Entah sejak kapan tepatnya, mereka berdua pun juga tidak menyadarinya. Semuanya hanya mengalir begitu saja, dan mereka berdua hanya mengikuti saja tanpa berontak ingin menolak.
Kepala Reva kini bersandar di d**a Ervan, telinga Reva bahkan bisa mendengar detak jantung Ervan yang terdengar tidak beraturan. Tangan Ervan melingkar di belakang dengan telapak tangan yang tak henti mengusap lembut kepala Reva. Di tangan Reva ada sepiring rujak buah yang tadi mereka beli. Sesekali tangannya akan menyuap untuk dirinya, sesekali pada Ervan yang di terima dengan senang hati oleh pemuda itu.
Dan di depan sana televisi menyala menampilkan sebuah film action berbahasa inggris.
Bukankah mereka terlihat seperti sepasang kekasih?
Masalah tadi siang, mereka menyelesaikannya dengan cepat. Lagipula, itu hanya ketidaksengajaan. Namun mengenai kejadian di kantin kantor, Reva sama sekali belum mempertanyakan itu, dan Ervan juga tidak berniat membahasnya lebih dulu.
"Ervan ...."
Reva bersuara pelan, masih di posisi yang sama tanpa ingin melihat lawan bicaranya.
Dehaman kecil terdengar sebagai jawaban. Namun sudah beberapa menit, gadis itu tak kunjung melanjutkan ucapannya membuat Ervan akhirnya menundukkan sedikit kepalanya untuk melihat Reva. Takut-takut kalau Reva ternyata sudah tertidur. Tapi mata gadis itu masih berkedip, lalu ada apa?
"Kenapa?" Ervan akhirnya balik bertanya. Memancing Reva agar berbicara.
Bukannya menjawab, Reva malah mendongak menatap Ervan. Rahang tegas Ervan yang pertama kali di lihatnya, baru bibir yang terlihat berwarna pink alami, hidung mancung, mata tajam, alis mata tebal, dan terakhir rambut hitam Ervan yang sebagian terjatuh mengenai mata si pemilik. Kenapa Ervan terlihat berkali lipat lebih tampan dari di lihat dari sini?
"Terpesona ya?"
Pertanyaan itu akhirnya membuat lamunan Reva mengagumi ketampanan Ervan menjadi buyar. Pilinya terasa panas, rona merah pastinya sudah tampak di sana. Dan seperti refleks kebanyakan wanita, Reva segera mengalihkan pandangan, menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Kekehan Ervan mengalun halus membuat kepalan tangan kiri Reva mendarat di d**a bidang milik Ervan.
Tangannya yang ada di kepala Reva tergerak mengacak pelan rambut Reva, antara gemas dan ingin mencairkan suasana hati Reva yang tengah di landa rasa malu.
"Kenapa? Hm?"
Lebih lembut kali ini, di iringi usapan lembut di kepala, Ervan kembali bertanya setelah merasa Reva sudah selesai menghayati rasa malunya.
Reva kembali mendongak, lalu menarik tubuhnya dari Ervan membuat alis mata Ervan terangkat sebelah. Satu kaki dia lipat di atas sofa, satu lagi di biarkan terjuntai di bawah. Reva menghadap sepenuhnya pada Ervan. Siap untuk berbicara__yang sepertinya__serius.
"Kalau mau bahas yang tadi mending gak usah," ucap Ervan cepat sebelum Reva mengeluarkan suara.
Bahu gadis itu merosot, bibirnya mencebik dan alis matanya menukik kesal. Tangannya memukul pelan paha dokter tampan di hadapannya.
"Dengerin dulu ...." Terdengar seperti rengekan di telinga Ervan.
Helaan nafas terdengar sebelum Ervan mengangguk pasrah, ikut memutar badan dan menghadap sempurna pada Reva, menatap intens pada iris mata Reva.
Reva yang di tatap seperti itu tentu saja gugup. Meski sudah beberapa kali Ervan menatapnya seperti itu, jantungnya masih belum terbiasa.
"Hah ... terpesona lagi?" tanya Ervan dengan nada jahil.
Gadis itu tersadar, langsung memasang wajah garang dan kembali mendaratkan pukulan main-main di lengan Ervan membuat si pemilik lengan terkekeh pelan.
"Ya udah, apa? Aku dengerin," ucapnya lagi.
Terlihat ragu. Mata tidak fokus menatap Ervan, seperti takut-takut saat mengatakannya.
"Kamu sama Zack, musuhan ya?" tanya Reva pelan dan hati-hati.
Dia sudah memilah-milah mana pertanyaan yang akan dia ajukan, dan pemilihan kata yang akan dia ucapkan pada laki-laki di depannya ini. Tapi tetap saja dia takut menyinggung Ervan.
Tapi di lihat dari raut wajah pemuda itu, tampaknya Ervan tidak tersinggung, buktinya Ervan kini tersenyum lembut padanya.
"Aku sama Zack memang ada masalah. Masalah masalalu," jawab Ervan singkat.
Meski tidak menceritakan yang sebenarnya, setidaknya Ervan tidak berbohong pada Reva.
Reva menggumamkan 'Oo' singkat. Sebenarnya tidak puas dengan jawaban Ervan, tapi sepertinya itu adalah rahasia, jadi dia menahan diri untuk memperpanjang pertanyaan itu meski di kepalanya kini satu pertanyaan itu menjadi bercabang ke mana-mana.
"Jadi ... Zack itu jahat?"
Pertanyaan lain tapi masih seputar topik pembicaraan.
Ervan tidak langsung menjawab. Meski sudah lama bermusuhan dengan Zack, dia belum bisa memastikan apakah Zack adalah orang yang jahat atau orang baik. Karena Ervan adalah tipe orang yang tidak hanya menilai seseorang dari luar. Selama ini, yang dia tau kenapa Zack memusuhinya, karena Zack mengira dirinya yang mengincar ayahnya, sampai membunuh ayahnya. Padahal Ervan sama sekali tidak melakukan itu.
"Tadi 'kan aku bilang, aku sama Zack memang ada masalah. Yang aku tau, Zack itu licik. Aku gak mau kalau nanti dia jadiin kamu sebagai umpan supaya bisa ngancam aku," jawab Ervan panjang.
Tak terdengar lagi suara setelahnya. Reva sibuk menatap pada iris mata Ervan, mencari-cari kebohongan yang tak kunjung di temuinya di sana. Hanya ada ketulusan dan harapan di sana. Seolah berharap dirinya mengerti dan menuruti kata-katanya.
Dirinya tersentak, saat tiba-tiba ibu jari Ervan mengelus alis matanya.
Jika Reva lihat ke belakang lagi, itu adalah salah satu kebiasaan Ervan saat bersamanya. Reva juga tidak tau sejak kapan mengelus alis matanya menjadi kebiasaan Ervan. Yang Reva tau, dia juga nyaman di perlakukan seperti itu.
"Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa, itu aja. Sejak kamu ada di rumah ini, kamu adalah prioritas aku, dan keselamatan kamu adalah hal paling penting buat aku," ucap Ervan.
Reva tertegun mendengarnya. Apakah boleh dia merasa istimewa saat Ervan mengatakan itu. Bolehkah kalau Reva merasa dia mempunyai sebuah tempat di hati Erden? Sebuah tempat spesial.
Tak jauh dari posisi Ervan dan Reva duduk di kursi sofa dengan telivisi yang menyala, entah berapa kali Baza menghela nafas panjang, kadang berdecak kesal, kadang juga bergedik jijik mendengar kata-kata mutiara Ervan.
Sifat Ervan yang satu itu masih baru baginya, jadi dia masih tidak terbiasa.
"Gue beli apartment aja kali ya? Berasa makhluk halus aja gue di sini, nggak di anggap," gumam Baza berjalan menuju kamarnya.
*****
Hari ini, Reva tidak pergi ke kantor, bukannya cuti, apalagi meliburkan diri, tapi memang dia mendapat hari libur selama dua hari. Itu karena dirinya sudah berhasil membuat perusahaan besar berhasil bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Ingat saat mereka meeting di cafe? Itu dia.
Sebenarnya Reva tidak tau menau tentang itu, dia tidak merasa berbuat begitu, tapi karena pak direktur sendiri yang menyampaikannya, jadi dia tidak mau membuang kesempatan.
Tapi bukannya bersantai di rumah, atau pergi berlibur ke tempat wisata, Reva malah memilih ikut dengan Ervan ke rumah sakit, menemani dokter tampan itu bekerja.
Ervan yang di temani senang-senang saja tentunya. Kapan lagi bisa di temani bekerja oleh gadisnya.
Namun kejadian di kantor juga tak jauh berbeda dengan yang terjadi di sini. Para suster, dokter termasuk para keluarga pasien yang ada di sana mengalihkan perhatian pada mereka berdua. Membicarakan mereka secara terang-terangan maupun berbisik dengan mata yang terang-terangan menatap mereka berdua.
"Hah ... gak di kantor, gak di sini, sama aja. Mereka gak punya kerjaan banget liatin orang," keluh Reva kesal.
Ervan menoleh, lalu terkekeh pelan melihat wajah cemberut milik Reva. Reva memang selalu sukses membuat raut gemas yang membuatnya terkekeh.
Dan Reva di buat bingung saat mereka semua seperti terkejut. Reva tolehkan kepala ke samping, berniat bertanya. Namun belum sempat dia bertanya dia sudah tahu lebih dulu jawabannya.
Si dokter es sedang terkekeh, pantas saja mereka terkejut. Reva tebak, dan dia pastikan itu benar, dokter ini pasti tidak pernah terkekeh sebelumnya.
"Wah wah ...."
Baru saja ingin meraih kenop pintu, perhatian mereka teralih pada Zaki dan dua wanita lainnya yang menghampiri mereka.
"Dokter Ervan, kau membuat patah hati banyak wanita," ucap Zaki terkekeh pelan.
"Pantas saja Dokter Ervan dingin pada semua orang, ternyata sudah ada yang punya," timpal Nanda ikut menggoda mereka berdua.
Reva melongo, apa yang mereka maksud adalah dirinya? Dirinya ingin menyangkal, namun baru saja ingin menggekeng, satu wanita yang sedari tadi menatap dirinya penuh binar, lebih dulu menggenggam tangannya, di hiasi oleh senyum lebar di wajahnya.
"Kau cantik sekali. Kau perawatan di tempat kecantikan mana?" tanyanya menatap penuh puja pada Reva.
"Ha?"
Bingung tentunya, sekaligus tidak mengerti dengan apa yang gadis di depannya ini katakan.
"Dokter, apa kau tidak ingin memperkenalkan wanitamu ini?" tanya Nanda menekankan kata wanitamu pada kalimatnya.
Ervan menoleh ke samping menatap Reva yang juga menatapnya penuh kebingungan.
"Reva, mereka adalah rekan satu tim saya," ucap Ervan singkat.
"Dan ini adalah Reva." Di jeda sejenak untuk kembali menatap gadis itu sedangkan mereka bertiga sudah menunggu kelanjutannya.
"Dia istri saya."
•
•
•
•