Pasar Malam

1835 Kata
Memandangi wajahnya di cermin besar itu. Tangannya terulur untuk membenarkan posisi jepit rambut yang melekat di sana. Terlihat anggun, dengan rambut di gerai dan sebuah jepit rambut model pita berwarna biru muda, membawa beberapa helai rambutnya menyatu di samping. Selaras dengan sweeter baby blue yang sekarang dia gunakan, di padukan dengan jeans panjang berwarna hitam sebagai bawahan. "Emangnya aku pernah buat salah ya? Kenapa ada aja yang neror." gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. Sejenak pikirannya kembali tertuju pada ucapan Ervan tadi siang. "Aku orang yang berbahaya." Apa maksudnya ucapan itu? Reva tidak menanyakan lebih lanjut karena tau maksud Ervan menggunakan kata-kata kiasan seperti itu. Memangnya orang berbahaya seperti apa Ervan itu? Kalau berbahaya kenapa Ervan begitu menjaganya selama ini? Bahkan Reva merasa Ervan possessive padanya. Tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. "Masuk, Kak." ucap Reva agak lantang, terdengar suara Melin di sana. Tidak di izinkan membawa Reva pulang, Melin memutuskan untuk menginap di sini. Awalnya Ervan tetap tidak mengizinkan, tapi Melin terus bersikeras hingga akhirnya Ervan terpaksa memperbolehkannya menginap. "Cantiknya adek Kakak." puji Melin memegang pundak Reva, menatap Reva dari pantulan cermin. "Nggak usah muji, Kak." jawab Reva tersenyum tipis. Melin tau apa yang Reva pikirkan. Mendapat teror memang hal yang membuat semua orang selalu waspada dan berpikiran negatif. "Ya udah sana turun. Ervan udah nungguin kamu kayaknya." ucap Melin. Awalnya Reva menolak untuk pergi tapi Melin turut membujuknya untuk pergi bersama Ervan. Agar pikirannya lebih tenang, itu kata Melin dan Reva menurutinya. Reva mengangguk dan berjalan ke bawah, beriringan dengan Melin. Di sana, Ervan yang sedang berbincang dengan Baza, menoleh ke atas, pada Reva yang menuruni anak tangga. Ervan juga memakai baju santai sekarang. Baju kaos lengan pendek berwarna putih di balut jaket kulit berwarna hitam kesayangannya, dipadukan jeans berwarna hitam juga. Mereka berdua sangat serasi. Ervan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Reva. Mengaitkan jemari, dan membawa Reva berjalan keluar setelah melempar senyum kecil. "Ck. Nggak sopan banget lo nggak pamit!" teriak Baza kesal yang melihat Ervan pergi begitu saja. "Kita naik motor?" tanya Reva melihat Ervan keluar dari garasi membawa motor sport berwarna hitam. "Aku bosen naik mobil." balas Ervan dan menyuruh Reva agar segera naik. Reva agak kaku, pasalnya dia tidak pernah naik motor seperti ini. Tinggi sekali. "Ini, pake helm-nya." memberikan sebuah helm pada Reva. "Pegangan. Aku nggak punya uang bawa kamu ke rumah sakit kalau kamu jatuh." ucapnya mendapat pukulan dari Reva. Kedua tangannya kemudian memegang jaket kulit Ervan di pinggang. Sempat tertawa melihatnya. Apa Reva pikir dia sedang naik sepeda? Pikirnya. Reva yang menatap lurus ke depan, terkejut saat tiba-tiba Ervan menuntun tangannya untuk masuk ke saku jaket yang Ervan pakai. "Gini lebih aman." ucapnya menoleh kebelakang. Cukup dekat, sehingga Reva langsung memalingkan wajahnya yang seketika terasa panas. Lagi-lagi dokter tampan itu terkekeh. Lalu melajukan motornya. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dia hanya ingin Reva merasa nyaman dan tenang melihat pemandangan malam kota yang padat ini. Melalui spion, Ervan melihat Reva memejamkan matanya dengan bibirnya yang perlahan membentuk senyum. Ervan ikut tersenyum melihatnya. "Kita mau kemana?" tanya Reva sedikit membesarkan volume suaranya. "Pasar malam mau?" Ervan balik bertanya. Reva tersenyum lebar mendengarnya. Dia tidak pernah lagi pergi ke pasar malam sejak ayahnya pergi. Tentu dia rindu suasana ramai itu. "Mau!" jawabnya semangat. Tersenyum lalu mengangguk. Motor itu melaju sedikit menambah kecepatan mengingat tempatnya yang lumayan jauh. "Waahh.." kagum Reva melihat suasana pasar malam yang begitu meriah. Ada banyak orang, banyak permainan tak terkecuali banyak makanan dan berbagai macam minuman. Reva jadi tidak sabar. Turun dengan tidak sabaran dan berlari ke dalam bak anak kecil yang baru pertama kali di ajak pergi ke taman bermain. "Waw. It's wonderful." puji Reva melihat sekelilingnya. "Mau coba wahana apa?" tanya Ervan. Melihat-lihat dan berpikir sebentar, wahana apa yang sekiranya seru untuk di naikinya. "Itu." tunjuk Reva pada sebuah wahana. Ontang anting. Di d******i oleh anak remaja, mungkin masih SMP atau SMA. Dan Reva mau naik itu? Teringat tujuannya untuk menyenangkan hati Reva, jadi Ervan hanya mengangguk dan membawa Reva ke sana. Mengambil karcis lebih dulu dan membayarnya. "Naiklah." ucap Ervan pada Reva setelah memberikan karcis itu pada penjaga. "Ayo." Reva menarik tangan Ervan namun Ervan hanya diam. "Kamu aja. Aku tunggu di sini." ucapnya membuat Reva cemberut. "Kalau aku cuma sendiri trus ngapain kamu ngajak kesini tadi? Ayo, kamu naik juga." Reva terus menarik-narik tangan Ervan. Menyebalkan sekali. Apa kata anak buahnya nanti saat melihat dia bermain wahana ini? Kemana imejnya yang dingin dan kejam nantinya? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia malu pada jaket hitamnya yang terlihat manly dan keren. "Aku nggak bisa naik itu. Kamu aja, aku bakal tungguin di sini." ucap Ervan membuat Reva semakin kesal. "Nggak usah naik kalau gitu." ketusnya. "Aduh, Mas. Naik aja sana, ini antriannya udah panjang loh. Saya juga mau naik ini." ucap ibu-ibu di belakang mereka. Benar, antrianya mulai panjang di sana. "Tau nih Mas. Nyenengin pacar itu pahala loh." timpal yang lain. Oke, ini lebih memalukan. Membayar lebih pada si penjaga dan langsung menarik tangan Leora untuk menaiki permainan itu. Toh para anak buahnya tidak akan berani membicarakannya. Setelah semuanya naik, permainan itu berputar dari yang awalnya pelan menjadi cepat. Sampai rasanya mereka akan terbang saja. Reva sendiri sudah tertawa senang di sana. Sedangkan Ervan hanya memasang wajah paling datar yang dia punya. Luntur sudah imejnya sebagai ketua mafia paling disegani. "Hahaha itu tadi seru banget!" pekik Reva senang. Sungguh, ini sangat menyenangkan. Dia kembali mengingat masa kecilnya yang indah bersama sang ayah saat bermain di pasar malam. "Ayo ke sana." Reva kembali menarik tangan Ervan ke sebuah wahana lain di sana. Kora-kora kali ini. "Gimana kalau kita cari makan aja?" tawar Ervan dan Reva menggeleng. Sungguh, Ervan sangat-sangat menyesal mengusulkan pasar malam pada Reva. Seharusnya dia membawa Reva ke restoran atau ke taman saja tadi, ah ada satu tempat lagi yang sempat terlintas di otaknya, hotel. "Ayo ayo." Reva sangat bersemangat. Dan lagi, menurunkan kembali imejnya, menuruti keinginan Reva. Bersyukur sebenarnya melihat Reva kembali tertawa senang. Sejenak Reva tampak melupakan kejadian tadi malam, dan itu bagus. Semoga saja Reva tidak lagi memikirkan itu setelah ini. Cukup lama mereka bermain di sana, mencoba hampir semua wahana yang ada di sana. Dan terakhir, wahana yang wajib di naiki jika ke pasar malam. Bianglala. Reva dan Ervan sudah berada di dalam sana. Ada dua boneka hasil bermain tadi di samping Reva dan arum manis di tangan kananya. Dia terus tersenyum memandang pemandangan di bawah sana. Sangat indah, semuanya dapat dia lihat dari atas sini. Pria lain pasti akan memanfaatkan moment ini untuk mencari kesempatan pada si gadis. Tapi tidak untuk Ervan, yaa mungkin untuk saat ini. Dia hanya tidak ingin menghancurkan suasana. Lagipula dia belum puas memandangi wajah cantik Reva yang terlihat sangat menikmati kegiatan mereka, apalagi senyum itu, ah, Ervan harus cek kadar gulanya nanti setelah pulang. Mungkin saja dia mengidap diabetes. "Ervan." panggil Reva menepuk pelan lengan Ervan. "Hm?" tanya Ervan. "Itu ada yang berantem." tunjuk Reva pada beberapa orang berpakaian hitam yang sedang berkelahi. Ervan ikut menoleh. "Biarin aja. Bukan urusan kita." jawabnya acuh. Reva mengedarkan pandangannya, kembali menemukan orang yang sedang berkelahi. Lebih banyak. "Ervan, di sana juga." tunjuk Reva lagi. Ervan masih tenang. Selagi anak buahnya masih bisa mengatasi, jadi tidak ada gunanya khawatir. "Itu urusan mereka, Reva. Selama mereka nggak gangguin kita, kita nggak perlu ikut campur." ucap Ervan. Reva ragu. Mereka semua tampak sama dengan pakaian serba hitam. Apa ini ada hubungannya dengan orang yang meneror Reva? Atau justru ini ada hubungannya dengan Ervan? "Iya." Reva akhirnya mengangguk patuh. Mencoba untuk tidak peduli dengan mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Ervan ada benarnya juga, itu bukan urusan mereka. ***** Di perjalanan pulang, mereka sedikit santai, bisa di katakan pelan. Masih jam 9 lewat, toh tidak akan ada yang memarahi mereka jika pulang telat, entah kalau Melin nanti. "Mau cari makan dulu?" tanya Ervan menoleh sebentar ke belakang. Reva tampak berpikir sebelum mengangguk. "Bungkus aja ya, makan di rumah sama Kak Melin sama Baza." ucapnya dan Ervan hanya mengangguk. "Mau beli apa?" "Bentar." jawabnya berpikir. Ervan tersenyum, bersyukur karena jawaban Reva bukan terse__ "Terserah deh." __rah. Oke, dia menarik senyumnya kembali. Kata-kata keramat itu memang selalu ada di setiap wanita rupanya. "Nasi goreng gimana?" tanya Ervan mengusulkan. Kembali berpikir lalu menggeleng. Memutar otak, kira-kira menu apa yang akan di setujui si gadis. "Mie ayam?" menggeleng. "Sate?" menggeleng lagi. "Bakso deh?" dan gelengan yang kesekian kalinya. Ervan menyerah. "Trus apa?" "Jangan jawab terserah. Menu makanan nggak ada yang namanya terserah." ucap Ervan cepat sebelum Reva bisa menjawab. Reva terkekeh melihat wajah kesal Ervan. Sebut saja kalau itu hanya untuk mengerjai Ervan saja. "Kita beli martabak manis yuk. Aku sering beli yang ada di dekat kantor. Enak." ucapnya menyebutkan keinginannya. Gantian Ervan yang menggeleng kali ini. "Dari tadi yang kamu konsumsi yang manis-manis mulu. Jangan nyari pengakit." Ini dia, jiwa-jiwa dokter Ervan menguar membuat Reva cemberut kesal. Tapi mengingat sedari tadi Ervan selalu menurutinya, jadi kali ini Reva juga menuruti ucapan Ervan. "Emm, ya udah. Seblak yang di sana aja ya. Yang deket taman depan." Reva mengganti menunya. Ervan tampak berpikir sejenak. Mie ya? Mungkim tidak masalah jika kali ini. "Jangan terlalu pedes tapi." ucapnya dan Reva mengangguk. Ervan menyetujui dan melajukan kendaraannya lebih cepat menuju taman. Sambil sesekali menoleh ke belakang, memperhatikan anak buahnya yang setia mengikutinya. Setidaknya ini cara aman agar Reva tidak terlalu curiga padanya. ***** "Udah berapa lama kamu di sini?" tanya wanita itu pada pria di depannya. "Sejak Ketua berentiin kita." jawabnya jujur. "Kamu bisa jamin kalau nggak ada yang bocor sama Ervan?" tanya Melin menatap penuh curiga pada Baza. Baza mengangguk. "Dia sama sekali nggak tau apapun tentang ini." Gantian Melin yang mengangguk-angguk kecil. "Keadaan Ketua, gimana?" tanya Baza. Melin menghembuskan nafas panjang, bersandar pada sandaran sofa. "Nggak lama setelah dia berentiin kita, dia meninggal." jawabnya membuat Baza telak terkejut. Kenapa dia sama sekali tidak tau soal ini? "Apa dia di bunuh sama.." Baza menggantung ucapannya dan Melin mengangguk pelan. "Dia berentiin kita dan bubarin agen ini karena buat lindungin kita. Untungnya sampai sekarang identitas kita sama sekali nggak ada yang tau." jelasnya. "Dan sampai sekarang juga, kita nggak pernah tau siapa orang yang di cari-cari sama Ketua." ucap Baza dan Melin mengangguk menyetujui. Permasalahan rumit yang sudah bertahun-tahun mereka sembunyikan. "Kamu masih inget sama sumpah dan janji kita 'kan?" Melin menatap Baza. "Walaupun aku juga hakcer di kelompok Ervan, aku nggak pernah sekalipun cari tau tentang masa lalu kita sama Ketua. Yaa walaupun aku penasaran banget, tapi aku hormatin Ketua yang udah baik sama aku." ucapnya. Melin tersenyim miris mendengarnya. Dia juga terbawa sumpah dan janji tersebut. "Kamu beruntung cuma penasaran. Sedangkan aku, sampai sekarang aku belum tau di mana dan siapa adikku. Dan aku di paksa untuk nggak cari keberadaan dia." ucapnya sendu. Baza menepuk pelan bahu Melin beberapa kali. "Suatu saat, kalian pasti ketemu lagi. Aku yakin. Dia pasti baik-baik aja sekarang." ucap Baza tersenyum. Melin ikut tersenyum. Memang itu yang dia harapkan. Tapi entah kapan harapannya itu bisa terwujud. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN