Orang Yang Berbahaya

1841 Kata
Sinar matahari masuk melalui celah jendela. Meski samar, namun cukup bisa membuat tidur gadis ini terusik akibat cahayanya. Menggeliat kecil lalu perlahan membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah seorang wanita yang duduk di pinggir ranjang. Mengerjakan matanya beberapa kali sampai objek di depannya terlihat jelas. "Kak Melin." ucapnya serak khas bangun tidur. Dia mendudukkan dirinya, dan melihat Melin tersenyum padanya. "Kakak di sini?" tanyanya pelan. Dia pikir yang dia lihat adalah Ervan. Kenapa Melin bisa ada di sini? Kapan dia ke sini? Lalu di mana Ervan? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. "Ervan yang nyuruh Kakak ke sini." jawabnya mengelus lembut rambut Reva. Masih berpikir apa yang terjadi padanya. Dia sadar ini bukan kamarnya. Di detik berikutnya matanya membola saat kejadian malam tadi terlintas di kepalanya. "Kak.." ucapnya bergetar. Kembali ketakutan. Bahkan teror yang pertama belum sampai satu bulan, dan sekarang sudah datang lagi teror yang lebih seram dari sebelumnya. Ada apa dengannya? Siapa yang melakukan ini padanya? Dan kenapa harus dia? Melin mengerti. Dia tau keadaan Reva saat ini. Baza yang menceritakannya. Dia sangat sedih, sungguh. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana ketakutan sang adik tadi malam. "Jangan takut, Sayang." ucap Melin memeluk tubuh bergetar sang adik, mengelus punggungnya dan terus mengucapkan kalimat penenang untuknya. Kenapa adik-adiknya selalu berada pada situasi yang tidak baik? Walaupun status Reva hanya adik tirinya, tapi Melin benar-benar tulus menyayanginya dan menganggapnya sebagai adik kandungannya sendiri. "Salah Reva apa, Kak? Reva nggak pernah berani cari masalah sama orang lain. Tapi kenapa kayak gini jadinya? Hiks.." isaknya di pelukan Melin. Satu yang Melin tau dari kebiasaan Reva bahwa dia akan menyebut namanya sendiri saat dia benar-benar dalam keadaan paling buruk dan paling menyenangkan untuknya. Dan dalam hal ini, opsi pertama adalah opsi yang tepat. "Tenang, Dek. Kamu aman di sini. Jangan nangis, jangan takut." hanya kalimat itu yang bisa Melin rapalkan untuk Reva. Memangnya apa lagi? Dia saja tidak tau masalah apa yang menimpa Reva sampai ada yang menerornya sebegitu kejam. Melin mengurai pelukannya dan menghapus jejak air mata di pipi Reva. "Kakak tau ini pasti sulit buat kamu, tapi kamu harus coba untuk lupain kejadian tadi malam. Kakak dan yang lainnya ada di sini buat kamu, kamu nggak perlu takut, oke. Kalau kamu takut, mereka makin seneng gangguin kamu." ucap Melin meyakinkan. Reva masih diam mendengarkannya. Dia masih terisak, bayangan foto dan tikus itu masih terus terbayang di kepalanya. Seakan itu adalah sebuah kaset yang terputar otomatis secara berulang-ulang. "Reva nggak bisa Kak. Reva takut hiks.., mereka mau hiks.. bunuh Reva. Kak, foto Reva ada di tikus mati itu. Reva, Reva takut, Kak. Mereka terus-terusan teror Reva hiks.." ucap Reva di sela isakanya. Isakan pilu yang kali kedua Melin dengar dari Reva. Sungguh, dia sama sekali tidak ingin mendengar ini lagi dari adiknya yang satu ini. "Sstt.. tenang, Sayang. Kamu jangan panik gini. Kakak di sini buat kamu. Nggak ada yang bakal nyakitin kamu. Tenang ya," Melin kembali memeluk tubuh sang adik. Siapapun orangnya, sekuat apapun dia, Melin akan menghadapinya demi adiknya ini. Melin tidak ingin hanya diam saja melihat adiknya seperti ini. ***** Mobil mewah itu melesat dengan kecepatan melebihi rata-rata. Kali ini dia mengedepankan emosi dari pada keselamatan dirinya maupun keselamatan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan sana. Biarlah dia egois untuk kali ini. Tidak selamanya dia dapat menahan egonya sendiri bukan? Membelokkan mobil ke arah jalanan yang cukup sepi, dan masuk lagi ke jalan yang lebih sepi. Tidak ada penduduk di sana. CIITT! Ban mobil yang bergesekan dengan jalan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring saat rem di injak penuh olehnya. Keluar dari mobilnya dan langsung melangkah lebar masuk ke dalam sebuah rumah besar di depan sana. "Angkat saja senjata kalian maka kalian akan mati saat ini juga." ucapnya tanpa ingin berhenti barang sedetik. Kembali menurunkan senjata, tidak ingin mengusik ketenangan sang musuh ketua mereka. Langkahnya pasti, matanya tajam, kedua tangan itu terkepal kuat seakan siap meremukkan apa saja. Jangan lupakan aura menyeramkan yang di bawanya. Itu semua sudah cukup membuat mereka semua mengerti akan emosi laki-laki itu saat ini. Tatapannya saja seakan bisa membunuh orang yang dia lihat saat itu juga. BRAKK!! Dengan sekali tendangan, pintu besar itu terbuka dengan begitu kasar menimbulkan bunyi yang cukup keras, membuat semua yang ada di dalam sana terkejut di buatnya. "ZACK!!" suara bariton itu berteriak,  menyeramkan, menggema di markas besar itu. Jangan pernah bermimpi untuk bisa mendengar suaranya yang satu itu jika mental tidak terlalu kuat untuk mendengarnya. Suaranya bagaikan kedatangan malaikat maut yang siap merenggut nyawa. Mematikan. "KELUAR KAU b******n ZACK!!" teriaknya lagi. Tidak ada yang mampu menatap mata tajam yang sedang menelisik ke seluruh ruangan itu. Tepatnya tidak ada yang berani melakukannya. "Apa yang kau lakukan di sini!" teriak seseorang mendekat ke arahnya. Dor! "Arkh!" Hanya sedikit menembus kulit bahu Gio__tangan kanan Zack__namun itu sungguh sakit. Ketua mafia tidak pernah memakai senjata abal-abal. Bisa di pastikan pistol kecil itu lebih ampuh memberantas musuh dari pada senjata militer milik para tentara. "Keluarkan kata sekali lagi maka peluru ini akan menembus jantungmu." ucapnya mengintimidasi, terlihat kilatan amarah yang sangat besar di matanya. Mengatupkan mulutnya rapat, meringis kecil saja dia tidak berani lagi kali ini. Tak ingin kehilangan nyawa tentunya, Ervan sedang dalam mode tanpa ampun saat ini. Ceklek! Pintu besi itu terbuka, keluarlah seseorang yang namanya sedari tadi di panggil oleh Ervan. "Wah, kau datang? Kenapa kau selalu datang dengan__" Dor! Ucapan itu lantas terpotong saat sebuah peluru hampir mengenai dirinya. Melewati daun telinganya. Matanya menajam menatap Ervan di bawah sana. Ini ajakan perang namanya. "Apa kau sedang menantangku?" desisnya marah. Ervan berjalan cepat menuju Zack. Tatapan tajamnya seolah mengunci pergerakan Zack untuk tidak dapat bergerak barang sedikitpun. "Kau yang mengibarkan bendera perang padaku!" teriaknya marah. Tiga anak tangga terlewati dalam satu kali melangkah. Bahkan anggota Zack yang berjejer di sepanjang tangga tidak berani menghentikannya. "b******n!" Bugh! Pukulan telak di terima Zack di perutnya membuat Zack terhuyung ke belakang. Tidak ada yang bisa membantunya, bahkan tangan kanannya sekalipun. Ini adalah masalah sesama pemimpin. Jika mereka masuk walaupun berniat membantu, maka itu sama saja mencari mati. "Apa masalah__" Bugh! Di pipi kali ini. Dan Zack kembali terjatuh ke bawah. "Sudah kukatakan untuk tidak menyentuhnya tapi kau malah menerornya! Pengecut!" teriak Ervan di depan wajah Zack. Bugh! Pukulan itu Ervan yang dapatkan. Zack membalasnya membuat sudut bibir Ervan sedikit berdarah. "b******k! Aku bahkan tak berbuat apa-apa!" balasnya membentak. Cih! Ervan meludah dan menatap remeh pada Zack. "Itu juga yang kau katakan saat menghabisi nyawa adikku." ucapnya dengan nada pelan. Mendekat ke arah Zack, menarik kera baju Zack kuat. "Ingat. Kau masih hidup sampai saat ini atas pengampunanku. Jangan macam-macam denganku." desisnya lalu mendorong kasar tubuh Zack. Zack menggertakkan giginya marah, kedua tangannya ikut mengepal sekarang. Atas pengampunannya katanya? Apa Ervan baru saja merendahkannya? Ervan kemudian melangkah pergi dari hadapan Zack yang menatapnya penuh kebencian. Langkahnya berhenti di ujung tangga, berbalik dan menatap Zack di atas sana. "Dan ingat ini. Kau akan selalu ada di bawahku. Kau bahkan tidak akan bisa bermimpi untuk berada sedikit di atasku. Jadi jangan bangga hanya karena kau berhasil mengusik ketenanganku." ucapnya lalu benar-benar pergi dari sana setelah memberikan tendangan kuat pada pintu utama markas itu. Bugh! "Aarrghh!" teriak Zack marah, terus menerus memukul dinding di belakangnya. "Aku akan membalasmu Ervan! Aku akan membalasmu lebih dari ini. Ingat itu Ervan!!" teriaknya menggelegar di seluruh markas besar itu. ***** Ceklek! Ervan melangkah masuk ke dalam, dan berhenti saat melihat Melin di dapur. Sepertinya sedang memasak. "Kamu masih di sini?" ucap Ervan membuat Melin sedikit terkejut. "Aku mau jagain Reva dulu. Aku nggak tega ninggalin dia." jawabnya kembali pada pekerjaannya. "Gimana dia?" tanya Ervan lagi. Melin kembali menoleh. Sekilas Melin dapat melihat amarah di wajah Ervan. Entah apa yang pemuda itu lakukan tadi. "Tadi masih ketakutan. Baru aja tidur lagi." jelas Melin dan Ervan hanya mengangguk lalu kembali melangkah. "Tunggu Ervan." Menghentikan langkahnya, menatap penuh tanya pada Melin yang kini berjalan mendekat ke arahnya. "Aku mau bawa Reva ke rumahku. Untuk malam ini aja." ucap Melin meminta. Ervan tidak menjawab. Alisnya terangkat sebelah, meminta penjelasan lebih dari Melin. "Aku pengen jagain Reva di sana. Siapa tau aja Reva mau cerita sama aku. Reva pasti butuh temen di saat kayak gini." jelasnya. "Nggak perlu. Aku nggak ngizinin Reva pergi dari sini." jawabnya berucap datar. Kening Melin berkerut heran sekaligus kesal dengan jawaban Ervan. Kenapa Ervan terlihat sangat membatasi dan mengekang Reva sekarang? "Kenapa? Aku berhak bawa dia pulang, aku kakaknya." ucap Melin bersikeras. Yaa, Ervan tau itu. Meski berstatus saudara tiri, tapi tetap, sekarang Melin adalah wali sah Reva. "Aku tau. Tapi kamu punya jaminan apa kalau dia bakal aman sama kamu?" tanya Ervan membuat Melin telak terdiam. Itulah kelemahan Melin. Dia tidak mempunyai apapun untuk melindungi Reva dalam situasi seperti ini. "Nggak ada 'kan. Jadi jangan bawa dia keluar dari rumah ini." lanjutnya sedikit mengintimidasi. Berbalik, dan kembali melangkah hendak menuju kamarnya. "Emangnya kamu punya jaminan apa kalau dia bakal aman di sini?" tanya Melin mengikuti gaya bicara Ervan. "Nyawaku." jawab Ervan mantap tanpa menghentikan langkahnya. Speechless. Melin di buat tidak bisa berkata apa-apa atas ucapan Ervan barusan. Apa Ervan benar-benar mencintai adiknya itu? Meraih knop pintu, dan membukanya perlahan. Takut jika mengeluarkan bunyi sedikitpun maka Reva akan terbangun. Tapi dugaannya salah, Reva bahkan sudah terbangun, duduk bersandar di kepala ranjang. "Kata Melin kamu tidur." ucapnya membuat atensi Reva beralih padanya. "Baru aja aku bangun." jawabnya. "Kamu masih takut?" tanyanya duduk di tepi ranjang. "Aku boleh ikut sama Kak Melin?" Reva malah melempar pertanyaan itu padanya membuat Ervan menghela nafas panjang. "Reva dengerin aku." Reva menatapnya. "Di sini aja kamu masih di teror apalagi di sana yang nggak ada penjagaan sama sekali." ucapnya dan Reva masih terdiam menatapnya. Tangan Ervan terulur. Awalnya berniat mengelus rambut Reva, namun beralih pada alis mata Reva yang terlihat lebih menarik baginya. Mengelus alis mata itu bergantian lalu tersenyum. "Aku nggak mau ambil resiko kalau kamu nggak ada dalam penjagaan aku." ucapnya lagi. Bagi mereka yang mengatakan tidak nyaman di perlakuan lembut seperti ini maka itu namanya munafik. Perlakuan Ervan yang seperti ini membuatnya merasa yakin kalau Ervan akan selalu menjaganya Anggukan samar Reva berikan lalu menarik senyum tipis di sudut bibirnya. "Good girl." pujinya menepuk pelan puncak kepala Reva. "Aku mau mandi dulu." ucapnya lalu berlalu menuju kamar mandi setelah mendapat anggukan dari Reva. Terkadang Reva berfikir, ada apa dengan mereka berdua? Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih, tapi mereka tidak punya status itu. Tapi untuk memperkenalkan sebagai teman, itu juga terdengar lebih canggung. Memilih untuk tak peduli pun percuma rasanya. Reva selalu memikirkan itu. Apalagi setelah ucapan Baza malam tadi. Ceklek! Reva menoleh. Ervan keluar, lengkap dengan pakaian santainya. Cepat sekali dokter tampan itu mandi, pikir Reva. Reva terus memperhatikan Ervan yang masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. "Aku mau nanya." ucap Reva tiba-tiba membuat Ervan menoleh. "Bakal aku jawab." Terdapat jeda yang cukup lama sampai akhirnya Reva bersuara. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Reva menatap tepat pada bola mata Ervan. Ervan terdiam sejenak. "Aku?" tunjuknya pada dirinya sendiri dan Reva mengangguk. "Aku orang yang berbahaya." jawab Ervan selanjutnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN