Saling Mengenal

1730 Kata
Keadaan malam ini cukup sunyi bagi Reva. Yaa, seharusnya itu tidak masalah mengingat dia yang selama ini juga tinggal sendiri. Tapi sungguh, suasana kali ini berbeda. Sunyi dengan rasa canggung yang mendominasi. Canggung, sungguh. Bagaimana tidak, di meja makan besar ini hanya ada dia dan Ervan. Baza? Entahlah, mungkin dia belum pulang. Reva masih ingat betul kejadian tadi sore. Dia tak tau harus mengucapkan apa untuk memulai percakapan. Dia ingin meminta maaf atas tadi sore namun melihat wajah datar Ervan, Reva berkali-kali mengurungkan niatnya. Trang! Dentingan sendok dan garpu itu cukup membuat Reva terkejut. Walaupun tak ada kesan kasar dari dentingan itu, tetap saja membuatnya tersentak dari lamunannya. Dia melihat Ervan meneguk minumannya hingga tandas. Makanan di piringnya pun sudah habis. "Aku selesai," ucapnya singkat menatap Reva sebentar lalu beranjak dari duduknya. "Sebentar," ucap Reva membuat pergerakan Ervan terhenti. Dia memutuskan untuk membicarakan ini dengan Ervan. Dia tidak mau tinggal satu rumah dalam keadaan awkward seperti ini. Reva berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Ervan. "Itu, emm ... aku ... itu, apa, emm ... itu---" "Kalau gak penting, nggak usah," ucap Ervan cepat. Ervan juga jengah mendengar kalimat Reva yang seperti kaset rusak yang di putar. Tidak jelas. "Nggak. Ini penting," ucapnya cepat. Ervan melipat tangannya di d**a dan menatap Reva intens, masih menunggu apa yang akan gadis ini ucapkan padanya. Walaupun sebenarnya Ervan tau Reva ingin mengatakan apa, hanya saja Ervan ingin tau bagaimana gadis ini akan memulainya. Lihatlah ekspresi gugupnya, sangat lucu. Pikir Ervan. Reva menghembuskan nafas panjang lalu menatap Ervan yang sedari tadi memang menatapnya. "Aku.. a-ku minta ma-af," ucapnya terbata. Dia melihat reaksi Ervan yang hanya diam dengan sebelah alisnya terangkat seperti sedang bertanya. Menyebalkan sekali ekspresinya itu! "Soal tadi sore. Aku pikir, aku keterlaluan. Aku minta maaf," jelasnya. Baiklah, mungkin Reva salah sudah memulai untuk berbicara dengan Ervan. Ekspresi dokter tampan itu kembali datar dengan anggukan kecil beberapa kali. Hell! Dia sudah gugup sedari tadi, bingung ingin mengatakan apa dan Ervan? Bolehkah dia menyesal? "Oh, baiklah." Rahang Reva terasa jatuh mendengarnya. What?! Just that? Seriously? Ervan berbalik dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Reva yang masih mematung di tempat. Tersadar dari lamunannya, Reva berjalan cepat mengejar Ervan di depan sana. Oke, tarik kata-katanya yang tadi mengatakan merasa menyesal karena perbuatannya pada Ervan. Dia menarik kata-katanya! Langkah Ervan terhenti di anak tangga ke tiga saat Reva berdiri tepat di depannya tapi tak membuatnya harus mendongak menatap Reva. Sejenak Reva sadar akan tinggi badan Ervan. Meskipun dia berdiri di atas anak tangga satu tingkat di atas Ervan, tak membuat tingginya melampaui Ervan. "Cuma itu? Reaksimu cuma itu?" tanya Reva kesal. Reva bertolak pinggang dengan kedua matanya menatap tajam pada Ervan. Ervan menyimpan kedua tangannya di saku celana yang dia pakai, menatap Reva penuh keheranan. "Trus?" jawab Ervan yang lagi-lagi membuat Reva berdecak kesal. "Kamu itu laki-laki bukan sih? Nyelesaiin masalah nggak gentle banget, harus aku duluan yang ngomong. Trus sekarang? Jawaban kamu cuma ini? Jawab apa kek, ngomong apa kek gitu. Pantesan jomblo, minim ekspresi gini siapa yang mau. Kabur duluan ceweknya." gerutu Reva. Beginilah kalau betina semacam Reva sedang mengomel. Hal-hal yang tidak berhubungan dengan masalah itupun harus di bahas. "Trus kamu mau jawabnya gimana?" tanya Ervan melangkah mendekat yang otomatis Reva mundur melihatnya. "Kamu mau aku berekspresi kayak gimana? Hm?" tanyanya lagi semakin maju. "E-Ervan ...," gumam Reva mulai gugup. Reva bahkan tak sadar, langkah mundurnya membawanya pada dinding di samping tangga. Punggungnya kini sudah menempel pada dinding, pergerakannya semakin terbatas sedangkan Ervan makin mendekat. Ujung sendalnya kini sudah menyentuh ujung sendal Ervan. Oke, alarm bahaya di kepala Reva berbunyi semakin lantang. Menoleh ke kanan, tangan Ervan lebih dulu menghalanginya, ke kiri pun sama, tangan Ervan mengunci semua pergerakannya. "K-kau ma-au apa?" ucapnya terbata. Bola matanya tak bisa fokus pada satu hal pertanda dia sangat gugup sekarang. "Kamu bilang reaksiku kurang. Jadi apa aku harus gini?" tanya Ervan pelan. Sungguh, jarak mereka sangat sangat dekat saat Ervan malah dengan sengaja mencondongkan tubuhnya. Reva bahkan bisa merasakan hembusan nafas Ervan di depan wajahnya. "E-rvan, i-ini terlalu---" "Gini? Gini reaksi yang harusnya aku lakuin hm?" tanya Ervan berbisik. Siapapun tolong Reva! Ervan menyeringai melihat Reva yang menutup matanya karena gugup. Ah, sungguh pemandangan yang indah saat melihat wajah Reva dari jarak yang sangat dekat. Apalagi sedang memerah. Ervan mendekatkan wajahnya dan berbicara tepat di telinga Reva. "Dengar, Cantik. Jangan meminta reaksi berlebih lagi padaku. Karena jika aku melakukannya, kau akan mendapat reaksi di luar dugaanmu. Kamu paham 'kan?" bisiknya. Reva hanya mengangguk ringan membuat Ervan tersenyum melihatnya. Lama tak terdengar suara membuat Reva perlahan membuka matanya. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya saat menatap Ervan yang berada tepat di depan wajahnya. Ervan yang tersenyum menatapnya. But, wait! Kenapa Ervan terlihat sangat ..., tampan? "Kau tau?" ucap Ervan lagi menjeda ucapannya. "Aku suka wajahmu yang merona. Kau terlihat lebih cantik," lanjutnya kemudian menarik tubuhnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Apa katanya tadi? Merona? Lantas Reva langsung menangkup wajahnya, panas. Wajahnya memanas. Oh god! Reva tak bisa membayangkan bagaimana merahnya wajahnya tadi. Argh! Itu memalukan! "Bodoh Reva!" umpatnya pada dirinya sendiri kemudian berjalan lesu menuju kamarnya, di samping kamar Ervan. Sedangkan seseorang yang melihat adegan itu hanya bisa berdecak kesal. Keputusannya untuk pulang cepat ternyata salah. Mata sucinya bahkan langsung di suguhi pemandangan tak mengenakkan seperti tadi. "Sabar Baz. Lo pasti bisa!" serunya menyemangati dirinya sendiri. ***** Pagi ini akhirnya semuanya kembali seperti biasa. Tak ada lagi keadaan canggung seperti malam tadi. Walaupun sebenarnya keadaan itu di gantikan oleh rasa malu, namun Reva menepisnya. Tak ingin membuat suasana kembali buruk. "Ehem. Hari ini aku berangkat bareng Kak Melin," ucap Reva setelah menghabiskan sarapannya. Ervan menaikkan satu alisnya. Sedangkan Baza hanya menunggu kelanjutan ucapan Reva. "Tadi dia ngabarin katanya mau jemput aku. Jadi kamu nggak usah anter aku hari ini," lanjutnya namun ekspresi Ervan tetap saja tidak berubah. "Kamu ... ngasih alamat rumah ini ke orang lain?" tanya Ervan menatapnya datar. Reva dengan cepat menggeleng. Dia masih ingat betul ketika Ervan mengatakan tidak boleh memberikan alamat rumahnya pada orang lain. Walaupun Reva tak mengerti alasannya mengapa, tapi dia hanya menurut. Dia tau ini adalah privasi Ervan. "Nggak nggak. Aku nyuruh Kak Melin nunggu di halte bis depan. Beneran," jawabnya sungguh-sungguh. Ervan melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya 20 menit lagi adalah jadwal operasinya. Tapi apakah aman jika Reva pergi tanpa pengawasannya? Menghembuskan nafas panjang sebelum menjawabnya. "Oke. Aku antar sampai halte bis," ucapnya dan Reva tersenyum lebar mendengarnya. "Yes! Gitu dong. Makasih ya," ucapnya semangat kemudian fokus pada ponselnya. Menghubungi Melin mungkin. Ervan hanya tersenyum tipis melihatnya. Senyum Reva barusan membuat hatinya menghangat. Apalagi dia adalah alasan di balik senyumnya itu. Selagi Reva sibuk dengan ponsel, Ervan beralih menatap Baza. Dan Baza yang mengerti tatapan itu hanya mengangguk. Memasang earpiece di telinganya. "Gue ke atas bentar ya," pamitnya. Reva mengalihkan pandangan pada Baza dan mengangguk sambil tersenyum. Moodnya sedang bagus-bagusnya hari ini. "Ayo berangkat. Aku ada jadwal pagi ini." Intruksi Ervan dan Reva hanya mengangguk. Mengambil tas di samping tempat duduknya dan berjalan di belakang Ervan. "Pakai ini." Ervan memberikan sebuah jam tangan mewah padanya. Kening Reva mengerut. Jam tangannya masih bagus dan layak di pakai, lalu dalam rangka apa Ervan memberinya jam ini? Reva bukannya buta dengan hal fashion. Dia tau merk-merk barang branded, walaupun dia tak pernah memakainya. Ya salah satunya jam ini. Dia tau ini jam mahal. Sangat malah. Melihat Reva yang hanya diam dengan ekspresi bingung, Ervan lantas menarik tangan kiri Reva dan melepaskan jam tangan Reva di sana, lalu memakaikan jam tangan yang dia pegang. Cantik. Cocok dengan Reva yang juga cantik. "E eh. Tunggu. Ini untuk apa? Punyaku 'kan masih bagus," ucap Reva setelah sadar dari lamunannya. "Gak usah protes. Pakai aja itu dan jangan pernah kamu lepas," jawab Ervan penuh perintah. Sudah di bilang bukan kalau Ervan tak bisa di bantah? Reva hanya berdecak kesal. Percuma dia membuang tenaga memprotes, toh Ervan akan tetap berbuat semaunya. Dan parahnya, Reva tidak bisa melawan itu. Reva seakan tidak bisa berbuat lebih selain menurut. "Ya ya. Cepet jalan. Kak Melin udah nungguin aku di sana," ucapnya membuat Ervan tersenyum. Dia suka Reva yang penurut. Ah tidak. Dia selalu suka bagaimanapun Reva kecuali jika gadis itu bersedih. ***** "Dok." Ervan yang menatap ke arah jalan kini menoleh ke belakang dan mendapati Zaki sedang berjalan ke arahnya. "Ini, saya bawain," Zaki mengulurkan satu cup coffee latte yang di sambut baik oleh Ervan. "Thank's," ucapnya dan Zaki hanya mengangguk pelan. Zaki mengikuti Ervan menumpukan tangannya pada pagar pembatas rooftop. Menikmati semilir angin sambil menatap ramainya lalu lintas di bawah sana. Sedikit ngeri juga melihat ketinggian dari atas sini. "Dokter sedang ada masalah?" tanya Zaki membuka pembicaraan. Ervan tersenyum tipis mendengarnya. "Kau selalu tau, Zaki," jawabnya membuat Zaki terkekeh. "Kali ini apa? Perusahaan lagi?" tanya Zaki kali ini menatap Ervan dari samping. Selain Baza, Zaki adalah orang yang sedikit banyaknya mengetahui kehidupan Ervan. Jelas, bersama-sama semenjak SMA sampai sekarang menjadi dokter di rumah sakit yang sama dan dalam tim yang sama pula, tak mungkin membuat Zaki tak mengenal Ervan lebih dalam. Mungkin hanya Zaki yang mengetahui identitas Ervan yang sebenarnya di sini. "Begitulah. Hanya saja lebih rumit sekarang," jawabnya mengedikkan bahunya acuh. Bedanya, Ervan masih tidak biasa berbicara santai pada Zaki, tidak seperti ketika dia bersama Baza. "Kemarin sore setelah kau pulang, dia sempat ke sini," ucap Zaki membuat Ervan kini menatapnya. "Kapan?" tanyanya. Pasalnya kemarin bukankah papanya itu ada di rumahnya? "Lima menit setelah kau pergi," jawabnya dan Ervan mengangguk mengerti. "Apa yang dia lakukan?" tanya Ervan penasaran. Zaki menatap Ervan kemudian menghembuskan nafas panjang. "Ada baiknya jika kau menerima permintaan papamu. Setidaknya datanglah ke perusahaannya," ucapnya kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Jika tidak, maka dia bisa saja menutup rumah sakit ini," lanjutnya membuat Ervan semakin bingung. "Dia mengancammu?" tanya Ervan cepat. Zaki menggeleng tegas. "Hanya saja, ini adalah miliknya. Dia bisa saja melakukan itu untuk membuatmu menurut bukan?" jawab Zaki. Ervan menatap Zaki lama sebelum akhirnya dia kembali menatap jalanan sana. "Aku akan memikirkannya," ucapnya setelah lama terdiam. Ervan menatap Zaki dan tersenyum tipis, hampir seperti tidak tersenyum sama sekali. "Agar kau tidak di ancam lagi," lanjutnya. Ervan menegakkan badannya dan berbalik. "Aku juga mengenalmu jika kau lupa Zaki," ucapnya menepuk pelan bahu Zaki lalu pergi dari sana. Zaki yang menatap kepergian Ervan hanya bisa menghela nafas lelah. "Apa seburuk itu aku berbohong?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN