Suka Dokter

1007 Kata
"Selamat pagi, Dokter." Ervan yang baru saja menginjakkan kaki di lobby rumah sakit, di buat menghela nafas panjang oleh sapaan itu. Karena orang yang menyapanya, lebih tepatnya. "Ada apa?" tanya Ervan mencoba untuk bersabar dan bersikap ramah. "Saya bawa bekal untuk, Dokter." Ellen mengulurkan sebuah kotak bekal padanya. Dalam hati, Ervan bertanya-tanya, apakah gadis ini penjual kotak bekal? Perasaan setiap hari dia mengantarkan kotak bekal yang berbeda padanya. Yaa, meski baru beberapa hari ini. Ervan tidak langsung menerimanya. Dia menatap malas gadis di depannya ini. "Kali ini apa? Amanah dari ibumu lagi?" tanya Ervan mempertahankan raut datarnya. Ellen terdiam, sedikit tergagap kalau Ervan lihat. Mungkin sedang mencari alasan. "I--ni ... inisiatif saya sendiri. Dokter terima ya?" pintanya masih tetap mengulurkan kotak bekal itu. Tangannya seperti tahan saja lama-lama terulur seperti itu. Meski yang di beri masih tidak mengambil alih, malah tatapan itu semakin datar saja terlihat. "Saya sudah ada bekal." Senyum lebar Ellen luntur. Itu penolakan secara halus. Tapi mengingat dirinya yang pantang menyerah sebelum ada kata sah dia tetap teguh pendirian. Kotak bekal yang tadinya perlahan ingin dia turunkan kini dia ulur kembali. "Tidak masalah, Dokter. Ambil saja. Di sini bekal untuk sarapan pagi, jadi Dokter bisa makan---" ucapnya lagi. "Saya sudah sarapan." Penolakan ke dua. Kali ini lebih tegas dari sebelumnya. "Tidak ma---" "Ervan!" Kata-katanya menggantung di udara begitu saja saat mendengar teriakan seorang gadis tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ke duanya menoleh, dan gadis itu lantas berjalan mendekat setelah melihat si objek mengalihkan atensi sepenuhnya padanya. "Bekal kamu ketinggalan," ucap Reva mengangkat tas kecil di tangannya ke hadapan Ervan. Senyum Ellen hilang. Tangannya yang tadi dia ulur langsung dia turunkan. Berbagai spekulasi dalam dirinya berterbangan saat melihat gadis ini. Apa dia kakak si dokter? Atau adik? Teman? Sahabat? Atau pacar? Atau malah istri? Ah tidak tidak! Opsi yang terakhir itu tidak boleh terjadi. Tapi melihat si dokter tampan melempar senyum tipis pada gadis di depannya itu, membuat sedikit retak di hatinya. "Saya lupa," ucap Ervan meraih tas itu, mengambil alih dari tangan Reva. Reva mendengus pelan. Dia tidak tau alasan jelasnya apa, yang pasti dia hanya sedikit risih saat Ervan menyebut saya, meski Reva tau, Ervan memang begitu jika di depan orang baru. "Loh ..." Nada Ervan terdengar kaget sambil jari telunjuknya menunjuk Reva. "Kamu 'kan saya antar tadi ke kantor. Ke sini siapa yang antar? Kamu sendiri?" tanya Ervan memicing menatap Reva. Yang di tatap malah cengengesan menggaruk pipinya dengan telunjuk. "Ngambil ini." Reva mengangkat pergelangan tangannya, memperlihatkan jam tangan pemberian Ervan waktu itu. "Ketinggalan di meja makan, trus tadi liat bekal kamu, jadi ya sekalian aja aku anterin," lanjutnya masih memamerkan senyum lebarnya. Ervan tertegun mendengar jawaban itu. Dan tanpa dirinya sendiri duga, garis lurus di bibirnya perlahan membentuk lengkungan ke atas, meski hanya sedikit dan tipis, tapi masih bisa di lihat. Dirinya yang dulu pernah mengatakan 'Jangan pernah di tinggalin jamnya. Pake terus' itu di realisasikan oleh Reva. Dia pikir gadis ini hanya mengiyakan saja agar dirinya senang. "Serumah?" batin Ellen bertanya. Bahunya menurun lesu. Berarti opsi terakhir benar? Jadi, dia tidak punya harapan lagi? Hah ... baru saja mau berjuang mendapatkan dokter tampan, tapi kenyataan sudah lebih dulu menghempasnya jauh-jauh. Dia ini anti menjadi pelakor, andai saja mereka masih pacaran, Ellen pasti masih memperjuangkannya. "Terus, kamu ke sini sama siapa? Pakai apa?" tanya Ervan lagi. "Tadi sama, Bang Gunta. Dia nunggu di depan," jawab Reva menunjuk ke arah tempat parkir. Ervan kenal dengan Gunta. Ingat sekali saat laki-lali itu mengaku sebagai kakak Reva. Ervan juga tidak melihat adanya tanda-tanda kalau Gunta menyukai Reva, jadi Ervan tidak masalah. Perhatian Reva akhirnya teralihkan pada gadis yang berada sedikit di belakangnya. Sedang memandang kosong ke arah lantai dengan kotak bekal di tangannya. Reva baru sadar kalau gadis ini yang tadi sedang bicara dengan Ervan. "Dia, siapa?" tanya nya pada Ervan, menunjuk Ellen. Ervan menoleh dan mengedikkan bahu acuh. Dia memang tidak mengenal gadis ini, meski dia sudah memperkenalkan diri, tapi Ervan lupa namanya siapa. Berjalan mendekat dan menyentuh bahu Ellen. Reva bisa melihat kalau dia melamun, apalagi saat Reva menyentuh bahunya, Ellen tersentak kaget. "Iya?" tanyanya menatap Reva. Yang lebih tua mengulas senyum membuat Ellen sempat terpana dengan senyumnya itu. Cantik, pantas saja di dokter tampan memilih gadis di depannya ini sebagai pasangan hidup. "Kamu kok di sini? Nggak sekolah? Udah telat loh ini," ucap Reva membuat Ellen melotot. Segera saja dia ambil ponselnya dan terpampanglah di sana jam yang menunjukkan pukul 8.55. Bukan telat namanya, ini sudah sangat telat. "Dia setiap hari ngasih saya bekal walaupun dia tau saya nggak akan terima," ucap Ervan tiba-tiba membuat Ellen semakin melotot. Dokter tampan itu sudah seperti sedang mengadukan seorang pelakor pada istrinya. Ellen langsung menoleh pada Reva yang terdiam. Serine tanda bahaya langsung berbunyi nyaring di kepalanya. Jadi sebelum Reva yang berkoar memakinya, Ellen langsung berinisiatif menjelaskan. "Bu--bukan, bukan seperti itu. Saya memberikan bekal hanya sebagai tanda terimakasih karena Dokter sudah mengobati ayah saya. Itu saja. Saya janji tidak akan memberi bekal lagi," ucapnya menatap takut-takut pada Reva, dengan jari telunjuk dan jari tengahnya terangkat ke atas. Reva yang di tatap seperti itu mengerjap beberapa kali. Sedikit bingung ke mana arah pembicaraan gadis ini. "Iya lebih baik begitu. Istri saya orangnya pencemburu," ucap Ervan tiba-tiba sudah berada di samping Reva dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Dokter ini memang berniat membuat hati Ellen semakin pecah ternyata. Baru saja Reva akan membuka suara, Ervan malah semakin mengeratkan tangannya di pinggang. Seakan sedang memberi kode untuk diam. "Ka--kalau begitu saya permisi. Maaf sebelumnya," ucapnya menundukkan kepalanya pelan lalu langsung pergi dari sana. Plak! Tangan itu langsung terkena tamparan Reva saat gadis itu sudah tak terlihat lagi. Dan setidaknya itu mampu membuat rangkulannya terlepas. "Kamu jahat banget. Itu anak orang pasti sedih," ucap Reva bertolak pinggang, menatap garang pada Ervan. "Ya trus?" Bola mata Reva merotasi, kesal dengan jawaban Ervan. "Kamu nggak liat kalau dia itu suka sama kamu?" tanya Reva membuat Ervan menaikkan sebelah alisnya. "Ya trus? Kalau saya sukanya sama kamu, mau gimana?" Reva tak lagi menjawab, terdiam mendengarnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN