Hampir jam pulang, bukannya langsung pulang ke rumah, Reva memaksa untuk di antar ke kantor. Ervan pikir gadis itu akan melupakan janjinya dengan Melin, ternyata tidak. Dan lagi, dia ingin meminta maaf pada Devin karena tadi tidak langsung kembali ke kantor bersama si direktur itu. Ervan ingin protes, tapi Reva mengancam tidak mau pulang kalau tidak di antar ke kantor, jadilah mobil mewahnya kini sudah terparkir rapi di depan kantor tempat Reva bekerja.
"Kamu masih ingat jam pulang, 'kan?" tanya Ervan sekali lagi, menahan gadis itu ketika ingin turun.
Merotasikan matanya malas. Terhitung 10 kali Ervan menanyakannya.
"Inget, Ervan. Jam setengah tujuh udah harus pulang 'kan? Aku inget," ucap Reva mencoba bersabar.
Ervan hanya mengangguk setelahnya. Mata Reva seolah berkata 'Biarin aku ke luar atau aku nggak mau pulang!'
"Ya udah sana turun," ucapnya lagi membuat Reva menghembuskan nafas lelah.
Untung saja di hidupnya hanya Ervan yang seperti ini. Satu Ervan saja sudah cukup, jangan lagi ada Ervan-Ervan yang lainnya. Bisa mati muda dia.
Gadis itu baru saja menutup pintu mobil. Dan Ervan terus memperhatikan tubuh gadis itu yang perlahan menjauh dan hilang dari penglihatannya.
"Ada untungnya juga Papa ngenalin aku ke publik," gumamnya pelan.
Satu hal fakta yang dia tau. Ternyata bos sebuah perusahaan besar sama pengaruhnya dengan seorang presiden, semuanya tunduk padanya.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Ervan pada orang di seberang sana.
"Aman, Bos. Sejauh ini belum ada musuh yang mendekat," jawab orang itu.
Si bos mengangguk kecil, lalu kembali menoleh pada pintu masuk yang tadi di lewati Reva.
"Awasi terus sekitarnya. Saya tidak mau menerima kabar buruk," ucapnya lalu memutus sambungan itu sepihak.
Tak ada yang Ervan ucapkan lagi, dia memilih melajukan kendaraannya menuju perusahaan papanya. Menepati janjinya pada sang papa.
•
•
•
•
Reva merutuki Ervan dalam hati. Menggerutu sepanjang jalan yang dia lalui untuk sampai ke ruangannya.
Berkat pakaian yang dia pakai, satu kantor jadi memperhatikannya. Banyak bisik-bisik yang terdengar di telinganya. Entah itu berisi pujian maupun makian, lengkap di sana. Dan ini semua berkat Ervan. Kalau saja Reva punya baju ganti lain, Reva pastikan kalau dia sudah menggantinya saat ini juga.
Bukannya tidak senang dengan pakaian sekarang yang di pakainya, dia juga nyaman dengan dress ini, lebih nyaman dari sebelumnya. Hanya saja dress ini terlalu mencolok bagi dirinya. Dan juga, sepertinya satu kantor ini penggemar fashion, tau saja mana yang melangit dan membumi. Itu yang menjadi masalahnya.
"Loh, Reva ...."
Ada raut terkejut dari rekan-rekannya di sana saat melihatnya masuk.
"Gila, Rev. Katanya pergi meeting sama Pak Devin," pria itu menggantung ucapannya dan melihat tampilan Reva dari atas hingga bawah.
"Di ajak belanja juga?" tanyanya kemudian.
Reva mencebik kesal. Inilah alasannya enggan mengganti baju dengan yang Ervan belikan tadi.
"Diem deh, Mas. Aku lagi kesel ini!" ketusnya lanjut berjalan menuju meja kerjanya.
Laki-laki itu terkekeh.
Di dalam ruangan ini hanya berisi 10 orang termasuk Reva. Dan sialnya bagi Reva, mereka semua membuat dua kubu untuk mendukung percintaan Reva.
Kubu pertama, dirinya dengan si pak direktur. Dan kubu ke dua dirinya dengan si dokter tampan yang sampai sekarang, mereka mungkin belum tau kalau dokter tampan itu juga seorang bos perusahaan. Pengecualian untuk Melin, Celin dan Gunta yang Reva rasa sudah mengetahuinya.
"Tapi aku nggak yakin sih," seorang wanita berpendapat.
Dan entah kapan tepatnya, mereka sekarang sudah berkumpul di dekat meja Reva, total mengabaikan pekerjaan hanya untuk merumpi tentang Reva.
"Tadi aja mereka pulangnya nggak barengan. Pasti Reva ketemu sama dokter ganteng 'kan? Baju ini pasti dari dia deh, yakin," lanjutnya berucap yakin.
Dan ini yang membuat Reva bingung. Di saat seperti ini insting mereka sangat kuat. Kemampuan menganalisis mereka perlu di acungkan dua jempol, tapi lihat saja saat dimintai saran atau pendapat oleh si atasan, mereka akan saling dorong-dorong memerintah untuk menjawab.
"Setuju. Di lihat dari modelnya, emang cocok sih sama selera si dokter itu. Beda sama stylenya Pak Devin." Yang lain ikut mengomentari.
"Kenapa?"
Semua mata akhirnya melirik ke arah pintu. Dan grasak grusuk terdengar setelahnya saat melihat si pak direktur yang berdiri di sana.
"Tadi saya dengar nama saya di sebut," ucap Devin lagi menatap mereka semua.
"Tidak, Pak. Mungkin Anda salah dengar." Itu Melin yang menyelamatkan.
Dan mereka dapat bernafas lega saat Devin mengangguk kecil. Mata Devin kini terpaku pada Reva. Kerut di keningnya perlahan timbul kemudian melangkah beberapa langkah.
"Saya baru sadar kamu ganti baju, Reva."
Reva meringis sendiri. Habis sudah dirinya, kenapa bosnya ini malah memperjelas semuanya.
"Tapi itu bagus. Terlihat lebih cocok untukmu," ucapnya lagi sembari tersenyum.
Pekikan tertahan dari kubu pertama. Senang tentunya melihat moment ini.
"Ah ... ya, terimakasih, Pak," ucap Reva pelan.
Si direktur mengangguk pelan lalu berlalu dari sana.
Bisik-bisik kembali terdengar di ruangan itu. Baru saja Gunta akan bersuara tapi Reva sudah lebih dulu berdiri dan menyusul Devin. Baru ingat dirinya untuk meminta maaf.
"Pasti si Reva mau ngejelasin tuh." Bisik yang lainnya terkekeh.
"Iya, Pak Devin pasti ngambek tuh," sahut yang lainnya.
"Nggak mungkinlah. Pasti si Reva mau bilang tentang hubungannya sama si dokter." Yang lainnya menyanggah.
Celin dan Gunta jengah sendiri mendengarnya. Sedangkan Melin hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Lagian si Reva, pengen banget di gosipin," gerutu Celin.
"Salahin Pak Devin sama Ervan noh. Mereka yang mepet-mepet sama Reva. Jadi deh bahan gosip," sangkal Gunta yang di angguki oleh Melin.
Celin kembali ingin menyanggah, namun Reva lebih dulu menyita perhatiannya.
"Dek, ada masalah apa lagi sama mereka berdua?" tanya Melin mewakili.
Reva menghembuskan nafas lelah. Perasaan, dirinya lebih lelah dengan masalah ke dua dewa itu daripada lelah dengan pekerjaannya.
"Panjang, Kak, ceritanya. Ntar deh, di jalan aku ceritain," ucap Reva dan Melin hanya mengangguk mengiyakan.
"Nggak usah protes Kak. Kakak 'kan juga ikut nanti," ucap Reva cepat saat melihat Celin yang ingin menyela.
Wanita itu langsung mencebik kesal dan kembali fokus pada pekerjaannya.
*****
B
aik Melin, Celin, Gunta dan Nisa, mereka berempat tersenyum senang bercampur haru melihat interaksi Ara dan Reva.
Jika biasanya Ara menyambut Melin saat datang, namun berbeda kali ini. Ara seperti memang sedang menunggu kedatangan Reva. Terbukti saat matanya berbinar senang melihat Reva dengan bucket bunga tulip di tangannya.
Sekarang di taman rumah sakit, beralaskan sebuah tikar yang tadi di beri oleh suster, keduanya sibuk merangkai bunga itu di tiga vas kecil. Katanya untuk menghias kamar Ara.
"Seneng bisa liat Ara kayak gini," ucap Nisa memulai percakapan.
Tanpa menoleh, mereka tersenyum, membenarkan ucapan Nisa barusan.
"Bahkan dokter bilang kalau dalam dua minggu Ara terus kayak gini, dia udah bisa pulang," ucap Melin senang. Terselip nada haru dan bahagia di dalamnya
"Aku seneng banget, Mbak," ungkapnya menatap Nisa.
Nisa tersenyum senang. Sebagai orang yang di anggap kakak oleh mereka semua, Nisa tentu tau bagaimana kesulitan mereka. Dan melihat bagaimana mereka tersenyum bahagia membuat kebahagiaan tersendiri di hatinya.
"Kak ...."
Melin dan mereka semua menoleh. Dan sedetik kemudian mereka terkekeh. Reva dan Ara terlihat seperti anak kembar sekarang. Apalagi dengan bunga tulip yang terselip di telinga kanan mereka.
"Fotoin, Kak," pinta Reva dan Melin segera mengeluarkan ponselnya.
Tak hanya Melin sebenarnya, mereka bertiga ikut memotret. Sesekali tertawa karena Reva yang terlihat kesulitan mengajarkan Ara berbagai macam pose.
Selesai dengan potret memotret, Reva dan Ara kembali pada kegiatan awal, merangkai bunga.
Reva tersentak kaget saat tiba-tiba Ara mengusap rambutnya pelan dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Adek cantik," pujinya kemudian tersenyum.
Reva ikut tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah ikat rambut motif polkadot, lucu sekali.
Reva kemudian membuka ikat rambutnya lalu duduk membelakangi Ara.
"Iket rambut aku, Kak. Terserah, mau Kakak apain," pinta Reva setelah memberikan ikat rambut itu pada Ara.
Awalnya Ara tampak bingung. Namun kedua tangannya tetap bekerja membentuk rambut Reva.
Sesekali Ara tersenyum lalu mencium tangannya sendiri. Rambut Reva itu harum, Ara suka baunya.
"Kak, nanti kita ke salon, Yuk. Kalau Kakak udah boleh pulang, aku bakal ajak Kakak keliling kota. Kakak mau, 'kan?" Reva menoleh sebentar dan dia dapat melihat Ara tersenyum.
"Kamu mau ajak ke mana?" tanyanya pelan.
"Keliling! Seru pokoknya, Kakak pasti suka!" serunya antusis.
Ara di belakang sana hanya tersenyum menanggapi. Ikut senang melihat adiknya senang.
"Kalau Reva nggak ada, Ara balik kambuh lagi nggak?" tanya Gunta pada Melin.
"Nggak. Tapi ya gitu, dia sering minta ketemu sama Reva," jawab Melin.
"Sebenernya bagus Ara ada perkembangan gini. Tapi kalau dia sampai ketergantungan sama Reva, itu nggak bagus menurut gue." Celin ikut memberi tanggapan.
"Aku juga mikir gitu. Tapi untuk sekarang nggak ada yang bisa di harapin selain Reva. Aku cuma berharap nanti dia nggak ketergantugan sama Reva," ucap Melin.
"Kak! Liat!" seru Reva senang.
Gadis itu memperlihatkan rambutnya yang di kepang oleh Ara. Meski tidak teralu rapi, tapi itu termasuk lumayan.
"Kak Ara bisa buka usaha salon nih," ucapnya lalu tertawa membuat mereka ikut tertawa termasuk Ara.
*****
Ucapan Ervan tentang mengganti semua pakaian kerja di lemarinya itu memang benar. Sekarang di lemari__khusus baju kerjanya__terdapat dress-dress yang tadi Ervan beli di butik. Bahkan Reva baru sadar kalau lemarinya bukan lemari yang dulu. Lemarinya ikut di ganti dengan yang sedikit lebih besar.
Seketika Reva berpikir, apakah dirinya masih di sebut wajar menerima ini semua? Yang dia pikirkan lagi, apa Ervan memang se-baik ini pada semua orang?
"Ini berlebihan nggak sih?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sekali lagi, yang dia pikirkan adalah, berapa uang Ervan yang keluar untuk membeli ini semua?
Yang pasti itu bukan kisaran, 5 atau 10 milliyar, ini bisa lebih dari itu.
Menghela nafas lelah lalu menutup pintu lemari itu pelan. Langkahnya membawanya menuju kamar mandi. Dirinya butuh berendam rasanya.
Sedangkan di bawah sana.
"Lo yakin?" tanya Ervan menatap Baza.
Yang di tanya hanya mengangguk yakin, sebagai pendukung apa yang dia katakan.
"Udah tiga kali gue periksa dan gue yakin kalau itu bukan anak buah Zack," ucapnya lagi membuat Ervan menghela nafas panjang.
"Kalau bukan Zack, trus siapa?" Ervan bertanya.
Baza melihat raut frustasi di wajah Ervan. Makin ke sini, permasalahan sahabatnya ini makin rumit dan runyam. Satu masalah bukannya menemukan titik terang, malah menimbulkan teka-teki lain.
"Lo masih inget 'kan sama apa yang pernah di bilang sama bokapnya Zack? Gue rasa dia bener. Lo sama Zack itu sebenernya cuma bahan adu domba," ucap Baza menjelaskan.
Ervan diam. Dirinya tau itu. Sejak saat ayah Zack memberitahunya tentang itu, sejak saat itulah Ervan menahan diri untuk tidak membunuh Zack. Tapi entah kenapa, setiap kali terjadi hal yang tidak di inginkan, Zack adalah nama pertama yang dia curigai.
"Itu yang gue nggak paham," ucap Ervan lelah.
"Kalau iya ada orang lain, tujuannya apa? Dia ada dendam sama Zack sama gue? Lo tau 'kan kalau selama ini musuh gue ya cuma Zack."
"Gue nggak tau motif dan tujuannya apa, yang jelas ini pasti ada kaitannya sama kematian adek lo, dan kematian ayahnya Zack," ucap Baza lagi memberi pendapat.
*****