Berbekal pertahanannya pada rasa malu cukup kuat, kini dia tahan-tahan saja saat menjadi pusat perhatian satu kantor. Toh dia sudah sering menjadi pusat perhatian.
Tapi pusat perhatian yang seperti ini sedikit mengusiknya. Dirinya terganggu dengan rasa malu yang mendominasi.
Seakan déjà vu, kejadian beberapa tempo lalu kembali terjadi. Di man kedua dewa kini berdiri di tengah kantor dengan Reva yang menjadi tersangka utama. Berdiri di tengah-tengah mereka berdua yang sedang melempar tatapan perang satu sama lain.
Ini terjadi ya karena dirinya sendiri. Iya, dia mengakuinya kali ini.
Akibat berlari memasuki kantor, dia jadi terjatuh yang mengakibatkan hak setinggi 5 centi di sebelah sepatunya patah. Untungnya kakinya tidak terkilir.
Ervan yang masih memperhatikannya__sepertinya__ dari dalam mobil langsung berlari ke luar untuk membantu, namun kalah cepat dengan seorang OB yang lebih dulu menumpahkan kopi panas di tubuhnya. Melengkapi kesialan di paginya.
Ervan yang melihat itu langsung melepas jas putih miliknya, beriringan dengan si pak direktur yang ikut melepas jas kerjanya dan sama-sama menyampirkannya pada tubuh Reva.
Seperti sebuah drama percintaan.
Tapi masalahnya bukan itu, ke dua dewa itu kini tengah memarahi si OB yang tidak hati-hati. Sampai melupakan keadaan Reva yang kepanasan karena kopi tersebut. Untung saja tadi Melin datang dan memberi handuk serta kipas untuknya.
Ingin beranjak dari sana mengganti pakaian, kedua tangan dewa itu lebih dulu menahannya dan malah lanjut memarahi OB yang masih diam menunduk di hadapannya.
Benar-benar memalukan, pikir Reva.
"Pak Devin, Ervan. Sudah. Dia tidak salah, saya yang ceroboh, jadi jangan marahi dia lagi. Kasian," ucap Reva sekali lagi berusaha membuat mereka mengerti.
"Apa perlu saya memecatmu?" tanya Devin yang langsung saja membuat OB itu menegakkan kepalanya dengan raut terkejut. Begitupun Reva yang ikut terkejut.
OB itu menggeleng ribut.
"Jangan, Pak. Saya masih membutuhkan pekerjaan ini. Kalau Bapak pecat saya, ke mana lagi saya cari pekerjaan," ucapnya memelas.
Matanya bahkan sudah berair, siap menumpahkan air matanya. Se-ingatnya saat dia membuat kesalahan yang cukup besar dari ini, dia tidak pernah mendapat ancaman akan di pecat. Tapi kenapa kesalahan kecil ini masa depannya jadi terancam?
"Jika masih sayang pada pekerjaanmu, kenapa kau tidak bisa becus bekerja? Apa kau sengaja melakukannya?" Itu Ervan yang berucap.
Nada dan kalimat tuduhan sedari tadi tak lepas ke duanya lontarkan. Berkali-kali OB itu menggeleng ribut, sesekali menatap penuh harap pada Reva. Berharap agar membantunya.
"Maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya bersungguh-sungguh, saya tidak sengaja," ucapnya kini sudah berlutut di bawah, menghadap Reva.
Reva semakin di buat melotot. Ini sudah tidak wajar. Mereka berdua benar-benar keterlaluan.
Reva sedikit merunduk untuk mengangkat OB tersebut agar kembali berdiri seperti semula. Selain merasa tidak enak hati, Reva juga tidak ingin menjadi bahan gosip lagi.
"Kalian keterlaluan. Saya sudah mengatakan kalau dia tidak salah. Saya juga tidak mempermasalahkannya," ucap Reva menatap garang ke dua dewa itu.
"Lagipula dia sudah meminta maaf. Saya sudah memaafkanya. Dan juga, yang terkena kopi panas itu saya, kenapa malah kalian yang ribut? Sampai pecat-pecat. Ayolah, ini masalah kecil," ujarnya lagi masih mempertahankan raut garangnya.
"Tapi Rev ---"
Ke duanya berucap serentak dan terhenti serentak saat Reva mengangkat tangannya mengintruksikan untuk tidak melanjutkan kata-kata lagi.
"Kalau kalian berdua masih bersikeras menghakimi dia, saya yang akan berhenti dari perusahaan ini. Saya tidak mu bekerja sama dengan orang yang tidak bisa bersikap adil," ucap Reva menatap Devin yang melotot terkejut.
"Saya juga tidak mau tinggal dengan orang yang bersikap semena-mena pada orang lain," lanjutnya beralih menatap Ervan yang ikut terkejut dengan ucapannya.
Masih dengan dua jas yang menyelimuti tubuhnya, Reva kemudian merunduk untuk melepaskan sepatunya dan membiarkan kedua kakinya bersentuhan langsung dengan lantai dingin. Di ambilnya tas miliknya yang tergeletak di lantai dan pergi dari sana sambil membawa OB tadi ikut pergi dengannya.
"Loh, Reva! Saya belum selesai bicara!" teriak Devin yang tidak di tanggapi apa-apa oleh Reva.
Ervan di sampingnya segera menatap sinis. Seketika lupa jika tadi dirinya dengan kompak bersama Devin memarahi OB tadi.
"Ini semua karenamu. Kalau saja kau tidak memarahi OB tadi lebih dulu, ini tidak akan terjadi!" tekannya menunjuk Devin.
Yang di tunjuk tentu tidak terima. Bukankah Ervan juga ikut serta tadi?
"Sadarlah dokter. Kau juga salah. Kau ikut memarahinya tadi," ucap Devin ikut melempar tatapan sinis.
Melin, Celin dan Mbak Nisa yang melihat dari kejauhan sama-sama menghela nafas lelah. Ke tiganya memilih menyusul Reva yang tadi berjalan ke ruang OB.
"Susah memang kalau sudah jatuh cinta," ucap Celin di angguki ke duanya.
"Lihat saja. Dokter dingin dan direktur datar itu bisa di buat seperti itu olehnya," ucap Melin terkekeh di ujung kalimatnya.
"Dan lebih hebatnya Reva. Hanya dia yang bisa membuat mereka berlaku konyol seperti itu," sahut Nisa membuat ke tiganya akhirnya tertawa.
*****
"Maafin mereka tadi ya. Aku jadi nggak enak," ucap Reva pada OB tadi.
OB itu tersenyum samar.
"Saya yang minta maaf pada Nona. Gara-gara saya, Nona jadi terkena masalah," ucapnya penuh sesal.
Reva menggeleng pelan.
"Nggak usah formal gitu, santai aja. An juga, jangan panggil Nona, panggil Reva aja," ucapnya lagi menampilkan senyumnya.
Melihat senyum tulus milik Reva, akhirnya OB tersebut ikut tersenyum.
"Panggil Santo. Sekali lagi, aku minta maaf," ucapnya lagi.
"Nggak perlu minta maaf. Mereka aja yang berlebihan. Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu bisa bilang sama aku. Aku bakal bantu. Aku juga jadi nggak enak kamu di gituin tadi," terang Reva membuat Santo menggeleng.
"Kamu udah belain tadi, aku udah makasih banget," ucapnya lagi membuat Reva tersenyum.
"Dek ...."
Reva menoleh ke belakang. Nisa, Melin dan Celin berdiri di sana. Reva melempar senyum.
"Kenalin, Kak. Dia Santo. Santo, mereka rekan di divisi aku, senior tepatnya," ucap Reva memperkenalkan mereka semua.
Santo memberi senyum dan memperkenalkan diri, begitupun mereka bertiga ikut memperkenalkan diri.
"Santo, jangan di ambil hati ucapan mereka tadi ya. Mereka emang kaya gitu," ucap Melin dan Santo hanya mengangguk mengerti.
"Rev, kamu ganti baju gih. Di ruangan Mbak, ada baju ganti. Pake aja," ucap Mbak Nisa dan Reva hanya mengangguk patuh.
"Santo, aku pergi dulu ya. Kapan-kapan ngobrol lagi," ucap Reva melangkah pergi dari sana.
Namun baru sampai di ambang pintu, ke dua dewa itu kembali muncul di hadapannya. Kini lengkap dengan sebuah paperbag di tangan mereka berdua.
"Baju ganti untuk kamu."
Ke duanya saling lirik, lantaran berucap kalimat yang sama dan serentak.
"Ada sepatu juga di dalamnya."
Lagi keduanya berucap serentak seperti sudah di kontrol sebelumnya.
Dan baru saja ingin protes satu sama lain, Reva sudah lebih dulu mengambil paperbag itu.
"Tidak perlu bertengkar. Saya akan pakai ini," ucap Reva kemudian berjalan menuju lift, menuju ruangannya.
Ervan dan Devin masih memperhatikan tubuh Reva yang berjalan menjauh dan kini sudah hilang saat pintu lift tertutup sempurna.
Devin dan ke tiga rekan Reva juga sudah beranjak dari sana. Namun baru saja Ervan ingin pergi, sesuatu mengganggu penglihatannya.
Dan tanpa pikir panjang lagi, kakinya di bawa berlari menuju tangga yang ada di sana. Berlari dengan kecepatan penuh menuju lantai 13, lantai ruangan Reva.
Dalam larinya dia hanya merapalkan doa untuk Reva. Jangan sampai orang berpakaian hitam itu sampai lebih dulu di sana dan mencelakakan Reva. Jangan sampai.
*****