Restaurant ataupun Café mewah, sudah hal biasa bagi para orang kantoran itu mengadakan meeting. Apalagi waktunya bertepatan dengan jam makan. Dengan alibi menghemat waktu, jadi para bos besar itu memilih tempat itu untuk melakukan meeting.
Seperti sekarang ini. Rasanya baru kali ini Reva menginjakkan kaki di Café ternama di kota ini. Tempat yang sepertinya memang sudah di rancang khusus untuk para bos besar melakukan meeting.
Lihat saja meja-mejanya, bukan seperti Café kebanyakan.
"Apa saya juga perlu presentasi, Pak?" tanya Reva pada Devin.
Mereka sedang menunggu client. Datang lebih cepat dari yang di tetapkan, begitulah seorang Devin. Paling pantang baginya untuk datang terlambat.
"Seperti yang saya katakan. Kamu hanya sebagai pengamat," ucap Devin dan Reva hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ada sedikit lega dalam hatinya. Tapi tetap saja, kecakapannya sebagai seorang karyawan yang mungkin di percaya, di pertaruhkan di sini. Dan itu sukses membuatnya tidak tenang.
Dan sungguh nasibnya, si bos malah notice gelagatnya.
"Kamu gugup?" tanyanya.
Inginnya Reva menjawab dengan nada tidak santai 'Iya! Masih aja nanya!'
"Sedikit, Pak."
Si Pak Direktur tersenyum tipis, menepuk pelan punggung tangan Reva yang ada di atas meja.
"Saya juga gugup kok, kamu nggak sendirian," ucapnya masih melempar senyum.
Dalam hati Reva bertanya, gugup apanya? Tenang begitu di mana letak gugupnya? Apakah semua bos sudah tidak tau lagi makna kata gugup yang sebenarnya?
"Cuma saya bisa kontrol ekspresi saya, jadi nggak keliatan," lanjutnya.
Oke, singkatnya, acting. Mungkin Reva bisa menyesal karena dulu saat latihan drama, Reva malas-malasan mendengarkan penjelasan guru. Sekarang terbukti, berpura-pura itu ternyata tidak hanya dalam kehidupan drama, tapi juga di realita.
"Selamat siang, Pak Devin."
Reva sempat tersentak kaget saat tiba-tiba beberapa orang datang sambil menyalami bosnya. Si bos berdiri, otomatis Reva ikut berdiri, dan ikut menjabat tangan dengan senyum yang di lebarkan untuk mengusir kegugupan.
Meeting di Café ini terkesan santai. Di temani oleh beberapa makanan ringan dan minuman yang untungnya bukan air putih, sudah tertata rapi di meja sembari meeting berlangsung. Namun meski begitu, tak ada satupun dari mereka yang menyentuhnya, bahkan untuk minum sekalipun. Makanan dan minuman itu terhidang hanya untuk pemanis saja, agar tak terkesan tegang.
Tiga jam di meja bundar itu. Duduk diam sambil memperhatikan hasil presentasi dari beberapa orang yang di tunjuk. Cukup melelahkan. Apalagi perut sudah meronta minta di isi. Abaikan saja alibi tentang mempersingkat waktu. Meeting sekaligus makan siang, tapi sedari tadi hanya ada meeting yang mereka lakukan, tidak dengan makan siang.
"Senang bekerja sama dengan Anda," ucap pria itu menjabat tangan si direktur.
Devin ikut menjabat tangan, meski tatapannya tetap datar. Tidak ada senyum di sana, tidak seperti biasanya. Dan Reva baru tau kalau begini ternyata si bosnya ini ketika meeting.
Pria itu beralih menatap Reva. Senyumnya semakin lebar, entah, Reva tidak tau arti senyum itu apa. Tapi demi kelancaran kerjasama perusahaan tempatnya bekerja, Reva tetap membalas senyum itu. Senyum canggung.
"Senang juga bisa berkenalan dengan Anda," ucapnya mengulurkan tangan.
Sekali lagi, demi kesopanan dan menjaga nama baik si bos dan kantor, Reva membalasnya meski tidak ingin. Reva merasa ada yang tidak beres dengan pria ini.
"Senang juga berkenalan dengan, Pak," jawab Reva.
Dan benar saja. Tangan itu tak lepas menggenggam tangan Reva. Di tarik halus, tidak juga, di tarik sedikit kencang, genggamannya juga ikut mengencang.
"Ekhem!" Itu dehaman dari Pak Direktur.
Genggaman itu langsung terlepas. Atmosfer di sana langsung berubah, saat tatapan si bos menajam menatap pria di depannya. Terlihat guratan tak suka di sana.
"Kalau begitu, kami permisi, Pak, Nona," pamitnya masih dengan senyum di wajahnya.
Devin hanya mengangguk pelan dan Reva membungkuk hormat padanya.
Tapi sepertinya pria ini memang ingin mencari masalah dengannya. Reva masih dapat melihat dengan jelas, sangat jelas saat tangan pria itu sengaja menyenggol air di dekat Reva hingga tumpah membasahi rok span yang Reva kenakan.
"Ah, maaf. Saya tidak sengaja, maaf," pria itu mengambil tissue dan dengan santainya ingin membersihkan rok Reva.
"Astaga, tidak perlu, Pak." Reva menghindar menahan pergelangan tangan laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, saya bersihkan. Ini salah saya."
Bukan masalah kesalahan, tapi ini yang ingin di bersihkan rok Reva. Bagaimana ya mengatakannya?
Tangan itu kembali hendak terulur, namun batal saat tangan si bos menahannya.
"Apa saya perlu mematahkan tangan Anda?" tanyanya dengan nada datar. Si bos langsung membawa tubuh Reva ke belakang, melindunginya.
Si pria itu mengernyit bingung. Lalu melepaskan tangannya dari Devin.
"Apa-apaan ini, Pak Devin. Tolong bersikap sopan pada saya," ucapnya tidak suka.
Devin mendecih sinis. Persetan dengan kerja sama perusahaan, kehormatan gadis di belakangnya lebih penting menurutnya.
"Harusnya Anda yang belajar sopan santun. Saya tidak bodoh untuk sadar kalau Anda ingin melecehkan karyawan saya," ucap Devin menatap tajam pria itu.
Pria itu terkekeh pelan. Lalu membuang tissue yang ada di tangannya.
"Pak, sebaiknya kita pergi," ucap Reva menarik pergelangan tangan Devin.
Namun sang atasan tidak bergerak sama-sekali. Egonya mempertahankan argumen masih kuat. Tidak peduli dengan Reva yang sudah takut pada situasi ini.
"Anda ingin saya memutuskan kerja sama ini? Anda harus ingat kalau baru saja Anda melecehkan nama baik saya," ucapnya mengancam.
"Lebih baik saya kehilangan kerjasama ini dari pada melihat karyawan saya di lecehkan," jawabnya pasti. Hampir menekankan semua kata-katanya.
"Loh, Pak Devin."
Baru saja pria itu akan membalas, seruan seseorang lebih dulu menyita perhatian mereka.
"Ervan ...." Reva menatap bingung dokter tampan itu.
Ah tidak, pria itu tidak sedang memakai jas putih tapi jas berwarna hitam, tampak rapi, khas bos besar.
"Loh, Sayang." Reva melotot.
Menoleh ke samping kanan dan kirinya. Tidak ada orang lain lagi, apa panggilan itu di tujukan padanya?
"Aku pikir kamu meeting di tempat lain ternyata di sini," ucapnya sudah merangkul Reva dari samping.
Reva menatap Ervan yang juga menatapnya dengan mata melotot dan senyum yang di paksakan.
"Ah ... hehe, i--iya ... aku di sini," jawab Reva pelan.
"Tuan Ervan. Ini ...."
Tunjuknya mengarah pada Reva.
"Oh, dia calon istri saya."
Sekali lagi Reva di buat melotot. Lain hal dengan Devin yang mendelik horor mendengarnya.
Tapi setidaknya Reva puas dengan wajah tegang si pria itu. Bahkan keringat dinginnya dapat Reva lihat di sana. Memangnya kenapa? Pikirnya.
"Ini kenapa kotor?" tanya Ervan menatap rok Reva yang masih basah.
"Oh ... Itu---"
"Saya tidak sengaja menumpahkan air pada calon istri, Tuan. Saya minta maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja," ucapnya menunduk beberapa kali, terlihat takut daripada merasa bersalah.
"Lain kali hati-hati, Pak. Saya adalah orang yang sensitif menyangkut calon saya ini. Jangan sampai---"
"Saya minta maaf, Tuan. Saya berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Saya minta maaf, Nyonya. Saya mohon maafkan saya."
Reva kembali melotot, pria itu kini sudah berlutut di bawah sana. Inginnya Reva kembali menarik pria itu agar berdiri, namun Ervan menahannya.
"Calon saya ini orangnya pemaaf. Jadi, Bapak tidak perlu seperti ini," ucap Ervan membuat pria itu kembali berdiri.
Pria itu menatap takut pada Ervan, melirik sekilas pada Reva juga Devin.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya, Pak Devin. Sekali lagi, mohon maafkan saya," ucapnya dan segera menjauh dari sana setelah mendapat jawaban dari Ervan.
"Ah, tunggu sebentar, Pak."
Pria itu berhenti melangkah, dan berbalik saat Ervan mengintruksinya. Melepas rangkulannya pada Reva lalu mengambil sebuah ponsel di sana. Milik pria itu.
Ervan berjalan tegap menuju pria itu dan itu semua di saksikan oleh semua pengunjung di sana yang juga sedang meeting.
"Ponsel Anda, Pak," ucap Ervan memberikan ponsel tersebut.
Pria itu mengangguk pelan, dan dengan sopan mengambil ponsel tersebut. Namun Ervan menahannya saat pria itu ingin menariknya. Dia yang tadinya menatap ponsel, kini beralih menatap Ervan yang tersenyum tipis, sangat tipis padanya.
"Saya sudah mengatakan kalau saya adalah orang yang sensitif." Ervan menjeda ucapannya.
"Jadi ...."
"Bisa Anda bawa barang-barang Anda yang ada di kantor? Saya sudah menyuruh orang untuk merapikannya," lanjutnya.
•
•
•
•
"Loh, kita mau ke mana?" tanya Reva bingung.
Ini bukan arah kantornya, namun Ervan tidak menjawab. Bahkan pertanyaannya sejak 25 menit yang lalu saja Ervan belum menjawabnya.
Reva memilih diam. Sedikit banyaknya kesal dengan pria di sampingnya ini. Untuk apa membawanya kalau tidak mau di ajak bicara? Pikir Reva.
30 menit dalam perjalanan, akhirnya mobil mewah Ervan menepi di depan sebuah butik. Kerutan di kening Reva bertambah. Untuk apa mereka ke butik?
"Ayo, turun," ucap Ervan sudah membuka pintu untuk Reva.
Gadis itu sampai tidak sadar. Apa Ervan punya tenaga dalam untuk berpindah secepat kilat?
Tanpa tau maksud dan tujuannya Reva tetap memilih turun, daripada berdebat dulu dengan Ervan, itu akan memakan waktu yang lama.
Ervan melangkah dan pintu di depan sana sudah dibuka lebar oleh karyawan di sana, mempersilahkan Ervan dan dirinya masuk.
Reva baru tau kalau ada pelayanan butik yang seperti ini.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang Anda perlukan?" tanya seorang setelah menunduk hormat pada Ervan.
Di lihat dari dandanannya sepertinya pemilik butik.
Apakah harus pemilik butik yang melayani? Pikir Reva.
"Satu set baju untuk dia. Setelan kantor," ucap Ervan dengan mata yang menelisik ruangan itu.
Baju bermerk dan mewah yang pastinya harganya bisa mencapai langit ke tujuh. Dan Ervan memilih butik ini untuk membelikannya baju? Untuk apa? Pikir Reva.
"Ah, ya. Jangan yang ketat. Saya tidak akan segan-segan membakar butik ini kalau kamu memberikan pakaian ketat," ucapnya mengancam.
Reva menoleh pada si pemilik. Terlihat masih santai dengan senyum di wajahnya, seperti sudah terbiasa dengan sifat Ervan.
Tapi tunggu, kenapa Reva merasa Ervan tak hanya sebagai pengunjung di sini?
"Tuan bisa menunggu di sana, saya akan membawakan apa yang Tuan mau," ucap si mbak menunjuk sopan sebuah sofa di sana.
Ervan hanya mengangguk singkat lalu berjalan, bukan untuk duduk di sofa, melainkan melihat-lihat pakaian di sana.
"Ervan ...."
Yang di panggil menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya bertanya. Reva berjalan mendekat dan berbisik pada Ervan.
"Kamu ngapain beli baju di sini? Aku gak punya uang buat bayar," bisiknya.
Menatap Reva sebentar sebelum kepalanya di tundukkan untuk ikut berbisik pada Reva.
"Aku yang bayar. Btw kamu nggak perlu bisik-bisik, nggak ada yang marah kalau kamu mau ngomong," ucapnya kembali menegakkan tubuhnya.
Reva menatap sinis sebelum memukul lengan Ervan membuat si cowok terkekeh.
"Serius deh, Van. Mending kamu antar aku pulang aja buat ganti baju. Baju di sini mahal-mahal banget," ucapnya lagi.
Ervan tak menjawab karena si mbak sudah lebih dulu di sana dengan tiga orang pramuniaga lainnya yang membawa beberapa pakaian untuk Reva. Rata-rata dress selutut lengkap dengan tambahan blazer di sana.
Terlihat anggun, namun masih dalam batas formal untuk wanita kantoran.
"Silahkan di pilih, Tuan," ucapnya lagi.
Ervan maju beberapa langkah, memilih-milih pakaian di sana lalu menatap Reva.
"Saya ambil semuanya."
"Ha?"
Reva di buat melongo. Apakah rata-rata semua orang kaya seperti Ervan ini? Kenapa Ervan mengatakan itu seperti sedang membeli gorengan yang harganya seribu satu?
"Saya suka model seperti ini, ada lagi yang lain?"
Ervan masih minta yang lain? Ervan masih sehat? Itu pertanyaan Reva.
Si mbak hanya memberi senyuman dan mengangguk pelan.
"Ada, Tuan. Kalau Tuan dan Nyonya mau, Tuan dan Nyonya bisa memilih sendiri. Model ini memang masih baru, jadi kami baru memajangnya beberapa," tawarnya.
Ervan menoleh sebentar pada Reva dan langsung saja Reva menggeleng.
"Calon saja sedang lelah. Jadi kemas saja semuanya, anak buah saya akan membawanya nanti."
Reva menepuk keningnya pelan. Bukan itu maksud Reva. Dia menggeleng pertanda tidak perlu membelinya, bukan karena tidak mau berjalan.
"Ervan ...."
Ujung jasnya di tarik pelan membuat Ervan menoleh ke belakang.
"Nggak perlu. Baju aku di lemari masih banyak, masih bagus. Bahkan ada yang belum ke pake," ucap Reva akhirnya menyampaikan juga maksudnya.
Ervan tersenyum lembut.
"Lemari baju kerja kamu udah kosong. Baju-bajunya udah aku buang," ucapnya enteng.
Pegangan di ujung jas itu terlepas. Reva tidak tau lagi sudah yang ke berapa kali dia melongo hari ini.
"Aku baru sadar kalau itu ketat semua. Nyesel karena nyuruh Baza yang beli waktu itu," gumamnya sambil menarik satu kartu berwarna hitam dari dalam dompet tebalnya.
"Ini kartu saya. Oh ya, berikan satu padanya. Pakaiannya kotor," ucap Ervan lagi dan si pemilik itu tersenyum.
"Mari ikut saya, Nyonya," ajaknya sopan.
Dan Reva hanya pasrah saat Ervan mengibaskan tangannya, mengintruksi agar Reva mengikuti wanita itu.
•
•
•
•