Not Now

1569 Kata
Melin dan Baza langsung tersadar dan memasang raut setenang mungkin. "Mana mungkin. Baru juga ketemu sekarang." jawab Melin kembali duduk tenang di sofa. Ervan beralih menatap Baza dan Baza memalingkan wajahnya dan ikut duduk di sofa seberang Melin. "Oo, gitu." jawab Ervan mengangguk kecil beberapa kali. Keadaan menjadi canggung, tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing. "Nah, ayo di minum." ucap Reva membuat Melin sedikit terkejut. Dia tidak menyadari kehadiran Reva. Reva kemudian mengambil posisi di samping Melin. "Aku seneng Kakak ke sini." ucap Reva tersenyum senang menatap Melin. Bisa dilihat pancaran kebahagiaan di matanya. Ervan tersenyum tipis melihatnya. Ternyata mudah membuat Reva tersenyum. Tangan Melin terulur mengusap rambut panjang Reva sambil tersenyum. "Kakak juga seneng liat kamu baik-baik aja di sini." ucapnya. "Kakak nginep di sini ya?" ucap Reva meminta. Bukankah dia semakin terlihat seperti tuan rumah? Tapi, Ervan tidak mempermasalahkannya. Tak menjawab apa-apa, tatapannya teralihkan pada Ervan, selaku pemilik rumah. Meminta izin lewat tatapannya. Reva mengerti. Jadi dia juga menatap Ervan meminta persetujuan. Ervan bisa apa sekarang? Reva menatapnya dengan penuh harapan seperti itu. Menghembuskan nafas panjang lalu mengangguk kemudian. "Cuma hari ini aja. Sekali ini aja." ucap Ervan tegas dan di sambut senyuman lebar Reva. "Oke. Makasih Pak Dokter." serunya semangat. "Ayo Kak, kita ke kamar." ucapnya menarik tangan Melin dengan penuh semangat menuju kamarnya. Melin yang ditarik hanya pasrah, dia juga ingin bercerita banyak pada adiknya ini. Sekarang hanya ada Baza dan Ervan di sana. Ervan masih duduk diam di tempat duduknya, menatap intens pada sahabatnya ini dengan ekspresi datar. Baza tau apa yang Ervan inginkan tanpa Ervan harus berbicara sekalipun. Tapi dia masih ragu saat ini. Bukannya tidak mempercayai Ervan, hanya saja dia benar-benar tidak bisa memberitahukannya sekarang. Terdengar helaan nafas dari Ervan. "Lo bisa cerita lain waktu. Gue gak akan maksa." ucapnya kemudian beranjak dari hadapan Baza. Baza mengusak rambutnya kasar. Dia tidak tau harus berbuat apa. Melihat Ervan, dia jadi merasa bersalah karena telah merahasiakan sesuatu dari sahabatnya itu. Ervan bahkan tidak menyembunyikan apa-apa darinya. "Sorry Van. Gue bakal cerita kok, tapi nggak sekarang." gumamnya masih menatap Ervan yang berjalan menaiki tangga. Sebenarnya ini bukan masalah ataupun rahasia besar. Hanya saja dia sudah berjanji dan bersumpah akan menutup rapat mulutnya mengenai hal ini. Itu yang membuatnya tidak bisa menceritakannya. --***-- "Kamu mau kemana?" tanya Reva mendapati Ervan berjalan menuju pintu utama dengan setelan rapi. "Aku keluar bentar. Ada urusan." jawab Ervan singkat. Reva memicing menatapnya. Tampilan Ervan terlihat seperti anak berandal yang sedang mencari jati diri di dunia malam. Pakaiannya serba hitam lengkap dengan jaket kulit juga berwarna hitam di genggaman Ervan. Dia jadi ingat waktu pertama kali Ervan mendatangi tempat kerjanya. "Jam segini? Kamu gak nugas besok?" tanya Reva melangkah mendekat. Ini mendekati jam 12 malam dan Ervan ingin pergi keluar? Hell urusan apa di jam segini untuk seorang Dokter? Setaunya Ervan tidak ada tugas malam. Giliran Ervan yang bingung. Sejak kapan Reva menjadi peduli dengan urusannya? "Emangnya kenapa? Tumben kamu nanyain." balas Ervan. Reva terdiam. Benar juga. Untuk apa dia bertanya? Itu 'kan urusan Ervan. "Ya nggak ada, pengen nanya aja. Emangnya salah?" Ervan malah terkekeh mendengarnya. Reva berbicara sok sarkas saat dirinya sedang menahan malu. Itu terlihat lucu. Ervan maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di depan Reva. "Aku cuma pergi sebentar. Dan aku gak akan macam-macam. Nggak usah berpikir yang nggak-nggak. Kamu ngerti?" Kata-kata itu terlontar dengan amat sangat lembut dari mulut Ervan. Telinga Reva jadi nyaman mendengarnya hingga tanpa sadar kepalanya mengangguk menanggapi. Ervan tersenyum manis setelahnya lalu mencondongkan tubuhnya, hingga wajah cantik itu terpampang jelas di depan wajahnya. "Aku pergi dulu." ucapnya layangkan satu kecupan singkat di puncak kepala si gadis. Masih sangat mengejutkan bagi Reva. Perlakuan lembut Ervan telak membuat jantung Reva berdetak melebihi tempo seharusnya. Jadi, dia hanya menyunggingkan senyum manis saat Ervan mengusak pelan rambutnya lalu tersenyum sebelum benar-benar pergi dari hadapannya. Reva masih tersenyum sebelum tersadar saat mendengar deru mesin motor yang dia yakini itu adalah Ervan. Seperkian detik, mata Reva membola dan kedua tangannya refleks menangkup kedua pipinya. Degupan cepat jantungnya menjalarkan hawa panas pada pipinya. "Kenapa Ervan jadi so sweet banget!" teriaknya teredam begitu kedua telapak tangannya menutup keseluruhan wajah memerahnya. "Astaga. Aku nyesel terima tawaran Reva buat nginap." gumam Melin yang melihat adegan barusan di depannya. Niat hati ingin mengambil minum, namun berakhir dengan melihat dua manusia yang sedang kasmaran. Beruntung sekali Melin. --***-- Jauh dari keramaian dan lingkungan warga, di sinilah Ervan berada. Seakan tau kedatangan Ervan, pagar besi yang menjulang tinggi itu terbuka memberi akses untuk Ervan bisa masuk. Motornya tidak dia bawa masuk ke dalam. Berjalan kaki dan melihat-lihat keadaan sekitar yang telah lama tak dikunjunginya. Masih tampak sama, lingkungannya, tata letaknya, semuanya, termasuk jajaran anak buahnya yang menunduk hormat padanya saat dia melewati mereka. "Bos." salah satu anggota kepercayaannya menunduk padanya memberi salam. "Di mana mereka?" tanya Ervan dengan raut datarnya. "Ada di ruangan tahanan, Bos." Ervan mengangguk kecil. Ervan kembali melangkah namun terhenti saat teringat akan sesuatu. Dia berbalik dan menatap laki-laki tadi yang masih setia berdiri di sana. "Yang bertugas menjaga ruangan rumah sakit waktu itu. Kau?" tanya Ervan dan laki-laki itu mengangguk. "Yang bersamamu itu, siapa?" lagi Ervan bertanya. Memiliki bos seperti Ervan memang harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Gaya bicara Ervan yang singkat membuat mereka harus ekstra hati-hati dalam menjawab jika si bos sedang bertanya. "Rekan saya, Bos. Eru namanya." "Panggil dia sekarang." ucap Ervan lagi dan laki-laki itu hanya bisa mengangguk patuh. Ervan itu tidak suka menunggu barang 5 menit saja. Maka dari itu, dalam hitungan yang tidak sampai pada menit ke dua, Eru sudah berada di depan Ervan. "Bos." ucapnya juga menundukkan sedikit kepalanya. "Kau Eru?" "Ya saya, Bos." "Ah, kau rupanya. Kau terlihat cerdik. Bagus." ucap Ervan menepuk bahu Eru beberapa kali. Terdapat penekanan di setiap kalimat si bos. Pujian itu tidak terlihat seperti makna sebenarnya. "Terimakasih, Bos." ucap Eru ragu dan Ervan hanya mengangguk. Ervan kemudian berbalik melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam markasnya yang megah. "AARRGGHH!!" Menyakitkan dan memekakkan telinga jika mendengarnya. Dua besi tajam yang sudah dibuat sedemikian rupa itu seakan tertanam di perut dan d**a Eru. Apalagi sekarang satu-satunya cairan kental berwarna merah itu dengan malu-malu mengucur. Si besi menghalangi jalannya untuk mengalir deras. "Hah. Sayang sekali. Saya benci penghianat." gumam Ervan terus berjalan tanpa melihat ke belakang. "Jangan ganggu dia, biarkan sampai dia benar-benar tenang. Itu sebagai apresiasi bagi seorang penghianat. Dan jangan membuat saya melakukan hal yang sama pada kalian." ucap Ervan lagi masih terus berjalan. Suara Ervan cukup lantang, mereka tentu dapat mendengarnya. Dan mereka hanya bisa menatap iba pada orang yang Ervan panggil penghianat itu. "PAHAM KALIAN!" teriakan Ervan menggema di dalam sana. "Paham Ketua!" jawab semuanya serentak. Teriakan menyeramkan dari seorang leader mafia. --***-- Tepat pukul 1.35, Ervan baru menapakkan kaki di kediamannya. Tak ada yang berubah sejak dia keluar, masih rapi dengan style yang sama. Memaksa orang lain untuk berucap jujur itu memang melelahkan. Bersikap lembut pada orang-orang seperti itu bukanlah tindakan yang bijak. Untuk itulah sedikit membuat mereka berteriak memohon ampun mungkin tidak akan jadi masalah. "Huh, apa susahnya mengaku." gumamnya berjalan menuju kamarnya. Di anak tangga pertama langkahnya terhenti. Berbalik dan mendapati seseorang tengah tertidur di sofa sana. Mengernyit heran, sofa bukanlah tempat nyaman untuk tidur, tapi lihatlah, gadis itu bahkan tidak masalah dengan posisi tidurnya yang seperti itu. Posisinya telentang, setengah badannya berada di sofa dan setengah lagi di lantai. Bisa dibayangkan? Mengayunkan kaki mendekati sang gadis dan berjongkok mensejajarkan diri dengan kepala si gadis. Tangan Ervan tergerak menyingkirkan anak rambut yang dengan nakal menutupi wajah si cantik. "Aku nggak minta buat nunggu." ucapnya mengelus penuh sayang pipi sedikit berisi milik Reva. Mengulas senyum dengan perkataannya sendiri. Itu bukan asumsi ataupun dugaan, Ervan menganggap memang itulah kenyataannya. Ervan memang termasuk golongan orang yang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Tak ingin membuat Reva tersiksa lebih lama, Ervan segera mengangkat tubuh kecil gadis itu dengan mudah. Tak ada kata berat di dalamnya, apa Reva makan dengan baik? Dia terasa sangat ringan. Kembali menaiki satu persatu anak tangga, bukan untuk menidurkan Reva di kamar yang Reva tempati, melainkan menuju kamarnya. Bukannya apa-apa, saat ini ada Melin di kamar Reva, mungkin dia juga sudah terlelap. Ervan hanya tidak ingin mengganggu tidur kakak dari gadis di gendongannya ini. Ya, itu saja. Baiklah, 'anggap' saja seperti itu. Dengan penuh kehati-hatian, Ervan meletakkan Reva di atas tempat tidurnya yang luas dan nyaman. Ini adalah kedua kalinya Reva berada di sana, dengan posisi yang sama namun dalam keadaan yang berbeda. Menaikkan selimut sampai batas d**a, lalu beranjak dari sana untuk membersihkan dirinya. Cairan kental berwarna merah itu masih terlihat di beberapa titik di baju yang dipakainya. Dia harus membuang baju ini nanti, ah jangan, membakarnya kedengaran lebih baik. Ervan tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi, apalagi ini sudah dini hari. Keluar dari kamar mandi, mendapati pemandangan yang membuatnya menyunggingkan senyum hangat. Duduk di pinggir tempat tidur, menatap Reva yang sedang memeluk bantal panjang di sampingnya. Ervan sempat membayangkan jika dia yang sekarang berada di posisi bantal itu. Eh? Ervan terkekeh dengan pemikirannya sendiri. Mengulur tangan untuk kemudian di usapkan di surai kecoklatan sang gadis sebelum mendaratkan satu kecupan singkat di kening. Atau mungkin sedikit lebih lama. "Kamu benar-benar mirip Azira." gumamnya tersenyum. Ervan bangkit mengambil satu bantal dan berjalan menuju sofa di depan tempat tidurnya. Meletakkan bantal di sana dan segera menyamankan diri untuk mengistirahatkan tubuhnya. "Tapi untungnya kamu bukan Azira." gumam Ervan pelan dan tersenyum manis setelahnya. --***--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN