Reva menatap sedih pada gadis cantik bernama Ara ini. Cerita Melin membuatnya benar-benar tersentuh sampai menitikkan air mata. Dan mengenai umur ternyata dia memang lebih tua di banding Reva.
"Trus cowoknya itu gimana, Kak?" tanya Reva lagi.
Mereka sedang duduk di bangku taman rumah sakit ini, menemani Ara yang sekarang sibuk dengan boneka yang Melin bawakan.
"Di hukum. Tapi ya gitu, nggak setimpal. Waktu itu cuma ada satu orang yang bisa bersaksi, yaitu Ara sendiri. Tapi kondisi Ara nggak memungkinkan buat jadi saksi. Jadinya cuma beberapa tahun penjara, udah bebas lagi." jelas Melin tersenyum sendu saat mengakhiri ucapannya.
Reva mengerti perasaan Melin. Terkadang hukum memang sangat kejam pada mereka yang tidak bersalah. Harus ada bukti yang benar-benar kuat untuk memberatkan si tersangka, jika tidak ya seperti ini jadinya. Tanpa memikirkan kondisi korbannya.
"Dia pernah jenguk Kak Ara?"
Melin mengangguk.
"Waktu itu pas awal-awal dia bebas. Dia bilang nyesel dan mau minta maaf sama Ara. Dia bilang mau bertanggung jawab. Kakak seneng banget waktu itu. Tapi nggak dengan Ara. Ara langsung ngamuk pas Ara liat dia. Semenjak itu, Ara depresi dan mau nggak mau Kakak harus bawa dia ke sini."
Reva beralih menatap Ara yang mengelus sayang boneka itu. Reva kembali ingin menangis rasanya. Nasib Ara memang tidak seberuntung dirinya, tapi Ara harus bangga memiliki kakak seperti Melin yang dengan sabar dan selalu tegar menjaga dan merawatnya. Mungkin kalau orang lain, dia akan meninggalkan Ara di rumah sakit ini begitu saja tanpa ingin repot merawatnya.
"Emangnya Kak Ara sempat__"
Reva menggantung ucapannya dan Melin hanya mengangguk singkat seakan mengerti kemana arah pertanyaan Reva.
"Yang bikin Kakak kecewa, ternyata dia gugurin kandungannya tanpa sepengetahuan Kakak. Itu yang bikin dia depresi. Mungkin dia nyesel dan marah sama dirinya sendiri sampai dia jadi kayak gini. Itu saat-saat terberat buat Kakak." lirih Melin menitikkan air matanya.
Reva dengan cepat mengusap punggung Melin dan memeluknya. Yang dia tau, pelukan adalah obat paling ampuh untuk membuat seseorang lebih tenang dan merasa nyaman.
Berhubungan tanpa ikatan memang awal dari segalanya, baik kebahagiaan ataupun kehancuran, itu sama saja. Apalagi hal yang paling umum yang di alami oleh Ara saat ini. Saat semuanya terjadi, berlanjut pada Tuhan yang memberi anugrah, maka akan timbul permintaan paling berat untuk di kabulkan oleh seorang laki-laki. Pertanggung jawaban.
Beruntung jika jawaban iya yang di terima, tapi Ara sebaliknya. Penolakan kasar membuat kondisinya semakin memburuk. Hukum yang diharapkan pun tidak sesuai dengan keinginan, hingga membuatnya mengambil jalan pintas dengan mengembalikan sang anugrah pada Yang Maha Kuasa.
"Jangan nangis Kak. Semuanya timbal balik. Ada yang buruk pasti ada juga yang baik. Kita tinggal tunggu kabar baiknya." ucap Reva menenangkan.
Melin melepas pelukannya dan tersenyum.
"Makasih ya, Dek." ucapnya tulus dan Reva hanya mengangguk sambil tersenyum.
Seakan baru teringat sesuatu, Reva kembali mengajukan pertanyaan.
"Kakak punya adek selain Kak Ara? Tadi Kak Ara manggil aku Adek." ucapnya mengingat kejadian tadi.
Melin cukup lama terdiam sebelum akhirnya mengangguk.
"Kata Papa, dia dan Mama kecelakaan waktu pulang dari sekolahnya." jawab Melin.
Seketika Reva merutuki mulutnya dan rasa keingintahuannya yang terlalu besar sampai membuat Melin kembali bersedih.
"Maaf Kak. Aku nggak tau." ucapnya merasa bersalah.
"Nggak apa-apa. Kakak udah bisa ikhlasin mereka kok." jawab Melin.
Reva tau itu hanya kata-kata agar membuatnya tidak merasa bersalah. Terlihat sekali perasaan sedih juga rindu di raut wajah Melin.
"Mungkin dia lagi kangen, jadinya manggil kamu adek." ucap Melin lagi.
Melin menatapnya dan tersenyum membuat Reva ikut tersenyum.
"Kakak 'kan udah angkat aku jadi adek. Otomatis Kak Ara juga kakak aku." ucap Reva membuat Melin kian tersenyum lebar.
Awalnya dia berpikir Reva tidak akan menerima adiknya. Sejauh ini hanya Reva dan teman-temannya termasuk Mbak Nisa dan Dokter Reza yang tau kondisi adiknya yang satu itu.
Namun berbeda dengan Reva, Ara masih tidak terbiasa dengan keberadaan teman-temannya itu jika berkunjung ke sini bersamanya. Lebih seringnya, Ara akan mengabaikan dan menunjukkan gelagat tidak suka atau tidak nyaman. Karena itu, dia agak ragu membawa Reva ke sini, takut jika Ara tidak suka dan akan mengamuk mengingat ini pertemuan pertama mereka.
Tapi ini benar-benar di luar dugaan. Ara bahkan memeluk Reva tadi. Sebuah keajaiban bukan?
"Ara kayaknya juga suka dan nyaman sama kamu." ucap Melin menatap Ara.
Reva mengangguk setuju. Sejauh ini Ara memang memberikan respon positif pada Reva, poin plus saat Ara memeluknya tadi. Hangat, dan menenangkan.
Reva berdiri dan berjongkok di depan Ara.
"Kak, besok Reva ke sini lagi. Boleh?" tanyanya.
Tanpa mengeluarkan suara, Ara memilih mengusap pelan rambut Reva dan tersenyum. Menurut Reva, itu jawaban yang lebih baik dari pada iya.
"Kakak mau di bawain apa besok?" tanya Reva lagi.
Reva hanya ingin Ara terbiasa saat orang mengajaknya berinteraksi. Dari yang dia baca, orang seperti Ara harus bisa di buat senyaman mungkin dan membuatnya agar banyak berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.
"Bunga." ucapnya pelan.
Reva tersenyum lebar mendengarnya. Suara Ara itu lembut dan enak di dengar, jadi sayang sekali jika harus terus di sembunyikan.
"Bunga ya? Kakak suka bunga apa?" tanyanya namun kali ini Ara tidak menjawabnya.
Ara hanya menatap wajah Reva dengan tangannya yang terus mengelus lembut kepala Reva.
"Cantik." ucapnya tiba-tiba membuat Reva sempat tertegun.
Reva beralih menatap Melin yang masih duduk memperhatikan mereka.
"Tulip putih." ucap Melin tanpa bersuara.
"Bunga Tulip, gimana? Tulip putih?" tanya Reva dan Ara hanya mengangguk mengiyakan.
"Oke. Tulip putih, besok Reva bawain yang banyak buat Kakak." ucapnya dan Ara hanya tersenyum.
Sekilas, Reva teringat akan mendiang ibunya. Ibunya juga sangat menyukai bunga tulip putih.
*****
Jam menunjukkan pukul 19.10, dan Reva baru sampai di kediaman mewah Ervan. Ini karena Ara menahannya tadi. Jadilah Reva harus menunggu Ara untuk tidur lebih dulu baru dia bisa pulang. Dia senang tentu saja, begitupun Melin.
"Ah, kamu baru pulang?" itu Baza yang berjalan dari arah dapur membawa segelas jus jeruk, sepertinya.
"Iya. Ada urusan yang nggak bisa di tinggal tadi." ucapnya dan Baza hanya mengangguk.
"Ervan belum pulang?" lanjutnya bertanya.
Dia tidak melihat dokter tampan itu omong-omong.
"Belum. Dia bilang ada operasi. Harusnya jam delapan nanti udah pulang." ucap Baza melihat jam di pergelangan tangannya.
Reva mengangguk kecil. Berarti masih ada waktu untuknya memasak makan malam. Ervan sempat memintanya memasak 'kan? Dia hampir saja melupakan itu.
"Kalau gitu aku ke atas dulu. Gerah." ucapnya dan Baza hanya mengacungkan ibu jarinya dan mengangguk pelan.
Reva berlalu dari sana menuju kamarnya. Mengingat waktunya yang hanya tinggal sedikit, jadi Reva hanya mandi sebentar. Inginnya dia berendam karena tubuhnya terasa sangat lelah, tapi itu akan menghabiskan banyak waktu.
Jadi tak sampai 20 menit, Reva sudah siap dengan pakaian santainya dan langsung ke bawah, menuju dapur untuk memasak makan malam.
Agak bingung ingin memasak apa, kemudian Reva memutuskan untuk memasak sup ayam dan tumis kembang kol. Dari yang Reva lihat, dokter tampan itu tidak terlalu suka memakan makanan yang terlalu banyak minyak, begitupun Baza. Jadi dia pikir ini sudah cukup.
"Ervan nyuruh kamu masak?" tanya Baza tiba-tiba.
Sempat terkejut karena kedatangan Baza. Pria satu itu memang suka membuatnya jantungan.
"Iya. Tapi biasanya juga aku yang masak 'kan." ucap Reva masih fokus pada masakannya.
Baza mengangguk setuju. Mengambil apel di meja makan dan memakannya.
"Kayaknya kalian ada hubungan spesial ya?" tanya Baza lagi.
Kali ini pertanyaan itu berhasil membuat Reva menatapnya dengan tatapan 'What?' pertanyaan apa itu?
"Yaa, aku liatnya sih gitu. Kalian aja yang nggak nyadar." ucapnya santai.
Reva terdiam sejenak. Memangnya iya? Reva rasa, tidak. Baza saja yang menanggapinya berlebihan.
"Nggak tuh, biasa aja." jawab Reva.
"Ervan juga kayaknya emang suka sama kamu." ucap Baza lagi.
"Kamu pengen aku jadiin sup juga ya?" ucap Reva menodongkan sendok sayur yang dia pegang pada Baza.
Baza terkekeh dan mengangkat kedua tangannya.
"Oke oke. Nggak lagi." ucapnya.
Lama mereka terdiam sampai Reva kembali bersuara.
"Aku bingung. Ervan kalau di luar rumah bicaranya formal, tapi di sini nggak. Bisa gitu ya?" tanyanya.
Itu bukan pertanyaan sebenarnya. Hanya rasa penasarannya sejak lama.
"Azira, adiknya pernah bilang, kalau papanya suka bicara formal sama mamanya di rumah. Azira nggak suka, dia bilang papanya kayak orang asing di rumahnya sendiri. Jadi Ervan nggak mau pake bahasa formal kalau di rumah." jelas Baza.
Reva mengangguk tanda mengerti.
Dari yang Reva lihat, Baza tau banyak tentang keluarga Ervan. Atau mungkin tidak ada yang tidak Baza ketahui dari Ervan.
"Ngomong soal Azira, aku mirip banget sama Azira?" tanya Reva lagi.
Baza mengangguk.
"Aku aja awalnya ngira kamu itu Azira, tapi itu nggak mungkin. Kamu pernah liat foto Azira nggak?" tanya Baza dan Reva menggeleng.
Reva saja baru sadar kalau di rumah Ervan ini tidak ada satupun foto, entah itu foto Azira, foto keluarga maupun foto Ervan sendiri.
Meletakkan masakannya di atas meja makan dan melepas apron yang dia pakai.
"Aku punya fotonya. Bentar." Baza mengeluarkan ponselnya, mencari sebentar foto Azira lalu menunjukkannya pada Reva.
Benar. Ternyata dia sangat mirip dengan adik Ervan yang bernama Azira ini. Orang lain akan menganggap mereka kembar kalau berjalan beriringan. Hanya saja Azira jauh lebih muda dari dirinya. Mungkin 5 atau 6 tahun di bawahnya.
"Pantesan Ervan sampai salah orang." ucap Reva mengomentari.
"Tapi kenapa fotonya nggak di pajang di rumah ini? Foto Ervan juga nggak ada di sini." ucap Reva lagi.
"Dulu ada, tapi Ervan nggak bisa ngontrol diri kalau liat foto Azira. Jadi aku nyaranin buat nggak majang foto Azira. Kalau foto dia pribadi, itu emang dia yang nggak mau." jawab Baza menjelaskan.
Reva membulatkan mulutnya dan mengangguk pelan.
"Emangnya yang bikin Azira meninggal__apa?" tanya Reva pelan. Dia penasaran, tapi tidak ingin menyinggung Baza juga.
Baza menatapnya lalu tersenyum.
"Kalau kamu penasaran, kamu bisa tanya sendiri sama Ervan nanti. Aku ngerasa lancang kalau ceritain yang itu." jawab Baza dan Reva mengangguk memaklumi. Ini masalah privasi, Reva tidak bisa memaksa.
"Aku masih ada pertanyaan lagi." ucap Reva.
"Nanya aja. Aku jawab kalau aku bisa jawab."
"Sebenarnya ini pertanyaan aku dari awal. Sebenarnya Ervan itu siapa?" tanyanya membuat Baza terdiam.
Apa Reva menyadari sesuatu dari Ervan? Pikirnya.
"Ngapain kalian di sana?" tanya seseorang di ruang tengah
Keduanya menoleh dan menemukan Ervan yang berdiri di sana.
Mereka sampai tidak menyadari Ervan pulang.
*****