Menantu

1324 Kata
Harusnya tadi dia ikut saja dengan Ervan saat pemuda itu menawarkan untuk ikut dengannya. Namun mengingat reaksi orang-orang di rumah sakit saat melihat dirinya dan si dokter tampan berjalan berdampingan, membuat Reva menolak mentah-mentah ajakan itu. Risih dan malu, itu alasan yang dia katakan pada Ervan tadi. Dan sekarang dia menyesal. Rasa bosan sudah sedari tadi melanda karena dokter tampan belum juga menampakkan diri sejak dua jam yang lalu. Padahal sebentar lagi akan masuk jam makan siang. Reva jadi bertanya-tanya, apakah Ervan selalu terlambat kalau makan siang? Kalau iya, apakah Reva harus selalu mengingatkan dokter itu agar tidak menjadi kebiasaan? Yaa, itu benar. Reva harus selalu mengingatkannya mulai saat ini. Terlambat makan adalah sebuah kebiasaan buruk. Ervan sebagai dokter harusnya sudah tau itu. Ceklek! "Kenapa lama bange ... t sih ...." Ucapan Reva menggantung begitu saja dengan mulut yang langsung terkatup dan mata melotot. Jika Reva tidak salah, pria dengan setelan rapi__yang sepertinya seorang bos besar__di hadapannya ini adalah papa Ervan. Mati! Kenapa dia tidak lihat dulu siapa yang datang dan malah langsung bersuara. Reva malu Ya Tuhan..! "Maaf, Pak. Sa--saya pikir tadi Ervan yang masuk," ucap Reva menundukkan kepala takut. Sungguh, tangannya sudah gemetar sekarang. Bagaimana kalau pria ini mengusirnya? Atau membentaknya? Atau malah menyuruhnya untuk menjauhi Ervan? Eh, tunggu. Yang terakhir itu ... lupakan! Yang penting sekarang adalah, dia sedang ketakutan. "Ervannya, mana?" tanya pria itu menatap ke seluruh ruangan. Oke, ucapan Reva di abaikan, dan Reva sudah siaga satu. "Ervan sedang ada operasi, Pak. Saya bisa memanggilnya kalau Bapak mau," ucap Reva memberi tawaran. Berusaha tenang dan bersikap se-sopan mungkin. Menggunakan kemampuannya dalam menghadapi bos di kantor. "Kamu ...." Tunjuknya mengarah pada Reva, dan ucapannya menggantung. Reva yang untungnya peka dan mengerti apa maksudnya, langsung membungkuk sedikit. "Saya, Reva, Pak. Saya ... teman Dokter Ervan." Terdengar kalimat ragu saat Reva memperkenalkan dirinya sebagai teman si dokter tampan itu. "Kau mirip Ranti," ucap papa Ervan dengan nada yang cukup pelan. "Maaf?" "Papa." Suara bariton itu berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua pada si dokter tampan yang baru sampai di ambang pintu. Ervan berjalan lurus melewati si papa meski tatapan matanya tidak lepas menatap pria itu. Mengambil posisi sedikit di depan Reva. Seolah menjadi benteng gadis itu dari papanya. "Ada apa?" tanya Ervan dingin. Selalu begitu, dan pertanyaan pembukanya tak berubah. Satu-satunya gadis yang ada di sana hanya bisa melongo. Di buat tertegun dengan ucapan Ervan barusan. Dia pernah dengar dari Baza kalau hubungan kedua ayah dan anak ini memang kurang bagus. Tapi apa harus, Ervan seperti ini pada papanya sendiri? Papa Haris menatap Ervan dan Reva bergantian. Terlihat cocok, apalagi Reva terlihat sedikit lebih mungil di belakang badan tegap Ervan. "Jadi, ini calon kamu?" tanya si papa membuat Reva semakin melongo. Tidak menyangka saja pertanyaan itu yang justru ke luar dari mulut papanya Ervan. Dan juga, kenapa tidak ada pertanyaan lain yang dia dengar selain pertanyaan itu? Sedari dia datang, dengan pertanyaan Zaki sebagai pembuka, sampai sekarang dia dikejutkan dengan kedatangan tiba-tiba dari ayah si dokter tampan, pertanyaan itu tidak berubah bentuknya. Ervan menoleh pada Reva, membuat gadis itu sedikit mendongak untuk ikut menatapnya. "Iya," ucap Ervan merangkul Reva, membawa gadis itu semakin lebih dekat dengan dirinya. Oke, sepertinya Reva mulai terbiasa dengan jawaban itu. Buktinya gadis itu sudah lebih bisa mengontrol raut terkejut di wajahnya. Karena raut yang dia keluarkan saat ini adalah raut takut. Takut jika nanti jawaban menohok yang keluar dari mulut pria paruh baya di hadapannya ini. Kalau soal rupa, Reva tidak akan kalah jadi kandidat, namun Reva juga sadar diri dia ini siapa dan Ervan itu siapa. Mereka benar-benar sangat berbeda. Tapi dia bersyukur, rasa takutnya kini luntur sudah, serasa rasa takutnya yang tadi berton-ton beratnya, kini sudah sangat ringan hingga helaan nafas lega itu keluar dari mulutnya saat pria yang sepertinya sebaya dengan ibunya itu tersenyum. "Kebetulan kalau begitu," ucapnya mendekat ke arah Reva. Selangkah Papa Haris maju mendekat, maka berkali lipat langkah yang Ervan lakukan untuk menghindar. Tepatnya menjauhkan gadisnya dari gangguan papanya. Reva yang biasanya langsung memukul Ervan untuk menegur pemuda itu, kini tak lagi berani. Aura Ervan saat ini sama seperti Ervan sedang berhadapan dengan Zack. Menyeramkan. Dia tidak mau jadi korban amukan Ervan lagi. Maka, untuk kali ini dia memakai pribahasa yang pernah diajarkan ibunya, diam adalah emas. "Kenapa? Gak akan Papa rebut, kok. Papa cuma mau dekat sama calon menantu Papa. Nggak boleh?" tanya si papa membuat Ervan menatap penuh arti padanya. Merasa Ervan sudah melunak, Papa Haris beralih menatap Reva dan tersenyum hangat pada gadis itu. "Sini, Nak." Papa Haris mengibaskan tangannya mengintruksi Reva untuk mendekat padanya. Gadis itu ragu, maka dia putuskan untuk menoleh terlebih dahulu pada Ervan, meminta persetujuan. Ah, sebenarnya tidak juga. Reva hanya sudah terbiasa meminta izin pada Ervan saat ingin melakukan sesuatu. Dokter itu tidak menjawab, tangannya dia kendurkan dari bahu Reva, sedikit memberi gerakan mendorong agar Reva melangkah mendekat pada papanya. "Cantik, kenapa mau sama anak saya?" tanyanya mengelus rambut halus Reva pelan. Benar apa yang di ucapkan tangan kanannya, jika di perhatikan lagi, Reva memang terlihat mirip dengan mendiang anak gadisnya. Gadis kecil yang kekurangan kasih sayang dari dirinya. Mendengar itu Ervan mendecih. Seperti tidak ada pertanyaan lain saja yang mau di ajukan. Sedangkan Reva, gadis itu malah malu bercampur bingung ingin menjawab apa. Karena yang sebenarnya, dia dan Ervan 'kan tidak ada hubungan apa-apa. "Hahaha ... tidak perlu di pikirkan, saya hanya bercanda," ucapnya lagi seraya menurunkan tangannya, dan Reva hanya bisa tertawa canggung. "Ada apa ke sini?" tanya Ervan mengulang pertanyaannya yang awal, menarik Reva kembali berdiri di sampingnya. "Papa ingin mengajakmu makan siang bersama. Karena di sini juga ada Reva, jadi, ayo kita pergi sama-sama. Papa juga ingin mengenal lebih dekat calonmu ini," ucapnya melempar senyum pada Reva di akhir kalimatnya. Merolingkan bola matanya malas. Melirik arloji di pergelangan tangannya, kemudian menatap malas papanya. "Bilang aja. Papa mau apa? Saya banyak urusan," ucap Ervan cepat. Erden juga mengucap saya pada ayahnya? Kenapa sifat pemuda ini sangat berbeda pada dirinya dengan ayahnya? "Sekali ini saja. Papa hanya mau makan siang dama kalian berdua. Papa tidak ingin apa-apa untuk balasannya, sungguh," ucap si papa bersungguh-sungguh. Reva jadi kasihan melihatnya. Dia tidak pernah melihat seorang ayah yang memohon pada anaknya. Melihat Ervan yang tetap diam, Reva segera mengambil tindakan. Dia tariknya sedikit lengan baju Ervan membuat pemuda itu menatapnya. "Aku laper. Ayo pergi sama papa kamu aja," ucapnya dengan tatapan memohon. "Bekal kamu?" tanya Ervan. Nada suaranya berbeda. Sangat berbeda saat pemuda itu berbicara pada ayahnya sendiri. Papa Haris sebenarnya senang-senang saja karena sifat lembut anaknya tidak pernah hilang. Tapi dia juga sedih, sifat lembut itu tidak lagi di tujukan untuknya. Hanya gadis ini yang bisa membuat Ervan seperti itu. "Kita bisa kasih ke rekan kamu, kan? Ayo, ikut papa kamu aja ya?" pinta Reva. Cukup lama Ervan menatap gadis itu hingga akhirnya dia menghela nafas panjang, terlihat lelah. "Saya ganti baju dulu," ucap Ervan menatap ayahnya datar, lalu langsung berjalan menuju kamar mandi yang ada di sana. Tak tergambarkan lagi rasa senang di hati Papa Haris saat ini. Jika dia boleh jujur, ini adalah makan bersamanya dengan putranya itu setelah kematian gadis kecilnya. Bolehkah dia menangis? Rasanya air matanya sudah berontak ingin segera ke luar. Reva yang masih menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup, dibuat terkejut saat papa Ervan meraih tangannya untuk di genggam. "Terimakasih, Nak. Saya tidak tau lagi bagaimana cara mendeskripsikan rasa bahagia saya sekarang ini. Dan ini semua berkat kamu," ucapnya dengan senyum tulus. Gadis itu membalas dengan senyum tak kalah tulus. Lalu mengangguk. "Sama-sama, Pak. Saya senang meljhat Bapak dan Dokter Ervan bisa kembali berhubungan baik," ucap Reva. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Reva, kini beralih menepuk pelan puncak kepala si gadis. Benar-benar hal yang dia rindukan pada gadis kecilnya. "Panggil, Papa." Reva terdiam. Otaknya berpikir, apakah ini merupakan awalan yang baik? Atau malah sebaliknya? Beruntung, otak dan hatinya kini sedang berjalan beriringan, maka kepalanya di gerakkan untuk mengangguk. "Iya ... Pa," jawab Reva. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN