Masih berlari dengan kecepatan penuh, malah mungkin kecepatannya bertambah sekarang. Rasanya kejadian saat pasiennya kabur waktu itu terulang kembali. Ervan bagaikan lupa keberadaan dan fungsi lift yang ada di perusahaan besar itu. Apalagi lantai yang dia tuju sekarang adalah lantai 13. Tapi apa daya, rasa khawatirnya akan Reva lebih besar dari pada rasa kram di kakinya.
Nafasnya terengah, di depan lift yang membawa Reva naik, masih belum terbuka, begitupun lift yang tadi di naiki oleh orang asing itu. Kalau saja Ervan sedang lomba, maka dia akan keluar sebagai pemenang.
Menumpukan tangan pada dinding samping lift sambil terus mengatur nafasnya. Menunggu satu-satunya gadis yang ada di dalam lift itu keluar.
Ting!
Bunyi denting dari lift membuat Ervan segera menoleh. Dan mendapati wajah terkejut bercampur bingung milik Reva yang juga menatapnya.
"Ervan, kau ...." Reva tidak bisa melanjutkan kata-katanya, jarinya menunjuk Ervan dan lift bergantian.
"Bagaimana bisa kau---"
Ucapan Reva lantas terhenti. Dirinya membatu, dan otaknya masih sibuk memproses apa yang baru saja dan sedang terjadi padanya.
Terlalu erat dan tiba-tiba. Pelukan Ervan seakan bisa meremukkan tulang badannya. Meski begitu, Reva tidak berniat melepaskannya. Dalam keadaan yang tiba-tiba itu, entah kenapa Reva merasa ada perasaan lega di dalam diri Ervan saat memeluknya.
Mengabaikan tatapan karyawan yang melihat mereka berdua, juga mengabaikan seorang berpakaian serba hitam yang melirik sebentar ke arah mereka lalu beranjak pergi sana, kedua tangan Reva perlahan namun pasti, tergerak untuk merengkuh balik tubuh yang memeluknya.
Tak ada kata yang terucap dari ke duanya. Seakan sama-sama meresapi bagaimana pelukan itu terasa, bagaimana perasaan lega itu menderu dalam, bagaimana kini mereka berdua sama-sama nyaman dengan posisi seperti itu.
"Aku ... baik-baik saja."
Tiba-tiba, tidak pernah Reva memikirkan itu, karena memang kata itu tiba-tiba saja meluncur begitu bebas dari mulutnya. Meski terdengar ragu saat mengucapkannya, tapi hatinya memaksa. Karena pada akhirnya, kata itu cukup mampu membuat pemuda tampan yang kini memeluknya mengangguk pelan. Seakan mengiyakan.
"Iya, kau baik-baik saja ...." Ervan mengulang kata yang sama.
Setelahnya tak ada lagi yang terucap. Hanya Ervan yang memejamkan mata dengan pelukan yang semakin erat, dan hanya Reva yang masih bingung dengan situasi tapi tetap menepuk pelan punggung tegap yang kini sedang di landa rasa khawatir itu.
Dan, hanya Devin yang berdiri diam di ujung tangga, menatap ke dua insan itu saling merengkuh satu sama lain.
"Orang bilang, jangan memaksakan," gumamnya pelan.
Senyum tipis tersungging di bibir manisnya. Ke dua tangannya di pilih untuk di simpan di saku celana bahan berwarna hitam itu, kemudian tubuhnya di putar, berjalan ke arah berlawanan.
"Tapi aku tidak ingin kalah pada pengalaman pertamaku."
Terdengar dingin, pelan dan datar. Terkesan possessive dan kental akan paksaan.
Iya, perlahan, tekadnya terusun membentuk sebuah dinding kokoh untuk memaksakan sebuah perasaan.
*****
Ke luar dari bilik toilet, Reva meletakkan dua paperbag yang tadi dia bawa ikut serta ke dalam, di atas wastafel. Baju pemberian Ervan terpasang apik di tubuhnya. Karena seperti kata orang, good looking memang point utama untuk sebuah penampilan.
Jika dia memilih memakai pakaian dari Ervan, maka untuk sepatu, dia memilih menggunakan pemberian pak direktur. Biar adil, itu katanya.
Menata sebentar rambutnya, juga riasannya yang sebenarnya tidak terlalu perlu untuk di tata lagi, Reva kemudian menumpukan ke dua tangannya pada wastafel.
Hembusan nafas lelah keluar dari mulutnya, seraya matanya menatap dirinya di cermin. Ingatannya kembali melayang pada ucapan Ervan beberapa menit yang lalu.
Flashback on
"Pokoknya kamu jangan ke kantin, jangan ke luar dari ruangan kamu. Aku bakal minta Melin dan temen-temen kamu itu buat makan di ruangan sama kamu. Aku udah nyuruh orang buat antar makanan nanti. Pokoknya jangan ke luar dari ruangan kamu. Pulang nanti, aku yang bakal jemput ke atas, ya?"
Reva masih mode bingung. Dirinya menatap penuh tanya pada Ervan yang berucap panjang lebar barusan. Bisakah Reva mengatakan kalau itu adalah kalimat terpanjang yang Ervan ucapkan padanya?
"Tunggu dulu, aku nggak ngerti. Kenapa tiba-tiba---"
Ucapannya terhenti saat telunjuk panjang milik Ervan membuat bibirnya kembali mengatup. Sekali lagi Reva tatap tepat ke dalam iris kelam Ervan, hanya ada perasaan khawatir di sana yang pada akhirnya membuat Reva memilih diam.
"Kamu nurut sama aku, ya? Jangan ke luar dari ruangan kamu, dan jangan pulang sebelum aku datang. Kamu nurut, ya?"
Lembut, sangat lembut. Rasanya Reva ingin teriak 'Aku meleleh!' tapi mengingat situasi, itu tidak mungkin Reva lakukan. Lagipula dia hanya akan mempermalukan diri sendiri saat meneriakkan itu.
Menarik senyum tipis, tujuannya hanya untuk menghapus guratan halus di kening Ervan, lalu kepalanya di bawa mengangguk pelan. Dia tidak tau tujuan dan maksud Ervan apa, tapi yang dia tau, Ervan melakukannya untuk menjaganya, memastikan dirinya aman dari masalah.
Kurva di bibir Ervan ikut tertarik ke atas. Meski hanya sedikit dan tipis.
Ervan mengambil langkah maju, hanya untuk mengikis jarak yang hanya beberapa centi itu. Terlihat sekali perbedaan tinggi mereka jika dekat seperti ini
Reva mendongak, masih memperhatikan apa yang akan pria di depannya yang sedang tersenyum itu lakukan padanya. Dan di detik berikutnya dirinya kembali mematung. Kecupan lembut dan ringan itu terasa jelas di pucuk kepala. Dan bertambah jelas saat rona merah kini menjalar bebas dari pipi sampai telinganya.
Memberi jarak, dan Ervan di buat terkekeh dengan ekspresi Reva. Tangannya terulur untuk menepuk pelan puncak kepala Reva, menarik atensi si gadis.
"Jangan bantah, iya?"
"Iya."
"Nurut sama aku, iya?"
"Iya."
Ervan kembali mengulas senyum dan Reva juga ikut mengulas senyum.
Mata Ervan berpendar, melihat siapa yang bisa di mintai pertolongan di sana.
"Melin!"
Melin yang baru saja akan menghindar dari mereka, kini terpaksa memutar tubuh dan tersenyum canggung. Mau tak mau, kakinya di bawa melangkah saat Ervan menatapnya seakan menyuruhnya untuk mendekat.
"Kenapa?" tanyanya menatap ke duanya bergantian.
"Bisa temani Reva mengganti pakaian? Temani dia juga makan di ruangan nanti. Saya akan mengirim makanan untuk kalian semua. Pokoknya jangan biarkan dia ke luar dari ruangan tanpa pengawasan. Saya percayakan sama kamu," ucap Ervan panjang dengan nada serius.
Melin mengerjap beberapa kali. Matanya di alihkan pada Reva yang malah terkekeh canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu bisa, 'kan?" tanya Ervan dan Melin hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kembali menatap Reva dan kepalanya di beri usapan pelan.
"Saya pergi," pamitnya lalu berjalan masuk ke dalam lift yang ada di depannya.
Flashback off
Kembali menghembuskan nafas panjang. Reva mengambil kembali paperbag yang dia letakkan setelah memberi senyum pada cermin wastafel dan melangkah ke luar.
"Udah?" tanya Melin yang setia berdiri di sana.
Reva memberi senyum lebar. Sedikit tidak enak pada Melin karena harus menunggu lama.
"Lama ya, Kak? Sorry, ya ...."
Melin tersenyum dan menggeleng pelan. Mengambil satu paperbag di tangan kiri Reva, di gantikan oleh tangannya yang menggenggam tangan sang adik.
"Jadi, milih Pak Dokter, atau Pak Direktur nih?" Melin menggerlingkan matanya pada Reva.
"Kakak!" pekiknya.
Satu pukulan kecil mendarat di bahu si kakak, membuatnya tergelak.
Lucu sekali melihat ekspresi kesal di wajah Reva.
*****
Jarum jam pada arloji mewah di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 16.35. Ekspresi lelah jelas tercetak di wajah datarnya. Pasien tak ada habis-habisnya. Kadang Ervan berpikir, ada yang hanya sengaja supaya bisa melihatnya. Iya, se-percaya diri itu Ervan.
Tapi karena memang begitu kenyataannya, jadi tidak ada yang bisa membantahnya. Ya sudahlah, tinggalkan saja Ervan dengan tingkat percaya dirinya yang tinggi.
Tok! Tok! Tok!
Baru saja, kurang lebih 30 detik yang lalu, mata Ervan baru terpejam. Kini harus terpaksa terbuka saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.
Melirik kembali arloji di tangannya. Dia yakin, jadwalnya tidak ada lagi. Lalu siapa yang datang mengganggunya sekarang?
"Masuk."
Nada tegas masih terdengar dari suaranya, meski tak memungkiri terdapat nada lirih mengarah pada lelah di dalamnya.
Pintu terbuka, dengan kepala Riska yang lebih dulu menyumbul di sebalik pintu. Gadis itu tersenyum lebar saat Ervan memberi tatapan penuh tanya padanya.
Melangkah pasti ke dalam, kini Ervan dapat melihat sebuah kotak makanan di tangannya.
"Ada apa, Riska?" tanya Ervan membuka suara.
"Anu, Dokter. Tadi pagi, ada seseorang yang memberi ini untukmu. Riska lupa memberikannya, jadi ...." Riska menggantung ucapannya seraya meletakkan kotak bekal tersebut di atas meja kerja Ervan.
"Ini, Riska berikan. Maaf terlambat, Dokter. Riska benar-benar lupa," ucapnya lagi menunduk pelan.
Kening Ervan mengernyit pelan. Mengambil kotak itu dan memutar-mutarnya untuk memastikan. Mungkin saja ini Reva yang mengirimnya, pikirnya. Tapi itu tidak mungkin, bekal yang Reva buatkan untuknya sudah habis olehnya. Dia juga tidak mengenal kotak makanan ini.
"Siapa yang memberikannya?" tanya Ervan mengangkat kotak bekal itu.
Riska ikut mengangkat kepalanya, wajahnya membuat ekspresi berpikir, lengkap dengan tatapannya yang melihat ke atas.
"Anak SMA, iya. Tadi gadis itu memakai seragam SMA. Tadi dia sempat menyebutkan nama, tapi Riska lupa siapa namanya," cicitnya kemudian terkekeh pelan.
Dokter yang duduk di depannya mendengus pelan. Memilih Riska sebagai orang yang di titipkan sesuatu, adalah pilihan yang salah. Gadis ini terlalu 'lurus' dan point plusnya, pelupa.
"Saya sudah makan. Kalau kamu mau, ambil saja," ucap Ervan kembali meletakkan kotak bekal itu di atas meja.
Riska menyambutnya dengan antusias. Iya, antusias dan semangat. Sebab dia sudah melihat isi di dalam kotak itu, dan entah karena jodoh dengan makanan itu, di dalamnya berisi makanan kesukaannya. Maka dengan semangat pula, Riska mengambil kotak bekal itu dan memeluknya dengan mata berbinar.
"Ini benar-benar untuk Riska?" tanyanya memastikan. Tak lupa nada antusiasnya.
Ervan hanya menggumam pelan dan mengangguk. Setidaknya dia tidak lagi terkejut dengan sifat Riska.
"Yeay! Terimakasih, Dokter. Riska bawa ya, bekalnya!" pekiknya senang.
Riska berbalik dan pergi dari ruangan Ervan sambil sesekali bersenandung dan menari. Persis seperti anak SD yang di belikan arum manis.
Ah, berbicara tentang arum manis, Ervan jadi teringat pada Reva. Ingat saat dirinya dan Reva pergi ke pasar malam waktu itu.
Aih! Ervan jadi rindu gadisnya.
Maka tanpa banyak berpikir lagi, Ervan melepas jas putih yang melekat di tubuhnya, mengambil kunci mobil lalu keluar dari ruangannya. Ingin menjemput Reva.
"Kenapa dia senyum-senyum sendiri begitu?" gumam Nanda bertanya pada dirinya sendiri.
Memilih abai, Nanda kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan pasien untuk di periksa.
*****