Niat awal, Ervan ingin pulang sebentar karena di rumah sakit jadwalnya sedang kosong. Tapi itu urung terjadi saat tiba-tiba Dokter Reza datang ke ruangannya, ingin membicarakan sesuatu katanya.
"Ingin mengatakan apa, Dokter?" tanya Ervan menatap sang dokter dengan tatapan datar.
"Ini menyangkut Reva, Dokter Ervan," ucap Dokter Reza to the point.
Ervan masih tak menampilkan ekspresi apa-apa, walaupun sebenarnya dia bingung dengan apa yang Dokter Reza ucapkan padanya.
"Dia tinggal bersamamu, benar?" tanya Dokter Reza lagi dan kali ini Ervan mengangguk.
"Ya," jawabnya singkat.
"Bisakah jika dia tinggal di rumah saya?"
Pertanyaan itu sukses membuat Ervan menatap tak suka pada Dokter Reza. Apa maksudnya itu?
"Kurasa kau tak sedekat itu dengan Reva," jawab Ervan masih tenang dengan wajahnya yang kembali datar.
"Aku hanya mengikuti permintaan istriku. Dan kurasa itu lebih baik. Mereka akan saling terbuka dan Reva akan lebih tenang mengingat masalahnya beberapa hari ini," jelas Dokter Reza.
Raut wajah Ervan masih tak berubah. Malah tatapannya semakin menajam. Bukankah secara tak langsung dia mengatakan kalau Reva tak nyaman dan tak aman jika tinggal bersamanya? Ayolah, bahkan Ervan lebih tau masalah apa yang Reva hadapi di banding Reva sendiri. Dia tak perlu menanti Reva bercerita karena dia selalu siap menjadi tameng bagi gadis itu. Dia selalu tau apa yang terjadi pada gadis itu.
"Begini, Dokter," Ervan memperbaiki posisi duduknya. Mencondongkan sedikit tubuhnya dan menumpukan kedua tangannya di atas meja. Menatap intens pada Dokter Reza di seberang sana.
"Jika saya mengatakan kalau saya tau betul apa yang sebenarnya terjadi pada Reva, apa kau masih ingin membawanya?" tanya Ervan dengan nada tenang.
Baru saja ingin mengeluarkan suara namun rasanya kata-katanya kembali tertelan di tenggorokan. Mata Ervan menatapnya tanpa berkedip seolah menegaskan apa yang dia ucapkan itu benar adanya dan dia harus percaya padanya.
"Aku dan istriku hanya ingin menjaganya, itu saja," tutur Dokter Reza tulus.
Memang, semenjak melihat kedekatan istrinya dan Reva membuatnya juga merasa sedih saat gadis malang itu tertimpa masalah yang begitu besar. Apalagi melihat sang istri yang selalu murung saat bercerita tentang kehidupan Reva membuatnya semakin tak tega. Membuatnya merasa perlu melindungi Reva.
Tenang saja, dia tak menyukai Reva dalam artian pria terhadap wanita, dia hanya menganggap Reva sebagai sosok seorang adik, tak lebih.
Pikirannya buyar saat mendapati Ervan terkekeh pelan di depan sana.
"Dokter, kau belum mengenal saya. Kau bahkan tak tau seberapa bisa saya menjaganya. Kau lupa saat saya membawa Reva ke rumahmu waktu itu? Tak berpikir kenapa saya bisa membawanya sedangkan kau sudah mengerahkan banyak anak buah dan tak juga menemukannya?" Kalimat terpanjang yang pernah Dokter Reza dengar dari mulut seorang Ervan.
Baiklah, terdengar konyol memang, tapi apakah Dokter Reza boleh merasa sedikit takut? Hell, dia cukup pintar untuk memikirkan maksud dari perkataan Ervan barusan. Orang-orang dengan kelebihan bodyguard sepertinya ini sangat tau dan paham terhadap sesamanya bahkan yang ada di atasnya.
"Jadi, Dokter. Pikirkan lagi itu," lanjut Ervan tersenyum tipis yang terlihat seperti seringaian di mata Dokter Reza.
Baiklah, Ervan memang benar-benar bukan orang biasa. Pikir Dokter Reza.
*****
Rapat dadakan. Hal yang paling di hindari oleh semua karyawan yang bekerja di perusaahan itu. Terlebih lagi bagi mereka yang berpangkat.
Sepuluh menit sudah berlalu semenjak rapat di mulai. Hanya membahas perkembangan di setiap divisi. Ya, harusnya itu mudah bagi mereka. Hanya perlu memberikan laporan dan mempresentasikannya, di kritik sedikit dan di bahas lagi mengenai tindakan apa yang harus di lakukan jika ada hal yang tidak sesuai. Rapat ini memang diadakan setiap satu bulan sekali. Hanya saja ini pertama kali sang direktur membuatnya mendadak. Tanpa persiapan yang matang dan tanpa aba-aba apapun. Bahkan rapat harus di adakan 10 menit setelah mendapat berita tersebut.
Banyak yang mengeluhkannya, termasuk Reva. Sang kepala divisi, yang sering mereka panggil Mbak Nisa itu memang sudah kembali bekerja, hari ini tepatnya. Setiap kepala divisi diharuskan membawa satu orang karyawan di divisinya untuk ikut serta dalam rapat ini. Dan itulah mengapa Reva dapat terjebak dalam ruang rapat yang cukup luas ini, bersama Mbak Nisa di sampingnya.
Hanya beberapa divisi yang di ikutkan dalam rapat ini, entahlah, Reva tak mengerti apa alasannya. Yang jelas, dia tengah gugup sekarang. Tangannya mendadak tremor saat memegang dokumen laporan divisinya.
Mbak Nisa yang mengetahui itu langsung menggenggam tangan Reva dan tersenyum menenangkan.
"Jangan gugup. Mbak tau ini pengalaman pertamamu. Itulah alasan Mbak bawa kamu, agar kamu terbiasa dalam situasi ini," ucap Mbak Nisa namun Reva tetap saja gugup.
Dan lebih gugup lagi saat di depan sana sang direktur mengkritik dengan pedas karyawan dari divisi lain yang mungkin belum menyelesaikan presentasinya.
"Mbak, biar Kak Melin aja yang gantiin, gimana?" ucap Reva tiba-tiba membuat Mbak Nisa terkekeh.
"Silahkan aja kalau kamu mau di cecar sama Pak Devin," ucap Mbak Nisa membuat Reva langsung menggeleng.
"Tapi aku takut salah Mbak. Mana Pak Devin galak banget lagi. Aku gak berani Mbak," ucap Reva lagi memelas.
"Makanya, kamu jangan gugup. Kalau gugup, ntar apa yang mau kamu ucapin bisa hilang loh. Rileks, oke?"
Reva kembali menggeleng.
"Nggak oke, Mbak. Jantung aku udah kayak di club," kali ini Mbak Nisa tertawa pelan. Reva sangat lucu, pikirnya.
"Kamu bisa kok. Mbak yakin," ucap Mbak Nisa yakin.
Reva menatap ke arahnya dan Mbak Nisa mengangguk mantap sambil mengangkat kepalan tangannya tanda menyemangati. Reva menghembuskan nafas panjang kemudian mengangguk pelan.
Tenang saja, Devin tak akan mendengar mereka mengobrol. Untuk berdiskusi saja mereka harus menggunakan mic yang tersedia di atas meja. Sudah di bilang, ruang rapat ini cukup luas. Reva melihat ruangan ini seperti ruangannya waktu di bangku kuliah. Hanya saja sedikit lebih luas.
Sedangkan di depan sana, Devin tampak memijit pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut setiap kali mendengar presentasi dari karyawannya. Tak ada yang benar. Tak ada yang baik-baik saja. Tak ada yang memuaskan. Tak ada yang memberinya kabar bagus. Jangankan kabar bagus, mereka saja tampak tak pandai bagaimana caranya menampilkan presentasi yang baik dan benar. Apakah Devin harus mengajarkan mereka seperti anak SMA?
"Cukup!" ucapan datar Devin sontak membuat karyawan yang sedang menampilkan presentasi itu terhenti.
"Minta kepala divisimu untuk memeriksa hasil laporan yang akan di presentasikan terlebih dahulu sebelum di presentasikan. Saya meminta laporan bulan ini bukan laporan tiga bulan yang lalu. Kau ingin saya mengulang ulasan saya yang tiga bulan lalu? Begitu?" ucap Devin dengan tatapan mengarah kepada sang kepala divisi.
Terlihat pria yang di tatap tersebut membalik lembar dokumennya dan meringis pelan saat apa yang Devin katakan benar adanya. Baiklah, salahkan dia yang datang terlambat sehingga tak sempat memeriksanya.
"Dan kau." Devin berpindah menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Kau sebagai karyawan harusnya juga lebih teliti. Apa pekerjaanmu di divisi itu sangat berat? Kalau begitu mari bertukar posisi saja dengan saya. Hanya memeriksa laporan dan mempresentasikannya saja kau tidak bisa. Apa aku harus mengirimmu kembali ke tingkat SMA?"
Kalimat pedas bagi mereka yang mendengarnya. Devin memang baik dan ramah pada semua karyawannya. Tapi jangan ragukan ketegasannya, apalagi saat sedang mengkritik, kalimat pedas dan menyakitkan itu akan dengan mudah keluar dari mulutnya.
"Pergilah. Aku tak butuh laporan itu."
"Satu lagi." Wanita itu kembali ke posisi semula mendengar intruksi Devin.
"Katakan pada saya jika kau memang tidak sanggup bekerja di perusahaan ini. Jangan mempersulit hidupmu dengan mendengar kritikan saya setiap hari tapi kau tetap saja tidak mengerti apa-apa. Jangan sungkan untuk mengajukan surat pengunduran diri pada saya. Saya sama sekali tidak membutuhkan orang yang tidak mau belajar dan memperbaiki kesalahannya. Hanya membuat saya susah." Bukan hanya untuk wanita itu, Devin seakan berucap pada semua karyawan yang hadir di sana.
Wanita itu hanya menunduk dan membungkukkan sedikit tubuhnya sambil terus menggumamkan kata 'maaf'. Sungguh, jika bukan di ruang sidang, air matanya sudah pasti terjatuh sejak tadi. Dia malu sekaligus takut pada direktur yang sama sekali tak merubah wajahnya yang sejak datang sudah membawa aura kegelapan.
Entah apa yang tadi di laluinya hingga sang direktur sepertinya berada dalam mood yang buruk.
"Divisi keuangan," ucap Devin melalui mic di depannya.
Jantung Reva kembali berdetak kencang. Kembali menenangkan pikirannya dan berdiri dari duduknya. Devin di depan sana masih menatap pada sebuah dokumen di tangannya, sama sekali tak mengetahui jika Reva sebentar lagi sampai di depannya.
"Laporan saya, Pak." Dokumen di balut map berwarna hijau itu dia ajukan pada Devin.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya membuatnya mendongak. Sedikit terkejut melihat sosok Reva yang berdiri di depannya dengan senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya.
Saling tatap beberapa saat sebelum teguran Reva membuyarkan lamunannya.
"Ah, ya. Silahkan," ucap Devin seraya mengambil dokumen tersebut.
Mata Devin masih menatap Reva yang sibuk pada laptop di dekat proyektor. Memasukkan flashdisk yang mungkin berisi materi presentasinya.
Devin total fokus hanya pada wajah Reva. Mengabaikan dokumen yang saat ini di pegangnya. Mengabaikan materi presentasi yang di tampilkan di sana. Mengabaikan semua atensi para karyawannya. Mata dan pikirannya hanya tertuju pada Reva.
Bagaimana kecantikan Reva menjadi berkali lipat saat sedang serius. Walaupun kentara sekali gugup di wajahnya, namun dia bisa mengatasinya dengan baik. Devin suka itu.
Seulas senyum terbit di bibir tipis Devin. Masih tetap memandangi wajah cantik Reva. Hingga pikirannya tiba-tiba tertuju pada kejadian pagi tadi. Senyumnya luntur perlahan mengingatnya. Mengingat bagaimana sang rival, Ervan, mengecup kepala Reva di hadapannya.
Ervan memang selalu berada selangkah di depannya dalam hal mendapatkan Reva. Berdecak kecil, dan kembali menatap Reva.
Tak ada salahnya 'kan kalau dia menarik atensi Reva? Setidaknya dia harus bisa membuat Ervan mundur dengan sendirinya. Bukankah Reva juga menunjukkan gelagat bahwa Reva juga menyukainya? Devin bahkan masih ingat bagaimana wajah merona Reva saat dia ajak makan bersama waktu itu. Ah mengingatnya membuat Devin kembali tersenyum senang.
Reva yang melihat itu tentu saja heran. Sudah tiga kali panggilannya dan sekarang Devin malah tersenyum tak jelas ke arahnya. Para karyawan yang lain juga menatapnya bingung. Tak pernah sekalipun sang direktur tidak fokus seperti ini.
"Pak." Kali ini Reva menyentuh pundak Devin membuat Devin tersentak kaget.
"Maaf Pak. Bagaimana tanggapan, Bapak?" tanya Reva sekali, lagi.
Devin gelagapan. Dia 'kan tidak mendengarkan presentasi Reva. Lalu apa yang harus dia tanggapai?
"Ah, ya. Hasilnya cukup memuaskan. Saya melihat juga ada peningkatan. Tapi ada beberapa hal yang ingin saya bahas secara pribadi. Saya ingin setelah rapat ini, kamu dan kepala divisi datang ke ruangan saya untuk membahas ini. Karena apa yang akan saya bahas kali ini tidak bisa kita diskusikan di sini," ucap Devin tenang walaupun keadaan jantungnya berdegup sangat cepat.
Reva tersenyum dan juga lega mendengarnya. Setidaknya dia tidak mendapat kritik pedas dan berakhir dengan dirinya yang akan menangis diam-diam di toilet.
"Baik, terimakasih, Pak. Saya permisi." Devin hanya mengangguk dan mempersilahkan Reva kembali ke tempat duduknya.
"Wanita itu yang Tuan Muda Ervan bawa ke manssionnya, Tuan. Terhitung sudah dua hari ini," ucap seseorang pada orang yang dia panggil tuan itu menunjuk Reva yang baru saja selesai presentasi.
Sang tuan hanya menatap Reva lekat.
"Dia bukannya gadis yang aku temui di rumah sakit dulu? Dia mirip Ranti." batinnya masih menatap Reva lalu pergi dari sana.
*****