Musuh Yang Sebenarnya

1582 Kata
"Eh lo udah pulang. Kita nggak denger suara mobil lo tadi." ucap Baza. Ervan berjalan mendekat dan menatap mereka bergantian. "Gue naik taxi. Mobil gue di bengkel." jawabnya dan mereka berdua hanya mengangguk. "Kamu juga baru pulang?" tanya Ervan kini menatap Reva. Lihat, bahasa Erden itu bisa berubah-ubah seperti bunglon yang menyesuaikan diri, bedanya ini menyesuaikan diri dengan gaya bicara lawanya. "Udah sejam yang lalu." jawab Reva dan Ervan hanya mengangguk mengerti. Baza itu adalah tipe teman yang peka terhadap situasi. Jadi dia segera pergi dari sana, kembali ke ruang keluarga untuk menonton tv. "Kamu kenapa?" tanya Reva bingung menatap Ervan yang hanya diam sambil terus menatapnya. Ervan menggeleng dan tersenyum. "Aku mau mandi dulu." ucapnya dan berlalu dari sana setelah mendapat anggukan dari Reva. Dalam hatinya Reva merasa semakin penasaran tentang Ervan. Baza juga tidak menjawab pertanyaannya tadi. Reva bahkan dapat melihat raut terkejut di wajah Baza tadi saat dia menanyakan tentang siapa Ervan sebenarnya. "Nanti aja deh, tanya lagi sama Baza." gumamnya kemudian duduk di tempat bisa dia duduk. Sambil menunggu Ervan, Reva memainkan ponselnya, melihat-lihat harga skincare incarannya. "Mahal banget sih, kapan bisa belinya coba?" keluhnya. Jangan di tanya soal menabung padanya, dia termasuk orang yang cukup rajin dalam hal tersebut, namun apabila sudah terkumpul, ada saja barang lain yang dia beli dan harus mengenyampingkan hal utama yang ingin dia beli. Tok! tok! tok! Reva menoleh ke arah pintu utama, siapa yang bertamu? Seingatnya tidak ada yang tau rumah Ervan, kecuali Melin, papa Ervan dan para bodyguard Ervan, mungkin. Beralih menatap Baza yang sepertinya sedang sibuk dengan dunianya. Di tambah headphone yang menempel di telinganya. Tidak ingin membuat sang tamu menunggu lama, Reva bangkit dan berjalan menuju pintu utama. Membuka pintu dan tampak seseorang yang memakai pakaian serba hitam membelakanginya. "Siapa?" tanya Reva masih berdiri di ambang pintu. Orang itu berbalik dan memberikan sebuah kotak berwarna ungu dengan aksen pita berwarna gold. "Maaf, ini untuk siapa?" tanya Reva setelah menerimanya. Orang itu hanya diam, bahkan wajahnya tidak terlihat sama sekali. "Dan Anda siapa? Siapa yang mengirim bingkisan ini?" tanya Reva sekali lagi. Tetap saja orang itu masih enggan menjawab. Oke, ini sudah mulai aneh menurutnya. Reva mengulurkan kotak itu, berniat mengembalikan pada orang itu. "Saya tidak bisa menerimanya. Kami tidak pernah memesan apapun. Jadi ambillah lagi." ucap Reva sopan. Tanpa membalas ucapan Reva, orang itu langsung berbalik dan melangkah pergi dari sana. Mengabaikan teriakan Reva yang memanggil namanya. "Aneh banget." gumamnya pelan. Sekali lagi menatap kotak di tangannya, kotaknya cantik mungkin saja memang Ervan atau Baza memesan sesuatu, pikirnya. "Liat deh." gumamnya lagi. Membuka pita yang mengikat kotak, lalu membuka penutupnya. "AAAA!!" teriakan Reva terdengar setelahnya bersamaan dengan terlemparnya kotak tersebut. Reva menutup mulutnya. Syok, jantungnya memompa dua kali lebih cepat dari biasanya, tubuhnya gemetar, air matanya bahkan sudah jatuh sejak tadi. Ada fotonya di dalam kotak tersebut, berukuran kecil, terkalung di leher seekor tikus yang bahkan Reva sendiri tidak bisa mendeskripsikan bagaimana keadaan tikus itu sekarang. Yang jelas, seluruh ruang yang ada di dalam kotak itu di penuhi oleh warna yang paling dia benci, warna merah. "Reva, kamu kenapa?" tanya Baza menghampiri Reva. Volume musik di headphone miliknya tidak se-keras itu sehingga tidak bisa mendengar suara teriakan Reva. "Reva, eh, kamu kok nangis?" panik Baza memegang kedua bahu Reva. Tubuhnya bergetar hebat, bahkan untuk sesaat dia rasanya tidak bisa bernafas. Kakinya terasa lemas membuat dia tidak lagi bisa menahan berat tubuhnya. "Aduh, Rev. Kamu kenapa? Ada apa tadi?" Baza semakin panik tentunya. Reva bahkan tidak mengatakan apa-apa selain air matanya yang terus terjatuh tanpa bersuara. Baza mengalihkan pandangannya ke atas, di sana Ervan yang sedang menuruni anak tangga. Sepertinya Ervan tidak menyadari apa yang terjadi di sini. "Ervan!" teriak Baza. Ervan mengangkat kepalanya, dan seketika matanya melotot sempurna melihat Reva terduduk di bawah sana. Secepat mungkin Ervan berlari agar cepat sampai di dekat Reva. "Reva kenapa?" tanya Ervan menatap Baza . Baza menggeleng, dan Ervan semakin di buat panik melihat Reva yang seperti sangat syok saat ini. Membalik tubuh Reva agar menghadapnya, lalu memeluk tubuh itu erat. Menyalurkan kehangatan dan memberikan usapan lembut untuk menenangkannya. Dapat Ervan rasanya Reva terisak di pelukannya. Reva bahkan membalas pelukan Ervan tak kalah erat, menyiratkan sebuah ketakutan yang sangat besar. "Kamu kenapa?" tanya nya lembut. "Gue ambil air buat Reva." ucap Baza dan Ervan hanya mengangguk. Ervan melepas pelukannya namun Reva dengan cepat kembali memeluk erat tubuh Ervan. "Aku takut." cicit Reva dengan suara bergetar. "Takut kenapa, hm? Ayo cerita. Ada yang nakutin kamu tadi?" tanya Ervan sekali lagi. "Ini, Van." Baza datang membawa segelas air putih. "Makasih ya." ucap Ervan dan Baza hanya mengangguk. "Ini, kamu minum dulu biar tenang ya." bujuk Ervan perlahan melepaskan pelukannya. "Aku di sini kok, aku nggak ninggalin kamu. Jangan takut oke." ucap Ervan karena Reva sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Perlahan, Reva melepaskannya. Matanya memerah, air matanya masih terus terjatuh. "Ayo, di minum dulu." Ervan membantu Reva untuk meminum minumannya. "Udah? Sekarang bilang, kamu kenapa?" tanya Ervan menangkup kedua pipi Reva. Reva tidak menjawab, lalu kemudian isakan Reva terdengar. "Hiks.. aku takut, Van, hiks.." isaknya. Kedua tangannya menggenggam erat baju Ervan. Ini kali ke dua Ervan melihat keadaan Reva yang seperti ini. Ada apa lagi sekarang? Tidak ingin memaksa Reva untuk berbicara, Ervan kembali membawa Reva ke dalam pelukannya. Memberikan kecupan ringan di pucuk kepala di gadis. Matanya kemudian tertuju pada Baza yang berdiri di ambang pintu dengan sebuah kotak di tangannya. Baza memperlihatkan isi kotak tersebut pada Ervan yang saat itu juga membuat emosi Ervan naik total. Jadi ini alasan gadisnya seperti ini? Berani-beraninya mereka meneror Reva di rumahnya ini. "Tenang, ada aku di sini." ucap Ervan menenangkan. "b******k kau Zack!" teriaknya dalam hati. ***** "Sudah?" tanya seorang pria baya pada pemuda di depannya. "Sudah Tuan. Perintah Tuan sudah terlaksana." jawab pemuda itu. Sang tuan hanya mengangguk dan tersenyum senang. "Bagus. Pastikan kalau dia tidak akan tau siapa kau sebenarnya." ucap tuannya lagi. "Saya pastikan itu tidak akan terjadi, Tuan." jawabnya yakin. Si tuan hanya mengangguk-angguk kecil. "Ya itu memang seharusnya terjadi. Jika tidak maka nyawamu sebagai gantinya." ucapnya santai. ***** Ervan masih di dalam kamarnya, memeluk Reva yang tertidur di sampingnya. Reva sama sekali tidak mau menjauh dari Ervan. Karena adanya teror tadi tentunya. Reva bahkan baru berhenti menangis saat Ervan mengancam untuk pergi kalau Reva tidak berhenti menangis. Dan berakhir dengan Reva yang tertidur sambil memeluk erat tubuhnya. Ervan lega Reva bisa tidur dengan nyenyak sekarang, meski kadang sesekali dia tiba-tiba terbangun dan kembali ketakutan. "Aku di sini. Jangan takut." ucap Ervan lagi mengelus puncak kepala Reva lembut. Sedari tadi hanya itulah kata-kata penenang yang keluar dari mulut Ervan. "Zack. Kau benar-benar ingin main-main denganku." gumamnya marah. Mengharapkan Zack sadar akan kesalahannya memang hal yang mustahil. Lihatlah sekarang, dia yang bersalah, dia juga yang mengganggu ketenangan Ervan. "Jika saja aku tidak mengingat kata-kata ayahmu. Maka sudah kuhabisi kau detik ini juga." gumamnya lagi. Tangannya mengepal. Sungguh, dia emosi, sangat. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ada Reva di sampingnya, dia tidak boleh melampiaskannya sekarang. "Tenang ya. Ada aku di sini. Kamu jangan takut." ucapnya lagi. Dia marah pada kenyataan, dia marah pada nasibnya, dia marah pada semua yang terjadi padanya dan marah pada dirinya sendiri yang nyatanya tidak bisa berbuat apa-apa. Pertama, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ibunya memilih pergi dari rumah. Kedua, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat adiknya meregang nyawa di depan matanya. Oke, tinggalkan itu, karena saat itu dia sama sekali tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Tidak kekuatan apalagi kekuasaan. Tapi sekarang, saat dia sudah memiliki segalanya, dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk melindungi gadis yang sedang terlelap di sampingnya ini. Dia terlalu lemah dengan sebuah kenyataan. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu." ucap Ervan kemudian mencium kening Reva lama. "Jangan salahkan aku jika melukainya nanti. Putramu sendiri yang memulainya." gumam Ervan menatap lurus ke depan. Flashback on "Kenapa kau mengatakan rumah sakit ini tidak aman untukmu?" tanya Ervan lagi mendesak. "Karena kau, Dokter." jawabnya cepat. Ervan tidak memberikan ekspresi apa-apa dan tidak bereaksi apa-apa meski dia juga penasaran dengan ucapan pasiennya ini. Pasien itu mendudukkan dirinya dan Ervan membantunya. "Saya tau kalau kau mengetahui identitas saya sebenarnya." ucapnya lagi. Ervan mengangguk-angguk kecil. "Saya tidak terkejut dengan itu. Bukankah dari awal kita sudah saling mencurigai." ucap Ervan tenang. "Saya hanya mengikuti alur yang kau buat." lanjutnya. Menatap Ervan lama sampai akhirnya pasien itu kembali bersuara. "Berhentilah bermusuhan dengan putraku." ucapnya tiba-tiba membuat Ervan terdiam sejenak. Terkekeh kemudian, merasa lucu dengan permintaan si pasien. "Apa anakmu sudah mengakui kesalahannya?" tanya Ervan. Kini pasien itu yang terdiam. Dia tidak tau bagaimana cara untuk memberitahukannya pada Ervan. Kalaupun dia menceritakan dari awal, Ervan tidak akan percaya, dia sama sekali tidak punya bukti. "Katakan itu pada anakmu dulu baru kau pinta itu padaku." ucap Ervan dengan tampang datar. Lama tak terdengar suara, Ervan memilih berbalik dan melangkah untuk keluar dari ruangan itu. "Nak, dengarkan aku." pasien itu menggantung ucapannya, namun berhasil membuat Ervan menghentikan langkahnya. "Kalian memang tidak seharusnya menjadi musuh. Kalian berdua hanya saling salah paham, mengertilah. Musuh yang sebenarnya ada di belakang kalian. Percaya ucapan saya. Itu alasan saya mengatakan saya tidak aman karena kau. Bukan karena kau musuh putraku, tapi karena kalian masih belum tau siapa sebenarnya yang menjadi musuh kalian." ucapnya panjang lebar. Tidak ada yang bisa Ervan tangkap dari ucapan si pasien ini. Terlalu rumit untuk di mengerti. "Ada banyak yang menjadi korbannya, termasuk salah satunya adalah adikmu sendiri. Azira." lanjutnya berhasil membuat Erden memutar tubuhnya menghadap sang pasien. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN