbelt gadisnya itu. "Nanti aku yang cari tempatnya," ucapnya tersenyum tampan lalu keluar dari mobil. Reva yang masih loading, perlahan senyumnya terbit saat menyadarinya. Segera, dia ambil tas yang ada di sampingnya dan keluar dari mobil, berjalan ke arah Ervan yang menunggunya di depan mobil. "Beneran?" tanyanya antusias. Si dokter mengangguk dan berdeham pelan, seraya tangannya kembali merapikan rambut si gadis yang sedikit berantakan karenanya. "Yes! Jadi liburan!" pekiknya senang. Tak mempedulikan apa-apa lagi, Reva segera berjalan dengan sedikit berlari kecil masuk ke dalam rumah sakit. Meninggalkan Ervan yang tersenyum tipis melihatnya dengan satu tangannya menjinjing plastik belanja yang isinya penuh dengan cemilan milik Reva. "Kayaknya baru ini gue liat Ervan se-bahagia itu," ucap Nanda tanpa menatap Zaki yang ada di sampingnya. Zaki yang juga masih menatap Ervan dan Reva berjalan masuk ke dalam rumah sakit, tersenyum tipis. Itu benar, semenjak adik yang sangat Ervan sayangi meninggal dunia, ini adalah pertama kali dia melihat Ervan kembali tersenyum. Senyum bahagia. "Iya. Apalagi dia mirip banget sama Azira," balas Zaki membuat Nanda menoleh. "Lo ...." Ucapan Nanda menggantung, tepatnya sengaja tidak dia lanjutkan. "Nggak kok, lo tenang aja. Kalaupun dia mirip Azira, tapi 'kan dia bukan Azira. Lagian kayaknya lo bener, perasaan gue waktu itu cuma sebatas rasa kagum aja sama dia," jelas Zaki. Nanda mengangguk kecil. "Bagus kalau gitu, gue gak mau persahabatan kalian rusak gara-gara cewek," ujar Nanda membuat Zaki tersenyum. ***** Selain cemilan, laptop milik Ervan ternyata juga berguna untuk mengusir rasa bosannya saat di tinggal si dokter di dalam ruangannya. Tidak di tinggal juga sebenarnya, hanya saja Reva yang tidak mau ikut. Dan sekarang, dirinya duduk di kursi kerja milik si dokter, dengan mulut yang tak henti mengunyah cemilan dan laptop yang menyala di depannya. Apalagi yang dia lakukan kalau bukan menonton film. Dia itu lebih suka film dari pada drama, apalagi film bergenre action. Dia suka sekali. "Andai aja ada kejadian ini di sini, pasti seru deh," komentarnya melihat adegan di dalam film. Di sana menampakkan seorang pemuda yang sedang melawan sekumpulan orang berjas rapi__sepertinya bodyguard__di lorong rumah sakit, saat si pemuda ingin membawa pasien yang ruangannya sedang di jaga oleh para bodyguard itu. "Tuh 'kan! Pasti si ganteng yang menang. Udah tau dia jago bela diri masih aja di--" Brakk! Hampir terjungkal dan tersedak makanan yang sedang di makannya. Inginnya tadi Reva memaki si pelaku, tapi melihat rekan Ervan di depan sana yang sepertinya baru saja berlari berkilo-kilo meter jauhnya, niat Reva urung. Kasihan juga melihat gadis itu sampai tidak bisa mengatur nafasnya dengan baik. Inisiatif, dan rasa peka yang tinggi, Reva segera mengambil air dan berjalan cepat ke arah Riska yang tengah menumpukan kedua tangannya di lutut, mengatur nafasnya. "Ini, minum dulu," ucap Reva mengulurkan gelas itu. Di sambut cepat dan di minum tak sabaran oleh Riska, sampai habis. Reva bertanya dalam hati, gadis ini memang haus atau hanya karena habis berlari? "Kenapa? Kok lari-larian gitu?" tanya Reva lagi setelah memastikan Riska sudah lebih tenang. "Dokter Ervan ...." Ucapan terputus karena Riska masih mengatur nafasnya. "Ervan kenapa? Coba atur dulu deh nafas kamu," ucap Reva berusaha sabar meski dia sudah sangat penasaran dengan kelanjutan dari ucapan Riska. Tak mengindahkan ucapan Reva, Riska langsung menarik tangan Reva ke luar dan berhenti di depan pintu. "Kamu kenapa sih?" tanya Reva yang masih bingung sekaligus sedikit kesal dengan tingkah Riska. "Itu," tunjuk Riska mengarah ke depan, tepat pada koridor di depan mereka. Ada gerombolan orang di sana, dan si dokter juga beberapa orang berpakaian serba hitam yang sedang adu kekuatan. "Dari sekian banyak doa aku harapin, kenapa harus yang ini yang terkabul sih?" gumamnya sambil berjalan cepat sedikit berlari menuju kerumunan itu. Orang-orang itu, semuanya memakai topeng, tapi ambisi Ervan untuk mengalahkan orang-orang itu lebih dia beratkan pada satu orang yang kini sedang bertarung dengannya. Seakan Ervan tau, siapa orang di balik topeng itu. Reva bingung. Inginnya, dia menghentikan apa yang Ervan yang orang-orang itu sedang lakukan, tapi dia juga takut jika nanti satu pukulan tiba-tiba mendarat di pipinya. Mengedarkan pandangan, semua laki-laki sesama rekan dokter yang ada di sana tampak sedang kesakitan sambil memegang beberapa area di tubuhnya. Jika Reva tebak, pasti mereka terkenal pukulan-pukulan itu saat membantu Ervan. Mereka saja kesakitan, apalagi Reva nantinya, bisa-bisa dia pingsan. Tapi ini benar-benar tidak bisa di biarkan begitu saja. Tidak hanya Ervan nantinya, pasien-pasien dan juga orang-orang yang di sekitar sini akan terkena imbasnya. Lihat saja para dokter itu, mereka lebih dulu terkena imbas. Maka setelah berdebat dengan batinnya, Reva mencoba untuk berani, melangkah lebih dekat dengan Ervan dan satu orang pemuda yang masih asik adu pukulan dan tendangan. "Ervan!" teriak Reva menggelegar. Reva kesampingkan dulu siapa saja yang akan terganggu karena teriakannya barusan, yang dia tau tindakannya ini sudah benar. Buktinya kini perhatian Ervan teralih padanya. Si dokter yang tadinya hanya menatap terkejut pada Reva kini berubah menjadi tatapan panik. "Awas Reva!" Bugh! Yang Reva rasakan hanya punggungnya yang berdenyut sakit, dan suara terakhir yang Reva dengar adalah adalah suara Ervan yang memanggil namanya, setelahnya semuanya gelap, serta pendengarannya juga tak lagi bisa mendengar apa-apa. "Reva!" teriak Ervan menepuk pelan pipi gadis itu. Bugh! Tendangan itu membuat si lawan tersungkur ke lantai. "Saya yang akan mengurus sisanya, Bos," ucap Baza yang datang dengan beberapa anak buahnya. Ervan tak menjawab, dengan segera dia membawa tubuh Reva pergi dari sana. Langkahnya pasti, dan lebar seperti biasa. Pandangan matanya tajam menusuk apa saja yang di lihatnya. Aura dinginnya menguar hebat sampai orang-orang yang di lewatinya bisa merasakannya. Itu bukan aura seorang dokter, bukan juga seorang CEO perusahaan besar, apalagi seorang pria tampan yang mendapat julukan Ice Guy di rumah sakit itu. Tapi itu adalah aura dari seorang Leader Mafia. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN