Sampai di perusahaan nomor satu di dunia itu, Ervan keluar dari mobilnya dengan wajah menyeramkan. Bagaimana tidak, Reva masih marah padanya, gadis itu bahkan lebih memilih pergi bersama Zaki dibanding dirinya. Jangankan pergi bersama, berbicara bahkan melihatnya saja, Reva enggan. Arrghh! Kacau! Bagaimana kalau nanti Reva menjadi pusat perhatian dan dirinya tidak bisa melindungi Reva dari mata-mata jelalatan para karyawannya. Dan Zaki pastinya-- Ervan sontak berhenti melangkah, dengan mata yang melotot kala otak jeniusnya memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi nantinya jika tetap dia biarkan. Tidak! Tidak! Dia tidak bisa diam saja, jangan sampai Zaki mengambil kesempatan saat dirinya tak ada. Pemuda itu menggeleng brutal, lalu kembali melangkah dengan langkah yang lebih lebar dari se

