Hal Sederhana

1243 Kata
Pagi ini kembali seperti biasa. Kembali pada kegiatan mereka masing-masing. Meski tadi Ervan sempat melarang Reva untuk tidak pergi bekerja dulu, tapi tetap saja Reva dengan segala cara akan membuat Ervan mau tidak mau akan menuruti keinginannya itu. "Aku pulang telat nanti," ucap Reva tiba-tiba membuat Ervan yang sedang memasang kancing kemejanya terhenti. Menoleh pada pintu kamarnya, gadis itu masih berdiri di sana. Mereka baru saja selesai sarapan, dan akan berangkat menuju tempat kerja masing-masing. "Mau ke mana dulu?" tanya Ervan berjalan mendekat. Dia sudah mengizinkan untuk pergi ke kantor bersama Melin. Dan sekarang gadis ini masih meminta pulang terlambat padanya, apa lagi yang dia inginkan? "Aku sama Kak Melin mau jenguk Kak Ara. Adik Kak Melin yang pernah aku ceritain. Boleh 'kan? Aku udah janji sama dia bakal bawain bunga tulip. Boleh ya?" tanya Reva masih berusaha mendapatkan izin. Entah ada yang sadar atau tidak. Reva sekarang lebih terlihat seperti seorang istri yang sedang meminta izin pada suaminya. Benar-benar persis seperti itu. "Jam berapa paling lambat?" tanya Ervan menyimpan kedua tangannya di saku celananya. Senyum manis tercetak di wajah Reva. Meski terkesan possessive, Ervan tidak benar-benar mengekangnya. "Jam tujuh?" Reva menjawab dengan nada bertanya, seperti meminta persetujuan. Si dokter menggeleng ribut. Itu terlalu larut menurutnya. "Jam setengah tujuh, kamu udah harus pulang. Nggak ada tawar lagi," ucap Ervan final. Reva sebenarnya ingin protes. Jam pulangnya saja jam lima sore dan Ervan hanya memberinya waktu satu setengah jam, dia pikir rumah sakit tempat Ara di rawat ada di samping kantor tempatnya bekerja? Tapi daripada tidak mendapat izin sama sekali, Reva hanya mengangguk pasrah. Senyum tipis terbit di bibir Ervan. Dia suka melihat Reva yang menurut padanya. Baru saja Ervan ingin bersuara, namun teriakan Melin di depan sana lebih dulu menarik perhatian ke duanya. "Aku berangkat dulu, Kak Melin udah nungguin," ucap Reva kemudian pergi dari sana. Ervan hanya memperhatikan sampai langkah Reva kembali terhenti dan berbalik. "Bekal kamu udah aku siapin, ada di atas meja. Jangan lupa di bawa ya ...." Reva memberi senyum lalu kembali berbalik sedikit berlari kecil. Senyum tipis kembali hinggap di sana. Gadis itu memang tau saja caranya membuat dia tersenyum. Meski si gadis tak menyadari itu, tapi Ervan menyukainya. Suka saat hal sederhana itu keluar dari mulut Reva dan di tujukan untuk dirinya. Sedetik kemudian senyum itu luntur, di gantikan ekspresi datar yang menyeramkan. Tangan kanannya tergerak mengambil ponselnya dan memanggil seseorang di sana. "Cari informasi tentang adik Melin. Dalam waktu 10 menit informasi itu sudah harus saya terima." Itu perintah mutlak dari Ervan. "Ah ya, perketat penjagaan pada Reva. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya," ucap Ervan lagi sebelum orang di seberang sana dapat membalas ucapannya. Dan tanpa ingin mendengar jawaban, Ervan langsung memutus sambungannya dan menyimpan kembali ponsel mahal tersebut. • • • • "Dokter Ervan!" Langkah Ervan terhenti dan berbalik. Keningnya mengerut melihat seorang anak sekolah yang berlari ke arahnya. Dari seragamnya, seperti masih SMA. Bukankah ini masih jam sekolah? Pikir Ervan. "Selamat siang, Dok. Dokter masih ingat saya?" tanyanya. Wajah bingung Ervan tunjukkan. Memangnya kapan mereka bertemu hingga saling mengenal? "Saya yang waktu itu bawa ayah saya ke sini. Dan Dokter yang nolongin," ucapnya memberi klu. Berharap si dokter dapat mengingatnya. Ada beberapa anak sekolah yang membawa ayahnya ke sini, bukan hanya gadis ini. Ervan bingung gadis ini gadis yang mana. "Ada banyak pasien yang sepertimu," jawab Ervan akhirnya. Tampak wajah murung di sana. Namun tak lama, wajah itu kembali tersenyum. "Kalau begitu, kenalkan. Nama saya Ellen." Gadis bernama Ellen itu mengulurkan tangan yang hanya di balas tatapan datar oleh si dokter. "Seharusnya kau sedang berada di kelas, bukan di sini," ucap Ervan membuat Ellen meringis. Di tangan gadis itu ada sebuah kotak. Mungkin bekal. Dan dia baru ingat akan keberadaan si kotak. "Emm ... saya bawakan bekal untuk dokter. Ini amanah dari ibu saya sebagai ucapan terimakasih. Karena saya lupa mengantarkannya tadi pagi, jadi saya ke sini sekarang," ucapnya menjelaskan sambil mengulurkan kotak bekal itu pada Ervan. Menatap kotak itu dan si gadis bergantian, akhirnya Ervan menerimanya membuat senyum di wajah Ellen mengembang. "Saya terima untuk kali ini. Dan ingat, saya paling tidak suka pada remaja yang membolos sekolah," ucapnya lalu pergi dari sana dengan membawa kotak tersebut. Ellen masih mematung di tempat. Masih memperhatikan kepergian Ervan yang semakin menjauh. Tak lama setelah itu senyumnya mengembang dengan semburat merah menghiasi pipinya. "Ganteng banget ...," gemasnya lalu pergi dari sana dengan hati yang berbunga-bunga. Sedangkan di depan pintu ruangan Ervan, tangannya terayun membuka pintu. Matanya langsung di suguhkan pada sebuah kotak bekal yang tadi dia bawa dari rumah. Kotak bekal yang sudah di siapkan oleh Reva untuknya. Pandangannya di alihkan pada kotak bekal di tangannya lalu kotak bekal di atas meja sana bergantian. Sedetik kemudian, Ervan berbalik menelisik seluruh orang yang berlalu lalang di sana. "Permisi ..." Ervan berjalan menuju seorang suster yang baru saja keluar dari lift. "Untukmu," ucapnya memberikan kotak bekal tersebut. Si suster senang tentunya. Kapan lagi bisa di perhatikan oleh dokter tampan ini. "Terimakasih, Dok. Seharusnya tidak perlu repot," ucapnya menerimanya dengan malu-malu. Alis mata Ervan terangkat sebelah. Ada apa dengannya? Pikirnya. "Jangan berterimakasih pada saya. Ini bukan punya saya," jawab Erden kembali masuk ke dalam ruangannya. Senyum itu luntur seketika. Dia pikir si dokter tampan sedang menaruh hati padanya. Ternyata? "Nggak apa-apalah. Dari pada mubazir. Lumayan ini," gumamnya pelan dan kembali berjalan. • • • • Gagang telepon baru saja di letakkan oleh Reva pada tempatnya. Tumben sekali pekerjaannya padat hari ini. Dan tak berselang lama, telepon itu kembali berdering. Ingin mengeluh, tidak akan bisa. Ini tanggung jawabnya dan memang ini pekerjaannya. "Halo, selamat siang. Dengan Reva di sini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Reva sopan. "Selamat siang. Bisa ke ruangan saya, Reva? Saya ada perlu dengan kamu," ucap suara di seberang sana. Itu suara si Pak Direktur. "Baik, saya akan ke sana sekarang. Ada lagi, Pak?" "Tidak. Itu saja. Saya tunggu, Reva." Telepon di matikan saat Reva menganggukkan kepalanya. Itu memang tabiat dari semua atasan. Jadi Reva sudah memakluminya Berdiri dari duduknya lalu membenarkan tampilannya. Bukan bermaksud cari perhatian, hanya saja dia tidak mungkin datang dalam keadaan kusut dan berantakan. "Ke mana, Rev?" tanya Celin menoleh sebentar. "Ke ruangan Pak Devin, Kak. Aku duluan ya." Reva melempar senyum sebelum pergi dan mereka hanya mengangguk sebagai jawaban. Tok! Tok! Tok! Intruksi masuk terdengar dari dalam membuat Reva akhirnya memutar kenop pintu dan masuk ke dalam. "Permisi, Pak." Devin menoleh dan mengangguk, lalu berdiri dari duduknya sembari merapikan dokumen di tangannya. "Saya ada meeting dengan client. Waktu rapat, kamu yang presentasi, bukan? Saya mau kamu ikut saya sebagai pengamat. Saya butuh pendapat kamu nantinya," ucap si direktur to the point dengan nada yang cukup serius. Reva sedikit bingung. Bukankah ini adalah pekerjaan sekretarisnya? "Maaf sebelumnya, Pak. Tapi kenapa Bapak memilih saya? Bukankah seharusnya sekretaris Bapak yang ikut?" tanya Reva memberanikan diri. "Ini berhubungan dengan divisi kamu. Nisa yang merekomendasikan kamu untuk ikut saya," jelasnya lagi. "Ah ... begitu ...," lirih Reva. Dalam hati dia merutuki Mbak Nisa yang mengajukan dirinya. Devin menatap intens karyawannya yang ada di hadapannya ini. Terlihat sekali gelagat ragu dari cara bicaranya. "Reva, jika kau tidak bersedia, saya bisa meminta yang lain," ucap si direktur membuat Reva langsung mendongak. "Tidak, Pak. Saya bersedia," jawabnya cepat. Bisa mati dia kalau menolak. Devin mengangguk-angguk kecil lalu menyerahkan beberapa dokumen pada Reva. "Pegang ini, kita berangkat sekarang," ucapnya lalu berjalan mendahului Reva. Reva menghela nafas kasar sebelum ikut keluar dari ruangan Pak Direktur. • • • •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN