Baik Devin maupun Ervan, kedua pemuda berwajah dewa itu sama-sama bingung di balik ekspresi datarnya. Sama-sama memiliki pertanyaan, sedang apa dia di sini?
"Ah, Direktur Devin. Senang bertemu dengan Anda di sini." ucap Papa Haris ramah berjabat tangan dengan Devin.
"Senang bertemu dengan Anda juga Tuan." balas Devin tak kalah ramah.
Menoleh pada Ervan sebentar dan kembali menatap Papa Haris.
"Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Devin membuat kening Papa Haris mengerut sebentar sebelum tersenyum.
"Ah itu, saya hampir melupakannya. Saya mengundang Anda untuk makan siang bersama. Saya juga mengundang direktur lainnya." jelas Papa Haris.
Di sana Ervan hanya diam. Dia akan bicara jika merasa perlu untuk angkat suara.
"Begitu ya." Devin mengangguk pelan.
"Mari, ikut saya. Sebentar lagi makan siang, mungkin yang lain sudah menunggu." ucap Papa Haris lagi dan Devin mengangguk sambil tersenyum.
Ervan hanya mengikuti ke mana sang papa membawanya. Ingin bertanya, tapi terlalu malas. Dia sangat penasaran kenapa Devin ada di sini dan mengenal papanya? Apa mereka mempunyai hubungan bisnis? Mungkin iya mungkin tidak.
Sampai di sebuah ruangan yang Ervan tebak adalah ruangan untuk para tamu, mereka masuk ke dalam.
Benar, di sana sudah banyak para pengusaha yang pastinya menjabat sebagai direktur duduk rapi di kursi yang telah di sediakan.
Beberapa di antaranya ada yang Ervan kenal karena sudah bekerja sama dengan papanya sejak lama.
Rata-rata memang mereka semua bekerja di perusahaan yang sahamnya sebagian besar berasal dari perusahaan papanya.
"Kuberi waktu 10 menit untuk mencari informasi dari mereka semua." ucap Ervan pelan.
Ada 12 orang.
Terdengar kata siap di telinganya setelah memberi perintah.
"Mari duduk." Papa Haris mempersilahkan Devin untuk duduk.
Papa Haris duduk di ujung meja, dan Ervan duduk di sebelah kanan dan di depan Ervan, Devin duduk di sana.
Saling berhadapan membuat mereka lebih mudah untuk melempar tatapan tajam nan mematikan.
Sebagai formalitas, berbasa basi terlebih dahulu sebelum benar-benar pada acara inti. Namun berbeda dengan Devin dan Ervan, mereka masih sibuk saling menatap tajam seakan mereka sekarang sedang bertelepati melempar kata-kata yang menusuk.
Hingga tanpa mereka sadari beberapa orang pramusaji datang membawa makanan untuk makan siang mereka. Ada banyak macamnya, dari makanan pembuka sampai penutup, minumannya juga bervariasi.
"Silahkan semuanya di nikmati hidangannya." ucap Papa Haris mempersilahkan.
Mereka menuruti, makan dengan tenang tanpa ada suara lain selain dentingan sendok dan garpu.
Dengan mengedepankan kata imej, mereka telah selesai makan dalam beberapa menit. Semua hidangan hanya di makan sedikit lalu selesai. Tak ada ubahnya dengan cara makan seorang wanita. Ervan tidak akan kenyang hanya dengan ini.
"Saya pikir ada yang ingin Anda bicarakan Tuan Haris. Tiba-tiba sekali mengundang kami semua." ucap salah satu dari mereka di angguki yang lainnya.
Papa Haris terkekeh pelan. Dia memang jarang mengadakan pertemuan santai seperti ini, kalaupun ada pasti ada maksud tertentu di baliknya.
"Memang ada yang ingin saya sampaikan di sini." jawab Papa Haris dengan nada serius.
"Saya merasa saya tidak eksis lagi dengan pekerjaan saya. Saya sudah tua, kalian pasti tau itu. Dan di sini saya hanya ingin memberitahu, kalau sebentar lagi putra saya akan menggantikan posisi saya di sini." ucap nya menatap Ervan di akhir kalimatnya.
Ervan sedikit terkejut tentunya. Ini bukan alasannya datang ke perusahaan ini. Dia masih belum memikirkan kalau dia akan menjadi pengusaha.
"Pa__"
"Oleh karena itu, kalian saya kumpulkan di sini untuk memberitahu ini. Menurut saya ini sangat penting bagi kalian, karena dia yang akan meneruskan kerja sama kita semua." lanjut Papa Haris mengacuhkan Ervan yang ingin berbicara padanya.
Banyak yang berbisik mengenai ini. Tentu, mereka belum tau siapa yang akan menjadi penerusnya. Wajahnya saja mereka tidak tau. Bahkan sang CEO tidak pernah memperkenalkan siapapun kepada mereka yang menjabat sebagai putranya.
"Kalian semua pasti bingung karena ini terlalu tiba-tiba, tapi ini keputusan saya, suka tidak suka kalian harus menerimanya." ucap Papa Haris.
Ya, mereka tau itu. Perintah atasan adalah sesuatu yang mutlak.
"Dan perkenalan anak saya__"
Papa Haris menjeda ucapannya lalu menatap Ervan kemudian tersenyum.
"Dia ada di sana, Ervan. Ervan Manuel Dinanta, putra saya satu-satunya. Dia yang akan menjadi penerus saya." ucap Papa Haris menunjuk Ervan.
Semua tatapan kini mengarah padanya, termasuk Devin yang sangat sangat terkejut akan kenyataan barusan. Kenapa dia tidak pernah tau kalau Ervan adalah seorang Dinanta?
"Berdirilah Nak. Sapa mereka." ucapnya.
Inginnya Ervan segera pergi dan mengatakan kalau dia menolak ini semua, tapi dia masih memikirkan nama baik yang di bangun sang papa selama bertahun-tahun lamanya. Dia berdiri dan menatap mereka yang hadir di sana satu persatu dengan tatapan datar, sampai tatapannya terhenti pada pemuda di depannya.
"Saya Ervan Manuel Dinanta. Senang mengenal kalian semua." ucapnya dengan suara bariton khas miliknya.
Matanya bahkan tidak pernah lepas dari Devin, kemudian tersenyum miring. Seolah sedang mengejek direktur muda itu.
*****
Tepat saat jam pulang kantor, ponsel Reva berdering.
Mengambil ponsel dan nama Dokter Es yang tertera di sana.
Keningnya berkerut, bukankah tadi Melin bilang sudah meminta izin pada Ervan? Lalu kenapa dokter itu masih menelfonnya sekarang?
"Kak, sebentar." ucap Reva menggoyangkan ponselnya pada Melin dan Melin hanya mengangguk.
"Siapa?" itu Celin yang bertanya pada Melin.
Melin menoleh dan tersenyum gemas.
"Si Aheng." jawab Melin singkat dan Celin langsung membulatkan mulutnya mengerti.
"Halo, ada apa nelfon?" tanya Reva langsung.
"Aku nggak boleh nelfon kamu?" tanya Ervan di seberang sana.
"Bukan gitu, Kak Melin udah minta izin sama kamu 'kan?" Reva bertanya lagi.
"Iya, udah." jawab Ervan.
"Ya, trus?"
"Nggak apa-apa, cuma mau nelfon aja." ucap Ervan lagi.
Reva melihat layar ponselnya dan mengernyit heran. Dokter tampan yang satu ini kenapa? Apa dia sedang minum?
"Nggak usah kayak gitu ekspresinya. Kamu mau aku jemput sekarang ya? Gemesin banget." ucap Ervan lagi mengecilkan volume suaranya di akhir kalimatnya.
Namun Reva masih mendengarnya dengan jelas.
Reva menatap cctv yang menyorot ke arahnya.
"Kamu__"
"Aku banyak kerjaan. Langsung pulang nanti, masakin aku makan malam." ucap Ervan cepat lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Reva berdecak kesal. Kenapa Ervan harus memantaunya seperti ini? Dan apa-apaan itu tadi, menggemaskan katanya? Argh! Sial! Reva jadi merona!
"Tuh 'kan, tambah gemesin sekarang." gumam Ervan yang melihat Reva di layar laptopnya.
"Aduh, udah di izinin masih aja nelfon. Nggak bisa banget nahan kangen." ucap Celin setelah Reva selesai.
"Apa sih Kak. Nggak usah ngaur deh." balas Reva mengambil tasnya di atas meja.
"Kak, ayo."
"Pamit sama Mbak Nisa dulu sana." ucap Melin dan Reva hanya mengangguk patuh.
"Gila. Berasa punya adek beneran gue. Pantesan abang-abang gue sering jailin gue, ternyata seru." kekeh Celin membuat Melin ikut terkekeh.
"Apalagi gue yang anak tunggal. Dapetnya adek cewek lagi. Kayak gue punya tanggung jawab lebih gitu." timpal Gunta menatap Reva yang baru keluar dari ruangan Mbak Nisa.
Mbak Nisa memang lembur hari ini.
"Ayo, Kak. Katanya hati-hati di jalan." ucap Reva menyampaikan ucapan Mbak Nisa.
"Iya, ayo."
Melin dan Reva berjalan di depan sedangkan Gunta dan Celin di belakang. Mereka juga mau pulang omong-omong.
"Kita pergi dulu ya." ucap Melin pada keduanya dan mereka hanya mengangguk.
"Titip salam." ucap Gunta dan Melin hanya tersenyum.
"Sama siapa Bang?" tanya Reva bingung.
"Sama pacar kamu." bukan Gunta, tapi Celin yang menjawabnya membuat Reva kembali cemberut.
"Udah ah, ayo Kak." Reva langsung masuk ke dalam mobil dengan keadaan kesal.
"Lah ngambek dia." kekeh Celin.
"Ya udah, kita pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
Melin masuk ke dalam dan melajukan kendaraannya menuju tempat yang dia maksud.
"Emang kita mau kemana Kak?" tanya Reva penasaran.
Melin belum memberitahukan ke mana tujuan mereka saat ini.
"Ada aja. Kamu juga tau nanti." jawab Melin melempar senyum.
Tidak ingin memikirkan ataupun bertanya lebih jauh, Reva hanya mengangguk dan membahas hal lainnya dengan Melin.
Tidak sampai 30 menit perjalanan, mereka sudah sampai di tempat tujuan yang membuat Reva cukup terkejut.
"Kita__ngapain ke sini Kak?" tanya Reva lagi.
Dan jawaban Melin tetap sama.
"Udah, ayo masuk." ajaknya.
Dengan ragu, Reva turun dari mobil dan berjalan di sisi kanan Melin.
Mulai dari parkiran tadi tepatnya, orang-orang yang kurang beruntung itu sudah berkeliaran di mana-mana. Ada yang di awasi perawat, ada yang bersama keluarga, ada yang berjalan sendiri. Sepertinya sudah mulai sembuh.
Masuk lebih dalam, di sepanjang koridor, mereka juga ada di sana. Bermain boneka, menarik-narik perawat yang menjaganya, dan ada yang sedang makan juga ternyata, di suapi, tentunya. Kebanyakannya wanita. Reva menebak, ada yang masih SMA, ada yang seumuran dengannya, ada yang mungkin seumuran ibunya. Reva menyayangngkan semuanya.
Masih muda. Tuturnya dalam hati.
Semoga saja Reva tidak sampai menjadi seperti mereka.
"Mereka ada yang kenal Kakak?" tanya Reva pelan.
Di depan mereka ada seorang perawat yang menunjukkan sebuah jalan. Tadi Melin sempat melapor sebentar.
Melin mengangguk. Dari yang Reva lihat, tampaknya Melin cukup sering berkunjung ke tempat ini.
"Rata-rata semuanya masalah ekonomi, masalah cinta sama narkoba." ucap Melin dan Reva hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
Ini sebabnya ibunya dulu melarangnya berpacaran ketika masih sekolah.
"Kalau kamu ada masalah jangan di pendam ya, ntar kayak mereka, jadi stres trus depresi. Kamu mau?" Reva dengan cepat menggeleng. Tentu dia tidak mau, mereka yang ada di sini juga pasti tidak ingin ini terjadi pada mereka.
"Dia baru saja makan. Tapi tidak mau minum obat, katanya menunggu kakaknya." ucap perawat itu menunjuk seorang gadis di dalam sana.
Reva mengintip, gadis itu tampak masih cantik dengan wajah pucat dan tubuh kurusnya. Penampilannya cukup rapi dan bersih dari yang lainnya.
"Terimakasih sudah menjaganya, Suster." ucap Melin dan perawat itu hanya tersenyum lalu pergi dari sana.
"Ayo masuk." ajak Melin.
"Tapi Kak__"
"Nggak apa-apa, ayo masuk." Melin menarik lembut tangan Reva untuk mengikutinya masuk ke dalam.
Melin menutup pintu terlebih dahulu baru berjalan ke sisi ranjang yang di duduki gadis tersebut.
Tampaknya dia belum menyadari keberadaan mereka.
"Dek," panggil Melin lembut menyentuh punggung tangan gadis itu.
Reva sempat tertegun mendengarnya. Melin mempunyai seorang adik?
"K-ak.." gadis itu berbicara dengan terbata.
"Iya, ini Kakak. Katanya kamu nggak mau minum obat ya? Kenapa? Ara nggak mau sembuh?" tanya Melin lembut.
Gadis yang di panggil Ara itu hanya diam menatap Melin dengan tatapan kosong, seperti biasa.
Mengambil obat yang ada di atas nakas lalu menyodorkannya pada Ara.
"Minum obat ya. Nanti kita main, oke?" Ara hanya mengangguk pelan dan menerima obat yang Melin berikan padanya.
Ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar. Sebelum ini, Ara akan terus mengamuk jika bukan Melin yang ada di dekatnya. Sedangkan Melin saat itu harus bekerja untuk membiayai adiknya ini.
Selesai minum obat, Ara mengedarkan pandangannya dan menemukan Reva yang masih berdiri di belakangnya.
Wajah baru bagi Ara.
Perkiraan Melin, Ara akan panik dan kembali mengamuk karena begitulah biasanya. Di rumah sakit ini saja hanya ada dua suster yang Ara perbolehkan masuk ke dalam.
Namun salah. Ara tetap diam sampai sesaat kemudian ada senyum tipis, sangat tipis muncul di bibir sang adik.
Memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Reva, lalu mengangkat tangannya membuat gestur ingin memeluk.
Melin semakin tertegun. Lagi, sebuah kemajuan yang sangat besar dan begitu cepat.
Reva lebih dulu menoleh pada Melin, dan Melin hanya tersenyum sambil menitikkan air mata.
Reva tidak mengerti kenapa Melin menangis, tapi tetap berjalan mendekat dan duduk di samping Ara.
Ara mendekat dan langsung memeluk Reva membuat tangis Melin semakin menjadi.
"Adek.." gumam Ara pelan di pelukan Reva.
*****