Bersaing Sehat

1633 Kata
Memarkirkan kendaraannya di depan perusahaan besar itu, Ervan segera membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana. Ekspresi datarnya terpasang, meski begitu langkahnya terlihat tidak sabar untuk segera sampai ke tujuan. Drrtt! Drrtt! Tangan kanannya menggantung di udara saat ingin memencet tombol lift. Tangannya tergerak untuk mengambil ponsel di sakunya, dan nama papanya terpampang di sana. Decakan malas terdengar dari mulut Ervan. Kalau papanya yang menelfon, pasti menyangkut perusahaan lagi. Setiap papanya yang bicara tidak akan pernah jauh-jauh dari perusahaan. Dan Ervan paling malas mendengar ataupun membahasnya. Namun mengingat urusannya lancar akhir-akhir ini karena bantuan papanya, jadilah ikon hijau itu di geser olehnya. "Halo," ucapnya datar. "Halo, Ervan. Bisa kau ke kantor sekarang? Papa perlu bantuan kamu," ucap papa di seberang sana. Bola matanya di rotasikan. Benar 'kan? Pembicaraan papanya tidak pernah jauh dari perusahaan. Selalu perusahaan. Apa tidak pernah terpikir oleh papanya untuk menanyakan tentang dirinya? "Saya sibuk, Pa," ucap Ervan memijat pangkal hidungnya. "Sebentar aja. Papa hanya ingin kamu ke sini sebentar." Nada yang papanya keluarkan terdengar sedikit memohon. Melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian menghembuskan nafas panjang. "Sekarang saya tidak bisa. Kalau mau, saya akan ke sana 1 jam lagi." Ervan membuat penawaran. Cukup lama papanya terdiam hingga terdengar__meski samar__helaan nafas dari sana. Mungkin terpaksa. "Baiklah, Papa tunggu kamu," jawab papanya yang di balas dehaman kecil oleh Ervan sebelum pemuda itu memutuskan sambungannya secara sepihak. Ervan berbalik badan, dan di buat sedikit terkejut saat mendapati Devin yang berdiri di samping lift, bersandar pada dinding. Menegapkan badannya, Devin berjalan mendekat ke arah Ervan sembari satu tangannya di simpan di saku celana. Sedangkan Ervan hanya diam di tempat, menanti apa yang direktur satu ini akan katakan padanya. "Bukankah lebih baik kau urus perusahaanmu itu, Tuan Ervan?" Sinis sekali. Hampir semua katanya di tekankan olehnya. Masih menampilkan wajah datarnya, Ervan ikut menyimpan satu tangannya di saku celana, menatap tepat pada iris coklat si direktur. "Bukankah lebih baik kau urus urusanmu sendiri, Pak Devin?" balas Ervan membalikkan kata-kata Devin. Smirk di pasang setelah mengucapkan kalimat itu. Merasa menang melihat keterdiaman Devin. Dia selalu senang saat melihat lawan bicaranya terdiam karenanya. Puas sekali rasanya. Tak ingin membuang waktu lagi, Ervan kemudian menekan tombol lift. Berlama-lama adu argumen dengan Devin tidak akan ada habisnya. "Urusan saya adalah Reva." Perhatian Ervan kembali teralih pada si lawan bicara. Masih mempertahankan raut datarnya, meski tanda tanya tak lepas dari tatapan itu. "Saya tidak bodoh untuk tau gelagat pria pada wanita yang di sukainya." Devin melanjutkan seakan menjawab tanda tanya di mata Ervan. "Saya pikir kau juga tidak bodoh untuk tau bagaimana perasaan saya pada Reva," ucapnya lagi. Di depannya, Ervan mengangguk pelan. Kepalanya di bawa menatap sepatu pantofel miliknya yang mengkilat, lalu kembali menegakkan kepala lengkap dengan senyum tipisnya. "So?" Devin membawa tubuhnya untuk menatap sepenuhnya pada Ervan. Tangan kanannya terulur memberi uluran untuk di jabat. "Bersaing secara sehat dengan saya," ucapnya masih setia menjulurkan tangan. Ada dua sampai tiga menit Ervan tak bereaksi, hingga akhirnya pemuda itu terkekeh pelan, pas sekali dengan bunyi 'ting' kecil yang berasal dari lift. "Saya terima," ucapnya mengangguk sekali lalu berjalan menuju lift, total mengabaikan uluran tangan Devin yang masih terulur, menggantung bebas di udara. "Meski saya tau kau sudah kalah," lanjutnya pelan yang masih bisa di dengar dengan jelas oleh Devin. Pintu lift tertutup membawa Ervan yang ada di dalam sana menuju lantai 13. Sedangkan Devin yang tadinya sempat tersenyum tipis kini makin tersenyum hingga berubah perlahan menjadi kekehan. Di tariknya lagi tangannya yang terulur, di tarik turun ke bawah seiring dengan kepalan itu semakin terbentuk hingga buku-bukunya tangannya memutih. "Saya percaya dengan jagoan yang menang di akhir," gumamnya pelan menatap tajam pintu lift di depannya. ***** "Aku mau pergi habis ini," ucap Ervan setelah menghentikan laju kendaraannya tepat di depan rumahnya. Reva yang baru saja ingin turun setelah melepas sealtbelt, menoleh dengan kerutan di kening. Bingung. Dokter muda ini tidak pernah pergi ke mana-mana lagi setelah pulang. Oke, mungkin itu bukan urusan Reva, tapi berhubung Ervan sendiri yang mengatakannya padanya, jadi mau tidak mau Reva di bawa rasa penasaran. Ingin segera meluncurkan pertanyaan. "Ke mana?" tanyanya. "Ke tempat, Papa," jawabnya tidak sepenuhnya benar. Kening Reva semakin berkerut. Masih belum bisa menerima alasan yang Ervan ucapkan. Sampai pada Ervan terkekeh dan menyentil pelan keningnya yang mengerut, Reva baru tersadar lantas langsung mengusap kening mulusnya. "Sakit tau ...." Bibirnya di pout beberapa centi, rengekan itu tanpa sadar dia keluarkan. Meski pelan, tapi telinga Ervan masih cukup jelas menangkap apa yang Reva ucapkan dan bagaimana suara Reva yang terdengar seperti anak kecil. Gemas! "Jangan pasang ekspresi gitu," ucap Ervan ikut mengusap kening Reva. "Ha?" "Aku jadi nggak tahan pengen halalin." Reva bungkam, plus matanya yang melotot. Jangan lupakan keadaan jantungnya yang sudah seperti orang selesai lomba lari cepat. Sedang malu-malunya, si pelaku malah tertawa. Membuat alis Reva menukik tajam dan tangannya refleks langsung memukul lengan Ervan. Kesal! "Ya udah sana pergi!" teriaknya tidak santai, sedikit pakai urat. Masih dengan rasa kesal__yang sebenarnya hanya untuk menutupi rasa malu__Reva langsung membuka pintu mobil dan pergi dari sana. Tak lupa dengan bantingan kuat saat menutupnya. Bukannya marah atau protes, Ervan malah tertawa melihatnya. Timbul pertanyaan di kepalanya, kenapa semua ekspresi Reva itu bisa membuatnya tertawa? Apakah Reva adalah reinkarnasi dari badut? Ah tidak mungkin, Reva itu cantik. Sebenarnya masih ada pertanyaan lain yang ingin Ervan tau jawabannya, yang ini di tambah dengan embel-embel sangat. "Ya Tuhan ... jantung kenapa?" tanyanya sambil memegang dadanya, tepat pada jantungnya. ***** "Are you kidding me?!" Itu Ervan. Nadanya biasa saja tapi tegas, dengan alis menukik tajam menatap papanya. Ervan kesal, menyerempet marah. Ah, tidak, Ervan sebenarnya sudah marah, sudah emosi, sangat malah. Bagaimana tidak, Ervan pikir dia di suruh ke kantor untuk mengurus pekerjaan. Untuk mendatangi meeting, nertemu client atau apalah itu hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan di kantor. Tapi dia datang hanya untuk di beritahu kalau dia akan di jodohkan, yang benar saja! Ervan jelas menolak, mau dikemanakan Reva nantinya? "Big no, Pa! Sampai kapanpun saya gak mau di jodohkan! Papa pikir ini zaman apa masih pakai perjodohan!" Dia marah, juga tidak percaya pada pemikiran papanya yang dia pikir sedikit lebih modern dari orangtua lainnya, tapi ternyata lebih kolot. Bagaimana bisa terlintas kata-kata keramat itu di pikiran papanya? "Hey, tenang, Boy---" "Saya gak bisa tenang! Papa nyuruh saya ke sini cuma mau bilang ini? Buang waktu saya, Pa! Saya gak akan pernah setuju!" Semua kata di beri penekanan seakan mempertegas dan memperjelas ketidaksetujuannya. Papa Haris menghembuskan nafas panjang. Setelah mengatakan kata perjodohan itu, dia sama sekali tidak di beri kesempatan oleh Ervan untuk berbicara. Bagaimana caranya dia menjelaskan kalau Ervan saja tidak mau diam. "Sudah? Kamu udah bisa diam? Dengarkan Papa dulu, baru kamu nyela," ucapnya membuat Ervan akhirnya duduk dengan kasar di kursi depan meja kerja papanya. "Papa cuma nanya, kamu mau di jodohkan? Kalau mau, Papa mau calonin anak teman Papa sama kamu---" "Nggak, Pa! Nggak!" sentak Ervan cepat membuat si papa sedikit terkejut. "Iya, Papa tau, iya. Papa cuma nanya, Son. Kalau kamu nolak, Papa nggak akan maksa. Itu 'kan tadi kalau kamu mau, kalau nggak ya sudah, selesai, 'kan?" Papa Haris berucap tenang dan santai seolah mengatakan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lama sekali Ervan menatap tepat pada mata papanya hingga akhirnya dia hempas punggungnya pada sandaran kursi sembari mengeluarkan nafas panjang, lega. "Reaksi kamu berlebihan. Kenapa? Sudah ada calon?" tanya papanya membuat Ervan langsung mendelik. Sebenarnya Papa Haris senang karena bisa seperti ini bersama anaknya. Rasanya hubungan mereka sebagai ayah dan anak semakin terasa. Pembicaraan yang dia pikir santai berakhir tegang karena Ervan berbicara dengan emosi. Tapi Papa Haris tidak ambil masalah, setidaknya dia bisa tau bagaimana perasaan putra satu-satunya ini. "Papa suruh saya ke sini benar-benar hanya untuk ini?" Ervan balik bertanya. Pertanyaannya yang satu itu belum tuntas sedari tadi. Jika benar papanya ini hanya ingin mengatakan ini padanya, itu keterlaluan. Sangat membuat waktunya yang berharga. Papa Haris menggeleng pelan. Dalam gelengnya dia sebenarnya berpikir, alasan apa yang tepat untuk dia berikan pada Ervan agar putranya ini tidak kesal padanya dan dia bisa mendapat waktu lebih banyak bersamanya. "Papa mau kamu persiapkan diri untuk pengumuman pengangkatan kamu jadi CEO." Oke itu alasan yang cukup masuk akal. Karena sebenarnya ini juga memang ingin di bahas olehnya. Lagi, Ervan menatap lama papanya itu sebelum akhirnya decakan kecil keluar dari mulutnya. "Papa hanya mau istirahat. Siapa lagi penerusnya kalau bukan kamu?" ucap Papa Haris lagi dengan nada yang lebih melas kali ini. Sebenarnya, dalam hati Ervan yang paling dalam, Ervan mau-mau saja menggantikan papanya. Dia juga mau melihat papanya yang sudah berumur ini istirahat dari sibuknya pekerjaan kantor. Dia juga menginginkan papanya menikmati hari-harinya tanpa ada beban dari pekerjaan lagi. Tapi kembali lagi pada permasalahan awal. Rasa kecewa pada papanya masih ada, masih besar, masih menutup rasa sayangnya. Jadi apa yang menjadi keinginan hatinya masih dia sembunyikan rapat-rapat di dalam sana. Dia yang beberapa hari ini mengambil pekerjaan kantor, itu karena gadisnya. Bukan karena permintaan papanya. "Pasien saya masih banyak, Pa." Pada akhirnya dia hanya bisa menunda. Tidak menerima dan tidak juga langsung menolak. Papa Haris kembali menghembuskan nafas lelah. Dia tidak bisa memaksa anaknya ini, Ervan akan semakin jauh padanya nanti. Dan dia memilih untuk tersenyum hangat, khas seorang ayah. "Oke, Papa gak akan maksa kamu. Papa akan tunggu sampai kamu siap sama tanggung jawab ini. Karena Papa, sudah benar-benar ingin istirahat, dan lihat kamu lanjutin perusahaan ini," ucap papanya menatap dalam anaknya. "Kalau sudah, saya pergi, Pa." Tak mendengar lagi jawaban dari papanya, Ervan langsung berdiri dan pergi dari ruangan papanya. Papa Haris menatap sendu pintu ruangan yang baru saja di lalui Ervan. Mendengar kata saya yang keluar dari mulut Ervan membuat hatinya berdenyut sakit. Kata itu semakin ke sini semakin membuat hubungan ke duanya terlihat jauh. "Kapan kamu mau nerima Papa lagi?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN