Satu kotak penuh berisi map-map warna warni yang di dalam masing-masing map terdapat dokumen penting. Ini tadi dia dapat di ruang penyimpanan yang lama, inginnya dia bawa ke ruangannya atas perintah dari Mbak Nisa. Tapi dia harus kembali mengangkat kotak yang cukup berat itu kembali ke ruangan penyimpanan karena dirinya yang salah mengambil kotak.
Entah apa yang dia pikirkan sampai dia bisa membawa dokumen-dokumen 3 tahun yang lalu. Untung saja tadi dia sempat kembali memeriksanya, meskipun sudah setengah jalan.
"Gini banget cari uang, astaga...," lirihnya mengeluh pelan sambil terus berjalan dengan beban di kedua tangannya.
Brakk!
Kotak di tangannya jatuh, menimpa dirinya yang juga ikut terjatuh.
Seketika Reva ingin mengumpat saja dengan suara yang lantang. Belakangnya sakit sekali, dan tambah sakit lagi saat melihat semua map dan kertas dokumen yang di bawanya kini sudah berserakan di mana-mana. Ingin menangis saja rasanya.
"Sial banget sih hari ini!" erangnya kesal.
Dengan tidak santainya, sesekali di tumpuk dengan kasar map-map itu, melampiaskan rasa kesalnya.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Pergerakan Reva terhenti. Lalu kepalanya di dongakkan ke atas. Dia baru sadar dengan keberadaan orang yang menabraknya tadi. Amarahnya tadi berada di puncak, ingin protes tentu saja. Kata-kata mutiaranya yang hampir keluar kini di telan begitu ingatannya semakin mengenal sosok di depannya itu.
Pria itu berjongkok dan tersenyum, ikut merapikan dokumen dan map-map yang berserakan.
"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya sedikit buru-buru tadi," ucapnya lagi menyadarkan Reva dari lamunannya.
Reva mengedarkan pandangan, lantai di dekatnya sudah bersih, tidak ada lagi map-map yang tadinya berserakan tidak elitnya. Pandangannya kemudian jatuh pada kotak di depannya yang sudah terisi penuh, rapi.
Dia sampai tidak sadar kalau semuanya sudah rapi. Dia yang terlalu lama termenung atau memang pria ini yang terlalu gesit membereskannya? Ah itu tak penting, yang penting sekarang dia kembali termenung sampai baru sadar setelah mendengar kekehan dari pemuda itu.
"Kamu ...."
Reva menggantung ucapannya dengan telunjuknya menunjuk pada pria itu. Tapi tampaknya si pria mengerti apa yang akan Reva ucapkan, lantas dia mengangguk dan tersenyum. Mengambil kotak tersebut lalu berdiri, begitupun Reva yang ikut berdiri.
"Saya yang waktu itu juga pernah menabrak kamu di sini," jawabnya dan Reva hanya mengangguk, membenarkan dalam hatinya bahwa tebakannya benar.
"Maaf soal yang tadi. Saya tidak sengaja," ucapnya lagi membuat Reva menggeleng dan tersenyum.
"Tidak masalah. Lagipula kau juga sudah menolong saya," jawabnya.
Seakan baru teringat sesuatu, Reva langsung mengambil alih kotak tersebut yang tentunya di tahan oleh pria itu.
"Biar saya saja. Sebagai permintaan maaf," ujarnya masih tersenyum.
"Ah, tidak apa. Ini adalah pekerjaan saya." Reva masih mempertahankan posisi tangannya di sana.
"Biarkan saya membantumu, ini lumayan berat untuk seukuran wanita. Jadi Mau di bawa ke mana?" tanya pria itu lagi.
"Apanya?" Reva malah menampilkan raut bingung mendekati polos membuat pria itu lagi-lagi terkekeh.
"Hubungan kita."
Reva melongo. Apa katanya tadi?
Dan respon yang Reva berikan kali ini berhasil menimbulkan tawa kecil dari bibir laki-laki itu.
"Saya bercanda. Ini ...." Pria itu mengangkat sedikit kotak di tangannya "Mau di bawa ke mana?" tanyanya lagi.
Mulut Reva membulat, menggumamkan 'Oo' kecil lalu tersenyum, sedikit malu juga sebenarnya.
"Ke ruang penyimpanan. Ayo," ucap Reva membawa pria itu berjalan menuju ruang penyimpanan.
"Ah, ya. Nama saya Reva," ucap Reva memperkenalkan diri, menoleh pada pria itu.
Pria itu ikut menoleh, terdiam cukup lama sampai dia ikut menyunggingkan senyum.
"Saya Zack," jawabnya.
*****
Drrtt! Drrtt!
Ponselnya yang berada di dalam saku bergetar. Ada panggilan. Berhenti berjalan, tangannya tergerak untuk mengambil ponsel tersebut dan tampaklah nama Baza di layar sana.
Ervan mengernyit, sedikit menampakkan ekspresi jijik. Sebenarnya setiap kali Baza menelfonnya ataupun mengiriminya pesan, Ervan selalu mendadak jijik. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena nama Baza di sana.
Baza ganz, di tambah emoji love di belakangnya. Sudah di tebak kalau itu jelas bukan Ervan yang membuatnya. Tapi dia juga tidak tau, kenapa dia tidak menggantinya.
Ah, ingatkan dia agar nanti mengganti nama itu.
Menggeser ikon berwarna hijau di sana, lalu menempelkan pada telinganya.
"Apa?" tanyanya langsung.
"Zack sedang bersama Reva sekarang," jawab Baza tak kalah cepat dengan nada tak kalah serius.
Wajah Ervan berubah suram. Giginya bergemelutuk menahan emosi. Dan tanpa kata lagi, Ervan mematikan sambungan itu dan menyimpan kembali ponselnya.
"Berani sekali kau Zack!" geramnya marah.
Langkah besar Ervan kini menggema di lobby rumah sakit. Dokter tampan itu memacu kecepatan larinya untuk sampai pada mobilnya.
Tak di hiraukannya lagi teriakan-teriakan dari orang-orang yang memanggilnya. Bahkan di abaikannya siapa saja yang terjatuh karena terdorong olehnya. Dalam benaknya kini hanya tertanam nama Reva, dan bagaimana cara sampai di sana dengan cepat lalu membawa Reva pergi dari sana.
"Ke mana kalian semua! Kenapa tidak ada yang tau kalau Zack di sana!" teriak Ervan marah pada anak buahnya.
Kecepatan penuh, Ervan kini bagai seorang pembalap profesional yang berpacu dengan pembalap lainnya agar mencapai garis finish.
"Maaf---"
"Bûllshît! Jangan katakan apapun saat ini! Amankan Reva sekarang sampai saya berada di sana. Sampai terjadi apa-apa pada Leora, kupenggal kepala kalian semua!"
Ervan mencabut dengan kasar earpiece yang terpasang di telinganya dan melemparnya dengan kasar pada kursi sebelah kemudi.
"Sialan!" teriaknya memukul setir mobil dengan kuat.
Zack benar-benar tidak bisa di beritahu secara baik-baik. Tidak masalah baginya jika pemuda itu mengganggu ketenangannya, atau ingin membalas dendam padanya, tapi jangan pada gadisnya.
Ucapannya saat di Café waktu itu tidak main-main. Dia memang sangat sensitif jika menyangkut gadisnya.
"Sampai kau berbuat macam-macam, habis kau Zack!" tekan Ervan menggeram marah, menambah kecepatan kendaraannya.
*****
"Hah ...." Helaan nafas lelah Reva keluarkan.
Kalau saja ini tidak sedang mendesak, dan tidak berpengaruh pada perusahaan, maka dia tidak akan mau melakukan ini. Dokumen tahun lalu, yang dia pikir di simpan di tempat yang memang sudah semestinya, ternyata di satukan dengan tumpukan kotak yang sudah tidak berguna. Yang di tugaskan untuk menyusun dokumen-dokumen di sini salah meletakkannya.
Apakah dia harus protes pada Devin soal kelalaian ini? Ini benar-benar menguras tenaganya.
"Untung ada kau yang membantu, kalau tidak, saya tidak tau lagi lelahnya seperti apa," ucap Reva duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
Zack tersenyum mendengarnya.
"Saya senang bisa membantu," jawabnya singkat.
"Kau haus? Ayo, saya yang traktir di kantin. Ini juga sudah masuk jam makan siang," ucap Reva memberi tawaran sembari melirik jam mahal pemberian Ervan di pergelangan tangannya.
Zack ikut melirik jam di pergelangan tangan dan terlihat berpikir sebentar membuat Reva kembali membuka suara.
"Apa kau sedang sibuk? Kalau begitu kenapa kau malah membantu saya tadi? Ah, saya merasa tidak enak," ucap Reva dengan nada bersalah.
Mendengar itu Zack langsung menggeleng. Menyangkal apa yang gadis itu katakan agar tidak lagi merasa bersalah.
"Bukan itu. Saya tidak sibuk. Saya hanya sedikit terkejut kalau ternyata sudah jam makan siang," jawabnya dan Reva kembali menyerukan 'Oo' kecil tanpa suara.
"Kalau begitu, kau punya waktu 'kan? Ini sebagai ucapan terimakasih saya karena sudah membantu," ucap Reva.
Zack tersenyum lalu mengangguk membuat Reva ikut tersenyum dan segera berdiri.
"Tidak masalah. Biar saya saja, ini tidak berat untuk ukuran wanita," ucap Reva cepat saat Zack ingin mengambil beberapa map di atas meja itu.
Zack terkekeh dan mengangguk, mempersilahkan Reva untuk membawanya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin. Sambil sedekali bercerita di hiasi kekehan atau tawa kecil.
Hal itu tak lepas dari pandangan berbagai pasang mata yang ada di sana. Menatap mereka dengan berbagai macam tatapan yang berbeda. Dan membicarakan mereka dengan berbagai pendapat mereka masing-masing.
Reva yang sudah kebal akan hal itu hanya bersikap seperti biasa, meski dia sangat risih dengan itu. Lagipula, tampaknya pria di sampingnya ini juga tidak terlalu ambil peduli.
"Ah ya, saya ingin bertanya," ucap Reva sambil menunggu pesanan mereka.
Zack hanya menoleh sambil memberi tatapan bertanya.
"Waktu itu kau dan Ervan bertengkar, kenapa? Maaf kalau saya terlalu ikut campur. Tapi Ervan terlihat marah waktu itu, apa kalian musuhan?" tanyanya.
Pemuda di depannya tidak langsung menjawab. Dia malah menatap Reva cukup lama membuat Reva sedikit risih.
"Reva!"
Baru saja Zack akan membuka mulut mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Reva. Teriakan seseorang di ujung kantin lebih dulu menarik perhatian ke duanya juga orang-orang yang ada di dalam sana.
*****