Apa Reva Dalam Bahaya?

1675 Kata
Jam makan siang kali ini cukup ramai menurut Reva, sangat malah. Kantin sampai penuh, tempat duduk yang biasanya banyak kosong, sekarang malah kekurangan. Banyak karyawan yang tidak kebagian tempat duduk, rela berdiri. Iya, mereka berdiri di sana, sambil tatapannya mengarah pada meja Reva. Mereka datang tidak untuk mengisi perut, melainkan memanjakan mata dengan menatap dua dewa yunani di meja Reva. Dua dewa yang saling melempar tatapan perang. Sungguh, Reva hanya ingin makan siang dengan tenang tanpa harus di recoki dua lelaki tampan ini. Reva risih dan tidak nyaman dengan kehadiran mereka. "Bisakah kalian pergi saja? Saya tidak bisa makan dengan tenang kalau begini." ucap Reva menghela nafas lelah. Keduanya masih menatap tajam satu sama lain. Tatapan tajam yang berbeda. Yang satu menatap datar, yang satu menatap kesal sekaligus marah. Tapi siapapun dapat merasakan aura negatif yang keduanya pancarkan. "Saya akan menemanimu." "Kau makan saja." Itu mereka berucap bersamaan, seakan sudah di kontrol sebelumnya. "Lebih baik kau pergi dari sini. Urus pasienmu itu. Apa pekerjaanmu sebagai dokter tidak cukup?" ucap Devin menatap tajam pada Ervan. "Kau tau apa tentang pekerjaanku? Lagipula itu urusanku, jadi diamlah." balas Ervan santai. Reva yang mendengar mereka berdebat kembali menghela nafas panjang. Memilih untuk acuh? Reva tidak bisa. Bagaimana dia bisa acuh saat tatapan semua karyawan di sana tertuju padanya? "Diam!" teriak Reva membuat keduanya berhenti bicara. Suasana yang hening semakin hening mendengar teriakan Reva. Akhirnya batas kesabaran Reva sudah sampai di titik penghabisan. "Makan dengan tenang atau aku pergi dari sini." ancam Reva menatap garang keduanya. Tolong, ingatkan Reva sudah berbuat kurang ajar pada orang yang telah menolongnya dan pada atasannya. Semoga Reva tidak menyesal dengan perbuatannya setelah ini. Tapi melihat kedua dewa itu menurut, membuat Reva tersenyum senang. Setidaknya mereka tidak lagi berdebat walaupun kilatan permusuhan masih terlayang di mata keduanya saat matanya tak sengaja bersibobrok. Ketiganya akhirnya memakan makanan mereka dengan tenang. Hanya Reva tepatnya. Sedangkan dua lelaki itu memakan makanannya seakan-akan memakan lawan masing-masing. Devin memotong daging ayam di piringnya sambil menatap tajam pada Ervan, seolah-olah Ervan adalah daging tersebut. Tak mau kalah, Ervan sambil menatap Devin, menusuk kentang goreng miliknya dengan garpu penuh penekanan dan menggigitnya lamat-lamat seakan itu adalah Devin. Begitu seterusnya sampai makanan mereka habis. "Kayaknya wibawa mereka ilang pas deket Reva." celetuk Celin dengan tatapan yang masih mengarah pada meja Reva. "Tapi mereka lucu loh. Berantem kayak gitu, liatnya gemes-gemes gitu tau." ucap Melin yang meremas tangannya sendiri karena gemas. "Apanya yang lucu. Muka sangar gitu dikatain lucu. Lo buta?" sahut Celin membuat Melin menatap kesal padanya. "Terserah aku sih mau ngomong apa. Kok situ yang sewot." jawab Melin sinis. "Udah deh. Jangan kalian juga yang berantem di sini." ucap Mbak Nisa menatap mereka bergantian. "Mereka keliatan baik sih. Tapi gue masih nggak percaya aja kalau Reva sama mereka. Sifat orang siapa yang tau." ucap Gunta tiba-tiba. Ingat dengan ucapan Gunta yang mengatakan Reva adalah adiknya? Ya, Gunta memang sudah menganggap Reva sebagai adiknya sendiri. Dia itu anak tunggal di keluarganya, dan dia memang menginginkan sosok seorang adik. Siapa yang tau, dia merasa nyaman dengan Reva dan menganggapnya sebagai adik. "Mbak setuju. Walaupun Mbak kenal baik sama mereka berdua, tetep aja Mbak nggak bisa percaya sepenuhnya sama mereka. Apalagi Mbak baru kali ini liat mereka suka sama cewek." jelas Mbak Nisa panjang lebar. Mereka mengangguk mengerti. Sedikit banyaknya, mereka bertiga tau tentang pribadi Ervan. Kalau Devin, mereka sudah sama-sama tau walaupun tidak terlalu mendalam. Tatapan mereka kembali tertuju pada Reva dan kedua pangerannya. Di sana Ervan berdiri menatap Reva dan Devin bergantian. "Ayo Reva. Menurut padaku kali ini saja." ucap Ervan datar namun tersirat raut khawatir di sana. Reva dapat melihatnya. "Memangnya kau siapa menyu__" "Kau." tunjuk Ervan pada Devin membuat ucapan Devin terhenti. "Diam." lanjutnya dengan nada mengintimidasi. Ervan menatap sekelilingnya. Menatap sembari menghitung orang-orang itu. Kembali menatap Devin. "Jika kau peduli padanya, biarkan dia pergi bersamaku. Aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Mengertilah jika dia sekarang dalam bahaya." jelas Ervan masih menatap intens pada Devin seakan menegaskan untuk Devin mempercayainya. Kening Devin mengerut, kentara sekali raut bingung di wajah tampan itu. Ervan mengalihkan pandangannya pada sudut kantin dan kembali menatap Devin. Devin kemudian mengikuti arah pandang Ervan. Mereka seolah sedang bertelepati sekarang. Devin tidak tau siapa sebenarnya Ervan. Tapi mengingat Ervan yang mengetahui ini lebih darinya, jadi suka tidak suka dia harus bisa mempercayai Ervan untuk kali ini. Hanya untuk saat ini. "Reva, pergilah bersama Ervan. Bukankah pekerjaanmu ringan hari ini? Saya akan serahkan pada rekanmu nanti." ucap Devan setelahnya. Reva yang tidak mengerti semakin di buat tak mengerti dengan Devin. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia terlihat seperti orang bodoh sekarang? "Tapi, Pak.." "Saya juga tidak mengerti Reva." ucap Devin. "Tapi untuk saat ini, kau lebih aman bersamanya." lanjutnya menunjuk Ervan dengan dagunya. Reva beralih menatap Ervan yang juga menatapnya. "Jangan membuang waktu Reva. Ayo." Ervan meraih tangan Reva dan membawa gadis itu keluar dari area kantin. Sedangkan Devin hanya diam menatap Reva dan Ervan yang semakin menjauh. Dan setelahnya muncul rasa khawatir di dirinya saat melihat orang-orang berpakaian hitam itu juga berjalan keluar, mengikuti Ervan dan Reva. Jadi, Ervan tidak bergurau dengan ucapannya barusan? Reva dalam bahaya? "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Celin pelan melihat kejadian di depannya barusan. ***** Ervan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya tak henti memperhatikan dua mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya saat keluar dari pekarangan kantor. Reva yang menyadarinya juga sesekali menoleh kebelakang. Reva bukannya anak kecil yang tidak tau situasi. Dia tau sedari tadi dua mobil di belakang sana mengikuti mereka. Ingin bertanya lebih jauh, tapi dia terlalu takut untuk melontarkannya. Ervan sedang dalam mode menyeramkan. "Urus mereka. Pastikan tak ada lagi yang berada di sekitar manssion." ucap Ervan entah pada siapa. Reva hanya memperhatikan gerak-gerik Ervan tanpa bersuara. Lama tak ada suara, Ervan kembali menoleh ke kaca spion, memperhatikan keadaan di belakang sana. Reva mengikuti. Dapat dia lihat dua mobil hitam lainnya di sana, berhasil memblokir jalan mobil yang mengikuti mereka sedari tadi. Tunggu. Mereka berkelahi? Reva segera menoleh pada Ervan, dan tebak, Ervan tersenyum? Ah, menyeringai lebih tepatnya. Banyak pertanyaan kini bersarang di kepala Reva. Perasaannya bercampur antara penasaran, takut, cemas dan gugup. Semuanya menjadi satu. Tapi sayangnya rasa ingin taunya lebih tinggi sekarang, sampai dirinya tiba-tiba mempunyai keberanian untuk bertanya. "Ervan." panggil Reva pelan dan untungnya Ervan mendengarnya dan menoleh sebentar. "Kau ... siapa kau sebenarnya?" tanyanya berhasil membuat Ervan menatapnya sedikit lebih lama. ***** Jam sudah menunjukkan pukul 14.25 dan Reva masih belum berada di ruangannya. Melin dan yang lainnya jelas khawatir padanya. Pasalnya mereka sama sekali tidak tau kemana Reva. Terakhir kali ya saat di kantin. Ervan yang membawanya. Setelah itu mereka tidak lagi melihat kemunculan dua makhluk itu. "Telpon lagi deh coba." usul Celin pada Melin. Melin mengangguk dan mendial nomor telepon Reva. Tersambung, namun berakhir pada kotak suara yang membuat Melin berkali-kali berdecak kesal. "Tunggu bentar lagi deh. Mungkin dia emang lagi sibuk." ucap Gunta. Ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan Melin tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Mereka terlalu banyak mengulur waktu dengan menunggu. Jika saja ini bukan di kantor dan dia sedang bekerja, mungkin Melin sudah berada di jalan sekarang mencari keberadaan gadis itu. "Nggak bisa. Ini udah hampir dua jam dia pergi nggak balik-balik." ucap Melin gusar. Dia benar-benar cemas saat ini. Tiba-tiba dia menangkap sosok Devin, sang direktur sedang berjalan masuk ke dalam ruangan divisinya. "Melin." panggilnya berhenti beberapa langkah di samping meja Melin. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" jawab Melin berdiri dari duduknya. "Tidak. Saya hanya menyampaikan kalau Reva pulang lebih awal. Saya yang menyuruhnya tadi. Jadi kamu, tolong handle pekerjaan Reva hari ini." ucapnya dengan nada datar. Melin masih tak mengerti. Memangnya kenapa Reva pulang lebih awal? Apa yang terjadi padanya? Dia sedang ada masalah? "Baik, Pak." jawab Melin kemudian. Devin hanya mengangguk dan melangkahkan kaki kembali ke ruangannya. "Reva kenapa? Sakit? Kok tiba-tiba pulang?" tanya Celin yang memang mendengar pembicaraan Melin dan Devin. Tak menjawab apa-apa, Melin langsung mengambil ponsel dan menelfon seseorang. "Halo." ucap Melin saat orang di seberang sana mengangkat telfonnya. "Reva bersama Anda?" tanya Melin. Melin menghembuskan nafas lega mendengar jawaban dari seberang sana. Sedikit berkurang rasa khawatirnya saat ini. "Ada apa Anda membawanya?" tanya Melin lagi. Celin dan Gunta yang mendengarnya hanya dapat saling lempar tatapan bingung. Entah apa yang Melin bicarakan sekarang, bahkan mereka tidak tau siapa yang Melin hubungi. Yang mereka tau, ini adalah tentang Reva. Melin seperti tersentak kaget. Dia kemudian menoleh pada Gunta dan Celin, menatap mereka bergantian. Sedang yang ditatap menampilkan raut bertanya. "Bolehkah saya datang nanti? Saya hanya ingin menemuinya." ucap Melin sedikit memohon. "Saya mohon. Saya bisa menjaga rahasia jika itu harus di rahasiakan." ucap Melin lagi saat mendengar tolakan di seberang sana. Senyum Melin akhirnya mengembang dan mengangguk pelan seperti sedang mengiyakan. "Saya berjanji." ucapnya setelahnya sambungan itu terputus. "Melin. Ada apa? Terjadi sesuatu pada Reva?" tanya Gunta penasaran. "Dia hanya perlu beristirahat. Sudahlah, selesaikan pekerjaan kalian. Aku sudah memastikan Reva baik-baik saja." ucap Melin kembali pada komputer di depannya. Celin dan Gunta hanya menatapnya bingung. Melin seperti tau sesuatu tentang Reva, tapi apa? ***** "Saya belum bisa melacaknya, Bos." ucap Baza sembari ke sepuluh jarinya menari dengan indahnya di atas keyboard komputer di depannya. "Kau yakin itu kelompok lain?" tanya sang bos di seberang sana. "Anggota Zack memang ada di sana. Tapi beberapa di antara mereka berbeda dengan anggota Zack. Saya sangat yakin." jawab Baza. "Apa mereka bersekutu?" "Saya bisa melihat mereka terkejut melihat satu sama lain, mereka tidak saling mengenal. Jadi mereka tidak mungkin bersekutu." lagi Baza menjelaskan dengan amat jelas. "Saya baru tau ada kelompok baru di sini. Menarik. Cari informasi tentang mereka. Saya mau malam ini sudah ada di ruangan saya." ucap sang bos memberi perintah. Baza mengangguk yang tentunya tidak mungkin dilihat oleh bosnya itu. "Akan saya berikan informasinya malam ini, Bos." ucap Baza mantap. "Saya tunggu, Baza." ucap sang bos kemudian sambungan itu terputus. Baza melepas earpiece dari telinganya dan bersandar di sandaran kursi. "Baza." panggilan seseorang di luar sana membuat Baza terkejut dan langsung berbalik. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya menatap intens pada Baza. "Reva---" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN