Di dalam kamarnya, Reva hanya berdiam diri sambil menatap ke luar jendela.
Pikirannya semakin menjalar jauh sebab tak mendapat jawaban dari Ervan. Bermacam spekulasi masuk ke dalam otaknya untuk mengira-ngira siapa sebenarnya Ervan. Semakin curiga, tentu. Apalagi Ervan memilih bungkam saat di tanya mengenai dirinya.
Oke, Reva tidak mempermasalahkan jika itu adalah privasi Ervan. Tapi masalahnya, dia ikut terbawa dalam hal ini. Kejadian teror tempo lalu, dan kedatangan pemuda yang berakhir di hajar Ervan beberapa hari yang lalu, dan kejadian barusan. Reva merasa itu semua saling berkaitan, dan Ervan mengetahui tentang hal itu.
Tapi kenapa Reva tidak boleh tau? Bukankah dia yang sedang terancam sekarang?
Menghembuskan nafas lelah.
Reva melirik jam di pergelangan tangannya, jam pemberian Ervan tepatnya. Sudah menunjukkan pukul 15.55. Selama itu dia merenung? Bahkan dengan setelan kantor yang belum sempat dia ganti.
"Lebih baik aku mandi," gumamnya pelan dan berjalan ke arah kamar mandi.
Percaya atau tidak, kamar ini yang sebelumnya kosong di sulap menjadi kamar impian Reva. Reva seperti hanya menempati saja karena semuanya sudah tersedia di sana. Dan lagi, Ervan tau, benar-benar tau apa keinginannya.
Tidak terlalu lama untuk mandi, Reva sekarang sudah siap dengan setelan santai ala remaja rumahan, persis seperti gadis SMA.
Merasa bosan, Reva memilih keluar untuk menikmati pemandangan di luar sana. Dia menyukai taman belakang rumah Ervan, jadi dia memutuskan untuk ke sana saja. Reva pergi tanpa memeriksa ponselnya yang tergeletak di nakas.
Omong-omong, ke mana Ervan? Reva tidak melihat Ervan lagi setelah pemuda itu masuk ke kamarnya. Apa Ervan masih di dalam? Ah sudahlah. Reva tidak mau menambah beban pikirannya dengan memikirkan Ervan.
Tujuan pertama adalah dapur. Menikmati pemandangan taman di temani secangkir teh dan beberapa biskuit, tampaknya ide yang bagus.
Hah, Reva sudah terlihat seperti tuan rumah saja di sini. Mengambil dan menikmati apapun yang dia inginkan. Tapi tak apa, sang tuan rumah yang asli pun mengatakan 'anggap saja rumah sendiri' jadi, tidak masalah bukan?
Reva berjalan menuju halaman belakang, lengkap dengan secangkir teh dan biskuit yang dia siapkan.
Sedikit lagi mencapai pintu, langkah Reva terhenti saat mendapati sebuah lorong.
Reva tau lorong itu. Tapi yang Reva tidak tau, ada sebuah ruangan di sana. Lorong itu cukup gelap walaupun di siang hari, meski ini sudah sore namun matahari masih bersinar terang.
Tingkat keingintahuan Reva itu tinggi. Jadi dia memilih melangkah mendekati cahaya yang keluar dari sebuah ruangan itu. Semakin dekat, Reva sayup-sayup mendengar suara seseorang. Siapa?
Abaikan saja tentang makhluk halus. Reva tidak takut akan hal semacam itu. Menurutnya manusia lebih menyeramkan. Ervan contohnya.
Sampai di ambang pintu, dia melihat seorang laki-laki duduk membelakanginya. Ada beberapa komputer besar di sana, dan juga alat-alat yang Reva tidak tau nama dan kegunaannya apa.
Tapi dia tau pria ini. Reva adalah tipe orang yang cepat mengenali orang lain.
"Baza," panggilnya.
Dan benar. Pemuda itu berbalik menampakkan raut terkejutnya saat melihat Reva di ambang pintu.
"Kamu ... ngapain di sini?" tanya Reva.
"Reva ...." Baza tergagap. Dia tidak tau ingin menjawab apa. Apakah Reva mendengar semuanya tadi? Oh ayolah, kenapa dia sampai lupa menutup pintu ruangannya?
"K---kamu ngapain d---di sini?" tanya Baza gelagapan.
Reva menatapnya bingung.
"Aku mau ke halaman belakang. Ngeliat ada cahaya lampu ya udah aku ke sini. Ternyata kamu. Kamu ngapain? Ini ruangan apa?" tanya Reva beruntun sembari berjalan masuk untuk melihat lebih dalam ruangan itu.
Baza bergerak cepat menahan langkah Reva dan membawa Reva keluar dengan tergesa-gesa. Baza tidak ingin mengambil resiko lebih jauh saat Reva melihat ruangannya.
"Anu, itu. K---kamu nggak boleh masuk," ucap Baza cepat.
Kerutan di kening Reva bertambah. Rasa penasarannya semakin besar.
"Kenapa? Ini ruangan rahasia?" tanya Reva lagi.
Rasanya Baza menjadi orang bodoh sekarang. Ke mana dirinya yang pintar merangkai kata-kata dan membuat alasan? Dia malah tergagap melihat Reva yang menatapnya intens.
"Iya. Ini ruangan rahasia."
Bukan Baza, melainkan Ervan yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Baza bisa bernafas lega sekarang. Untung Ervan datang tepat waktu. Ah, dia harus memberi hadiah untuk Ervan karena telah menyelamatkannya.
"Kamu ngapain bisa sampai di sini?" tanya Ervan menatap Reva dan sesekali melirik Baza.
"Aku mau ke halaman belakang," jawab Reva.
"Halaman belakang di sana. Ngapain masih di sini?" tanya Ervan lagi membuat Reva menatap sinis padanya.
"Santai bisa? Aku juga tau kali. Ngeselin banget jadi cowok," ketusnya berjalan ke arah taman belakang.
"Huft ...." Baza mengusap dadanya tenang.
"Mendingan ruangan lo nggak usah di kasih pintu sekalian," ketus Ervan lalu berjalan menyusul Reva.
Baza mendecih sinis dan berjalan mengikuti Ervan.
"Biasa aja lagi. Gue 'kan juga manusia. Namanya juga lupa," ucap Baza kesal.
"Manusia blasteran setan," ucap Ervan membuat Baza semakin mendengus kesal.
"Bangga banget nyebut bangsa sendiri," cibir Baza pelan.
"Gue denger," sahut Ervan.
*****
Jam kantor akan berakhir 15 menit lagi. Jika biasanya Melin akan menyelesaikan pekerjaannya sampai jam kantor habis, maka tidak dengan sekarang. Dia harus menemui Reva. Dia harus memastikan adiknya itu baik-baik saja.
"Lo mau pulang?" tanya Celin yang melihat Melin sedang mengemasi barang-barangnya.
Hanya anggukan sebagai balasannya.
"Tumben. Kamu ada acara?" giliran Gunta yang bertanya.
Melin melirik jam di pergelangan tangannya.
"Iya. Aku ada urusan mendadak. Nggak apa-apa 'kan kalau aku duluan?" tanyanya menatap keduanya.
"Yaa, nggak apa-apa. Udah izin Mbak Nisa 'kan?" tanya Celin.
"Ini baru mau. Ya udah, aku duluan ya." Melin tersenyum dan berjalan menuju ruangan Mbak Nisa untuk meminta izin.
"Tu anak aneh deh. Nggak biasanya kayak gini," ucap Celin pada Gunta.
"Biarin aja. Emang ada urusan mendadak kali. Udahlah, nggak usah ikut campur," jawab Gunta kembali fokus pada komputer di depannya.
"Yee, bukannya mau ikut campur. Tapi aneh aja gitu. Emang lo nggak ngerasa?" tanya Celin lagi.
Gunta mengedikkan bahunya tanpa menatap Celin.
"Ngerasa. Toh kalau dia pengen cerita juga bakal cerita sendiri tanpa kita yang minta. Mungkin yang ini rahasia."
Celin hanya mengangguk kecil. Benar juga. Melin adalah orang yang cukup terbuka pada orang terdekatnya.
Melin keluar dari ruangan Mbak Nisa dan melambaikan tangan pada Celin dan Gunta lalu pergi dari sana.
Tujuannya sekarang adalah rumah Ervan. Dan berbekal alamat yang Ervan berikan, Melin segera melajukan kendaraannya sesuai alamat yang tertera.
"Lumayan jauh sih. Tapi nggak apa-apalah," gumamnya sembari tersenyum. Sungguh, dia tidak sabar untuk segera menemui Reva.
*****
"Jadi, kayak agen rahasia ya?" tanya Reva memastikan.
Baza hanya mengangguk mengiyakan.
"Pantesan sembunyi-sembunyi gitu." Reva mengangguk-angguk kecil.
Sedangkan Baza sudah merapalkan kata maaf berkali-kali pada Reva di dalam hati. Walaupun Ervan yang membuat alasan, tetap saja dia yang merasa bersalah.
"Tapi keren. Dari kecil aku suka pemograman. Hal-hal yang berbau komputer aku suka, tapi ya gitu, cuma sekedar suka nggak terlalu mendalami," ucap Reva.
Ervan yang berbaring di sampingnya menatap Reva yang sedang duduk sambil menatap lurus pada taman bunga di depannya.
"Kamu pernah belajar pemograman?" tanya Ervan dan Reva langsung mengangguk semangat sambil menoleh ke arahnya.
"Pernah, cuma bentar. Itupun sama Ayah," jawabnya.
Seketika dia mengingat kebersamaannya bersama sang ayah waktu itu. Hah, hari-hari yang menyenangkan saat ayah ada di sisinya, lengkap dengan ibunya. Tapi waktu seakan tak ingin mengabadikan moment itu lebih lama dan mengambil kedua orangtuanya secara bertahap.
"Ekhem. Kalau mau, aku bisa ajarin kalau kamu mau belajar lagi," ucap Baza berusaha mencairkan suasana.
Reva mendengar itu menatap semangat pada Baza hingga senyum senang itu muncul. Sebelum akhirnya luntur dan menggeleng pelan.
"Nggak deh. Semenjak Ayah gak ada, aku udah gak niat belajar pemograman lagi," ucapnya tersenyum pada Baza.
"E---eh. Gitu ya ...." ucap Baza pelan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Niat hati ingin mengalihkan pembicaraan, tapi ujung-ujungnya malah semakin di bahas.
Ervan mendudukkan dirinya lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Bentar lagi Kakak kamu sampai. Gak mau ke depan?" tanya Ervan membuat Reva bingung.
"Kakak? Kak Melin? Sampai ke mana?" tanya Reva bingung.
Ervan turun dari gazebo itu dan berjalan masuk ke rumah.
"Ke sinilah. Katanya dia mau ketemu kamu," jawab Ervan sontak membuat Reva melotot kaget.
"Eh?"
Reva tersenyum lebar setelahnya. Langsung turun dan berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Ervan.
Sedangkan Baza hanya mengikuti dari belakang.
"Tipe cuek tapi perhatian," gumam Baza terkekeh kecil.
"Kok tiba-tiba? Kamu beneran? Dia tau alamat rumah kamu? Kok bisa?" tanya Reva beruntun.
Dia sungguh senang mendengar Melin akan mengunjunginya.
"Aku yang ngasih alamatnya," jawab Ervan terus berjalan.
"Wah! Beneran?!" pekik Reva senang.
Ervan menghentikan langkahnya dan berbalik secara tiba-tiba membuat Reva yang tak siap dan menubruk d**a Ervan.
"Aduh!" pekiknya langsung mengusap keningnya.
Kenapa d**a Ervan keras sekali? Pikirnya.
"Emangnya cewek itu nggak bisa ya kalau nanya itu gak usah berkali-kali?" tanya Ervan menatap Reva yang masih sibuk mengusap dahinya.
"Ya 'kan aku cuma mastiin," kesalnya.
Pasalnya keningnya benar-benar sakit.
Ervan memegang tangan Reva yang mengusap keningnya dan menggantikan tangannya yang kini mengusap kening itu.
"Makanya, tumbuh itu ke atas. Pendek sih," ledek Ervan membuat Reva semakin kesal dan berakhir memukul d**a bidang Ervan.
"Aduh! Sakit tau," ucap Ervan memegang bekas pukulan Reva di dadanya.
"Suruh siapa ngeselin. Untung nggak aku banting," ucap Reva dan berlalu dari hadapan Ervan dengan langkah kesal.
Ervan terkekeh melihatnya.
"Pukulan udah kayak usapan. Nggak berasa," gumam Ervan kembali memegang dadanya.
"Si bambang lancar banget ngalusin anak orang," sindir Baza berdiri di samping Ervan.
Seketika wajah Ervan kembali datar. Tangannya dia bawa untuk mengusap kasar wajah Baza.
"Dasar setan," ucap Ervan lalu pergi dari hadapan Ervan.
Cuih!
"Tangan lo pait bang*at!" teriaknya kesal dan Ervan hanya mengibas-ngibaskan tangannya di udara tanpa ingin berbalik.
"Sialan emang," umpatnya lagi kembali melangkah.
Sedangkan di depan sana. Reva sudah berada di pelukan sang kakak. Dia tidak menyangka jika Ervan benar-benar memberikan alamatnya pada Melin. Padahal waktu itu dia bersikeras melarangnya.
"Kakak takut banget kamu kenapa-kenapa," ucap Melin masih memeluk Reva.
"Aku nggak apa-apa kok. Maaf ya, tadi tiba-tiba pergi nggak sempat ngabarin Kakak sama yang lain," ucap Reva mengurai pelukannya.
"Nggak apa-apa. Liat kamu baik-baik aja Kakak udah lega," ucapnya mengelus rambut Reva dengan sayang.
"Kalian tidak ingin masuk?" tanya Ervan di ambang pintu.
"Ah iya. Ayo masuk Kak," ajak Reva dan Melin hanya mengangguk.
Melin tidak terlalu terkejut dengan kemewahan rumah Ervan. Dia memang sudah menebak betapa megahnya rumah seorang Ervan. Yaa walaupun ini juga ternyata melebihi ekspektasinya.
"Duduk dulu Kak. Aku bikinin minum," ucap Reva dan berjalan menuju dapur.
Melin duduk di salah satu sofa, begitupun Ervan yang duduk di sofa single.
Baru saja Melin ingin melontarkan pertanyaan, namun urung saat mendengar derap kaki dari arah belakangnya. Dengan cepat Melin menoleh ke belakang.
Entah apa yang terjadi, tapi Ervan bisa menangkap kalau mereka berdua saling mengenal. Terbukti dengan Melin dan Baza yang sama-sama terkejut saat menatap satu sama lain.
"Kalian saling kenal?" tanya Ervan menatap mereka bergantian.
*****