Jam sudah menunjukkan pukul 17.15. itu artinya sudah 15 menit Reva duduk di dalam ruangannya menunggu kedatangan Ervan yang 'katanya' tidak akan terlambat menjemputnya. Baiklah, katakan dia bodoh yang mau saja menuruti perkataan pria menyebalkan itu untuk menunggunya di sana.
"Ck. Tau gini aku pulang aja dari tadi." gumamnya kesal.
Menyambar tas selempangnya dan mulai berjalan keluar.
Yaa, hanya ada dia di ruangan ini. Semua rekannya sudah pulang sedari tadi, termasuk Mbak Nisa, Melin, Celin dan Gunta. Niatnya mereka ingin menemani Reva di sini tapi Reva menolak dengan tegas. Alasannya, dia tidak ingin semakin malu dengan tingkah laku Ervan nantinya. Tak masuk akal memamang, tapi ya mereka tetap menuruti. Apalagi Melin dan Mbak Nisa kenal betul dengan Ervan. Jadi mereka percaya bahwa pria itu bisa menjaga Reva.
Namun nasib Reva sungguh malang dengan berakhir menunggu sendirian selama 15 menit lamanya. Belum terhitung lama memang, tapi, ayolah, dia sudah sangat lelah sekarang.
Di lantai bawah masih ada beberapa karyawan yang terlihat, mungkin lembur.
Bruk!
Tasnya terjatuh, untuk saja dirinya tak ikut terjatuh.
Pemuda yang menabraknya barusan menunduk untuk mengambil tasnya yang tergeletak di lantai sana.
"Maaf, saya tidak sengaja." ucapnya mengulurkan tas Reva.
Reva tersenyum lantas mengambil tasnya kembali.
"Tidak apa-apa. Saya juga tidak berhati-hati tadi." jawab Reva.
"Ini sudah lewat jam pulang. Kau baru ingin pulang?" tanya pemuda itu lagi setelah melirik jam bermerk di pergelangan tanganya.
Reva sedikit heran, dia tidak sedekat itu dengan pria ini. Masih ingat bukan kalau Reva bukanlah orang yang cepat akrab dengan orang baru?
"Ah, kebetulan saya ada urusan sebentar tadi." jawab Reva seadanya.
"Saya antar pulang? Sebagai ucapan permintaan maaf saya." ucapnya lagi membuat Reva sedikit was-was.
Dia bahkan tidak mengenal pemuda ini dan dia tiba-tiba ingin mengantarnya pulang? Bagaimana kalau ternyata pemuda ini penculik? Lalu dia di jual, atau di bunuh? Atau jangan-jangan pemuda ini adalah seorang pembunuh bayaran? Oke, tinggalkan pemikiran jelek Reva.
"Kau tenang saja. Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin membantumu, sungguh." ucap pemuda itu seolah tau apa yang Reva pikirkan.
"Orang jahat mana yang mau mengaku dirinya jahat? Tidak ada." batin Reva.
"Ah, tidak perlu. Saya juga sedang menungu jemputan saya." ucap Reva menolak secara halus.
"Benarkah? Kalau begitu mari saya temani." ucap pemuda itu lagi yang lagi-lagi membuat Reva tidak nyaman.
"Ervan sia*an! Cepat datang bodoh!" batin Reva berteriak mengumpati Ervan.
Reva hanya tersenyum canggung menanggapinya. Tak tau harus mengucapkan apa-apa lagi.
Seakan teringat sesuatu pemuda itu mengulurkan tangannya pada Reva.
"Ah ya, kenalkan saya__"
Belum sempat menyebutkan namanya, tangan pemuda yang terulur itu di tarik kasar orang seseorang dan orang itu langsung melesatkan pukulan di wajahnya membuat pemuda itu tersungkur.
Reva menutup mulutnya melihat kejadian tak terduga ini.
Di sana, Ervan masih berdiri dengan wajah yang menyeramkan. Ervan yang marah, sangat menyeramkan menurutnya.
Ervan menarik kera baju pemuda itu dan menyeretnya keluar.
"Ervan!" teriak Reva kemudian berlari mengejar Ervan.
Sampai di luar, tepat di depan gerbang, Ervan mendorong pria itu kasar hingga menghantam pagar besi itu.
"Ervan!"
Menulikan pendengarannya saat mendengar teriakan Reva, Ervan berjalan kearah pemuda itu dan melayangkan pukulan membuat pelipis pemuda itu berdarah.
"Sudah saya peringatkan untuk tidak pernah menyentuhnya b******k!" bentak Ervan kembali memukul pemuda itu berkali-kali, tak membiarkan pemuda itu membalasnya.
"Kau menganggap remeh peringatan saya hah!" Ervan menggenggam kuat kera baju sang pemuda, membawanya berdiri bertatapan dengannya.
Pemuda itu tampak menyeringai.
"Ayolah, Bung. Kau masih tak mengenal rivalmu ini?" tanya pemuda itu pelan tersenyum remeh pada Ervan yang sudah di ambang emosi.
"Sia*an!" umpatnya dan memukul pemuda itu lagi.
Banyak yang menonton aksinya namun dia tak peduli. Yang dia pedulikan saat ini hanyalah bagaimana cara membuat pemuda di bawah sana mati dengan cepat di tangannya saat ini juga.
"Ervan berhenti!" teriak Reva lagi berusaha melerai.
Namun sia-sia, suaranya bahkan sudah serak karena sedari tadi berteriak namun Ervan tak kunjung menghentikan aksinya.
Hingga entah mendapat keberanian dari mana, Reva berjalan mendekat dan menarik tangan Ervan yang siap melayangkan pukulan.
"Berhenti! Kamu ngapain sih!" marahnya menatap Ervan.
Tentu saja Reva marah. Ervan berbuat seperti ini tanpa alasan yang jelas. Bahkan pemuda di bawah sana sudah hampir tak sadarkan diri. Apa Ervan benar-benar tidak waras? Pikirnya.
Ervan hanya menatap Reva dengan tatapan tajamnya. Nafasnya masih terengah-engah lalu kembali menatap pemuda di bawah sana.
Berdecih, lalu menyeret Reva menuju mobilnya. Tak ada kata lembut saat dia membawa Reva membuat Reva meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Masuk." ucapnya dingin namun Reva masih tetap bergeming di tempatnya.
"Masuk!" suara Ervan meninggi membuat Reva terkejut dan memilih untuk menurut.
Blam!
Ervan mengitari mobilnya dan masuk, duduk di depan kemudi.
Tanpa berucap apa-apa lagi dia melajukan kendaraannya keluar dari gerbang perusahaan mengabaikan pemuda tadi dan tatapan orang-orang yang melihat kejadian itu.
"Berhenti Ervan. Aku bisa pulang sendiri." ucap Reva namun Ervan tak menggubrisnya.
Reva menoleh menatap Ervan yang sedang diselimuti amarah.
"Aku bilang berhenti Ervan. Turunin aku di sini." suara Reva agak meninggi namun Ervan tetap pada sikap awalnya.
Merasa muak dengan sikap Ervan, Reva pun menatap sepenuhnya pada Ervan dan berteriak.
"Berhenti Ervan!"
Ervan hanya meliriknya sedikit dan kembali menatap jalanan di depan sana.
"Kamu ini kenapa sih? Kenapa kamu mukul cowok tadi? Dia nggak salah apa-apa tapi kamu bikin dia sekarat tadi. Kamu kenapa jadi orang jahat?!" teriak Reva di akhir ucapannya.
Ervan masih tak bergeming, walaupun rasanya telinganya pengang mendengar kata-kata Reva.
"Turunin aku di sini. Aku nggak mau sama orang jahat kayak kamu. Kamu itu pemaksa, kamu cuma nurutin apa yang kamu mau. Kamu nggak pernah mikirin orang lain. Kamu itu egois. Harusnya dari awal kita nggak pernah ketemu dan aku nggak perlu terjebak sama orang kayak kamu." ucap Reva panjang lebar.
Reva seakan melepaskan semua yang dia pendam selama ini.
"Aku bilang berhenti Ervan! Berhenti! Berhenti! Berhenti!" Reva memukul lengan Ervan brutal meminta untuk berhenti.
Ervan menginjak rem secara tiba-tiba membuat Reva hampir terjatuh. Menarik kasar dan menggenggam dengan kuat kedua pergelangan tangan Reva dan menatap tajam pada Reva.
"Kau mengatakan aku orang jahat kan? Iya! Aku memang jahat! Kau mau apa hah! Kalau aku jahat kau bisa apa?!" teriak Ervan membuat Reva takut.
Bahkan untuk mengeluarkan ringisan karena sakit di pergelangan tangannya saja dia terlalu takut saat melihat tatapan tajam Ervan.
"Orang-orang sepertimu memang tidak akan pernah mengerti sisi lain dari seseorang. Apa kau pernah bertanya kenapa aku menjadi seperti ini? Apa kau pernah ingin tau kenapa sikapku seperti ini? Apa kau tau apa penyebabnya hah! Kau tau?!" lagi Ervan berteriak tepat di depan wajah Reva membuat Reva menutup matanya takut.
Sungguh, nyalinya yang tadi besar tiba-tiba menciut saat mendengar teriakan Ervan. Tangannya bahkan sudah bergetar sejak tadi menahan rasa takutnya.
"E-rvan__"
"Diam!" Reva terkejut dan semakin menutup kedua matanya tak berani menatap Ervan.
"Kau tak pernah tau apa-apa tentangku Reva, kau tak pernah tau. Kau juga tak akan tau mana yang berniat buruk dan baik padamu. Orang sepertimu hanya memandang orang dari luarnya saja. Kau tau? Kau orang yang kesekian kalinya yang hanya melihat sisi buruk diriku. Kau orang yang kesekian yang memandangku sebelah mata. Kau sama saja seperti orang-orang itu." suara Ervan berubah lirih dengan tatapannya masih menatap lurus pada Reva.
Mendengar itu, perlahan Reva membuka matanya, dan melihat tatapan kecewa di mata Ervan. Bahkan matanya seperti memerah, apakah Ervan menangis?
Melihat Reva yang menatapnya, Ervan melepaskan Tangan Reva dan kembali menjalankan kendaraannya, menuju mansionnya.
Tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Reva juga tak lagi mendesak untuk diturunkan. Dia sedang berpikir, apa sebenarnya yang di pendam Ervan sehingga membuat dia terlihat sangat rapuh tadi? Entah, Reva tak mengerti. Yang jelas, dia sedikit merasa bersalah mendengar suara Ervan yang sangat lirih.
--***--
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan manssion mewah itu. Namun pandangan Ervan sedikit terganggu akibat sebuah mobil di depan sana. Dia mengenalnya, sangat malah.
Mood nya benar-benar hancur sekarang. Emosinya belum juga stabil tapi sekarang malah di tambah oleh seseorang yang berdiri di ambang pintu manssionnya.
"Tetap di sini." ucap Ervan melirik Reva sebentar lalu membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Reva hanya diam memperhatikan Ervan yang sekarang berjalan santai menuju pria paruh baya di depan sana. Tapi tunggu.
Bukankah itu pria yang sama yang dulu menyebut dirinya dengan nama ibunya dulu? Dia mengenal Ervan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang timbul di kepala Reva.
"Ada apa?" tanya Ervan berhenti beberapa langkah dari papanya.
"Kamu tidak ingin mengenalkan pacarmu pada Papa?" Papa Haris balik bertanya.
Ervan memutar bola matanya malas.
"Katakan ada apa? Aku tidak punya banyak waktu." ucap Ervan lagi.
"Papa hanya mau memastikan keadaanmu. Dan juga, Papa penasaran dengan gadis itu." jawab papanya menunjuk Reva yang masih di dalam mobil menggunakan dagunya.
Ervan ikut menoleh pada Reva yang terlihat samar juga menatap kearah mereka berdua.
"Itu bukan urusan Papa. Kalau tidak ada hal penting, lebih baik Papa pulang." ucap Ervan menatap datar sang papa.
Papa Haris hanya tersenyum sendu. Jagoannya bahkan tak menginginkan kehadirannya di sini. Sebesar itukah kesalahannya?
Papa Haris melangkah mendekat.
"Son. Sebesar itu salah Papa sama kamu Nak? Sesulit itu memaafkan Papa?" tanya sang papa membuat kedua tangan Ervan mengepal kuat.
Dalam hatinya, dia berteriak tidak. Dia bahkan tak pernah marah pada orang yang dia panggil papa itu. Dia hanya kecewa, rasa kecewa yang menelan penuh rasa sayangnya pada sang papa.
"Pergilah Pa. Ervan sibuk." ucap Ervan memalingkan wajahnya, memutuskan kontak mata dengan papanya.
Papa Haris menghembuskan nafas panjang. Lalu tersenyum tipis.
"Baiklah. Papa pergi, jaga dirimu baik-baik." ucapnya.
Papa Haris berjalan dan berhenti di samping Ervan.
"Kau tau, Son? Kamu bisa mengalahkan sainganmu itu jika kamu mau memegang perusahaan Papa." ucapnya lalu menepuk bahu Ervan sebelum benar-benar pergi dari sana.
Ervan terdiam. Dia paham maksud ucapan papanya, dia juga tau siapa yang dimaksud sang papa. Hanya saja, ada yang janggal dari nada bicara papanya. Apa papanya baru saja mengajaknya untuk bermain kotor? Hell, meskipun tak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi pebisnis, tapi dia paham maksud mengalahkan dalam hal bisnis.
Dan yang lebih janggal adalah, dia seperti pernah mendengar kalimat ini sebelumnya. Tepat saat kematian sang adik.
Oh god, ini bukan seperti yang dia pikirkan bukan?
--***--