Rutinitas Baru

1686 Kata
Mengerjap pelan, gadis itu akhirnya membuka matanya. Melirik sekitar, kamarnya tampak berubah, pikirnya. Dia juga mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. "Ooh, Kak Melin." gumamnya mengangguk pelan. Mendudukkan diri, kembali melirik sana sini sambil sesekali menguap. Di detik berikutnya, kesadarannya mulai meningkat. Ini bukan hanya berubah, tapi ini benar-benar bukan kamarnya. Kamarnya tidak berwarna putih, tidak ada lemari berwarna hitam, di meja rias juga sudah tidak ada alat-alat make up-nya. Lalu, apa ini? Di tempat tidur juga tidak ada boneka kesayangannya. Tunggu, kenapa ini terlihat seperti kamar__Ervan! Seketika matanya membola, kenapa dia ada di sini? Apa yang dia lakukan? Dan siapa yang membawanya ke sini? Seingatnya, malam tadi dia bersantai di sofa ruang tamu menanti___Ervan pulang. Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, membuat Reva menoleh ke asal suara. "Aaaa!!" teriak Reva menutup wajahnya dengan selimut. Ervan terkejut, dia pikir Reva masih tidur. "Ervan m***m! Pakai baju kamu!" teriak Reva di dalam selimut. Ervan menatap tubuhnya, hanya ada handuk putih yang menutupi pinggang hingga lututnya. Mengangkat sebelah alisnya, apa harus seperti ini reaksi gadis itu saat melihat enam balok kecil di perutnya? Ervan menyeringai. Terlintas ide jahil di otaknya. "Kenapa? Kamu malu?" tanya Ervan berjalan mendekat. Apakah Ervan benar-benar harus menanyakan itu di saat seperti ini? "Ervan g****k! Kenapa pake nanya!" teriak Reva kesal. Dirinya masih bersembunyi di balik selimut tebal itu. Seluruh tubuhnya sudah terbungkus apik di dalam sana. Dia sangat takut jika Ervan berbuat yang tidak-tidak padanya. Keadaannya sangat terancam sekarang, tapi tubuhnya kaku. Otaknya hanya berpikir bahwa bersembunyi di balik selimut ini adalah tempat yang paling aman. Dan tentu saja tidak. Tingkat kepanikannya meningkat saat Reva merasakan beban di sisi ranjang bertambah, di duduki seseorang. "Kenapa malu sih? Biasa aja lagi. Buka selimutnya." Ervan berucap padanya. Reva bisa merasakan kalau jarak mereka sangat dekat saat ini. Reva bersumpah dia benar-benar akan menendang titik terlemah Ervan jika berani macam-macam padanya. Ervan memegang tangan Reva yang memegang erat selimut tebal miliknya. "Aku bilang buka selimutnya. Kamu kenapa sih?" tanya Ervan masih dengan senyum jahilnya. "Kamu jangan macam-macam ya Ervan! Pertama pakai dulu baju kamu!" lagi Reva berteriak padahal jarak mereka sangat dekat. Ervan ingin tertawa saja, tapi dia menahannya. Tidak seru jika hanya mengerjai gadis ini sebentar. "Macam-macam? Maksud kamu gimana? Atau jangan-jangan kamu mau aku__" "Ervan m***m! m***m! m***m!" Reva meracau tidak ingin mendengar kelanjutan kata-kata Ervan. "Buka selimutnya Reva. Atau mau aku yang tarik selimutnya?" tawar Ervan membuat Reva semakin erat memegang selimutnya. Ervan mulai menarik selimutnya dan Reva terus mempertahankannya. Lama saling menarik hingga akhirnya selimut itu terlepas. "Aaaa!! Kak Melin!" teriaknya menggema di dalam kamar Ervan yang kedap suara itu. Kedua matanya masih tertutup rapat dengan kedua pipi yang sudah memerah menahan malu dan juga kesal. "Ayo buka matanya. Kamu nggak penasaran ya sama__" "Aaa!! m***m! Dasar m***m!" teriak Reva memukul dan menendang sekitarnya berharap dapat menendang ataupun memukul Ervan. Ervan tertawa kecil melihatnya. Reva sangat lucu saat ini, dia bersumpah untuk itu. Dengan cepat Ervan menahan kedua tangan Reva membuat Reva berhenti dengan nafas yang terengah. Matanya kian kuat menutup. Sungguh, dia ketakutan sekarang. Tangan dan tubuhnya bahkan sudah bergetar karena takut. Baiklah, Ervan mulai kasihan melihatnya. Apa dia keterlaluan? Reva tampak akan menangis sebentar lagi. "Hey, tenang. Aku gak bakal apa-apain kamu. Makanya buka matanya. Liat aku sini." ucap Ervan lembut masih menggenggam kedua tangan Reva. Reva masih takut, kepalanya menunduk dalam dan mulai terdengar isakan di sana. Oke, Ervan sadar dia keterlaluan sekarang. "Aku bersumpah gak akan macam-macam sama kamu. Aku janji. Sini liat aku makanya." Ervan mengangkat dagu Reva. Sedikit lama menunggu hingga akhirnya pelan-pelan Reva membuka matanya hingga terbuka sepenuhnya. Di depannya, Ervan tersenyum. Dokter tampan itu tidak lagi memakai handuk. Hanya ada kaos putih polos lengan pendek dan celana pendek selutut. Bugh! Pukulan itu melayang tepat di d**a kiri sang dokter. Reva kesal, tentu. Dia di kerjai sampai menangis dan dokter di depannya ini hanya tertawa melihatnya. Jahat sekali. "Kamu jahat banget sih!" teriak Reva kemudian kembali melayangkan pukulan yang lebih brutal sekarang. Ervan masih tertawa, ekspresi kesal Reva adalah yang terbaik dari apapun. Sangat baik untuk membangkitkan semangatnya di pagi hari. Ervan menangkap kedua tangan Reva dan segera membawa Reva ke dalam pelukannya. Gadis itu kembali ingin menangis, mungkin karena kesal. "Sstt.. sorry. Tadikan aku udah bilang nggak usah malu. Salah sendiri kenapa nggak mau liat." ucap Ervan kembali mendapat pukulan di punggungnya. Sempat-sempatnya Ervan membela diri di saat seperti ini. Ervan hanya tertawa kecil. Reva benar-benar menangis hanya karena di kerjai? Yang benar saja. "Udah, jangan nangis lagi, hm?" Ervan mengelus lembut kepala Reva dengan sesekali mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepala gadis itu. Ah, sepertinya ini akan menjadi rutinitasnya nanti. Hmm, baiklah. Awali pagi dengan ke-uwuan pasangan muda tanpa status ini. ***** Wajah Reva total memerah. Baik sedang bekerja maupun sekarang saat sedang makan siang pun, Melin dan yang lainnya terus menggodanya perkara Melin yang tadi menceritakan apa yang dia lihat malam tadi. Reva sangat malu. Sungguh. Reva ingin pulang saja rasanya terus di goda seperti ini. Dia jadi tidak fokus bekerja. Apalagi saat Melin dengan gamblangnya mengatakan kalau dia tidur di kamar Ervan tadi malam. Walaupun itu memang benar adanya, tapi kenapa Melin harus menceritakan itu juga? Reva tidak tau lagi bagaimana raut wajahnya saat ini. Yang dia rasakan hanyalah panas sampai menjalar ke telinganya. Beruntung Melin tidak tau perkara tadi pagi. Kalau Melin sampai tau, bisa habis Reva. "Kak, nggak usah bahas itu deh. Aku mau makan ini." ucap Reva memelas. Mereka hanya tertawa. Lucu sekali melihat wajah memerah Reva karena malu. "Udah udah. Kasian Reva. Lanjut makan aja." lerai Mbak Nisa akhirnya menyelamatkan Reva setelah tadi ikut bergabung menggoda adiknya yang satu itu. "Tapi Rev, kamu emang tinggal di sana? Maksudnya kenapa gak sama Melin atau Mbak Nisa aja?" tanya Gunta. "Tanya mereka aja. Mereka yang bilang kalau aku lebih aman sama si Ervan itu." ketus Reva. Gunta beralih menatap Melin dan Mbak Nisa. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum. Gunta mungkin sangat penasaran, tapi dia sadar ini mungkin bersifat privasi. Jadi dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. "Rev, nanti pulang, ikut Kakak sebentar ya." ucap Melin setelah menghabiskan makan siangnya. "Kemana Kak?" tanya Reva menyeruput jus lemon miliknya. "Ada nanti. Mau 'kan?" Melin memastikan. Reva tampak ragu. Bukan apa-apa tapi apa Ervan mengizinkannya? Dia harus meminta izin bukan? Dia sekarang tinggal di rumah dokter muda itu, dan dia merasa kalau Ervan perlu tau kemana dia pergi agar dokter muda itu tidak melapor pada polisi dengan kasus orang hilang. "Soal Ervan nggak usah pusing. Kakak udah bilang sama dia." ucap Melin mengerti keraguan Reva. Mendengarnya Reva lantas tersenyum. Kalau begitu tidak perlu lagi mengkhawatirkan apa-apa. Reva mengangguk semangat. "Ya udah nanti aku ikut Kakak." ucapnya. "Ciee, jadi kemana-mana harus dapet izin dulu nih?" Celin memainkan alisnya menggoda Reva dengan senyum jahilnya. Reva kembali mencebik kesal. "Apa sih Kak." ketusnya cemberut membuat mereka kembali tertawa karena gemas. ***** Tadi pagi saat Reva bertanya apa dia tidak pergi ke rumah sakit, Ervan menjawab tidak. Karena memang dia tidak akan ke rumah sakit hari ini. Percakapannya dengan Zaki ketika di rooftop terus terngiang di kepalanya. Jadi hari ini dia memutuskan untuk mengunjungi perusahaan besar yang telah di bangun papanya. Atas perintah sang papa tentunya. Sebenarnya sudah bertahun-tahun lamanya sang papa menyuruh, tapi baru kali ini Ervan datang menyanggupi perintah orang tuanya itu. Berpenampilan bak seorang CEO, Ervan masuk ke dalam dengan langkah tegas dan berwibawa. Auranya benar-benar memancarkan seorang pengusaha muda yang sukses, apalagi wajah tampan bak dewa itu menjadi nilai plus baginya. "Tuan Muda. Silahkan masuk." salah satu bodyguard di sana menggiringnya masuk ke dalam ruangan papanya. Keamanan yang cukup ketat, komentar Ervan dalam hati. Ada cctv di mana-mana, rungan kedap suara, jendela anti peluru, dan banyak bodyguard berbadan besar di sepanjang jalan menuju ruangan papanya ini. "Kamu sudah datang. Papa senang kamu akhirnya mau datang ke sini." ucap Papa Haris tersenyum senang. Putranya ini memang sangat pantas menjadi pengusaha, menggantikan posisinya, tentu saja. Aura pemimpinnya bahkan lebih pekat daripada dirinya sendiri. Papa Haris berjalan mendekat dan memeluk singkat Ervan yang di tanggapi dingin oleh sang anak. "Ayo sini. Kita duduk di sofa aja." ucap Papa Haris berjalan lebih dulu menuju sofa di depan sana. Papa Haris terlebih dahulu menyuruh bodyguardnya untuk membuatkan minuman untuk mereka berdua. "Gimana perjalanan ke sini? Kamu nggak nyasar 'kan?" tanya Papa Haris sedikit bergurau. Dan kembali di tanggapi dingin oleh Ervan. Itu bukan termasuk kategori basa-basi yang cocok untuk orang sepertinya. "Gimana suasana kantor Papa? Menurut kamu ada yang perlu di ubah?" Papa Haris tidak menyerah untuk berbicara dengan anaknya ini. Kesempatan yang sangat langka baginya dapat mengobrol santai dengan putranya itu. "Nggak. Semuanya bagus." jawab Ervan singkat. Harus terpotong saat sang bodyguard masuk membawa dua cangkir kopi dan meletakkannya di depan bos besar beserta anaknya. "Kamu belum mutusin buat gantiin Papa di perusahaan ini?" tanya Papa Haris membuat Ervan menatapnya. Gelengan tegas Ervan dapat menjawab semuanya. Papa Haris mencoba untuk mengerti dan hanya tersenyum menanggapinya. "Ayo, Papa akan kenalkan kamu ke semua karyawan. Sekalian Papa mau tunjukin bagaimana bentuk kantor ini." ucap Papa Haris lagi dan kali ini Ervan hanya mengangguk tanpa ingin menolak. Dia hanya ingin urusannya di sini cepat selesai. Seperti ucapan papanya tadi, pria paruh baya itu benar-benar memperkenalkan dirinya pada seluruh karyawan yang ada di sana. Berjalan dari divisi satu ke divisi lain, melihat kinerja semua karyawannya, menjelaskan apa saja yang ada di sana, sistem kerjanya, semuanya. Sampai Ervan pusing sendiri mengingatnya. Ervan sebenarnya tidak banyak bersuara, lebih banyak diam, mengangguk, mengucapkan namanya dan kata 'Ya'. Meski begitu, dia tetap memperhatikan semuanya. Dia tau gelagat semua karyawan papanya. Tidak semua orang dapat bekerja dengan jujur bukan? Walaupun dia terkesan dingin dan tidak menyukai sang papa, tapi dia juga tidak mau papanya mendapat penghianatan. "Kamu suka?" tanya Papa Haris setelah puas memperlihatkan seisi kantornya pada putra satu-satunya itu. "Aku lebih menyukai ruang operasi." jawab Ervan membuat Papa Haris terkekeh pelan. "Kamu hanya belum terbiasa." ucap papanya lagi. Ingin kembali bersuara, namun lebih dulu di intruksi oleh sebuah suara di belakang mereka. Ervan dan papanya berbalik menatap siapa yang memanggil mereka. Alis Ervan terangkat dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Devin?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN