Skill

1132 Kata
Ervan melangkah cepat. Tatapannya lurus menatap Zack yang kini juga sedang menatapnya. Tatapan mengejek yang Ervan lihat di sana. Berpasang-pasang mata kini hanya terfokus pada mereka. Lagi dan lagi, mereka menjadi pusat perhatian satu kantor. Yang berbeda sekarang hanya dewanya. Hilang dewa yang satu dewa yang lain datang. Sempat terbesit di benak mereka meski hanya sekelibat, ada pertanyaan, 'apakah Reva ini semacam reinkarnasi dari aprodate, sehingga banyak dewa yang berlomba mendekatinya' Yaa setidaknya itu tidak hanya pertanyaan tak terjawab saja sekarang. Buktinya, ada tiga dewa yang kini mendekati si aprodate perusahaan. Ah, bukankah julukan itu terdengar cocok untuk Reva? Sedikit tersentak, saat tiba-tiba Ervan menarik tangannya, memaksa untuk berdiri meninggalkan tempat duduk yang baru dia duduki beberapa menit. Reva kemudian di sembunyikan di belakang punggung lebar Ervan. Seakan sedang melindungi gadis itu dari orang jahat. "Ervan---" "Pergi.dari.sini!" Itu sebuah perintah berikut ancaman di bumbui tatapan intimidasi dari si dokter tampan itu. Zack yang masih duduk di sana kemudian berdiri. Menyamakan tingginya dengan Ervan meski tetap saja Ervan lebih tinggi darinya. "Kau sedang di hadapan publik. Kau lupa?" Dan yang itu bukan sebuah pertanyaan. Melainkan sebuah peringatan seakan dia sedang mengatakan 'kau tidak bisa berbuat apa-apa di sini' "Sei kein feigling. Bringen sie nimanden in ihre probleme!" geram Ervan menatap tajam lawan bicaranya. (Jangan jadi pengecut. Jangan bawa orang lain dalam masalahmu!) Semuanya bingung dengan apa yang Ervan katakan, termasuk Reva yang ada di belakangnya langsung melongo. Antara tak percaya dan tidak mengerti. Meski dia tidak paham apa yang Ervan ucapkan tapi dia tau Ervan memakai bahasa apa. "Ervan bisa bahasa Jerman? Beneran?" batin Reva bertanya-tanya. Di saat semua orang di sana yang masih memasang tampang bingung dan bertanya-tanya. Zack malah terkekeh ringan. "Sie möchten also mit einer fremdsprache in deckung gehen? Wer ist jetzt eing feigling?" Smirk di di bibir terpasang, membuat Ervan semakin mengepal marah. (Jadi, kau mau berlindung dengan bahasa asing? Siapa yang pengecut sekarang?) Maju beberapa langkah dengan Reva yang masih setia berdiri di belakang sana, masih melongo mendengar jawaban Zack. Bukan karena mengerti, tapi karena ternyata Zack juga bisa berbahasa Jerman. Seketika Reva berpikir, jangan-jangan Devin juga bisa, siapa tau saja mereka bertiga dulunya belajar bersama. "Ich warne noch einmal, trauen sie sich nicht, ihn einzubeziehen. Er hat damit nichts zu tun!" tekan Ervan pada kata-katanya. (Kuperingatkan sekali lagi, jangan coba-coba kau libatkan dia. Dia sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah ini) "Ada apa ini?" Mulut Zack kembali mengatup. Intruksi itu membuatnya menatap datar pada Ervan yang kini masih menatap tajam padanya. Seperti awal, tatapan intimidasi. Semua menoleh, dan langsung tergagap saat sang direktur a.k.a salah satu dari tiga dewa, datang dan masuk ke dalam kantin. Berjalan bak model yang sedang catwalk, di tonton berpasang-pasang mata. Dan pemandangan paling indah sudah ada di sana. Di tengah-tengah kantin kantor. Tiga dewa dan satu dewi. Bukankah itu sudah nikmat yang sempurna? "Ada masalah apa ini? Kalian membuat keributan lagi? Sepanjang saya berjalan semua karyawan membicarakan kalian," ucap Devin menatap mereka bertiga bergantian. Persis seperti seorang guru BK yang memergoki siswanya yang sedang bertengkar. "Es geht sie nichts an!" (Itu bukan urusanmu!) Keadaan hening. Itu tadi serentak sekali, seperti satu orang dengan dua suara berbeda. Perhatian mereka, termasuk Reva kini terfokus pada Devin yang keningnya mengernyit dengan satu alis terangkat ke atas. Menunggu apa yang akan Devin ucapkan. "Maaf, tapi---" "Ruhig!" (Diam!) Kembali, dua dewa yang tadinya__sepertinya__beradu argumen, kini berbalik menjadi sangat kompak saat berbicara pada si direktur. "Hier bin ich verantwortlich. Bitte hier raus, bevor ich erze." (Di sini saya yang bertanggung jawab. Jadi pergi dari sini, sebelum saya paksa) Baiklah, sepertinya memang benar, para dewa ini dulu adalah sahabat dari kecil, lalu terpecah karena memperebutkan cinta. Kenapa ke tiganya bisa memiliki keahlian yang sama? Yaa, meski profesi mereka berbeda. Tapi, itu jelas membuat mereka terkejut, pengecualian untuk Ervan dan Zack yang malah mendecih tak suka. Satu kantor baru mengetahui kalau si pak direktur ini bisa berbahasa Jerman. Sungguh sebuah ketidaktahuan yang keterlaluan. Beralih menggenggam pergelangan tangan Reva, Ervan menoleh pada Zack menunjuk tepat pada wajah pemuda itu. "Kau, tidak akan pernah berhasil!" tekan Ervan berucap pasti. Pandangan di alihkan ke depan, tatapan setajam silet di layangkan pada si direktur tampan. "Jangan suka mencampuri urusan orang lain!" Tanpa minat menunggu jawaban ataupun reaksi yang di berikan, tangan Reva langsung di tarik lembut, langkah kaki Reva yang kecil di paksa untuk melangkah se-lebar mungkin untuk menyamai langkahnya. "Ervan, ini masih jam kerjaku. Kau mau---" Ucapan Reva terpotong saat tiba Ervan berhenti melangkah untuk sekedar berbalik menatapnya dengan tatapan datar namun tajam. "Menurut, Reva." Nada bicaranya tidak tinggi, ucapannya pun tidak di tekankan, tidak juga terkesan kasar atau membentak. Itu hanya sebuah ucapan lembut penuh penegasan untuk membuat si gadis tidak lagi protes. Dan yaa, itu berhasil membuat Reva akhirnya menggangguk samar, mematuhi ucapan dokter tampan itu. ***** Sampai di dalam rumah mewah itu, baik Reva maupun Ervan masih tetap diam tak menyuarakan apapun. Reva diam karena tidak berani bersuara, terlalu takut dengan aura gelap Ervan yang masih kentara terlihat. Sedangkan Ervan diam karena meredam emosinya yang masih stuck di permukaan. Melihat Zack membuatnya ingin mengacak-acak wajah rivalnya itu. "Ervan---" "Reva. Jangan pernah deket-deket dia lagi. Jangan bicara, jangan tanggapin, jangan dengerin dia. Pokoonya jangan sampai kamu ada urusan sama dia." Ervan berbicara cepat dalam satu kali tarikan nafas. Pemuda ini benar-benar sungguh-sungguh memperingatinya. Reva sendiri jelas bingung, dia baru kenal dengan Zack dan kini si suruh menjauh. Bukan apa-apa, tapi dia kehilangan satu temannya. "Ervan, dia gak ngapa-nagapain aku. Dia baik kok, dia tadi bantuin aku juga. Kamu kenapa kok gak suka banget sama dia?" tanya Reva akhirnya memberanikan diri. Mengusak kasar rambutnya, Ervan kemudian memegang kedua bahu Reva sedikit erat, membuat Reva terjengit kaget. "Kamu gak tau siapa dia. Kamu gak kenal gimana dia. Jangan liat luar aja Reva. Semua orang jahat juga gitu," ucap Ervan sedikit di campuri rasa kesal dan marah. Sehingga tanpa sadar kedua tangan Ervan mencekram bahu Reva lebih kuat dari sebelumnya, membuat gadis itu meringis. "Ervan, kamu---" "Nurut aja apa susahnya, Reva! Kamu cukup ikutin omongan aku! Jauhin dia! Dia itu gak baik buat kamu! Kamu paham gak!" Kali ini Ervan benar-benar berteriak. Gadia itu sampai menutup mata dan membuang wajahnya agar tak menatap Ervan. Terlalu takut pada pemuda yang selalu bersikap lembut padanya itu. Sungguh, dia tidak suka Ervan yang seperti ini. Tepatnya dia paling tidak suka jika seseorang membentaknya. Dia masuk dalam kategori orang yang perasa. Ervan yang sadar akan sikapnya langsung mengendurkan cengkraman pada bahu Reva. Dia benar-benar tidak sadar melakukannya, juga membentak Reva, itu di luar kehendaknya. Maka tanpa pikir panjang lagi, Ervan langsung membawa gadis itu dalam pelukannya. Erat seakan gsdia itu tidak boleh lepas dengan mudah. "Maaf ...." ucapnya lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN