Sungguh-sungguh

1201 Kata
Canggung. Satu kata itu sudah mendeskripsikan semuanya. Mereka memang sedang makan siang, ah tidak, makan siang sudah selesai sejak 15 menit yang lalu. Semuanya memang normal, mereka datang ke sebuah restaurant mewah, memesan makanan, menunggu sebentar, kemudian makan siang dengan keadaan tenang saat si pelayan membawa pesanan mereka ke meja. Benar 'kan? Itu normal, seperti yang kebayangan orang lakukan. Yaa, meski keadaan itu lebih tenang dan hening. Berbeda lagi jika dia makan bersama rekan-rekannya di kantin kantor. Tidak akan lepas dari topik pembicaraan yang ada saja pembahasannya. Tapi itu tidak masalah. Ervan mengatakan kalau dia memang tidak suka ada yang berbicara dengannya saat dia sedang makan. Jadi, Reva agaknya terbiasa dengan keadaan itu. Yang jadi masalah, yang membuat Reva tidak terbiasa, dan membuat keadaan__menurut dirinya__menjadi canggung adalah, saat mereka selesai menyantap habis makan siang yang mereka pesan. Reva bingung sendiri ingin berbuat apa atau ingin mengatakan apa. Ayah dan anak itu sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri. Si ayah sibuk dengan ponsel yang Reva tebak pasti masalah pekerjaan kantor. Dan si dokter yang juga sibuk dengan ponselnya yang entah apa yang dia lakukan di sana. Sekedar info saja, Reva tau kalau Ervan bukanlah orang yang terlalu mempedulikan ponsel. Tidak ada suara di meja mereka. Benar-benar hening. Helaan nafas Reva saja terdengar sangat pelan dan hati-hati, seakan jika dia menghela nafas maka kegiatan dua pria yang sibuk dengan dunianya sendiri itu, akan terganggu. Drrtt! Drrtt! Reva terlonjak kaget. Deritan ponselnya yang dia letak di atas meja berbunyi terlalu nyaring di keadaan sunyi itu. Tersenyum canggung pada dua pria yang sudah mengalihkan perhatiannya pada dirinya gara-gara si ponsel, Reva kemudian mengambil ponselnya dan melihat nama si penelpon. 'Kak Mel' Itu nama yang tertera di layar ponselnya. Apakah Reva perlu berterimakasih pada Melin setelah ini? "Kak Melin. Aku angkat dulu, ya?" tanyanya meminta izin pada Ervan yang ada di sampingnya. Ervan mengangguk kecil sambil berdeham. "Jangan jauh-jauh," peringatnya dan Reva mengangguk paham dan pergi tak jauh dari dari sana setelah berpamitan pada Papa Haris juga. Iya, Ervan juga mengerti kalau sedari tadi Reva bosan dan canggung dengan situasi ini. Meski tidak mengajak Reva berbicara, setidaknya dia bisa meminta bantuan pada Melin untuk membuat gadis itu hilang dari rasa canggung. "Papa lihat, kamu sayang sekali sama dia," ucap Papa Haris setelah Reva menjauh dari meja mereka. Ervan yang tadinya memperhatikan ke mama Reva pergi, akhirnya menoleh pada si papa saat gadis itu memilih berdiri di depan kaca yang menghadap langsung pada jalanan di bawah sana. "Saya memang sayang dia," jawab Ervan jelas tanpa keraguan di nada bicaranya. Papa Haris tersenyum lembut meski Ervan sama sekali tak berniat mengubah raut datar di wajahnya. "Hanya sayang?" tanya Papa Haris lagi. "Saya juga cinta dia," jawabnya cepat. Senyum Papa Haris semakin lebar. Dia senang anaknya tidak se-dingin dulu lagi, dan lebih senang lagi anaknya menemukan orang yang tepat yang bisa memberinya kebahagiaan sampai bisa berubah seperti ini. "Kamu yakin?" Lagi, si papa bertanya, dengan nada yang sedikit ragu sekarang. Alis mata Ervan terangkat sebelah. "Emangnya saya kelihatan ragu?" Ervan balik bertanya. "Nggak, bukan gitu. Dia mirip sekali sama adik kamu. Kamu benar-benar sayang sama dia bukan karna dia mirip Azira, 'kan?" Papa Haris memperjelas pertanyaannya. Wajah Ervan kembali datar. Namun dokter itu tak menjawab. Niat awalnya ingin melindungi Reva memang karena dia mengira Reva adalah adiknya, menapik perasaannya yang mengatakan suka pada Reva kala itu. Namun mau bagaimana lagi? Hatinya yang memegang kendali. Gelar adik yang awalnya dia sandangkan pada Reva, satu kata yang dia kenang-kenang dalam hati dan pikirannya agar perasaan itu tidak merajalela, berangsur hilang. Digantikan dengan klaim gadisnya yang di kapital di dalam hatinya. "Saya cinta dia," ucap Ervan menjeda kalimatnya. Kepala dia tolehkan pada Reva yang masih asik berbicara lewat telepon dengan Melin. "Sebagai laki-laki pada wanita," lanjutnya menatap Papa Haris. Reva sedikit memutar tubuh ke belakang, melirik Ervan yang sepertinya sudah mulai berbicara dengan Papa Haris. Dia jadi merasa kalau mereka memang membutuhkan waktu berdua untuk berbicara. Itu tidak masalah, pembicaraan serius memang sering kali dilakukan secara pribadi dan bersifat privasi, Reva mengerti itu. "Mereka lagi ngobrol kayaknya. Gak tau deh ngobrolin apa," ucap Reva pada Melin yang tadi bertanya. "Ngobrolin kamu kali tuh," jawab Melin di seberang sana. Terdengar kekehan singkat, tak hanya Melin, Reva juga mendengar kekehan dari rekan-rekannya yang lain. "Apa sih, Kak. Ngapain jadi ke aku," jawab Reva sedikit bingung bercampur kesal. "Loh, kenapa nggak? Sah sah aja dong kalau calon mertua kamu nanyain calon menantunya sama calon suami kamu." Reva berdecak pelan. Keras sekali tekanan pada kata calon yang di ucapkan Mbak Nisa dalam kalimatnya. "Mbak, aku matiin nih ya telponnya?" ucap Reva mengancam yang malah membuat mereka di seberang sana tergelak. Pasti lucu sekali wajah kesal bercampur malu milik Reva saat ini. "Eh iya, Rev. Gak ada rencana mau liburan lo? Mumpung di kasih libur, jarang-jarang loh ada kesempatan kayak gini," ucap Celin dengan nada merayu. Reva terdiam. Dirinya berfikir, benar juga. Bukankah sayang jika libur gratis ini di sia-siakan begitu saja tanpa melakukan apa-apa. "Bener juga ya ...," gumam Reva setelah memikirkan apa yang Celin katakan itu benar. "Ya udah, nanti aku tanya Ervan dulu deh," ucapnya setelah itu. Antusias, terlewat senang sampai dia tidak sadar mengucapkannya sedikit keras. Tapi tak apa, gadis cantik itu juga sepertinya tidak terlalu peduli. Perasaan malunya telah ditutupi oleh rasa senang akan liburan. "Semangat banget, Dek." Gunta terkekeh pelan. "Iya dong, kan mau liburan," jawabnya menyombongkan diri. "Seneng liburan, apa seneng Ervannya?" tanya Melin dengan nada jahil menggoda adiknya. "Dih, apaan sih--" Ucapan Reva terpotong saat dia mendengar suara Ervan yang memanggilnya. Memutar tubuh ke belakang dan menemukan Ervan yang duduk sendiri di sana, tidak lagi dengan Papa Haris. Astaga, Reva sampai tidak sadar kalau papa si dokter sudah pergi. Apa dia akan di cap buruk oleh papanya Ervan? "Kak, udah dulu ya? Ervan manggil, kayaknya kita bakal balik ke RS lagi. Aku matiin ya, kak," ucap Reva pada Melin seraya berjalan mendekat ke meja yang tadi dia tinggalkan. Memutus sambungannya setelah mendengar jawaban dari sana. "Papa kamu ke mana?" tanya Reva kembali duduk di samping Ervan. "Udah duluan ke kantor. Ada urusan katanya makanya gak sempat pamit sama kamu," jawab Ervan menjelaskan. Si gadis mengangguk-angguk kecil lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Udah jam segini, kamu harus lanjut kerja 'kan? Ayo ke rumah sakit lagi," ucap Reva menatap Ervan. Ervan yang juga menatap Reva mengulas senyum. Rasanya dia tidak pernah bosan melihat dan mendengarkan Reva. Gadis itu selalu punya sisi menarik ketika melakukan apapun. "Ada yang mau kamu beli dulu? Makanan? Biar nanti gak bosen di ruangan aku," tawar Ervan masih setia di posisi awal. Kening Reva berkerut, alisnya sedikit menukik tanda berpikir. "Boleh deh, nanti ke minimarket dulu, ya? Mau liat-liat cemilan," ucap Reva lengkap dengan cengiran lebarnya. Sukses membuat Ervan ikut tersenyum lebar sambil menekan sekali pipi kanan Reva. "Ayo," ucapnya kemudian berdiri dari duduknya. Reva mengangguk antusias dan mengikuti Ervan berjalan. "Jangan beli es krim banyak-banyak pokonya," ucap Ervan tiba-tiba tanpa menoleh pada Reva. Mendengar itu bahu Reva merosot. Yang tadi dia pikirkan hanyalah es krim dengan berbagai rasa, dan sekarang Ervan melarangnya membeli banyak es krim. Apakah Ervan dapat membaca pikirannya? "Iya iya ...." Dan pada akhirnya Reva hanya bisa pasrah dengan nada lesuh. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN